
"Sayang ...!" suara itu mengagetkan keduanya hingga membuat Kia langsung berdiri dan menemui sang suami yang sudah memanggilnya.
Rendy terdiam kaget ketika mendengar sumber suara yang begitu dekat di sampingnya, dari sisi lain perlahan tante Merry sudah menuruni anak tangga sambil membawa baju ganti untuk Nuga.
" Apakah mereka berdua sudah saling mengenal dan apa yang Rendy akan lakukan ke pada Kia!" sepertinya mereka pernah memiliki hubungan khusus hingga Rendy bisa seperti itu?" batin Merry.
" Tante Kahfi dan Kia pamit dulu, ya!" terima kasih untuk makan siangnya, lain waktu tante yang main ke rumah, ya!" ucap Kahfi berpamitan tanpa menghiraukan keberadaan Rendy.
" Kia juga pamit ya tante maaf sudah merepotkan tante!" ucap Kia sambil mencium punggung tangan tante Merry.
" Sama-sama, sayang. Tante merasa tak direpotkan justru tante senang kalian mau main ke sini! Semoga nanti bisa mampir lagi ya dan menginap di sini!" ucap tante Merry seraya mengendong Nuga.
" Insyaa Allah, tante!" aunty pulang dulu ya Nuga yang lucu, lain kali kita main lagi." ucap Kia sambil memainkan pipi gembul Nuga.
" Kenapa gak nginep disini aja si, Kahfi? Disini banyak kamar kosong loh!" ucap paman Dito yang sudah ke luar dari ruang kerjanya.
" Kebetulan Kahfi sudah membooking penginapan di pantai A, paman!" lain kali Insyaa Allah! " ucapnya sambil menggaruk pungung kepalanya yang tak gatal.
" Ooohh Ia ... Ya om ngerti. Maklum ya pengantin baru jadi gak mau di ganggu siapa-siapa!" ucap paman Dito diringi canda tawa dari sang istri.
" Kaya papah gak pernah negerasain aja!" ya gak, Ren? ledek tante Merry sambil menepuk tangan paman Dito.
Rendy hanya terdiam ketika mendengar candan dari kedua mertuanya. Dan tersenyum kecut. Kia dan Kahfipun berpamitan kepada paman Dito dan juga Rendy. Rendy yang sudah mengambil alih menggendong Nuga langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengatarkan Kia dan Kahfi sampai depan pintu.
🌻🌻🌻
Kia dan Kahfi melanjutkan perjalanannya untuk sampai ke tempat yang mereka tuju. 1 jam kemudia mereka sampai ke penginapan terlebih dahulu untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka selam perjalanan. Seorang pelayan sudah mengatarkan Kahfi dan Kia ke kamar yang Kahfi sudah pesan lewat online. Perlahan Kahfi membuka kuci pintu kamar tersebut. Dengan takjubnya Kia memandang kamar yang sudah di hias sangat romantis oleh pelayan pengnapan atas permintaan Kahfi.

"Masyaa Allah, mas!" apa ini tidak berlebihan?" tanya Kia saambil membuka jendela yang langsung tertuju pada pemandangan pantai yang dapat menajakan mata.
Perlahan Kahfi mendekatkan dirinya pada Kia dan memeluk Kia dari belakang sambil menautkan dagunya kebahu Kia, bertingkah manja sembari menikmati angin pantai yang menyapa mereka berdua denga lembut.
" Ini tidak berlebihan, sayang ku!" mas akan memberikan hal apapun yang bisa membuat istri kecil mas bahagia." ucap Kahfi sambil mengeratkan pelukannya, dan terdengarlah degup jantung Kia yang begitu keras.
Perlahan Kia mengelus lembut pipi kiri Kahafi dan tangan kanannya memegang tangan Kahfi yang melingkar di perut rampingnya.
" Jazakallah khoir, suamiku sayang!" ucapnya pelan namun masih terdengar ditelinga Kahfi.
" Aamiin!" sama-sama, sayang." kita sholat dzuhur dulu ya nanti kita istirahat sejenak pas sore kita bisa berkeliling melihat pemandangan pantai." ucap Kahfi sambil mengajak Kia berjalan kecil menuju kamar mandi.
Selesai dengan sholat dzuhur, Kia membereskan baju yang beberapa yang ia bawa dari rumah untuk di masukan ke dalam lemari yang sudah tersedia di dalam kamar tersebut.
" Sayang, mau minum apa? Biar sekalian mas ambilkan di dalam kulkas!"
" Apa saja mas, yang penting tidak membuat Kia mabuk!" ucap Kia di iringi tawa kecil.
" Gak apa-apa kalau mambuk cinta sama mas, mas gak akan melarang!"
" Garing!"
" Emangnya mas kerupuk kulit, garing! Yang ada juga gigi mas nih yang garing!"
" Itu si namanya taring, mas!" jawab Kia sambil memainkan kelopak bunga yang ada di tempat tidur.
Kahfi pun memberikan minuman rasa jeruk kepada Kia yang kini sudah ada di atas tempat tidur, sambil menaruh balon ke atas nakas.
