
Satu minggu telah berlalu. Aku bahagia karena di kantor sudah tidak ada lagi yang menggangguku. Namun hari ini perasaanku tak nyaman, entah kenapa seolah aku tak ingin berpisah dengan si Jerapah Cungkringku. Memang sulit awalnya ketika aku harus berjauhan seminggu ini dengannya.
Tapi tidak dengan hari ini, karena kami akan datang ke butik tante Renata untuk piting baju pengantiin. Akhirnya aku bisa melihat wajah yang aku rindukan seminggu ini. Walau di temani dengan aa Razi tapi aku bahagia.
"Kiaa..." apa kamu sudah rapih? Cepatan dong aa jam duaan ada janji sama temen lama aa!. Triak aa Razi dari ruang makan.
Kakiku melangkah dan memutar hendel pintu kamarku. Seminggu ini memang penampilanku berbeda dari biasanya tepatnya seminggu yang lalu, karena banyak nasehat yang Tari sampaikan kepadaku ketika ia menginap di rumahku. Ku kenakan rok berwarna moka, dengan baju berwarna kream bermotif bunga kecil dan di padukan jilbab berwarna moka senada dengan warna rokku, tak lupa sepatu dan kaos kaki. Aku melangkah menemui aa Razi.
"Iyaaa... Aaaku yang ganteng tapi bawel! Ucapku sambil mencubit hidung mancung aa'ku yang sedang asik memainkan benda pipihnya.
" Kak, aku boleh ya ikut??, ya... Ya... Kakak ku yang cantikkk..." Pujian yang meluncur dari mulut imoet adiku Rahma.
"Gak... Kamu di rumah aja, temenin ibu! Kasian ibu sendirian di rumah. Jawab aa Razi seraya mengambil konci mobil yang ada di gantungan berbahn kayu.
" Tuhhh, denger bukan kakak yang ngelarang ya? Lagian kakak sama aa Razi naik motor, terus tar kamu mau di taro dimana coba?. Ucapku yang menangkupkan kedua tangan di wajah Rahma yang sedang memajukan bibirnya dan menekuk sedemikian rupa wajah kecewanya.
Aku dan aa Razi 'pun pamit kepada ibu dan menjanjikan sesuatu untuk Rahma agar ia tidak terlalu marah, dengan wajah yang masih di tekuk dan mengerutu sendiri.
"Hati-hati ya sayang... Salam buat tante Renata dan nak Mesi. Ucap ibu yang membelai punggung kepalaku dengan lembut.
****
Tepatlah aku dan aa Razi di depan butik yang pernah memberikan sejarah dalam hidupku. Perlahan ku geser pintu kaca. Ku lihat seseorang yang aku rindukan telah duduk menati kehadiranku.
"Wa alaykum salam... Ayy! Sapanya ketika melihatku masuk kedalam ruangan yang sudah lama tak pernahku melihatnya.
Seketika aku yang ingin duduk dekat kak Prama, aa Razi langsung duduk diantara kami.
"Belum boleh duduk deket-dekatan dulu, sebelum ijab kabul di ucapkan!. Ucapnya yang meleirik kami secara bergantian.
" Ya, aa Kia tau kok! Jawabku singkat sambil menaruh tas yang ada di bahu kananku.
"Gimana kabarmu, Zi? Tanya kak Prama yang memecah perselisihan kecil kami.
"Alhamdulillah, baik. Jawab aa ku singkat yg langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Suara ketukan sepatu terdengar, dan ku lihat tante Renata dengan senyum sumringah menyapaku dan aa' ku.
" Kia, Razi udah sampe? Nak Prama sudah setengah jam yang lalu nungguin kamu, loh! Ucapnya yang langsung mengarahkan mata kami ke patung yang sudah terpasang baju pengantin berwarna kream plus hijab, dan di sebelahnya sudah ada setelan baju pengantin untuk pria yang berwarna senada.
"Coba Kia kamu pasin dulu bajunya!, biar kalau ada kekurangan bisa langsung tante perbaiki! Ucapnya yang sudah membuka resleting belakang gaun pengantin.
" Masyaa Allah tante ini cantik bangettt...! Aku suka banget sama modelnya. Seraya aku memegang gaun pengantin tersebut dengan perlahan.
