Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
103. Gelisah


__ADS_3

Di ruangan yang sedikit redup seseorang sedang menerima telpon. Bicaranya sangat serius dengan orang di sebrang sana. Matanya yang tajam turus melihat ke arah jendela kaca yang sedikit ia buka sambil menghisap sebatang rokok yang sudah hampir setengah batang ia habiskan.


"Pokoknya gue gak mau tahu, Lo harus bikin dia kapok berurusan sama gue." Ia buang sisa rokok dengan sembarang setelah ia mematikannya. "Lo atur aja pokoknya, gue tinggal terima beres." Panggilan pun berakhir setelah kesepakatan antar mereka disetujui.


Terdengar suara kotak pintu dari luar.


Tok... tok...


Seorang wanita dengan pakaian tidur berwarna putih masuk ke dalam ruangan tersebut. Namun Rendy tetep dalam posisinya tanpa menoleh ke arahnya.


Sonya berjalan pelan menemui Rendy yang masih menatap ke arah bawah. Kedua tanganya ia tumpukan ke jendela ia membiarkan tirai tipis tertiup angin hingga menyapu wajahnya. Dua tangan Sonya memeluk ke pinggang Rendy, wajahnya ia benamkan ke punggung Rendy yang tak berkutik.


Rendy mulai risih dengan perlakuan sang istri yang sudah lama meninggalkannya. Perlahan tangan kanan Rendy hendak melepas tangan Sonya yang dengan lembut mengelus bagian perut Rendy. Semakin Rendy berusaha untuk melepaskan, Sonya semakin memeluknya erat.


"Udah dicampakkan sama pria ****** itu, kamu balik ke aku?" Ucap Rendy ketus.


Sonya terdiam, dia berfikir dari mana Rendy tau bahwa dia menyelingkuhi nya. Padahal sudah dipastikan tidak akan ada yang tau tentang perselingkuhannya dengan orang luar negri bernama Carles.


"Kenapa, kamu bingung kenapa aku bisa tahu?" Rendy sudah bisa terlepas dari pelukan Sonya, tubuhnya berbalik dan mendorong Sonya dengan kasar dan berjalan meninggalkan Sonya sendiri di ruang kerjanya.


"Mas... mas jangan pergi!" Sonya sedikit berlari mengejar Rendy. Rendy sudah menuruni tangga. Tunggu, mas! kamu mau kemana?" Tanya Sonya yang terus berusaha mengejar Rendy.


Rendy meraih satu kunci mobil di atas meja di ruang tengah. Ia mempercepat langkahnya tak menghiraukan ocehan Sonya. Dari kejauhan ia menekan tombol kunci dari kunci mobilnya. Setelah sampai di garasi ia langsung menaiki mobil sedan berwarna silver dan mengendarainya dengan cepat.


Sonya mendengus kesal ketika mobil Rendy sudah meninggalkan rumah. Kakinya ia hentakan ke lantai dan tanganya mengepal dengan erat melampiaskan kekesalannya. Perlahan ia membalikan badannya dan masuk ke dalam rumah. "Sial, kenapa jadi begini. Bukanya diperlakukan seperti ratu, ini malah gak dianggap kehadiran gue." Ucap Sonya sambil membanting pintu depan rumah.


****


Keesokan pagi.


Kahfi dan Kia sudah sampai di kampus tepat pukul delapan lagi. Kahfi langsung masuk keruang kerjanya. Sedangkan Kia masih asyik mengobrol dengan Anya dan salah satu ibu pemilik kantin.


Kia masih bertanya tanya tentang mobil yang tadi pagi mengikutinya. Namun pas sampai kampus mobil itu tak terlihat lagi. Kia mencoba berbagi hal itu kepada Brayen dan Razi sang kakak lewat chat.


Brayen dan Razi sama sama memberikan saran agar Kia dan kahfi tetap berhati hati ketika di perjalanan apa lagi jalan menuju rumahnya ada perkebunan yang cukup gelap bila malam tiba. Anya menyadari bahwa Kia sedang tidak fokus pada pembicaraan nya kali ini.