" Terima kasih ya, mas!"
__ADS_1
"Sama-sama, sayang."
Selesai makan cemilan dan minum Kia merebahkan badannya yang terasa lelah dengan baju santai yang sudah ia kenakan. Kahfipun menaiki tempat tidur dan berbaring di sebelah Kia.
" Sayangnya mas udah mau istrirahat ya, Gak mau kasih hadiah buat mas dulu?" ucapnya seraya mendekatkan bibinya ketelinga Kia.
" Hadiah!" Memangnya Kia menjanjikan hadiah ya buat, mas?" ucap Kia membalikan posisi badannya dan melihat dengan jelas pria yang kini ada di atas wajahnya, dengan angukan kepala Kahfi menjawab dan menyentuh lembut hidung Kia dan sekilas mencium kening Kia dan berpura-pura tidur di dekat sang istrinya.
" Masss ... Kia beneran naya nih, jangan di tinggal tidur dong!" ucap Kia sambil mengguncang-guncangkan badan Kahfi yang berada di sebelahnya.
" Ya sudah sekarang kita tidur aja dulu hadiahnya nanti malam saja baru kita bahas ya!" ucap Kahfi yang membuat Kia kaget karena dengan sempurnanya Kahfi membuka matanya hingga membuat Kia yang ada di dekatnya sedikit tersentak karena tatapan Kahfi.
🌻🌻🌻
Sore hari, setelah sepasang suami istri tersebut bangun dari tidur siangnya dan melaksanakan sholat ashar. Kahfi yang sudah rapih dengan gaya berpakaian santainya menuju ke luar untuk mencari makan kecil diringi Kia di belakangnya yang ingin sekali berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin pantai dan suasana serta pemandangan di sore hari.
" Sayang, mau makan apa?" tanya Kahfi ketika melihat sebuah rumah makan di tepi pantai yang cukup ramai dengan pengunjung.
" Dek ikut apa yang mas mau aja!" jawab Kia yang matanya tak henti-hentinya berkeliking sekitaran pantai yang mengingatkannya akan seseorang yang sering mengajaknya ke tempat ini.
" Ya sudah mas, pesan makanan dulu ya, dek cari-cari tempat yang menurut de bagus!" ucapnya sambil melepaskan gengaman tangannya.
" Baik, mas. hati-hati de akan chat mas bila sudah mendapatkan tempat yang tepat untuk kita."
Perlahan Kia mencari tempat yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung namun matanya terhenti ketika ia melihat seseorang yang sudah lama ia kenal.
" Sepertinya itu Naura, Brayen dan Ulan lalu siapa pria yang satunya? yang menurutku tak asing?" batin Kia.
Beberapa menit kemudian datanglah Kahfi sambil membawa dua buah es krim untuknya dan Kia.
" Sayang?"
" Mas!"
" Ya, disini terlalu ramai pengunjung! gimana kalau kita makan di tempatnyaa aja biar gak terlalu makan waktu, habis itu baru kita jalan-jalan. Gimana, Mas?
" Ya sudah, jadi kita makan di sana aja nih?"
" Maaf ya, mas! jadi bikin mas bolak balik!"
🌻🌻🌻
Kia dan Kahfi pun akhirnya duduk di sebuah lesehan yang di sediakan rumah makan tersebut. Pelayan yang sudah meletakan makanan yang sudah di pesan Kahfi. Keduanya menikmati dengan lahapnya seketika Kahfi tersenyum ketika melihat Kia yang menyantap sate kambing dengan lahapnya sehingga membuat bibirnya belepotan dengan bumbu sate.
" Sayang, kok makanya kaya anak kecil gini sih!" ucap Kahfi sambil membersihkan bekas kecap dekat bibir Kia sehingga Kia diam tak berkutik sambil menatap wajah Kahfi yang begitu dekat dengannya. Seketika lamunan Kia terkaget ketika Kahfi menyentuh ujung hidung Kia dengan jari telunjuknya.
" Iihhh, mas iseng aja deh!" ucap Kia sambil mengerucutkan bibirnya dan hendak membalas perbuatan suaminya, namun tanganya terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
" Kia!" ini beneran kamu, deak?
Ucap sesorang wanita yang menggunakan gamis berwarna navy dengan jilbab biru mudanya.
Seketika Kia menoleh pada sumber suara yang ada di depannya seorang wanita yang sudah lama ia baru berjumpa lagi.
" Mba, Mba Mesi?? Yaa ampun kita bisa ketemuan disini ya? ucap Kia senang dan langsung menyuruh Kiran untuk ikut gabung bersama mereka berdua.
" Ini ... ini ... mas Kahfi 'kan? ucapnya ketika melihat pria yang bersama Kia.
" Mba Mesi kenal dengan mas Kahfi?"
__ADS_1
Kahfi yang tak asing dengan wanita yang kini ada di hadapannya merasa canggung karena Mesi adalah salah satu wanita yang pernah mengirim biodata ta'aruf ketika Kahfi sudah lulus dari kuliahnya.
