
Dua jam kemudian.
Setelah Yazid memberi tahu tentang Kia yang sudah di temukan Kak Fatimah beserta suami langsung melihat ke adaan Kia yang kini sudah di pindahkan di ruang inap. Razi memberitahu diruang mana Kia di rawat "Ruang angrek no. 43. Fatimah sudah menemukan ruangan tersebut dilihatnya ada bebrapa laki laki yang sedang menunggu di depan ruangan tersebut.
Fatimah mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuh." Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya.
Razi, Brayen, pak Hasby dan Tanto pun menjawab secara bersamaan. "Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh".
"Maaf saya kakaknya Kahfi, bisakah saya masuk menjenguk Nakia? Tanya Fatimah
"Silahkan, di dalam ada ibu dan adik saya." Jawab Razi
"Baiklah, Syukron !" Ucap Fatimah lalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Tok
Tok
"Assalamu'aikum warohmatullahi wa barokatuh. Ucap Fatimah langsung menyalami Bu Aisyah dengan takzim dan berganti ke Rahma yang sedang duduk di sebelah kanan tempat tidur Kia.
Kia langsung menitikan air mata ketika melihat Fatimah masuk. Fatimah langsung memeluk Kia dengan erat sambil mengelus pugung Kia dengan kehangatan dan tanpa terasa air mata Fatimah pun jatuh.
Beberapa detik pelukan itu mereka lepaskan dan Fatimah melihat wajah pucat Kia dengan kantung mata yang menghitam dan wajahnya menjadi tirus.
"Syukur Alhamdulillah Kia, akhirnya Allah mempermudah semua urusan kita." Fatimah memegang tangan kanan Kia dengan erat dan menghapus air mata Kia.
"Kia. Kia tidak tau apakah Kia masih pantas dengan mas Kahfi, kak!" Ucap Kia dengan penuh sesak di dadanya. Karena kejadian itu masih selau menyelimuti pikiran Kia. Ia merasa dirinya kotor dan tak pantas lagi untuk Kahfi.
"Jangan berbicara seperti itu, Kia!" Bu Aisyah selalu mengatakan itu setiap kali Kia berucap bahwa dirinya tidak pantas lagi untuk Kahfi.
Semua orang dalam ruangan itu menangis melihat Kia yang kehilangan kepercayaan dirinya dan terlihat sangat menyedihkan.
Rahma tak kuat melihatnya hingga ia memutuskan untuk ke luar dari dalam ruangan sambil berlinangan air mata. Karena ini kedua kalinya ia melihat titik terendah sang kakak. Ia berfikir ia takkan melihat kakaknya bersedih lagi setelah kepergian Prama namun tak disangka kejadian itu seakan terulang kembali. Ia melihat kesedihan yang begitu memilukan hatinya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Pak Hasby dan Razi langsung menghampiri Rahma yang baru keluar. Pak Hasby langsung memeluk Rahma dengan erat berusaha untuk menegakan hati sang anak bungsu. Walau kenyataannya hatinya pun seakan pilu melihat anak anaknya bersedih dengan kejadian yang menimpa Kia.
"Sudah jangan tangis keadaan kakakmu lagi, ya. Kita harus bisa kuat melihat ini semua. Kita harus menjadi orang yang menyemangati kakakmu lagi. Agar kakakmu tidak bersedih dan mengingat kejadian yang sudah menimpanya." Ucap Pak Hasby mencoba kuat demi anak anak nya.
"Aa masuk dulu ya, yah! Ucap Razi yang mencoba menenangkan Kia dan membujuknya agar mau menemui Kahfi yang sedang berbaring tak berdaya. Karena satu jam yang lalu Razi sudah membujuk Kia untuk melihat Kahfi di ruang Sterilisasi.
Fatimah dan Bu Aisyah mencoba memberikan penjelasan tentang ke adaan Kahfi saat ini kepada Kia. Karena Kia adalah orang yang selalu ditunggu tunggu oleh Kahfi walau dalam keadaan belum sadar namun Kahfi selalu memanggil manggil namanya.