Anya menatap wajah Kia yang sepertinya berbeda dari hari biasanya hingga membuat Anya penasaran dan nekat bertanya. "Kamu lagi kenapa sih, Kia? aku liatin dari pas datang gak ada ceria cerianya seperti hari biasa! Tanya Anya sambil menopangkan dagunya di atas kedua tangan yang ia jadikan sebagai sanggahan.


"Ahh, engga ada apa apa kok. Aku cuma lagi mikirin biar bisa cepet tinggal di daerah sini biar gak cape cape amat." Jawab Kia bohong sambil senyum yang sedikit dipaksa.


"Ya nih neng Kia biasanya kan selalu ceria ini tumben banget dari pas mesen minuman gak ada senyum senyumnya!" Tambah ibu Kanti bernama Dwi.


Hampir dua Minggu ini Kia dan Anya selalu nongkrong di kantin ya Bu Dwi ketika pas datang maupun mereka istirahat dan menunggu Kahfi selesai. Kia dan Anya selalu menyapa Bu Dwi dengan sopan dan mengajaknya mengobrol bila kantin lengang dengan mahasiswa.

__ADS_1


Ponsel Kia tiba tiba berdering nomer yang tak dikenal menelponnya kembali. Kali ini Kia mendengar suara orang di balik suara. Kia memberikan isyarat agar Anya tak bersuara agar Kia mendengar jelas perkataan orang di sebrang sana. Mata Kia membulat sempurna ketika mendengar suara Rendy. Anya yang ada di hadapannya melihat jelas kegelisahan dari raut wajah Kia. Perlahan Anya mengulurkan tanganya dan memegang tangan Kia yang ada di atas meja. Dingin dan wajah Kia sedikit pucat. Entah apa yang ia dengar barusan hingga membuat Anya ikut panik melihat Kia.


Perlahan Kia meletakan ponselnya dengan tangan yang ia jatuhkan ke atas meja secara perlahan. Tubuhnya menjadi lemas. Anya menyodorkan sebotol air mineral yang baru ia ambil di lemari pendingin. Bu Dwi yang melihat Anya sedikit panik lalu menghampiri mereka berdua.


"Ada apa neng Kia? Bu Dwi melihat wajah Kia yang pucat. "Bawa ke ruang kesehatan aja neng Anya, mungkin neng Kia lagi gak enak badan!" Ucap Bu Dwi sambil membalurkan minyak kayu putih ke tangan Kia.


"Gak apa apa, Bu." jawab Kia menyembunyikan kegelisahannya. Disaat yang sama ada mahasiswa yang datang memesan makanan Bu Dwi langsung meninggalkan Kia dan Anya untuk melayani pembeli.


"Kia kamu kenapa? siapa yang nelepon kamu barusan?" Tanya Anya penasaran sambil terus memijit tangan Kia yang kini sedikit hangat.


"Aku gak apa apa, Nya!" Jawab Kia bohong


"Kamu jangan bohong. aku tau raut muka kamu berubah pas kamu abis nerima telpon tadi? Ucap Anya menyelidiki.


Kia berdiri dan meraih ponselnya yang tadi ia letakan di atas meja lalu ia masukkan ke dalam tas. "Aku ke toilet dulu ya, An. Kamu kalau mau ke kelas duluan gak apa apa kok." Ucap Kia meninggalkan Naya duduk sendirian.


"Ya udah kalau gitu aku ke kelas duluan ya, kamu hati ya, kalau ada apa apa langsung telpon aku ya, Kia?" Anya meraih tas yang ada di atas meja dan tas ransel kini sudah ada di atas punggungnya.


Tibanya Kia di toilet ia langsung mencari ponselnya, ia cari riwayat panggilan terakhir dengan Kahfi, ia menekan id nama Kahfi. Terdengar suara ponsel yang tersambung namun Kahfi lama mengangkatnya. Kia menunggu sampai panggilan itu berakhir tetap belum di jawab. Sampai akhirnya ia memutuskan mengirim pesan ke ada Kahfi.


"Assalamu'aikum, mas... kalau gak sibuk telpon dek ya sekarang ada hal penting banget yang perlu dek bicarakan."


