
Dalam perjalanan pulang Huda selalu memandangi foto Kia yang ada di ponselnya. Bebrapa waktu yang lalu ketika itu dia diam-diam mengambil foto Kia yang sedang termenung sendiri. Dalam pikirannya kali ini yang ia pikirkan adalah sebuah perjuangan yang ia lalui untuk mendapatkan hati Kia itu tak mudah.
Apalagi ia mendengar kata-kata Kia waktu kemarin agar ia 'mencari wanita lain yang lebih baik lagi darinya. Padahal Huda merasa bahwa Kialah wanita yang terbaik untuknya yang selama ini yang ia temui.
Sampailah Huda di kota x, kota dimana pekerjaan dan rutinitasnya yang akan membawanya dengan kesibukan. Perlahan ia membuka notif pesan yang masuk pada ponselnya.
" Assalamu'alaikum, mas Huda". Kia mohon maaf bila tadi tidak menemui mas Huda ketika hendak pulang. Karena Kia sedang pergi dengan Farah dan Febby ke acara kajian. Mohon maaf ya mas Huda. ππ»
hati-hati di jalan ya, mas!" π
Huda hanya tersenyum manis ketika menerima pesan dari Kia. Apa yang ia pikirkan tadi seolah hilang terbawa angin ketika melihat orang yang ia cintai masih memperdulikannya walau hanya dengan sebuah pesan singkat.
Perlahan ia membawa bobot tubuhnya untuk menuju rumah yang sangat ia ridukan. Bi Ani yang sedang menyapu di depan pun spontan menghampiri Huda yang baru saja sampai di depan pintu rumah.
"Biar saya bawakan tasnya, den! Ucap bi Ani sambil meraih tas yg ada di tangan kanan Huda dimana tangan kirinya membawa sebuah papaer bag berisi oleh-oleh untuk papah tercintanya.
" Tante Meta sudah pulang ya, bi? Tanyanya ketika melihat isi rumah yang sudah terlihat sepi.
Kakinya langsung melangkah dimana keberadaan papahnya.
"Sudah, den!" papah mas Huda juga sedang ada di ruang kerja.
" Baiklah" makasih ya, bi!"
Tibalah Huda di depan pintu ruang kerja pak Prayoga. Dengan sebuah ketukan pintu Huda meminta izin kepada pria paruh baya yang ada di dalam ruangan tersebut.
Tok ... Tok ... Tok
Sura ketukan pintu yang di ketuk oleh Huda. Lalu terdengarlah suara sahutan dari dalam.
" Masuk aja, bi!"
Huda pun memutar daun pintu dan memasukan tubuhnya ke dalam ruangan tersebut.
" Assalamu'alaikum, pah!"
Ucap Huda yang sudah menghampiri pak Prayoga yang sedang asik memandang sebuah foto di meja dan mengusapnya lembut.
" Wa'alaikum salam, kirain papah bi Ani." kamu sudah pulang, nak? kok gak kabari, papah?"
Huda pun duduk di depan pria paruhbaya yang matanya baru saja mengeluarkan bulir bening pada kedua bola matanya, lalu menghapusnya perlahan.
" Huda khawatir dengan papah, makanya Huda pulang lebih cepat."
" Sudah beres urusanmu disana?" Pasti kamu menemui Kia juga kan disana?"
Tanya pak Prayoga yang kini sudah bangkit dari singgah sananya dan membuka perlahan gorden putih yang ada di sebelah kanannya.
" Huda hanya menemuinya sebentar, pah!"
"Bagaimana keadaan Kia sekarang apa dia masih terlihat sedih?"
" Kia sekarang lebih menikmati hidupnya disana, dia banyak disukai anak-anak di panti."
"Benarkah? Syukur alhamdulillah, kalu dia sudah sedikit demi sedikit dapat melupakan adikmu Prama. Walau papah tau itu tidaklah semudah yang kita bayangkan.
" Kia lebih kelihatan ceria, dan sepertinya Huda juga bisa melihat ada beberapa laki-laki yang menyukainya!" Ucap Huda yang langsung tertunduk lemas.