Bu Aisyah dan Fatimah langsung melihat kedatangan Razi. Berharap Razi bisa mendengarkan hati Kia dan mau menemui Kahfi.
Bu Aisyah dan Fatimah ke luar dari ruangan tersebut kini hanya tinggal kakak beradik yang ada di dalam. Razi meraih tangan Kia dan menempelkan ke atas punggung tangannya serta menghapus air mata Kia.
"Kia. Kia ini masih istrinya Kahfi. Aa gak mau liat Kia seperti ini terus. Aa tau mungkin ada tidak merasakan apa yang Kia rasakan saat ini, Kia sedih, Kia kecewa Kia merasa hancur dan mungkin Kia menyalahkan diri sendiri. Tapi ingat, Allah tidak menyukai hambanya yang selalu dalam kesedihan dan terpuruk seperti ini." Ucap Razi perlahan Kia menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.
Isak tangis masih menyelimuti Kia. Ia mencerna setiap kata yang di ucapakan sang kakak.
"Sekarang ada cuma minta Kia coba liat keadaan suami Kia, mas Kahfi. Dua hari ini belum juga sadarkan diri, selalu menyebut nama Kia. Kahfi pasti akan merasa lega ketika mendengar suara Kia. Karena dokter bilang kemungkinan besar Kahfi bisa sadar ketika orang yang ia khawatirkan sudah ada di sisinya saat ini!"
Razi mencoba menjelaskan lagi kepada Kia. mengingatkan masa masa ia bersama Kahfi saat itu. Sebagai seorang kakak Razi pun sedih melihat keadaan Kia. namun bagaimanapun Kahfi sangat membutuhkan Kia disampingnya.
Beberapa menit berlalu dengan kata kata dan bujukan indah yang terucap dari sang kakak untuk adiknya akhirnya Kia mau menemui Kahfi di ruangan tersebut.
Salah satu suster mendorong kursi roda yang di duduki Kia. Karena kondisi Kia yang masih belum stabil untuk berdiri. Setalah samapi si dekat Kahfi suster langsung meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan tersebut.
Perlahan Kia menatap wajah Kahfi yang masih begitu pucat, selang oksigen yang ada di kedua lobang hidungnya dan suara alat yang berbunyi di sampingnya. Semua itu mengingatkan ia akan kejadian Prama. Air matanya menetes ketika bibir pucat Kahfi selalu memanggil manggil namanya. Kejadian tiga tahun silam seakan menari dalam benaknya. Namun pria di hadapannya sekarang berbeda, sesak di dadanya semakin membuncah. Perlahan ia mengambil tangan Kahfi yang terasa dingin dan lemas. Ia tempelkan telapak tangan Kahfi di pipinya. Sekuat tenaga ia mencoba menstabilkan suara yang ingin ia keluarkan. Namun lagi lagi air matanya keluar begitu deras hingga ia sulit untuk berkata kata.
Satu tangannya mengusap lembut wajah Kahfi yang tak terkena balutan kain kasa. Kia mencoba mengambil nafas dan perlahan ia buang dengan sembarang. Tangan Kahfi ia gesekan ke pipinya berharap orang yang ia cintai segera sadar.
Kia mencoba untuk berbicara kembali. Kali ini ia berusaha agar tak terdengar sedih. "Assalamu'aikum, suamiku tercinta. Mas, dek sudah pulang dalam keadaan sehat dan mas kan janji kalau kita akan terus bersama selamanya." Air mata itu tanpa permisi datang kembali hingga mengenai tempat tidur Kahfi.
"Maafin, dek sudah membuat mas Kahfi khawatir. Hiks. Hiks. Hiks" Kia tak kuat menahan sesak di dadanya hingga ia mengeluarkan Isak tangis yang begitu pilu.
"Mas Kahfi gak mau liat dek kecewa kan? mas Kahfi juga sudah janji mau menempati rumah baru kita di kota ini! Mas... Mas bangun ya, jangan bikin dek menunggu mas. Dek gak mau hidup sendiri tanpa mas Kahfi. Pokoknya kalau mas gak mau bangun juga dek akan pergi dari sini. Bangun, bangun, mas!"
