
💕 💕 💕
Hari yang di nanti Kia dan Kahfi pun tiba. Rumah abah Dahlan kini sudah di hias bagaikan istana kebun yang indah dengan bunga-bunga segar dan dedaunan hijau menghias setiap sudut ruangan dan tenda berwarna hijau muda kesukaan Kia.
Bu Badriah sang penata rias sudah datang sejak pukul 6 pagi, untuk mendandani bu Aisyah terlebih dahulu. Lalu akan di lanjutkan dengan merias sang pengantin wanita.
Rahma sang adik yang tak sabar ingin melihat kecantikan kakaknya di pernikahannya kali ini, tak ia lewatkan sedikitpun moment dimana bu Badriah memoles sedikit demi sedikit setiap inci dari wajah paras cantik Kia hingga sempurna.
Setiap menit Rahma memvideokan proses dari riasan pengantin. Hatinya bercampur bahagia dan sedih karena kakak perempuannya kini sudah menghiasi wajahnya dengan begitu banyak senyum bahagia. Ia bersyukur Allah mempertemukan kakaknya dengan laki-laki yang sholeh dan, berkat kesabaran dari Kia, Rahma yakin bahwa kakaknya akan bahagia dengan Kahfi sang kakak ipar.
" Rahma bahagia kak, akhirnya sekian banyaknya air mata yang pernah kakak tumpahkan, kini berbalas dengan air mata bahagia. Hemmm ... Semoga kakak dan kak Kahfi selalu diberikan jodoh yang panjang hingga akhir hayat." Batin Rahma.
Ketika bu Bardriah selesai dengan make upnya kini tibalah Kia mengenakan baju pengantin yang telah Kahfi pilihkan. Gaun pengantin berwarna kuning gading yang membuat Kia makin terlihat cantik dan anggun.
Hati Kia begitu bahagia dan merasa tak percaya bahwa, hari dimana selalu ia nantikan akhirnya ia dapat merasakannya, walau pernah gagal untuk menuju ke pelaminan dengan berbeda kisah. Namun hati kecilnya tak bisa di bohongi bila dirinya teringat akan wajah pria yang pernah begitu tulus mencintainya. Dan sampai sekarangpun baju pengantin pemberiannya masih ia simpan dengan rapih di kamar Rahma.
" Masyaa Allah, kakak cantiknya pake banget ini kak!" aku pangling liat kakak seperti ini!" ujar Rahma sambil mengelilingi Kia dengan ponsel di tangannya seraya memvideokan wajah Kia dari ujung kepala sampai kebawah.
" Kamu ini bisa aja, dek!" setiap pengantin pasti akan terlihat cantik karena dapat polesan make up sang ahli rias!" benar gak, bu!" Tanya Kia pada bu Badriah.
" Neng Aulia, memang cantik jadi kalau di poles ya makin terlihat cantik, neng!" pasti nak Kahfi akan terpesona dengan kecantikan si neng!"
" Ahhh, ibu bisa aja!"
Ketika mereka bertiga sibuk dengan candaan saling melontar pujian. Tibalah Tari datang mengetuk pintu.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
" Kia apa kamu sudah rapih? Pengantin pria sudah datang!" ayo siap-siap untuk ke depan!" teriak Tari sambil memutar daun pintu pada kamar Kia.
Hati Kia yang sedari tadi merasa tenang sekarang berubah menjadi dak dik duk. Rasa gugup, cemas dan bahagia seolah bercamour baur dan rasa tegangpun kini menghias wajahnya. Tanganya kini terasa diningin sepeti seolah-olah bagai di gurun es. Tari yang tau akan hal yang pernah ia rasakan perlahan ia mendekati Kia.
" Baca fatihah, syahadat dan sholawat agar kamu merasa tenang!" Aku juga pernah kok ngerasain apa yang sekarang kamu rasakan, Kia! " ucap Tari sambil mengelus telapak tangan Kia dengan lembut.
" Bismillah, neng!" Allah pasti membudahkan semua prosesnya, ya?" ucap bu Badriah menenangkan.
Kiapun melangkahkan kakinya, di gandeng oleh Tari di sebelah kanannya dan Rahma di sebelah kirinya. Bu Aisyah yang menyadari kegugupan dari putrinya ia langsung menghampiri Kia dan memeluknya dengan sedikit air mata di sudut matanya.
