
Kia dan Kahfi pun telah kembali ke rumahnya dan mlanjutkan segudang aktifitas yang sudah seminggu mereka tinggalkan.
Baju-baju kotorpun sudah bersih Kia cuci. Kini ia sibuk memilih menu apa yang akan ia masak untuk hari ini. Ketika tanganya sibuk untuk mengambil seikat bayam, terhenti ketika suara Kahfi memanggilnya.
"Sayang, bisa minta tolong ambilkan handuk! mas lupa bawa handuk" teriak Kahfi yang masih di dalam kamar mandi.
"Ya sebentar dek ambilkan, mas. Sahut Kia yang seketika meninggakan seikat bayam itu di atas meja. Sambil mencuci tanganya Kia langsung menuju keberadaan handuk tersebut.
Dengan kepala yang sedikit muncul Kahfi meraih handuk itu dari tangan Kia. Sedikit keisengannya Kahfi malah menarik tangan Kia hingga masuk ke kamar mandi.
"Masss! jangan jail deh. Dek masih banyak tugas yang harus dek kerjakan sayang. Rengek Kia yang mencoba berontak dari pelukan Kahfi.
Sedikit berbisik Kahfi berkata. "Mas mau menagih janji dek yang katanya kalau sudah di rumah kita mau mandi bareng sama mas.
Tapi gak sekarang juga masss.
Tanpa menunggu persetujuan sang pemilik tubuh, Kahfi langsung membuka satu persatu kancing baju tidur yang masih Kia kenakan dan langsung ia menghujani air ketubuh mereka berdua.
Kahfi dengan terampilnya menyabuni seluruh tubuh Kia dengan lembut hingga membuat tubuh Kia merasakan geli namun menjadi candu bagi tubuhnya yang disentuh oleh tangan Kahfi yang lembut. Kahfi seolah menuntun tangan Kia untuk melakukan hal yang sama dilanjutkan dengan belaian pada kepala Kia yang sudah penuh dengan busah sampo diikuti lum at an bibir Kahfi menyentuh bibir ranum Kia.
Hingga akhirnya suara merdu itupun terdengar di dalam kamar mandi, hingga keduanya menikmati setiap sentuhan yang mereka ciptakan diantara keduanya.
***
Jam menunjukan pukul 7 pagi, Kahfi yang sudah rapih dengan kemeja birunya duduk menikmati secangkir teh jahe buatan sang istri.
Kia yang masih sibuk di dapur pun terhenti ketika menedengar dering telpon yang ada di meja makan yang tak sengaja ada di depan Kahfi.
"Sayang ini ada telepon dari Razi. Teriak Kahfi yang bangkit dari duduknya dan hendak memberikan handphone tersebut kepada Kia.
Dengan cepat Kia meraih benda tersebut sambil sibuk mengelap tanganya yang masih basah.
Setelah 5 menit Kia menerima telepon dari sang kakak tercinta Kia menghampiri sang suami yang hendak melanjutkan pekerjaanya yang tertunda di dapur.
"Ada apa aa dek telepon pagi-pagi begini? Tanya Kahfi yang mulai merapihkan sayur-sayuran yang hendak Kia masak ke dalam kulkas.
Kia yang melihat hal tersebut langsung bergerak cepat mencegah tangan suaminya yang hendak memasukan sayuran yang sudah ia potong-potong dengan penuh heran. Sambil menjawab pertanyaan sang suami Kia memcoba menuntaskan pekerjaannya.
"Itu kak Tari minta dibuatkan nasi goreng sama aa Razi tapi seperti nasi goreng buatan dek. Ya usah dek kasih aja resepnya."
Mas, kok sayur-sayurannya di masukin ke dalam sihh, kan dek mau masak! ucap Kia yang sudah dekat di hadapan Kahfi.
"Oohh begitu ya! sedkiti lucu ya kalau istri sedang hamil suka ada-ada aja yang diminta. Dengan memeleuk sang istri Kahfi membayangkan bila suatu saat Kia mengidam dan membuncit perutnya.