" Ya kenal dong de, mas Kahfi ini dulunya satu almamater sama mba waktu kuliah tapi mas Kahfi ini kakak kelas mba!
"Sudah lama aku gak liat senyum kamu sebahagia ini, mas. Andaikan waktu itu kamu gak menolak ta'arufanku bersamamu. Mungkin kita saat ini sudah membina rumah tangga bersama." Gumam Mesi dalam hati.
" Mas Kahfi ini suami Kia, mba!"
" Loh, kamu sudah nikah toh, dek? kok gak ngundang-ngundang !"
" Sayang, mas ke tolilet sebentar ya!" ucap Kahfi ketika Kia dengan asyiknya berbincang-bincang dengan Mesi.
" Ya, mas!"
Seketika Mesipun mencari tau asal usul Kia dan Kahfi bisa bertemu. Kia pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhirnya ia menikah dengan Kahfi. Sedikit banyaknya Mesi pun menceritakan tentang Kahfi yang pernah menjadi idola sebagian mahasiswi di kampus tempat Kahfi dan Mesi kuliah dimana Kahfi melanjutkan S2 nya sedangkan Mesi masih mengejar S1 nya ketika itu. Ketika mereka berdua masih asik dengan cerita masing-masing Kahfi pun datang.
" Deak, mas sudah bayar semuanya mas ke sana dulu ya, bila de sudah selesai de bisa susul mas ke sana!" ucap Kahfi sedikit dingin.
" Baik, mas?" ucap Kia yang bingung dengan perubahan wajah suaminya.
Kia dan Mesi pun melanjutkan cerita masing-masing selam mereka sekian bulan tak pernah bertemu lagi semenjak kejadian Prama. Saat mereka asyik bertukar cerita satu notif masuk ke ponsel Kia. Kia langsung meraih ponselnya yang ia letakkan tak jauh dari sisinya. Kia pun langsung membalas chat yang berasal dari suaminya yang menyuruhnya untuk segera menyusul.
" Ya, sayang. De langsung ke sana sekarang ya! maaf kalau keasikan ngobrol jadi mas nunggu lama." Balas Kia pada chat yang sudah terkirim.
Tanpa menunggu lama Kia pun langsung berpamitan dari Mesi dan langsung menuju pada Kahfi yang sudah menunggunya di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari tempat dimana Kia dan Prama pernah bersama.
" Mas ... maafin de ya karena, keasikan ngobrol sama mba Mesi mas jadi kelamaan nungguin dek disini!"
" Gak apa, mas ngerti kok gimana rasanya berbagi kisah kepada teman yang sudah lama tidak berjumpa." ucap Kahfi sambil melempar batu ke pantai.
" Sepertinya mba Mesi tau banyak tentang mas Kahfi. Apa antara mas dan mba Mesi pernah ada sesuatu?" tanya Kia penasaran.
Seketika lemparan batu yang ke tiga terhenti ketika mendengar pertanyaan dari mulut sang istri yang begitu ringannya.
" Haruskah mas jawab?" Ucap Kahfi yang berbalik bertanya.
" Kalau mas bersedia, kalau tidakpun tak apa!" ucap Kia melemahkan suaranya ketika tau wajah suaminya sudah berubah ketika Kia melontrkan pertanyaan tersebut.
" Mas tidak mau rencana kita berdua berantakan ketika mas harus menceritakan masalalu. Jadi lupakanlah suatu saat kita bisa berbagi kisah kita masing-masing dalam situwasi dimana kita sudah mengenal karakter kepribadian yang kita miliki!" ucap Kahfi sambil memeluk Kia dari depan.
Kia yang mendengar ucapan dari Kahfi seolah tau bahwa suaminya tak suka bila Kia mengorek tentang masalalunya. Begitu juga Kia memahami bahwa selama ini Kahfi tidak pernah mengorek-ngorek masalalunya bersama Prama.
" Maafin de ya, mas!" ucap Kia yang mendongakan wajahnya ke wajah Kahfi yang matanya tertuju pada pemandangan pantai namun tatapan matanya beralih pada wanita yang kini ada di dalam dekapannya dan mata keduanya kini saling pandang.
" Kita keliling-keliling ya, sayang! ucap Kahfi menyentuh halus pipi Kia yang memerah.
Dengan anggukan Kia mengiyakan ajakan suaminya. Mereka pun menikmati langkah demi langkah dengan selalu berpegangan tangan. Mesi yang kini sudah di temani oleh suaminya hanya bisa melihat pemandangan yang ada di depan matanya dengan hati yang sedikit ada rasa cemburu pada Kia karena ia masih memendam cinta untuk Kahfi.
.
.
.
.
.
**Bersambung ----
__ADS_1
mohon maaf bila dua pekan ini aku gak up2 karena satu dan lain hal, kesibukan mengurus rumah tangga dimana kedua putri ku sakit dan bergantian dengan aku juga. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pembaca setia " DIAKAH JODOH PILIHAN ALLAH? "
Sehat2 selalu untuk kalian semuanya. Terima kasih**