" Papah tahu, wanita seperti Kia akan banyak menyukainya karena, dia wanita yang supel dan juga cantik. Laki-laki manapun pasti akan menyukainya, apalagi anak papah ini, yang diam-di juga menaruh perasaan padanya, 'kan?"
__ADS_1
Ucap pak Prayoga yang menepuk bahu Huda dan meninggalkan pria berjembros tipis yang kini wajahnya sudah memerah karena pernyataan pak Prayoga.
" Dari mana papah tau akan perasaanku kepada Kia? Batin Huda.
πΌπΌπΌ
Di dalam kamar Huda yang kini sudah merbahkan tubuhnya dan berniat untuk menelpon seseorang yang sedari tadi ingin ia telpon.
Jari jemarinya menari indah mencari nama kontak yang ingin ia hubungi. 5 detik kemudian ia langsung menemukan nama tersbut dan seketika ia tempelkan benda pipih itu ke telinganya dan seketika telponnya telah tersambung.
π " Assalamu'alaikum, maaf kalau mas mengganggumu
π "Wa'alaikum salam, ada apa, mas?" mas Huda sudah sampai rumahkah?
π " Alhamdulillah, sudah setengah jam lalu, maaf mas baru mengabari sekarang.
π Oooh, syukur alhamdulillah kalau begitu.
π "Kamu sedang apa, Kia?"
π " Kia sedang ada di dalam bus, kebetulan acara kajiannya lumayan jauh jadi Kia bersama-sama dengan teman Kia naik bus."
π "Oooh, gitu. Hati-hati kalau di kendaraan umum.
π " Mas, maaf ya telponnya Kia matikan karena Kia sudah sudah sampai dan hp kia juga lowbet. Maaf ya mas!" Assalamu'alaikum.
π " Wa'alaikum salam. Hati-hati Kia!" Sahutnya ketika telpon itu seketika terputus.
Setidaknya Huda hari ini dapat mendengar suara wanita yang ia cintai walau itu hanya lewat udara.
Kini Huda pun pergi dari kasur yang sudah memanjakan tubuhnya menuju mejamakan.
Disana sudah ada pak Prayoga yang telah menunggunya. Kini bi Ani dan suaminyapun pak Dirman sudah duduk di meja makan agar suasana meja makan napak ramai dengan kehadiran mereka berdua.
" Tidak apa bi, saya malah senang kalau kita makan bersama bi Ani dan pak Dirman, lagi pula bibi sama pak Dirman sejak Huda dan Prama kecil sudah menjaga Huda jadi wajar kami sudah menganggap bibi dan juga pak Dirman sebagai keluarga sendiri."
Ucap Huda yang kini sudah duduk di sebelah pak Prayoga.
Beberapa memenit mereka sudah selesai dengan acara makan malamnya. Tiba-tiba suara bel di depan rumah berbunyi, menandakan ada tamu yang ingin berkunjung.
" Biar bibi liat dulu siapa yang datang!" ucap Bi Ani langsung menuju pintu ruang tamunyang jaraknya lumayan dari ruang makan.
" Papah lupa bilang sama kamu, Huda!" tadi siang sebelum kamu sampai sini ada teman SMAmu yang dulu pernah kamu ajak kesini datang berkunjung.
" Siapa, pah?"
" Kalu gak salah namanya Melisa apa Feredika gitu, papah lupa." ucap pak Prayoga yang membuat kaget Huda yang sedang minum.
Uhuk ... uhuk ... ukhuk
Seketika Huda hampir saja menyembutkan air dalam mukutnya, namun masih bisa ia tahan.
" Melisa?" Tanya Huda kaget dan langsung menatap pak Prayoga dengan penuh arti.
Seketika bi Ani pun datang. " Maaf, den. Ada den Brayen di depan?" ucap bi Ani seraya mbersihkan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur.
" Makasih ya, bi?"
" Ya, sama-sama, den!"
__ADS_1
πΌπΌπΌ
Brayen yang tadi dudukpun bangkit ketika melihat kedatangan Huda.
" Ada apa, Brayen. Sampai malam-malam gini datang ke rumah?"
" Maaf kalau kedatangan saya mengganggu, mas Huda!" jawabnya seraya mendudukan kembali tubuhnya pada kursi yang tadi ia duduki.