"Itulah keseuruan saat hamil, pokoknya suami itu harus sigap dalam memenuhi keinginan istri karena hormon ibu hamil itu kadang turun naik. Sahut Kia yang tanganya hendak meraih pintu kulkas namun langsung dicegah oleh sang suami.
"Mas sudah pesan sarapan lewat online jadi dek gak usah cape-cape masak ya, mas tau pasti dek cape dengan ritual kita tadi di kamar mandi. Cegah Kahfi yang sambil mengecup pipi Kia.
Terimakasih ya, mas. Sambil nunggu makananya datang de ganti baju dulu ya, hari ini mau ngajar anak-anak dek dah kangen banget sama suasana di kelas. Ucap Kia yang sekilas mengelus wajah sang suami untuk menutupi rasa malu atas perkataan sang suami menggodanya.
***
Selesai sarapan Kia langsung mengantar sang suami ke halaman karena hari ini Kahfi akan ada pertemuan dengan salah satu orang yang ia percaya dalam menangani usaha orangtuanya.
__ADS_1
"Kalau sudah sampai kabari dek ya, mas! ucap Kia yang sudah melambaikan tanganya ketika mobil Kahfi sudah melaju.
Dengan anggukan Kahfi mengiyakan permintaan sang istri diiringi senyuman hangat dari bibirnya dan berteriak.
"Mas akan selalu merindukan bidadari, mas."
Kia yang masih memandangi mobil Kahfi yang sudah sedikit tak terlihat seketika Kia pun melangkahkan kakinya untuk menuju asrama yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah 10 menitan Kia berjalan seketika gerak kakinya terhenti ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. Seseorang yang sudah lama sekali tidak ia jumpai namun ia masih hafal betul dengan raut waja tersebut.
"Assalamu'alaikum, Kia. Apa kabarmu? maaf bila kehadiranku menghentikan langkah kakimu. Ucap wanita yang sudah mengetahui bila Kahfi menikahi permpuan yang pernah menjadi musuhnya ketika itu.
"Wa'alaikum salam. Jawab Kia yang matanya seolah tak percaya bahwa wanita yang berkerudung ungu itu adalah Kinanti yang dulu pernah sering mengerjainya ketika diperusahan.
Kinanti kamu cantik sekali, aku sempat tidak mengenalimu. Bagaimana kabarmu? tutur Kia yang tak henti memandangi Kinanti dengan heran mengapa dirinya bisa ada disini.
'Kabarku baik, Kia. Aku kesini ingin menjemput adik-adikku! Ucap Kinanti yang mengikuti langkah kaki Kia.
"Adikmu? siapa? pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Kia.
"Memang ustadz Kahfi tidak memberitaukan mu? atau bercertita tentang adik-adikku kepadamu? adikku disini ada dua orang, Kia. Jawab Kinanti yang menjelaskan kepada Kia hingga mengungkit cerita masalalu mereka.
"Maksudmu Kania dan Fatur? jadi mereka itu adikmu, Kinan? Kia yang sama sekali belum mengetahu bila Fatur dan Kania adalah adik dari Kinanti merasa heran dan kaget.
"Ya mereka berdua adalah adik-adiku yang harus ku titipkan ke pantiasuhan ini, ketika pak Prama memecatku ketika kasusku denganmu ketika itu. Hingga akhirnya aku tak bisa lagi membiayai adik-adikku, sampai akhirnya aku mendatangi panti ini dan bertemu dengan ustadz Kahfi yang dengan tangan terbuka menerima adik-adikku yang waktu itu aku tak punya lagi uang untuk memberikan mereka makanan. Kau tau Kia, hatiku hancur melihat adik-adikku merengek kelaparan dan diriku sempat menyimpan dendam di hati ini kepada dirimu dan juga pak Prama." Tutur Kinanti yang diiringi air mata yang membasahi kedua pipinya. Dan disudut kelas ada Fatur dan Kania kecil yang mendengarkan kisah kakaknya barusan.
Dengan langkah cepat Fatur melangkahkan kakinya dengan cepat dan langsung memukuli tangan Kia dengan kuatnya.
"Tidak seperti itu Fatur, Kak Aulia...!' tutur kata Kia terhenti ketika Kania teriak sambil memeluk kakanya Kinanti.
