Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
46. Hari Pernikahan


__ADS_3

🍃🍃 JANGAN LUPA UNTUK VOTENYA


LIKE


KOMEN


DAN BINTANG 5 NYA YA 🍃🍃


🍃🍃 🍃🍃 SELAMAT MEMBACA 🍃🍃 🍃🍃


Langit pagi ini begitu cerah, awan putih seperti gumpalan kapas yang menambah keindahan langit yang biru seperti lukisan-lukisan sang Maha Pencipta.


Gadis berjilbab marun itu baru saja menurunkan kakinya bersama kakek dan nenek yang usianya sudah masuk kepala 7.


Kia yang mendorong koper berisi pakaiannya, abah Dahlan, dan nek Rumi dengan langkah yang begitu bersemangat. Tangan kiri yang sedari tadi memeluk erat tangan sang kake solah tak ingin terpisahkan, kini ia lepas ketika mengetahui gantungan koci pada tasnya terjatuh.


" Abah, dan nenek tunggu di kursi itu dulu ya! sepertinya ada yang terjatuh dari tas Kia yang harus Kia ambil!" Ucapnya sambil mengelus tangan yang sudah ia lepaskan.


" Ya, sayang" jangan lama-lama!" Ucap abah Dahlan seketika meraih tangan nenek Rumi yang ingin terlepas.


Langkah Kia di percepat dan matanya tertuju pada gantungan konci yang sudah terinjak oleh seseorang hingga kepala boneka Jerapah itu hampir lepas. Melihat kejadian itu tangan Kia langsung meraih gantungan konci dengan sedikit merundukan tubuhnya tanpa menghiraukan seseorang yang terdiam melihat kelakuan Kia.


" Maaf, saya tidak mengetahui kalau kaki saya sudah merusak benda itu!"


Ucapnya yang hendak meraih gantungan konci itu namun, tangannya kalah cepat dari tangan Kia.


" Tidak apa, saya dapat memperbaikinya nanti" Ucap Kia tanpa menatap wajah pria yang ada di hadapannya.


Wanita ini, bukanya yang waktu itu menolong Kania? Batihnya.


Setelah Kia mendapatkan gantungan konci itu, ia berlalu tanpa permisi dari hadapan pria berkaca mata.


" Nona, saya bisa membelikannya bila kamu mau?" Teriaknya yang entah terdengar atau tidak oleh Kia karena terminal kereta hari ini begitu ramai.


***


"Alhamdulillah, akhirnya abah, ummi dan Kia sampai juga!" Ucap pak Hasbi yang sudah menaruh koper yang Kia bawa ke dalam kamarnya.


" Acaranya dekat tidak, Bie?" Biar pas selesai abah bisa langsung rebahan. Tanya abah Dahlan.

__ADS_1


" Lumayan bah, 1 jam dari rumah. Acaranya di sebuah aula yang biasa di gunakan untuk pertemuan dan acara nikahan. Ucap Pak Hasbi.


Ketika pak Hasbi dan abah Dahlan berbincang-bincang Kia langsung masuk ke dalam kamarnya berniat untuk memperbaiki boneka kecil yang rusak kepalanya. Begitu juga dengan nek Rumi yang disuruh beristirhahat oleh bu Aisyah di kamar Rahma.


" Ramah kemana, Syah? Kok gak keliatan? Tanya nek Rumi ketika hendak melepas bajunya dan menggantinya dengan daster panjang yang sudah disediakan oleh bu Aisyah.


" Rahma ada di belakang sedang membantu bibinya di dapur untuk menyiapkan makan siang untuk kita, ummi!" Ucap bu Aisyah seraya meletakan baju-baju abah Dahlan dan ummi Rumi ke dalam lemari Rahma yang masih ada tempat kosong.


" Ooh, ada Nisa dan Karno juga di sini,? kok ummi gak liat Karno, padahal ummi udah kangen sama dia dan anak gadisnya. Ucap nek Rumi yang sudah rapih dengan daster dan kerudung instannya.


" Mas Karno sedang menemani Razi mengambil parsel yang besok hendak di bawa.


" Jadi parselnya belum disiapkan? harusnya sudah ada di sini biar besok tinggal di bawa aja. Ucap nya.


" Ya harusnya semalam, mi. Tapi ada yang terlupa katanya, jadi dia balik lagi ke sana. Ucap bu Aisyah.


***


Romobongan pengantin pria sudah tiba di depan aula yang sudah di sulap menjadi taman indah yang penuh dengan bunga-bunga, 1 meja panjang yang sudah disiapkan untuk di adakannya acara akad. Semua rombongan dari keluarga pak Hasbi telah memasuki aula yang ruanganya begitu luas. Sudah ada taman pengantin yang akan menyandingkan antara Razi dan Tari.


Kia yang sudah meletakan seperangat alat sholat dan sepaket perhiasan sebagai mas kawain. Berniat langsung menghampiri Tari yang sudah ada di dalam satu ruangan khusus untuk merias pengantin.


" Bu, Kia mau melihat Tari dulu ke dalam sana ya!" Ucapnya sambil merangkul tangan sepupunya Fani anak dari paman Karno.


" Lihat pengantin wanita, kamu belum pernah melihat sahabat plus kakak ipaku 'kan?" Tanya Kia.


