Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
80. Telepone


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


"Sayang sudah selesai belum?" Teriak Kahfi di ruang tamu yang menunggu Kia belum rapih.


"Sebentar, sayang!"


Sambil menunggu sang istri yang belum rapih Kahfi mengecek benda pipihnya. Dirasa tidak ada yang begitu penting Kahfi meletakan menda tersebut di meja. Suara dering telepon terdengar, kali ini suara dari hand phone Kia yang ia letakan di atas meja tv. Kahfi mencari cari sumber suara tersebut.


"Sayang, ada telepon!" Teriak Kahfi sambil meraih benda tersebut dan ingin memberikannya kepada Kia.


"Dari siapa, mas? tolong angkat saja, mas!" Ucap Kia yang masih menata jilbabnya.


Dilihatnya Id sang penelepon namun tak ada namanya. Kahfi mencoba untuk menerimanya. Di dengarnya suara laki laki dari sebrang sana. Setelah ia menjawab salam dari sipenelepon.


"Ooh, Pak Huda!" ada perlu apa menelepon istri saya? Tanya Kahfi penasaran.


"Baiklah, nanti akan saya sampaikan!" Ucap Kahfi sambil mengakhiri panggilan tersebut


"Siapa, mas?" Tanya Kia yang sudah rapih


"Pak Huda" jawabnya singkat


"Mas Huda?" ucap Kia kaget

__ADS_1


"Ya. Papahnya Pak Huda katanya ingin bertemu dengan dek ada yang ingin dibicarakan, bila dek nanti ke rumah ibu."


"Pak Prayoga. Ada perlu apa beliau ingin bertemu denganku? Gumam Kia bingung


Langkah kaki sedikit cepat seolah menahan sesuatu dalam hatinya. Apa lagi dia mengetahui bila Huda masih berusaha untuk menjalin komunikasi dengan sang istri.


"Mas, tuggu dek. Jangan cepet cepet gitu jalannya kita gak akan telat kok pergi ke acara nikahan Brayen. Kan acaranya besok malam ini kita menginap dulu di rumah ibu." Ucap Kia sambil mengejar langkah kaki Kahfi yang kini sudah ada di dalam mobil.


"Sepertinya mas Kahfi marah. Sikapnya jadi beda setelah menerima telepon dari mas Huda. Lagian kenapa sih mas Huda masih aja ngehubungin aku padahal aku sudah berusaha buat dia gak tau nomer yang aku gunakan sekarang. Siapa juga yang udah kasih nomer aku ke mas Huda." Gerutu Kia dalam hatinya.


Lima belas menit di perjalanan Kahfi masih saja tak buka suara hingga membuat Kia salah tingkah dan bingung harua melakukan apa agar suaminya itu mengatakan apa yang sebenarnya harua Kia lakukan agar bisa membuatnya tak marah. Sedikit memberanikan diri Kia mencoba bertanya pada Kahfi.


"Masss. Mas Kahfi marah ya sama dek? kok deknya didiemin aja." Ucap Kia sambil melihat ke sisi kanan dimana sang suami sedang mengendarai mobil.


"Gak"


"Gak, kok"


"Mas Huda baru hubungi dek hari ini setelah sekian lama. Dan dek memang gak save nama dia karena nomernya sudah dek blockir setelah dek ganti nomer gak ada yang tau nomer dek selain keluarga dan teman dekat, dek!" kok mas sampe berpikiran gitu sama, dek? Ucap Kia menjelaskan.


"Ooh gitu. Terus kalau bukan dek yang kasih tau terus siapa dong? dan sebegitu deketnya sama orangtua pak Huda sampe papahnya aja ingin ketemu dek dan ada hal penting yang mau di bicarain!" Selidik Kahfi yang terbakar cemburu.


Kia hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan Kahfi yang seolah tak percaya dengan sang istri. Dalam hati kia merasa sedih atas perkataan suaminya yang mencurigai kedekatanya lagi dengan Huda. Padahal semenjak ia menikah dengan Kahfi Kia tidak pernah memberikan nomer teleponnya yang baru kepada orang lain kecuali keluarga dan teman dekat yang tau.

__ADS_1


Perjalananpun serasa sangat lama karena tidak ada perbincangan hangat yang biasanya Kia dan Kahfi lakukan. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing masing.


Setelah dua jam perjalanan Kahfi memutuskan untuk menepikan mobilnya dan berhenti di sebuah toko kue untuk buah tangan sang mertua.


"Sayang. Kita beli kue dulu untuk ayah dan ibu, ya!" Ucap Kahfi sebelum turun dari mobil.


"Iya." Jawab Kia singkat.


Di dalam toko kue tak sengaja Kahfi bertemu dengan paman Dito dan sang istri.


"Kahfi!" Teriak paman Dito ketika melihat Kahfi dan Kia sedang memilih kue browonis.


"Paman, tante." Ucap Kahfi sambil bersalaman dengan pamannya dan Kia pun menyalami tante ....


"Kamu lagi mau ke rumah mertua mu ya?"


"Ya paman, kebetulan ada pesta pernikahan teman dekatnya Kia besok, jadi sekalian kita menginap di rumah orangtuanya Kia.


"Kalu begitu nanti bisa kan main ke rumah paman lagi!" ucap paman Dito yang hendak mengatar samg istri ke kasir.


"Kita gak janji paman!" Jawab Kahfi sambil.menoleh ke arah Kia


"Bulan depan pamanmu ada proyek di daerah rumahmu Kahfi, nanti tante dan paman akan main ke rumahmu ya!"

__ADS_1


__ADS_2