"Kakak cantik bukan orang baik, karena sudah membuat kita seperti ini. Kania gak mau lagi kenal dan diajari sama kak Aulia. Kania benci sama kak Aulia.
Kia yang berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Kania dan Fatur usahanya sia-sia karena Fatur dan Kania tidak mau mendengarkannya dan meninggalkan Kia di dalam kelas sendirian.
"Kia, maafkan aku. Aku akan menjelaskannya kepada mereka nanti sesampainya di rumah. Sampaikan salam kami kepada ustadz Kahfi, maaf aku membawa adik-adikku pulang dulu. Ucap Kinanti yang berusaha untuk meyakinkan Kia agar tak sedih dengan sikap adik-adiknya.
"Fatur, Kania kalian belum tau cerita sebenarnya, kalian baru mendengarkan sedikit cerita itu. Aku sudah menyayangi kalian seperti adikku sendiri. Jangan bersikap seperti itu kepada kak Aulia Kania, Fatur!" Teriak Kia yamg sudah ditinggalkan pergi oleh Kinanti dan kedua adiknya.
Adam dan Feby yang baru datang melihat Kania dan Fatur terus berucap membenci Kia, hingga membuat mereka bertanya-tanya ada apa sebenarnya.
" Mas, mengapa Kania dan Fatur sampai bicara seperti itu sambil menangis, apa yang sebenarnya terjadi dengan Kia dan mereka? dan permpuan itu siapa, mas? tanya Faby yang sambil mengikuti langkah cepat Adam.
"Mas juga tidak tau kenapa, dan wanita itu adalah kakak Fatur dan Kania. Jelas Adam yang kakinya terhenti ketika mendengar isak tangis dari dalam kelas yang disusul Feby yang langsung memeluk Kia.
"Kia...! ada apa sebenarnya?" Tanya Feby yang kini berusaha untuk menanyakan kepada Kia dengan pelukannya.
Kia yang tak tau harus menjelaskan dari mana, ia hanya terdiam sambil sesekali menyeka air matanya dengan tisu pemberian Feby.
"Sudah, lebih baik kita bawa Kia pulang ke rumahnya, itu akan lebih baik. Saran Adam.
***
Langit sudah mulai gelap jam pun menujukan pukul 17.30 Wib. Kia yang masih termenung sambil melihat foto-foto kebersamaannya bersama Kania dan Fatur di phonselnya tak terasa air matanya jatuh setiap kali terdengar ucapan Fatur dan Kania yang membenci dirinya.
__ADS_1
Tak disadari seseorang yang ia sangat ia rindukan sudah pulang dan mengucapkan salam. Namun salam itu tak terjawab karena sang penghuni sedang asyik dengan isi lamunannya.
Seketika Kahfi melihat setiap ruangan tak ia temukan sang istri di dalam. Mata Kahfi langsung tertuju pada pintu teras belakang yang terbuka, ia bisa menebak pasti sang istri ada disana. Ia letakan tas yang ada ditanganya di atas meja makan. Ia melihat tetesan bulir bening pada mata sang istri dan mencoba mendekati Kia pelan-pelan.
"Sayanggg, kenapa?
Seketika Kia terkaget dengan kehadiran sang suami di hadapannya. Sambil berusaha menetralkan susana hatinya dan diikuti tangan yang mengusap air matanya.
"Mas, kok pulang gak ucapin salam. Jawab Kia yang meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tanganya.
"Gimana dek mau denger salamnya mas, orang sayangnya mas lagi melamun di sini" Jawab Kahfi yang memeluk erat sang istri sambil mengelus-elua pungungnya dengan lembut.
"Sekarang kita masuk ke dalam ya, gak baik sore-sore begini melamun di teras belakang sendirian." Ajak Kahfi yang tak melepaskan pelukanya dari bekakang Kia.
Kia yang diam saja akan tingkah sang suami merasa lebih tenang hatinya dari sebelumnya. Dan memulai masuk ke dapur untuk menyediakan segelas teh manis hangat untuk sang suami tercinta.