"Kan ini pilihan calon suamimu jadi pasti cantik dong, Kia. Tukasnya menjelaskan. Memang untuk memilih gaun pengantin aku serahkan kepada kak Prama karena aku ingin semuanya berkesan bagiku dan juga dia, karena jujur aku tidak mempunyai selera yang tinggi untuk memilih baju, seperti waktu itu baju yang pernah ia belikan selalu mendapat pujian bagi orang-orang yang melihatku memakai baju tersebut.
" Ya, tante... Aku selalu suka pilihan kak Prama. Ucapku sambil melirik orang yang ada di sebelah kananku yang terpisah satu patung. Ia tersenyum manis, "hemmm... Senyumnya mengobati rasa rindu dalam hati ini." Gumamku dalam hati.
Ketika aku dan kak Prama masuk ke ruang ganti. Ku dengar aa Razi sedang menerima telpon dari seseorang di sebrang sana. Dan ketika aku keluar dengan gaun pengantin semua mata tertuju padaku, mungkin saat ini wajahku sudah bersemu merah karena mata aa Razi dan kak Prama menatapku dengan senyum kecil di bibir mereka hal itu menjadikan ku malu dan gugup.
"Masyaa Allah, Kia cantik banget sih. Ucap tante Renata ketika melihatku dan memutar-mutarkan badanku beberapa kali untuk memastikan gaun yang ku kenakan tidak ada kekurangan satu apapun.
" Tante bisa aja. Jawabku pelan...
"Beneran, coba tuh kamu liat calon suami kamu aja ngeliatin kamu sampe segitunya belum lagi aa kamu! Tambahnya ketika melihat dua pria di hadapan kami memandangku dengan penuh arti, Kak Prama yang tau tingkah lakunya diketahui tante Renata menjadikannya salah tingkah dan tersenyum malu.
" Kia, aa minta maaf ya! kamu harus pulang sendiri. Aa udah di tungguin sama ustadz Mahmud. Ucapnya seraya mencium pucuk kepalaku, kebiasaan itu tak pernah aa Razi lupakan ketika dia pamit kepadaku.
Dengan sedikit anggukan dan senyum yang mengembang aku mengizinkannya.
__ADS_1
"Biar Kia nanti pulang bareng gue aja. Ucap kak Prama yang menghentikan langkah aa Razi.
" Enak aja elo mau ambil kesempatan dalam kesempitan. Pokoknya gue gak izinin kalian berdua-duan sebelum ijab kabul terlaksana. Jawab aa ku seraya membakikan badan kepada kami dan penuh dengan tatapan tajan ke arah kak Prama.
"Ok... Ok.. Gue gak akan boncengin Kia tapi gue akan ikutin Kia sampai rumah, biar gue ngerasa aman kalau Kia baik-baik aja. Ujarnya meyakinkan aa 'ku.
"Ya udah... Ya udah jangan ribut, nanti Kia pulang naik ojek online aja. Biar kak Prama ikutin Kia dari belakang. Ucapku sambil mengedip-ngedipkan mataku.
"Oke... Awas ya kalau sampe berdua-duan. Ucapnya berlalu pergi dari ruangan.
****
Jam pun menunjukan pukul empat sore. Setelah kami selesai melaksanakan sholat ashar di masjid pingir jalan akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu. Tidak lupa aku chat aa Razi untuk minta izin menepi ke rumah makan. Entah ada angin apa aa Razi mengizinkan ku dan kak Prama untuk sekedar makan siang yang sudah kesorean.
" Gimana Razi mengizinkan tidak? Tanya kak Prama yang duduk di tangga masjid.
Akhirnya aku punya ide untuk mengerjai kak Prama dengan ekspresi wajah kecewa. Ku mancungkan bibirku dan ku turunkan kedua tanganku lemas. Dengan melihat ekspreaiku seperti itu seolah dia tau jawabannya.
"Ya sudah, ayoo kita lanjutkan perjalanan kita? Mana supir ojekmu yang tadi? Tanyanya yang melangkah meninggalkanku.
"Kak... Tunggu aku! Gak usah ditekuk gitu wajahnya, ya! Ucapku sambil menatap wajahnya dari depan dengan berjalan mundur. Sialnya kakiku menginjak kerikil dan menjadikanku hampir terjatuh.
" Awwwa...! Teriak kak Prama yang terpotong karena badanku sudah di sanggah oleh seseorang dari belakang.
"Makanya kalau jalan jangan sok-sokan mundur-mudur segala. Ucap seseorang yang sangat aku kenal, yang ternyata Brayen yang di temanani Ulan.
"Ihhhh... Elo, Yen? Ucapku dengan suara agak meninggi karena kaget. dan beeusaha melepaskan tangan Brayen dari tubuhku.