" Sayang, kamu cantik sekali!" ibu bahagia akhirnya anak ibu menikah dengan laki-laki yang Allah ridhoi untuk menjadi jodohmu, sayang!" jangan gugup dan cemas ya, sayang!" hari ini adalah hari dimana hal yang abru dalam hidupmu akan dimulai." ucap bu Aisayah sambil menempelkan kedua tangan Kia di pipinya dengan lembut.
" Ibuuu, semua ini berkat do'a ibu, ayah dan semua orang-orang yang menyayangi Kia!" balasnya sambil mengusap lembut air mata yang sudah jatuh di kedua mata bu Aisyah.
🌻🌻🌻
Kahfi, pak Hasbi, Ustadz Mansur pun kini sudah duduk di meja yang sudah di siapkan untuk acara akad, dimana sudah ada pak penghulu yang akan memulai acara ijab dan khobul.
Pembawa acar sudah memberikan intruksi agar acara akad segera dilaksanakan sambil memberikan mic kepada pak penghulu semua orang yang hadiri di acara itupun duduk rapih sambil mendengarkan pembukaan dari pak penghulu. Terkecuali Kia, Rahma, Tari serta Ulan dan Sasa yang ikut hadir di acara bersejarah sahabatnya.
Kahfi yang sedari merasa tak karuan. Memandang setiap orang yang ada di hadapannya dengan begitu tegang. Dimana ia akan mengucapkan janji suci di hadapan semua orang yang selama ini ia hormati dan mengambil tanggung jawab sang ayah mertua untuk anaknya.
Tangan pak Hasbipun menjabat tangan Kahfi.
"Bismillahirrohmannirohiim. Ananda Muhammad Kahfi Al Kautsar, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya bernama Nakia Rahmadani Aulia binti Muhammad Hasbi dengan mas Kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 20 gram di bayar tunai." hentak pak Hasbi yang langsung di sambung oleh Kahfi.
__ADS_1
" Saya terima nikahnya putri bapak bernama Nakia Rahmadhani Aulia binti Muhammad Hasbi dengan mas kawain tersebut di bayar tunai." Jawab Kahfi dengan satu kali nafas.
Bagaimana para saksi!" syah...?"
"SYAAAAAHHHHHHHH ...!"
Teriak semua jama'ah serentak. Lalu pak penghulu pun mengucapkan do'a untuk kedua mepelai dilanjutkan dengan wejangan-wejangan kepada para jama'ah yang belum menikah dan yang sudah menikah.
Setelah semua kembali duduk dan diam Kiapun di bawa oleh Tari untuk mendekatkan dirinya dengan sang pengantin laki-laki untuk pemakaian cincin dan menanda tangani buku nikah dan berkas-berkas yang lainnya.
Kahfi yang mengetahui akan ke datangan Kia di sampingnya merasa gugup dan tegang. Keringat dingin menetes ketika pak penghulu menyuruhnya untuk memasangkan cincin kepada jari manis kanan Kia. Begitu juga dengan Kia yang pertama kalinya akan di pengang tanganya oleh Kahfi tak kalah gugupnya dengan Kahfi.
Perlahan Kahfi meraih cincin yang sudah disodorkan oleh Yazid, dengan sedikit gemetar ia memasukan cincin itu ke jari manis Kia. Hingga dirinya mendapat godaan dari sang adik.
" Yaa Allah mas bro, udah syah gak usah gugup gitu juga kali!" udah halal mau di pegang, di peluk atau di ciumpun semuanya akan jadi nilai ibadah buat antum berdua!" goda Yazid yang langsung mendapat cubitan kecil dari kiyai Mansur.
"Awww, abiiii ... Sakit tau!"
"Lagian kamu ini nikah belum, udah fasih bener sama hal-hal demikian!" ucap kiyai Mansur sehingga membuat orang-orang tersenyum.
Dengan senyum tipis Kia menerima tangan Kahfi walau dalam hatinya ia merasa sangat gugup bercampur bahagia. Kini giliran Kia yang memakaikan cincin perak kejari manis Kahfi. Karena rasa gugupnya Kia langsung memakaikan cincin itu dengan cepat sehingga mendapat protes dari Rahma, dan Yazid yang ingin mengabadikan moment tersebut pada benda pipih mereka masing-masing.
" Kakak jangan buru-buru gitu makeinnya!" kaya kak Kahfi tadi pelan-pelan aja biar Rahma dan semua orang bisa memfotonya dengan tepat!" ayoo ... Ulang lagi!" perintah Rahma hingga membuat Kia memegang tangan Kahfi untuk kedua kalinya karena mengulang prosesnya.