" Tidak, kok!" kebetulan kami baru saja makan malam. Ada apakah, apa ada laporan penting? tanyanya yang kini sudah duduk di kursi sebelah kanan Brayen.
Brayen pun menyodorkan 2 buah dokumen kepada Huda yang harus ia tandatangani.
" Ini kontrak kita dengan perusahan x kan? bukankah waktu itu saya sudah menandatanganinya?
" Ia waktu itu mas Huda sudah menandatangani, tapi tadi siang anak dari perusahan tersebut datang agar memberbaiki perjanjian kontrak kita dengannya!" Sepertinya wanita itu juga kenal dengan mas Huda."
" Benarkah? dia mengenal saya?" tanya Huda bingung.
" Ia dia namanya Melisa katanya teman adik kelas plus teman dekat mas Huda ketika SMA. Ucap Brayen menatap aneh wajah Huda yang terlihat kesal.
" Melisa? dia yang sudah meminta perjanjian kontrak iti di ganti? ini gak bisa di biarin. besok kita harus ke perusahan pak Anton membicarakan masalah ini." ucapnya sambil bedesis kesal.
" Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya, mas!" Karena saya sudah ada janji dengan teman saya malam ini."
" Baiklah terima kasih karena sudah menyempatkan datang ke rumah." Besok luangkan waktu untuk menemui pak Anton di perusahaannya!"
" Tidak jadi masalah sudah jadi tugas saya sebagai asisten mas Huda!" baiklah." Kalau begitu saya pamit ya mas. Assalamu'alaikum.
" Wa'alaikum salam, Terima kasih, Brayen!" Ucapnya sambil menepuk punggung Brayen yang kini sudah menuju pintu luar.
Hudapun memperhatikan isi dokumen tersebut. Seolah tak percaya bahwa wanita masa lalunya kini telah kembali dalam kehidupannya.
Melisa adalah mantan pacar Huda ketika SMA dulu, mereka pernah menjalin kasih selama 3 tahun. Karena kedaan jarak yang memisahkan mereka hingga akhirnya Melisa memutuskan untuk putus dan mencari pengganti dari Huda yang ketika itu melanjutkan study nya ke Australia selama kurang lebih 5 tahun dan melanjutkan S2 nyapun di sana. Hingga pada akhirnya Huda tak pernah lagi menjalani hubungan dengan wanita selain Melisa. Yang sekarang hatinya sudah di isi dengan ke hadiran Kia, yang bisa menggantikan posisi Melisa walau tak dapat dipungkiri oleh Huda bahwa rasa cinta itu masih ada sedikit untuk Melisa.
Huda pun menuju kamarnya sambil membawa dua buah dokumen di tanganya. Otanya seolah memutar masa lalu dimana ia pernah menjalain hubungan dengan Melisa. Masa-masa indah yang pernah ia lalui seolah memutar efisode dalam otaknya.
" Untuk apa ia kembali lagi ke sini, bukankah dia memutuskan untuk tinggal dan menetap di Itali? apa dia sudah putus dengan kekasihnya itu? Kekasih plus sahabat yang sudah menjadi perebut kekasih sahabatnya sendiri?" Batin Huda.
" Ahhh ... untuk apa aku memikirkannya lagi? toh di hati ini sudah ada Kia, bukan dia lagi! Ucapnya pada diri sendiri.
Seketika ia meletakan dokumen itu ke dalam tas kerjanya. Dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu melaksanakan shalat isya.
.
.
.
.
.
**Bersambung ----
πΌπΌπΌ
Mohon maaf ya, beberapa hari ini aku gak up. Karena hp ku lago error terus dan kondisiku juga lagi muel-muel...
Author do'akan untuk kalian semua yang sudah memberikan tip, vote, like dan komennya. Semoga selalu sehat selalu dan berkah selalu kehidupannya.
__ADS_1
Jangan lupa bahagia agar kita selalu bisa menikmati hidup ini dengan rasa Syukur.
Janganlupa jejaknya untuk author abal-abalan ini ya... terimakasih berkah selalu untuk kalian semuanya. Aamiin**