Aku lihat wajah kak Prama memerah nenahan amarah. Aku tau pasti kak Prama memendam cemburu. Brayen yang tau akan perbedaan wajah Prama ia langsung menepuk punggung bosnya itu.
" Gue gak punya niatan apa-apa bos... Replek nolongin sahabat gue ini. Ujarnya yang memainkan dagu Prama. Namun orang yang di hadapanya tetap diam tanpa ekspresi.
"Sayang... Ucapku mencoba memperbaiki hatinya yang di isi rasa cemburu pada sahabat sekolahku.
Dia tetap dingin tanpa ekspresi.
"Kakak marah sama aku? Kan kakak sudah kenal lama sama Brayen dan Brayen itu sahabatku sejak aku sekolah. Ucapku mengingatkan persahabtan yang sudah lama aku jalani dengan Brayen.
" Aku gak marah, ayy! cuma aku...! Ucapnya terpotong sambil melepar sebuah daun yang ia ambil dengan sedikit amarah dan melemparnya kasar sehingga terbawa angin.
"Cuma apa? Tanyaku lagi.
" Aku hanya lelah dengan keadaan ini, ingin rasanya aku langsung menikah hari ini juga denganmu. Aku marah karena Brayen bisa memegang tubuh mu yang akan terjatu, sedangkan aku? Dipersulit oleh si Raja Minya untuk gak ketemu kamu berdua-duan, apa lagi ngajaki jalan bareng. Seminggu ini aku penat ingin rasanya ku lepaskan ini semua untuk dapat memelukmu dan berbagi semuanya... Tapi hal itu hanya bisa aku pendam. Kadang aku merasa aku takut kehilanganmu saat-saat ini, aku takut sebelum aku dapat memilikimu tapi kita tidak bisa bersama. Apalagi semenjak aku sering mendapat pesen teror yang mengatakan kalau kamu gak akan aku mikiki. Ucapnya penuh prustasi dengan mengacak-ngacak rambutnya dari belakang kedepan.
Deg...
Sontaku kaget mendengar kata teror.
"Sejak kapan kakak mendapatkan pesan teror itu? Kenapa kakak gak pernah cerita? Selidikku.
"Aku gak mau bikin kamu kepikiran dengan semua ini, dan teror ini aku dapatkan sejak dua minggu yang lalu. Makanya setiap hari aku selalu menyurih orang untuk mengikutimu dari rumah sampai pulang lagi. Karena aku takut orang itu mencelakaimu, ayy. Ucapnya dengan sedikit air mata di ujung matanya.
" Hemm... Maafkan aku ya kak, yang tidak menyadari apa yang kakak khawatirkan. Balasku sambil menatapnya yang tertunduk bingung dan sedih.
Aku duduk tepat di hadapannya dan melirik kepada abang ojek mengisyaratkan agar ia tidak usah meungguku lagi dan mengirim chat agak ojek itu memberikan noreknya agar aku langsung mentransfer bayarannya. Selesai dengan urusan k, ki mencoba untuk menenangkan orang yang ada di depanku.
"Sekarang kita makan dulu aja ya? Hal ini kita bahas pas disana aja, gimana? Usulku menarik jaketnya tanpa memegang tanganya.
Orang yang ku ajak bicara diam tanpa jawaban dan tanpa tindakan. "Kak... Yukk kita isi pertut dulu aku sudah laper nh!, robet dalam perutku udah demo. Tukasku sambil mengelus perutku yang sudah kelaparan.
__ADS_1
Ia pun berdiri dari duduknya dan memegang tanganku.
"Izinkan ya, hari ini aku memegang tanganmu ya, ayy? Ucapnya lesu.
"Tapi kita sudah mengingkari janji kita pada a Razki, kak?
"Biarlah, aku hanya ingin memegang tanganmu agar aku bisa merasakan hangatnya cinta yang kamu berikan kepadaku, Ayy! Aku takut kalau suatu saat aku gak bisa megang tangan kamu lagi. Ucapnya yang membuat hatiku tak rela ia berucap seperti itu.
"Kakak kok ngomongnya gitu banget, niat ya mau ninggalin aku? Jahat itu namanya! Ucapku tak rela.
