Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
57. Menahan Ngatuk


__ADS_3

Semilir angin di subuh hari membawa pria berkacamata itu melewati jalan yang sudah banyak para laki-laki yang datang ke masjid. Ia berharap dapat melaksanakan shalat shubuh ketika ia sampai di rumah.


Suara azanpun berkumandang ketika dirinya sudah sampai di depan pintu rumah yang sudah menyalah lampu disetiap ruangannya. Perlahan ia buka hendel pintu di lihatnya pria berkoko biru duduk santai di ruang tamu sambil menunggu kehadirannya. Belum juga Kahfi mengucapkan salam pria tersebut sudah menjawab salamnya.


" Wa'alaikum salam, dari mana si mas bro jam segini baru pulang? Ana dari jam 4 mau ke luar untuk ke mesjidpun tak bisa karena mas bro konci pintu dan tak memberitahu konci serep ada dimana!" gerutunya ketika melihat Kahfi yang baru meletakan jaketnya di kursi.


" Maaf, semalam mas buru-buru karena panik mendengar Fatur panas hingga tak sadarkan diri!" jawabnya lemas karena semalaman ia tak tidur menjaga Fatur dan Kania.


" Innalillahi, terus gimana sekarang keadaannya, mas? Tanyanya kaget


" Alhamdulillah semalam sudah sadarkan diri dan sudah minta minum." Ya sudah kita langsung ke masjid saja ya untuk sholat shubuh nanti jam 8 an mas akan ke klinik lagi menggantikan akhi Adam yang sekarang bergantian menjaga Fatur dan Kania!" ucap Kahfi seraya mengambil kain sarung ke dalam kamar dan menggati bajunya dengan koko putihnya.


Dua pria tampan itupun pergi menggunakan motor yang Yazid bawa dari rumah berharap agar mereka tidak telat untuk melaksanakan sholat subuh berjama'ah.


***


Motor itupun melaju cukup cepat karena Yazid yang membawanya, 5 menit kemudian sampailah mereka di depan masjid. Sholat shubuhpun dilaksanakan yang di imami oleh kiai Mansur dan sekaligus mengisi kultum shubuh pagi ini.


Sholat shubuhpun selesai, jama'ah mulai duduk tertib di tempat semula untuk mendengarkan kultum yang akan di sampaikan oleh kiai Mansur. Kahfi yang duduk bersebelahan dengan abah Dahlan dan juga Razi seraya bersalaman sekilas abah Dahlan melihat wajah Kahfi yang terlihat menahan hawa ngatuk sehingga sesekali Kahfi menguap.


"Sepetinya nak Kahfi sangat mengatuk, apa semalaman tidak tidur? Tanya abah Dahlan.


Razi yang mendengar itupun seolah mempunyai ide jail ingin memggoda calon adik iparnya.


" Biasalah, bah!" Dia pasti tak bisa tidur karena selalu kepikiran dengan wajah calon bidadarinya yang selalu menari-nari dalam benaknya!" ucap Razi sambil menyengol bahu Kahfi yang melemas.


" Gak, gak kok, bah!" jangan denger ucapan Razi. Itu dia kali waktu mau menikah dengan Tari!" Jawab Kahfi yang belum mengatakan prihal anak panti yang sakit semalam.


" Mas bro semalam habis begadang nemenin Fatur yang sekarang ada di klinik.!" celetuk Yazid yang tau kalau Kahfi tidak akan memberitahu hal itu kapada abah Dahlan dan juga Razi karena, ia berpikir bila ia beri tahu pasti mereka mengabari berita ini kepada Kia.


Kultum pun dimulai, semua jama'ah mendengarkan, begitu juga 4 pria yang sedari tadi sibuk mengobrol hingga menghentikan obrolannya karena, ingin mendengarkan kultum yang akan disampaikan kiai besar pemilik asrama Al- Aamiin.


Setelah selesia kultum para jama'ahpun berhamburan ke luar. Kahfi yang sedari tadi sudah menahan kantuk, langsung diantarkan Yazid ke rumahnya berharap Kahfi bisa memejamkan matanya walau hanya beberapa jam.


***


Di kediaman abah Dahlan Kia, Tari, bu Aisyah dan nek Rumi yang sedang sibuk di dapur mempersiapkan sarapan dan aneka macam minuman yang di racik oleh Tari dan Kia.


Kia sibuk membuatkan kopi untuk abah Dahlan dan pak Hasbi. Sedangkan Tari sibuk membuatkan susu jahe kesukaan Razi dan memletakanya di meja makan yang sudah tersedia nasi goreng buatan bu Aisyah.