Pesan sudah terkirim namun belum ada tanda pesan sudah dibaca. Kia semakin gelisah memikirkan perkataan Rendy ketika di telpon tadi. "Yaa Allah semoga Engkau selalu melindungi hamba dan suami hamba di maupun kami berada dan jauh kan-lah kami dari segala marabahaya." Aamiin. Ucap Kia dalam hati ketika ia sudah ada di luar.


Sampai jam istirahat Kahfi tidak menjawab pesan dari Kia. Hingga Kia berniat ingin menemui ruang kerja Kahfi di kampus tersebut. Ia menanyakan letak ruang kerja sang suami kepada salah satu kakak kelasnya. Mahasiswa itu menunjukan letak ruangan kerja Kahfi yang ada di lantai empat sebelah kanan setelah lift. Kia mengucapkan terimakasih setelah mendapatkan informasi dari mahasiswa tersebut.


"Kia kamu mau kemana?" tanya Messi melihat Kia hendak masuk ke dalam lift.


Kia menoleh ke asal suara yang memanggil namanya " Ooh, mba Messi. Aku mau ketemu pak Kahfi karena ada hal yang aku mau tanyakan ke beliau tentang tugas yang ia berikan hari ini!" Jawab Kia yang tak enak hati karena ada beberapa mahasiswa yang sudah ada di dalam lift.


"oooh gitu. Ruang kerja pak Kahfi dua ruangan setelah pintu lift di lantai 4." Messi memberitahu. "Mau aku anterin sekalian ruang kerja aku juga gak gak jauh darinya.


"Gak gak usah, mba Kia tadi udah dikasih tau sama kakak kelas!" Kia masuk dan memencet angka empat menuju lantai atas. Dan ada beberapa mahasiswa di dalam yang hendak menuju lantai bawah.


Pintu lift terbuka ketika sudah sampai si lantai empat. Kia ke luar terlebih dulu sebelum Messi. Hingga membuat Messi bertanya tanya.


"Mba aku duluan ya!" ucap Kia


"Ya Kia!" Jawab Messi sambil terus melihat ke arah Kia.


Kia yang sedikit berlari sambil mencari ruangan kerja Kahfi. Ruang satu dan dua telah ia lewati kini kakinya terhenti di ruang ke tiga. Ia ketuk pintu yang terbuat dari kaca sambil mengucapkan salam, tak ada jawaban dari dalam. Ia mencoba kembali, namun ketika hendak ke ketukan ke tiga sebuah tangan menyentuh bahunya hingga membuat Kia sedikit meloncat karena kaget. Kia membalikan badan dan di lihatnya sang suami di hadapannya dengan satu tangan memegang tas laptop.


"Masa, bikin dek kaget aja!" Ucap Kia sedikit pelan.

__ADS_1


Kahfi langsung mengeluarkan kunci dari saku celananya dan memutar handel pintu dan menyuruh Kia masuk terlebih dahulu. Kahfi mencabut kunci lalu meletakan kembali ke handel pintu dari dalam.


Kahfi meletakan tas laptopnya di atas meja kerjanya. "Kenapa sayang, sampe cari mas ke sini?" Kahfi mendekati Kia yang kini duduk di depan meja kerjanya. Ia menatap ke Kahfi, Kahfi memegang Keuda bahu Kia. Kia mendongak langsung memeluk tubuh Kahfi ketika ia sudah posisi berdiri saat ini.


"Mas,. dek takut!" Kia tidak dapat membendung rasa takutnya.


Kahfi tercengang dengan kata kata yang barusan ia dengar sambil merasakan Isak tangis dari sang istri. Kahfi mendorong tubuh Kia sedikit ia menatap wajah Kia yang sudah basah dengan air mata. "Takut kenapa, sayang? kan mas selalu ada di sisi dek!" Kini giliran Kahfi yang memeluk Kia untuk menenangkannya.


"Tadi Kak Rendy telpon dek, dan mengatakan...! Ucap Kia tak bisa melanjutkan kata katanya.


"Rendy? Kahfi sontak kaget, kali ini ia melepaskan pelukannya dan tanganya memegang kedua bahu Kia. "apa yang dia katakan sama dek, sampe dek ketakutan kaya gini?" Kahfi mencoba mencari jawaban dari raut wajah Kia.