"Bukan... Bukan begitu, ayy. Aku cuma takut hal yang buruk menimpah kita berdua dan menjadikan hubungan kita hancur. Entahlah ayy, hari-hari ini aku sangat takut kehilanganmu, takut aku mengecewakanmu bila ada hal yang terjadi denganku. Katanya semakin aku ingin menangis memeluknya dan meyakinkan bahwa semua itu tidak mungkin terjadi.
Hiks... Hiks... Akhirnya tangis itu ku tumpahkan juga yang sejak tadi aku tahan.
"Aku akan marah, aku akan sangat membenci kakak bila kakak meninggalakan aku sendiri. Kakak tau kan sakitnya hatiku ketika pernikahanku di batalkan? lalu haruskah aku merasakan hal itu lagi? Ku mohon kak jangan membicarakan apa yang belum terjadi kepada kita kedepannya. Yakinlah kalau kita akan bahagia dengan cita-cita dan harapan pernikahan kita waktu di vila itu? Ucapku yang sedikit isakan tangis dan ku beranikan meraih tangannya dan mengengamnya dengan erat seolah meyakinkan kalau hal yang buruk takan terjadi.
" Maaf... Maafkan aku, ayy!. Sudah membuat mu menangis. Aku janji akan selalu membuatmu bahagia dan tidak akan meninggalkanmu sendiri! Sudah ya jangan menangis lagi. Ucapnya seraya mengangkat tanganku untuk bangit dan berdiri.
"Sudah ya aku gak mau kakak bahas yang bukan-bukan. Ucapku mengelus lembut tangannya.
" Gimana kabar boneka Jerapah dan Tikus yang aku berikam waktu itu? Apa mereka baik-baik saja? Ucapnya mengalihkan pecakapan tadi.
"Mereka baik-baik saja, aku selalu tidur dengan mereka, karena mereka sangat harum dan membuat aku ingin selalu menciumnya.
" Hemm... Andai saja aku jadi mereka pasti aku sangat bahagia, ayy!" Karena mendapat ciuman dari bidadari syurgaku. Ucapnya mencubit hidung ku.
"Hemm... Kalau sudah halal juga asal mau, kak! Ucapku malu dan berlalu meninggalkannya sedikit lebih depan.
" Beneran ya?? Aku kan selalu minta cium seluruh wajahku sehari 1000 x ciuman darimu ya, Ayy? Ucapnya sedikit berteriak dan berlari mengejarku.
Namun ketika aku menoleh padanya ada sebuah mobil yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi...
Aku berteriak dan berlari agar kak Prama terhidar dari mobil itu.
Namun teriakanku tak lebih cepat dari laju mobil itu.
Brakk...
Suara itu terdengar sangat kuat di telingaku. Ku lihat tubuh kekar itu terjatuh dan berguling-guling sampai ketepian jalan. Ku lihat laki-laki yang ku cintai bersimbah darah. Ku kuatkan kaki yang berat seperti membawa sebongkah batu besar.
Aku terus berlari mendekati tubuhnya, ku jatuhkan kakiku dekat tubuh yang sudah banjir dengan carian berwarna merah di atas aspal. Beberapa orang yang baru menjauh dari mesjid mencoba mendekatiku yang sudah menangis dan memangku kepala pria yang aku cintai terdiam tak berdaya.
Dengan isak tangis ku terus mengusap lembut wajahnya yang penuh darah.
"Kak... Bangun kak...! Kak... Jangan tinggalkan aku kak! kakak udah janji gak akan ngecewain aku! ingat janji kita kak? Kak aku mohon bangun kak...! Bangun...! Ucapku yang terus berbicara padanya yang tak sedikitpun mengerkan bagian tubuhnya ataupun mengeluarkan suara. Kulihat mulutnya banyak mengelurkan darah.
Ku dengar beberapa orang mengejar pelaku itu, dan sebagian ada yang menelpon polisi dan ada yang menelpon pihak rumah sakit terdekat untuk menolong orang yang sangat aku cintai.
Aku terus menangis dan terus menangisi orang yang aku cintai penuh dengan darah di hidung, mulut dan kepalanya. "Yaa Allah jangan ambil orang yang telah berjanji akan menjadikanku wanita yang akan bahagia dengannya. Bathinku.
Sampai mobil ambulan dan polisi datang aku terus menangisi laki-laki yang aku cintai. Perlahan ponselku berdering ku lihat nama aa Razi. Ku ceritan apa yang baru saja terjadi. Namun tiba-tiba penglihatanku kabur, tubuhku lemas dan akhirnya aku mentahukan kepalaku tepat dekat kepala orang yang aku sangat aku cintai.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung-----