Abah Dahlan, pak Hasbi, Razi sudah duduk dikursi masing-masing sambil menikmati secangkir kopi dan susu jahe yang sudah di sediakan.


Kia yang tidak ikut bergabung bersama mereka berniat ingin masuk ke dalam kamar namun langkahnya terhenti ketika Razi memberi tahu bahwa ada salah satu anak panti yang semalam masuk klinik.


"Kia, apa kamu sudah tau kalau semalam akhi Kahfi membawa salah satu anak panti ke klinik karena, demam yang tinggi yang mengakibatkan anak tersebut tidak sadarkan diri!" ucap Razi yang membuat Kia membalikan tubuh ya ke belakang.


" Aa tau dari mana berita itu, dan siapa anak yang di larikan ke klinik? Ucapnya seperti mengitrogasi Razi.


" Nak Yazid memberi tahu karena, abah gak sengaja melihat wajah ngatuk nak Kahfi ketika tadi di mesjid! Dan nak Yazid menjelaskan bahwa nak Kahfi semalam bergadang karena, menunggui kakaknya Kania yang sakit!" kali ini abah Dahlan yang angkat bicara.


Kia pun langsung masuk ke kamar dan meraih ponselnya yang sedang dipegang oleh Rahma karena seseorang menelpon pada ponselnya Kia.


"Kebetukan ini ada kak Kianya, kak!" ucap Rahma sambil memberikan benda pipih itu kepada Kia.

__ADS_1


Kiapun menerima ponsel dari tangan Rahma. Dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh pria di sebrang sana. Yang menyuruhnya untuk datang ke klinik karena Adam kerepotan dengan Kania yang terus menagisi Fatur abangnya.


" Ya sudah Kia akan segera kesana? Tolong kak Adam tenangkan Kania dulu ya!". Wa'alaikum salam. Putusnya mengakhiri panggilan dari Adam yang di temani Febby.


***


"Aa, Kia boleh minta tolong antarkan Kia ke klinik ujung jalan raya sana?" ucap Kia yang sudah rapih dengan tas kecil yang ia gunakan.


" Tapi aa pagi ini 'kan mau mengatarkan, ayah, ibu dan Rahma ke stasiun!, Gimana dong kalau ayah dan ibu sampai telat? Ucap Razi bingung.


" Ya sudah biar abah aja yang anterin Kia!" ucap abah Dahlan menawarkan diri.


Kiapun langsung berpamitan kepada pak Hasbi, Rahma dan bu Aisyah karena tidak bisa menemani mereka sampai ke stasiun.


" Hati-hati ya, sayang!" ucap bu Aisyah mencium kening Kia.


***


Kia dan abah Dahlanpun berangkat menggunakan sepedah motor yang usianya sudah cukup lama dibandingkan Rahma.


Perlahan abah Dahlan menjalankan sepedah motor tersebut. Walau pelan asal sampai ketempat tujuan dengan aman.


20 menit kemudian sepedah motor itupun terpakir di depan klinik dokter Danil. Abah Dahlan memang hanya mengatarkan Kia ke tempat tujuan, langsung memutar balik motornya untuk pulang kembali ke rumah agar bisa ikut mengatarkan anak, cucu dan menantunya ke stasiun kereta.


Kiapun masuk ke ruangan yang sudah diberitahu oleh suster pengganti shift pagi ini. Ia melihat Kania yang belum mau disuapi oleh Febby untuk sarapan, hanya bisa menangisi Fatur yang sedang tertidur pulas yang ditangan kirinya ada sebuah selang infusan untuk memberikan cairan pada tubuh Fatur agar tidak terjadi dehidrasi.


Kania yang melihat ke datangan Kia langsung datang memeluknya sambil menangis.


Hati Kia merasa sakit ketika gadis kecil yang selalu ceria itu mengeluarkan airmata.


Dengan sebuah anggukan kepala ia menjawab dan menunjukan kursi yang ada di sebelah tempat tidur Fatur.


15 menit kemudian sarapan itu pun habis sampai tak bersisa oleh tangan lembut Kia yang setiap suapannya ia selipkan nasehat-nasehat kecil untuk Kania.


Jam pun menunjukan pukul 8 pagi menandakan Adam dan Febby akan pulang karena, mereka berdua akan mengajar di tempat berbeda. Adam yang akan mengajar di panti menggantikan Kahfi dan Febby mengajar di asrama Al Amiin.


" Kami pamit ya Kia, Inshaa Allah nanti ada kak Kahfi datang ke sini sambil membawakan baju ganti untuk Kania dan Fatur!" Ucap Adam yang hendak berlalu ke arah pintu ke luar.