Setelah selesai sholat Isya Kahfi dan Kia duduk di ruang tv. Kahfi yang penasaran apa yang buat sang istri sesedih itu. Walau Kahfi tadi sempat menerima pesan singkat dari Adam yang mengabarkan bahwa Kia sedang sedih akibat kejadian Kania dan Fatur meninggalkan pantiasuahan Al Kautsar.
"Bidadari mas kenapa sampai sesedih begitu, hem? apa karena Kania dan Fatur yang dijemput oleh kakaknya? selidik Kahfi.
"Tidak ada apa-apa. Mas tau Kania dan Fatur sudah tidak di panti dari mana?. Bukan menjawab pertanyaan suaminya Kia malah balik bertanya.
Kedua tangan Kahfi langsung menempel dikedua pipi Kia, sambil mejelaskan dan menujukan chat yang Kinanti kirim kepadanya.
"Jadi tadi waktu mobil mas sudah keluar dari rumah, kakaknya Kania chat mas seperti ini kepada mas. Mas langsung jawab, mas sedang di jalan dan mas bilang ada dek di panti jadi bisa langsung bertemu dengan dek. Kenapa dek sampe sedih begini? toh suatu saat juga Kania dan Fatur pasti akan main ke sini. Bersyukurkan kalau kini ekonomi mereka sudah membaik harusnya dek ikut seneng dong kalau mereka sudah berkumpul lagi dengan kakaknya?
"Tapi masalahnya gak begitu juga, mas. Mereka pergi dengan meninghalkan ke bencian kepada, dek. mereka gak mau lagi kenal dek!" Jawab Kia menjelaskan sambil bersandar kepada dada bidang Kahfi.
"Kenapa, kok mereka benci sama adek? Kan dek selama ini baik sama mereka bahakan mas liat dek itu memperlakukan mereka lebih dari adik adek sendiri?
Sambil mengahadapkan wajahnya ke depan Kahfi, Kia menjelaskan yang sebenarnya terjadi dan menceritakan kejadian ketika Kinanti sampai dipecat oleh Prama.
"Ini berarti hanya salah paham, biar nanti mas yang menjelaskan kepada mereka ya. Kita bisa silaturahim ke rumah mereka, ya sayang. Sudha jangan sedih lagi, mas gak mau liat bidadari mas sedih kaya gini. Bujuk Kahfi sambil mencium kedua pipinya dan bibir Kia dan sedikit ada rasa cemburu ketika Kia menyebut nama lelaki lain yang pernah Kia cintai.
"Masss... pekik Kia atas kelakuan suaminya. yang langsung menggendong Kia ke dalam kamar mereka.
"Pokoknya bidadari mas gak boleh sedih, mas akan berusaha buat dek gak sedih. Jadi kita bikin adonan dedek bayi ya! nyicil-nyicil sedikit biar nanti perut dek endut-endut ada isi bayi yang lucu yang akan meramaikan isi rumah kita ini.
"Abis mas gemes liat bibir dek yang sedikit manyun gitu jadi pengen gigit" canda Kahfi kepada istrinya yang mukanya sudah merasa malu.
Dengan perlahan Kahfi membaringkang sang istri di kasur empuknya. Candaan menggodapun terlontar dari mulut Kahfi dengan sentuhan tangan yang sudah berada di atas hidung Kia.
Suata rintik hujanpun mulai terdengar menambah kesan romantis untuk sepasang pengantin baru yang baru 2 minggu tinggal bersama.
"Mass, tadi pagi kan udah! Tolak Kia yang mulai merasa bahwa suaminya sudah begitu bersemangat hingga menghujani ciuman di wajah Kia.
"Selama mas kuat gak boleh ada penolakan, dek mau kalau malaikat melaknat dek sampai pagi kalau gak mau melayani suami, hem?" jawab Kahfi yang sudah menindih badan Kia dan mencengkrama kedua tangan Kia di atas kepala.
Kia pasrah dengan apa yang suaminya lakukan dan sedikit menikmati Kia mulai terpancing gairahnya.
Hingga mereka berdua kelelahan dan tidur dalam perasaan bahagia dan sudah dalam keadaan suci karena mereka langsung bersuci.
*****
__ADS_1