Setelah selesai memasangkan cincin ke jari masing-masing. Kini tiba saatnya hal yang canggung Kahfi lakukan dimuka umum harus ia tunjukan kepada semua dimana dirinya harus 'mencium kening' Kia untuk pertama kalinya di depan semua orang.
" Ayooo, cium ... Cium ... Cium ucap semua serempak!"
Kia yang mendengar hanya tersipu malu dan wajahnya sudah memerah seperti tomat matang namun hal itu tidak terlihat karena tertutup make up yang nyaris sempurna di wajah Kia.
Hingga sampai hampir 3 kali Kahfi mengurungkan niatnya untuk mencium kening Kia karena, rasa malu dan gugup. Akhirnya ia memberanikan diri karena mendapat godaan dari Yazid dan Razi.
Bibir Kahfi melesat dengan lembut dikening Kia dengan hitungan menit yang membuatnya semakin gugup karena harus menahan rasa itu demi foto yang harus diambil oleh sang foto grafer.
Kia yang mendapatkan ciuman pertama kalinya dari Kahfi, membuat jantungnya berdebar kencang dan menaikan aliran darahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki jantunga berpacu dengan cepat, semburat senyum kecil tanda menghikangkan kegugupan dana rasa malunya.
" Nah, gitu dong mas bro!" itu namanya mas broku yang super cool dan macho!" goda Yazid sambil menepuk bahu Kahfi seraya mendo'akan dan mengucapkan selamat kepada sang kakak yang sudah menjadi idolanya sejak kecil karena kemandirian Kahfi.
🌻🌻🌻
Proses pemasangan cincinpun selesai kini tibalah saatnya acara sungkeman kepada kedua orangtua Kia dan keluarga besar kiyai Mansur yang kebetulan istrinya sudah hampir 5 tahun pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya dimana anak kedua anak perempuannya semua ikut menetap di kairo bersama dengan suami mereka masing-masing.
Setelah acara sungkeman selesai acarapun di tunda setelah selesai shalat Dzuhur yang dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan atau pesta pernikahan. Semua keluarga berkumpul di tenda depan yang begitu luas. Terkecuali Kia yang merasakan lapar karena sedari pagi perutnya belum diisi oleh apapun kecuali segelas teh manis yang dibuatkan ner Rumi.
" Sayang istirhatlah di kamarmu, sambil menunggu waktu dzuhur yang masih satu jam lagi!" dan kamu juga belum mengisi perutmu dengan nasi?" bujuk nek Rumi ketika Kia memeluknya dengan erat setelah memeluk abah Dahlan yang di ikuti Kahfi di belakangnya.
" Kia bisa lakukan itu nanti, nek!" lagian Kia belum lapar!" tolaknya halus walau sebenarnya perut Kia sudah terasa perih.
" Kia sebaiknya kamu makan dulu, nanti kakak gak mau ya kalau kamu sakit hanya karena melalaikan kewajiban jasmanimu untuk mendapatkan haknya!" ucap Kahfi lembut.
" Ajaklah Kia masuk kamar nak, Kahfi! Nanti biar nenek suruh Rahma untuk membawakan makannya ke kamar, ya!"
" Baik, nek!"
💕💕💕💕
Kini Kia dan Kahfi pun masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah di hias dengan weangian bunga mawar dan tirai berwarna pink mengelilingi kamar Kia. Kasur yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar merah dimana di tengah-tengahnya terdapat hiasang sepasang angsa menambah keromantisan pada suasana kamar Kia.
Kia yang kini duduk di tepian kasur dengan wajah yang tertunduk sambil memutar-mutar jari jemarinya walau sesekali ia meremas tepian dari tempat tidur untuk menghilangkan rasa gugup dan cangungnya karena, di dalam kamarnya kini ia tak sendiri lagi sudah hadir Kahfi di dalamnya.
__ADS_1
Setelah Kahfi menutup rapat pintu kamar kemudian ia duduk bersebrangan di kursi yang biasa Kia pakai untuk menyisir rambutnya di depan cermin sambil menatap wajah wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
" Kamu, makan dulu ya, dek!" biar pas nanti resepsi kamu punya tenaga untuk menyambut tamu yang datang ke acara walimah kita!" bujuk Kahfi memecah keheningan.