Tak lama sepasang suami istri itu ke luar, Kahfi pun datang dengan membawa baju ganti yang sudah disiapakan oleh bu Asih untuk Kania dan Fatur.


"Kakak tampan ... kenapa pas Kania buka mata kakak tidak ada di sisi, Kania? teriaknya memeluk kedatangan Kahfi.


" Maaf ya, pas shubuh kakak pulang karena Ustadz Yazid ada di dalam rumah, dan kuncinya kakak yang bawa!" jadi kakak harus pulang dulu membukakan kuncinya. " Sekarang Kania mandi dulu, ya? ini kakak bawakan baju gantinya!" ucap Kahfi sambil memberikan tas kecil kepada Kania.


" Kania, hayuk mandi!" biar pas abang Fatur bangun Kania sudah cantik dan wangi!" rayu Kia.


Kania dan Kia pun masuk ke dalam kamar kecil yang ada di klinik tersebut. Dengan hati yang sangat bahagia Kania begitu gembira ketika tau dirinya akan dimandikan oleh Kia.


Kahfi yang mendengar canda tawa mereka di dalam kamar mandi selalu mengulas senyuman mendengar canda tawa yang tercipta di balik pintu kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Kania dan Kia pun ke luar. Di lihatnya gamis yang Kia gunakan begitu basah di bagian bawah dan pergelangan tangannya.


"Dia rela membuat gamisnya basa hanya untuk membuat Kania bahagia, anak orang lain saja ia perlakukan seperti itu bahagia mana nanti dengan calon anak-anak kami? pasti ia sangat menyayanginya!" Batin Kahfi.

__ADS_1


Kania yang melihat gamis Kia basah karena ulahnya waktu di dalam kamar mandi, hanya tertunduk dengan bibir mengerucut.


" Maafkan Kania ya kakak, cantik! baju kakak jadi basah gara-gara kakak memandikan, Kania!" ucapnya lirih.


" Tidak apa-apa sayang, nanti juga kering kok jadi, bidadari yang baru mandi ini gak boleh cemberut seperti ini!" nanti cantik dan wanginya hilang, loh!" rayu Kia sambil mencubit kecil dagu kecil Kania agar gadis kecil itu menatapnya dan tersenyum.


Kahfi yang melihat apa yang ada di depan matanya hanya berkagum ria dalam hati. Dan kakinya pun melangkah ke luar untuk mencari sesuatu.


" Kakak tampan mau kemana? Kania ikut boleh?"


Gadis kecil itu berlari menghampiri Kahfi ketika mendapat persetujuan dari Kahfi dan izin dari Kia.


***


Sampailah Kahfi dan Kania di sebuah toko baju yang baru saja dibuka oleh sang pemilik toko baju. Kahfi dan Kaniapun masuk dan memilih-milih gamis untuk Kia. Jatuhlah pilihan Kahfi pada gamis berwarna hijau muda yang menurutnya sangat cocok bila digunakan oleh Kia.


" Bagaiman kalau yang ini cocok tidak untuk kak Aulia? tanya Kahfi kepada Kania.


" Kania rasa itu sangat cocok dengan kak Aulia, karena kak Aulia itu cantik dan juga lembut, selembut gamis yang kakak tampan pilihkan untuknya!". Kania mengusap lembut gamis tersebut lalu menempelkan pada pipinya.


Ketika Kahfi akan membayarkan gamis yang sudah ia dapatkan untuk Kia, tak lama kemudian Kania berlari menghampiri patung yang mengenakan kemeja yang warnanya hampir sama dengan gamis yang Kahfi belikan untuk Kia.


" Kakak tampan baju ini Kania rasa sangat cocok untuk kakak tampan jadi kakak dan kak Aulia punya baju yang sama!" beli juga ya untuk kakak tampan!" rayu Kania yang membuat pria berkaca mata tersebut hanya memanggutkan kepala dan memberikan senyum tipis kepada Kania.


Akhirnya Kahfipun membelikan baju gamis juga untuk Kania, yang niatnya hanya membeli gamis untuk Kia.


" Kakak tampan kapan abang Fatur pulang dari sini? Kania ingin cepat-cepat bisa main dengan abang Fatur di taman panti!" lirihnya sambil menatap Kahfi yang mengendarai mobil.


" Kania sabar, ya?" banyaklah berdo'a agar abang Fatur cepat sehat agar abang Fatur cepat pulang dan bisa main dengan Kania sepuasnya!"


" Baik, siap kakak tampan!"


.


.


.


.


.


Bersambung-----


🍀Jangan lupa untuk:


TIP


LIKE


KOMEN


VOTE

__ADS_1


dan RATEnya ya!! 🍀


__ADS_2