Dengan gelengan kepala Fani menjawab pertanyaan Kia, lalu berjalan ke sebuah ruangan di mana Tari sudah siap dengan gaun pengantin yang indahnya berwarna hijau botol dengan paduan warna gold sebagai pemanis gaun tersebut.


"Maasyaa Allah, Tari ... kamu cantik banget!" Kagum Kia ketika melihat Tari yang duduk di apit oleh mamahnya bu Lidiya dan adiknya bernama Kholid, pria tampan yang baru kelas 2 SMA seraya menunduk menghormati Kia.


" Ahh, kamu bisa aja Kia!" Balas Tari seraya berdiri untuk menghampiri Kia.


Ijab kabul pun terdengar lantang di dalam ruangan. Tari yang tangannya tak lepas menggengam Kia, karena rasa yang entah ia pun tak mengerti akan rasa itu. Membuat Kia mengelus lembut tanganya agar rasa cemas bercampur bahagia menjadi sebuah rasa yang indah untuk Tari hari ini.


Tak terasa air mata Kia sedikit bergenang di kedua matanya yang sudah terasa panas. Pikiranya seolah bermain-main dengan kenangan manis bersama pria yang sangat ia cintai kala itu.


" Mungkin akupun akan merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Tari saat ini!" Hati yang bercampur bahagia dan kecemasan ketika mendengar pria yang kita cintai mengirakan janji suci di hadapan semua orang dengan begitu sakral dan hikmat. Batin Kia.


Tak terasa ijab dan khobulpun telah selesai penghulu mempersilahkan untuk sang pengantin wanita ke luar dari dalam sangkarnya. Dengan langkah anggun Tari di tuntun oleh bu Lidya di sebalah kanannya dan Kia di sebelah kirinya melangkah menghampiri pria yang sudah berani untuk mengajaknya berta'aruf walau baru 2 minggu ia mengenalnya dan baru satu kali tatap muka.

__ADS_1


Terlihat jelas rona kebahagiaan di wajah Tari bahwa hari ini iya telah resmi menjadi istri dari kakak sahabatnya. Razi yang kini masih duduk diam di depan meja penghulu sedikit menoleh ke samping kanannya ketika Tari sudah duduk di sebelahnya untuk menerima cinci pernikahan dari Razi.


Sedikit rasa malu-malu Tari mengulurkan tangannya walau sesekali ia tarik kembali karena baginya ini kali pertama Razi akan memegang tangannya hingga membuat suasana hatinya bedegup kencang dan wajahnya sudah seperti buah tomat yang matang, besyukur wajah itu tertutupi oleh make up pengantin sehingga orang lain tidak mengetahui wajah merahnya.


" Ayo Tari, ulurkan jari-jemarimu, kasian aa Razi udh gak sabar untuk memakaikan cincin itu ke jarimu! Goda Kia yang tau akan kegugupan sahabatnya itu.


Sejurus kemudian Kia meraih tangan Tari agar sampai ke hadapan kakak kandung yang begitu menyayanginya. Akhirnya cincin itu melesat di jari manis Tari dan sekarang giliran Tari yang memakaikan cincin perak ke tangan Razi.


Pemasangan cincinpun selesai. Tanpa disadari air mata Kia tumpah yang sedari tadi dia sudah tahan sebelumnya karena melihat moment Tari dan Razi yang kini mencium kening Tari dengan begitu dalam.


Perlahan Kia menjauh dari moment tersebut dan mencari keberadaan toilet untuk menenangkan hatinya yang membayangkan dirinya dan Prama yang menjadi sepasang pengantin itu.


" Kak mau kemana?" tanya Rahma yang melihat Kia setengah berlari dari kerumunan orang-orang yang melihat ritual pernikahan Tari dan Razi.


" Kakak cuma mau ke toliet" jawabnya singkat dan makin mempercepat langkahnya.


Rahma yang melihat itu seolah tau apa yang di rasakan kakaknya saat ini, perlahan ia ingin memberi tahu hal ini ke pada ibunya namun ia urungkan karena tidak ingin mengganggu kefokusan bu Aisyah pada acara pernikahan ini.


Tiba-tiba gamis berukat berwarna hijau toska itu menyangkut di sebuah rak penghias bunga-bunga yang terbuat dari besi. Yang menjadikan langkahnya terhenti dan mencoba menarik gamisnya dari benda itu. Namun hal itu sulit ketika ia kerepotan untuk mengusap air mata yang terus mengalir diiringi air yang akan ke luar dari hidungnya.


Setelah ia berusaha keras tetap saja hal itu tidak bisa ia tarik begitu saja yang dapat mengakibatkan bunga-bunga itu akan jatuh betantakan. Sehingga seseorang telah membantunya untuk melepaskan sangkutan gamis dari benda tersebut dengan perlahan.


" Kia, kamu mau kemana? Tanya pria yang sudah lama merindukan wajah cantik Kia.


" Terima kasih, mas!"


Ucap Kia singkat sambil berlalu dari pria tersebut menuju toliet yang ada di ujung tempat resepsi akan berlangsung setelah acara ijab dan khobul.


Tanpa sepengetahuan Kia pria berbatik hitam yang dipadukan warna gold pada gambar batiknya mengikuti langkah Kia dan menunggunya di sebrang toilet laki-laki yang tak jauh dari tolilet wanita.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung----


__ADS_2