Kia mencoba mengatur nafasnya dan berbicara perlahan. "Dia bilang dia akan membuat kita berpisah dengan cara membun...." Kata kata Kia terpotong karena Kahfi langsung memeluk erat tubuh Kia kembali. Ia masih ingat benar betapa Kia sangat ketakutan ketika kejadian di toko buku ketika itu. Ketakutan Kia kini muncul kembali dengan kata kata Rendy.


"Sayang, Maslah jodoh, Rezki dan kematian itu urusan Allah. Ketika Rendy berusaha untuk memisahkan kita dan Allah tidak meridhoi nya maka semua itu tidak akan terjadi." Kahfi mencoba menenangkan Kia.


"Mas ingat mobil putih tadi pagi yang mengikuti kita tadi pagi? Dek semakin cemas dengan setiap kata yang kak Rendy ucapkan tadi." Ucap Kia


"Kapan dia menelpon dek?" Tanya Kahfi


"Tadi pagi ketika dek masih di kantin, hari ini kita pulang ke rumah ibu ya, mas. Dek takut terjadi apa apa sama, mas !" Kia membenamkan wajahnya di dada bidang Kahfi.


Kahfi mengelus punggung Kia dan mencium pucuk kepalanya. " Ya sudah kalau itu bikin dek merasa nyaman. Kebetulan mas sudah tidak ada jam mengajar jadi kita langsung pulang sambil cari makan siang ya?" ucap Kahfi yang meletakan dagunya di atas kepala Kia. Sambil memikirkan sesuatu agar ia dan Kia berjaga jaga dari ancaman Rendy.


Kia merasa sedikit lega dengan jawaban Kahfi yang mengikuti sarannya. Perlahan ia melingkarkan pelukannya dan mendongak kan kepalanya. Kahfi melihat jelas wajah Kia yang sedikit khawatir. Ia mencium lembut pipi Kia dan ingin mencium bi bir Kia, namun tangan Kia menghalanginya.


"Jangan mas, nanti ada CCTV!" Ucap Kia sambil mendengarkan detak jantung Kahfi yang begitu terdengar di telinganya.


Kahfi hanya tersenyum dan ingin mencobanya lagi. Namun suara ketukan pintu terdengar jelas dari luar. Kia langsung menjauh dari Kahfi dan duduk membelakangi agar orang yang ada di luar tidak melihat jelas kepada Kia.


Tuk tuk tuk


Kahfi perlahan berjalan menuju pintu dan membuka kunci serta menarik handel pintu, di lihatnya seorang OB yang membawakan ya secangkir teh hangat yang tadi ia pesan setelah ia selesai mengisi pelajaran.


"Ini pak teh manis pesanan pak Kahfi!" Ucap OB yang mengenakan seragam biru tua tanpa melihat ke dalam ruangan Kahfi.


"Terimakasih mas Deden!" Kahfi menerima secangkir teh manis tanpa mempersilahkan sang OB masuk ke dalam.


Pintu di tutup kembali oleh Kahfi ia berjalan mendekati Kia dan meletakan secangkir teh manis itu di hadapan Kia. "Minum ya, sayang. Habis ini kita langsung pulang ke rumah ibu!" Ucap Kahfi sambil melihat mejanya yang sudah rapih di tata oleh sang istri.


"Bukanya ini mas yang pesan, kenapa mas gk minum? Kia meletakan secangkir teh di depan Kahfi. Kahfi hanya tersenyum


"Gak apa apa, sayang. Dek minum aja dulu nanti sisanya baru mas yang minum. Yahh... hitung itung pengganti yang gagal tadi." Kahfi melirik sekilas ke wajah Kia. Kia tersenyum dengan tingkah konyol sang suami.

__ADS_1


"Mas ini ada ada aja. Ya gak sama lah mas. Kan kalau ini cuma bekas bibir dek aja!"


"Oohh ya udah kalau gitu sekarang boleh ya yang benerannya!" Kahfi meledek Kia dan ia ikut senang melihat Kia kini tersenyum lepas.


__ADS_2