Kia yang sedikit mendongakan kepalanya ke hadapan pria yang biasanya mengenakan kacamata itu, kini di lihat sangat berbeda dan terlihat lebih muda dan nyaris sempurna ketampanannya.
" Dek ... !" ucapnya singkat.
"Kenapa!" kamu tidak suka bila mas memanggilmu dengan panggilan 'dek'?, dan maaf kalau kini kakak membiasakan dengan panggilan mas karena, itu lebih enak di dengar!" ucap Kahfi sambil terus menatap wajah cantik Kia yang tersipu malu.
"Baiklah! Kia, ehhh maksudnya dek akan membiasakan memanggil kakak dengan panggilan mas!" ujar Kia sambil menutup senyum kecilnya di balik tangan.
Kartika keduanya mengulas senyum masing-masing terdengarlah suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
" Nak, ini ibu bawakan makan untuk mu!"" , kata nenek kamu belum makan dari pagi!" teriak bu Aisyah di balik pintu
" Buka aja bu!" pintunya tidak Kia kunci kok!" Balas Kia yang hendak berdiri menghampiri bu Aisyah namun dirinya kesukitan ketika baju pengantin yang terlalu menjuntai ke lantai itu membuatnya sulit untuk melangkah lebih cepat.
" Biar mas yang buka pintunya! dek duduk saja!" ucap Kahfi langsung berdiri dan dengan langkah cepat ia menghampiri bu Aisyah yang sudah memutar daun pintu kamar.
" Terima kasih, bu!"
" Sama-sama! sengaja ibu agak banyakin porsinya agar nak Kahfipun bisa ikut makan bersama Kia, ya!"
" Sayang makan yang banyak ya biar maag kamu tidak kambuh, kasian nak Kahfi kalau sampai maagmu kambuh nanti gak bisa manja-manjaan dengan istri cantik nya!" goda bu Aisyah yang nyaris membuat Kia malu dan memainkan matanya kepada bu Aisyah.
Bu Aisyah pun menutup kembali pintu kamar Kia dengan rapat sambil memberi saran agar pintunya di kunci dari dalam agar tak ada yang mengganggu kemesraan mereka berdua. Kia yang lagi-lagi hanya bisa memainkan matanya kepada sang ibu hanya bisa tersenyum malu karena mendapat tatapan dari mata sayup sang suami.
" Makanya mau mas suapin apa dek yang mau menyuapi, mas?" goda Kahfi yang tak kalah jahilnya dengan sang ibu mertua yang membuat Kia membulatkan matanya dengan sempurna.
" Kia bisa makan sendiri, kak!" memangnya Kia ini Kania yang harus di suapi!"
" Baru beberapa menit aja udah lupa panggilan untuk sang suami?" ucap Kahfi sambil mengaduk lauk dan nasi yang akan ia masukan ke dalam mulut Kia.Walau di dalam piring itu bu Asiyah menydeiakan dua sendok. Kia yang mendapatkan suapan dari tangan Kahfi langsung, hanya menerimanya dengan pasrah sambil membulatkan mata indahnya dengan sempurna dan diam mematung tak bergerak sedikitpun.
" Yaa Allah, ternyata dia gak kalah romantisnya dengan Syahru Khan di filem-filem India. Hati ini begitu berbeda ketika mendapat suapan yang pernah kak Prama berikan kepadaku dengan sendok, dirinya malah menyuapiku dengan tangannya begitu lembut dan terasa kasih sayangnya begitu tulus kepadaku. Terima kasih yaa Robb." Batin Kia.
" Kenapa kok malah bengong! kunyahlah makanannya agar menjadi daging dalam tubuhmu, dek!" gak lupa baca do'akan?" tanya Kahfi, yang di sahuti anggukan kepala oleh Kia.
Setelah Kahfi menyuapi Kia dengan 5 suapan tak di sangka ada seseorang yang masuk ke kamar Kia tanpa permisi dengan langkah yang begitu cepat orang itu membuka pintu kamar Kia. Hingga membuat Kia dan Kahfi yang ada di dalam terkaget karena bantingan pintu yang begitu kuatnya.
.
.
.
.
.
Bersambung----
Author gak perlu berkata lagi yang bagaimana cara kalian sang pembaca setia karyaku untuk menghargai tulisan author agar author semangat untuk up setiap harinya.
__ADS_1
sehat-sehat selalu untuk kalian semuanya