__ADS_1
Suara tangsi Kia pecah hingga terdengar oleh suster yang menunggu di dekat pintu luar. Hingga sang suster masuk dengan begitu cepat. Setelah mendengar ucapan terakhir yang Kia ucapkan tubuh Kahfi bergoncang hebat hingga membuat Kia ketakutan dan memanggil dokter.
"Mas, mas. Ada apa sama kamu, mas. Mas... maafin dek, mas. Dokter, suster tolong suami saya. Tolonggg.
Suster langsung menangani Kahfi dan lima menit kemudian doter Abraham masuk ke dalam.
"Suster tolong bawa nona ini ke laur dulu. Maaf ya Bu kami akan memeriksa suami ibu dulu jadi ibu tunggu dulu di luar." Ucap Dokter dan langsung memeriksa keadaan Kahfi.
"Tapi dok!" bantah Kia yang ingin menemani Kahfi di dalam
"Maaf ya Bu, mohon kerja samanya ini demi kebaikan suami ibu." Ucap Suster yang menyerahkan Kia kepada Razi.
"Ayah, ibu, ada apa dengan mas Kahfi? akan kah Kia kehilangan orang yang Kia sayangi lagi? Kia gak mau, Kia belum bisa, Bu, yah!" Ucap Kia dan Toba tiba tubuhnya menjadi lemas dan kiapun pingsan.
Yazid yang kebetulan masih ada disana langsung berlari mencari suster dan memberi tahu Kia yang pingsan.
Razi langsung mendorong kursi roda Kia dan masuk ke ruangan yang tadi Kia tempati. Bu Aisyah tidak kuat melihat keadaan putrinya, ia menangis dalam pelukan sang suami. Begitu juga Rahma yang menangis tersedu di pelukan Razi.
Yazid dan kak Fatimah menunggu Dr. Abraham keluar dari ruangan. Setengah jam kemudian dokter keluar.
"Bagaimana, dok? Kenapa adik saya bisa kejang kembali? tanya Fatimah
"Sepertinya pasien mendengar hal yang tidak ia sukai, dan membuat emosinya memuncah di bawah alam sadarnya. Jadi menimbulan rasa gelisah dan membuat ia marah namun ia belum bisa mengontrol dirinya karena masih dalam ke adaan belum sadarkan diri. Tapi sekarang sudah ada perkembangan baik, pasien sudah bisa menggerakkan Jari jemarinya dan matanya pun sudah bisa merespon cahaya. Jadi kalau bisa jangan mengatakan hal yang membuat ia tak suka atau marah. Saya yakin semakin sering istrinya mengajak ia berbicara hal hal yang tidak membebankan pikirannya pasien akan cepat pulih." Jelas dokter.
"Baik, dok. terimakasih. Jawab Fatimah.
Ketika Kia meletakan telapak tangan Kahfi ke pipinya tanpa Kia sadari Kahfi merespon dengan menggerakkan jari jemarinya dengan perlahan. Namun Kia tidak menyadarinya karena ia hanyut dalam kesedihan dan rasa bersalah pada dirinya sendiri.
Di ruangan lain Kia sedang berisitirahat dengan tenang karena dokter memberikan obat tidur agar kondisi Kia cepat pulih dan obat tersebut juga bertujuan agar Kia tidak terbawa emosi hinggaembuat ia stres kembali dengan keadaanya dan pikiran pikiran yang ada di benaknya.
Brayen dan Tanto memutuskan untuk pulang karena semalaman keduanya tidak tidur karena mencari keberadaan Kia ketika itu. Berkat bantuan Tanto dan Sonya akhirnya mereka menemukan markas Rendy dimana ia menyekap Kia di sebuah rumah kosong yang sudah lama tak ia pakai.
Ketika Brayen dan Tanto sampai di parkiran mereka berdua melihat seseorang masuk dengan raut wajah yang tak bisa di tebak. kedua orang itu langsung kebagian resepsionis menanyakan pasien bernama Kahfi Al Kautsar. Suster di bagian itupun memberi tahu kepada dua orang tersebut.
__ADS_1