
Hari itu pun tiba dimana Nakia, dan Sasa mengikuti meeting bersama petinggi
perusahan X. Disana sudah ada Prama, Brayen, bu Meta dan para mejer yang
mendengarkan persentasi dari Nakia yang ia sampaikan begitu lugas, penuh percaya diri dan memuaskan bagi sang dirut di perusahan tersebut. Sehingga semua memberikan tepuk tangan yang penuh kebahagiaan. Hanya ada satu seseorang yang asik memandang paras cantik Nakia, yang sedikit meoles paras cantiknya dengan make up tipisnya.
Dengan sedikit isyarat dari Brayen lamunannya seketika kabur.
“Prama… Prama… ucap Brayen yang sudah menepuk-nepuk bahu Prama agar orang tersebut sadar bahwa apa yang Nakia sampaikan sudah selesai. “Biasa aja ngeliatinnya, elo gak sadar tante elo ngeliatin sikap elo. Bisik Brayen.
“Oh.. ia. Ucapnya gugup, lalu berdiri dengan salah tingkah karena semuamata menatapnya aneh.
“Baiklah dengan semua ini maka meeting hari ini kita tutup, dan terimakasih. Ucap Sasa yang sudah mengekor pada pak Handoko di ikuti pula oleh Kia.
Dan ketika Prama hendak mengikuti mereka. Seseorang memanggilnya sehingga langkahnya terhenti dan menoleh dari asal suara tersebut.
“Prama tunggu sebentar tante mau bicara, ucapnya dan menduduki kursi yang tadi ia duduki.
“Ya tante, ada apa?.” Ucapnya pelan.
Pasti Kia sudah pulang dengan Sasa dan pak Handoko pake mobil pak Handoko, Gagal dech ngaterin dia, Dan pasti tante Meta mau introgasi gue, huhh. Batinnya.
“Kenapa saat meeting tadi kamu tidak fokus? Malah melamun dan matamu fokus menatap wanita yang tadi ada di depan?. Kenapa kamu suka dengan wanita itu?, hah. Harusnya kamu tetap propesional dalam bekerja!, ini kesemapatan kamu dalam mempelajari perusahaan papahmu!, tante tidak selamanya berada di perusahaan ini. Ingat janji kamu kepada papahmu dan almarum mamahmu. Ucap bu Meta penuh penegasan dan tidak menginginkan keponakkannya itu bermain-main dalam bekerja.
Deg…
“Maa… maaf tante bukan maksud Prama berbuat seperti itu!, Prama… Prama Cuma…. Ucap Prama gugup dan ketika hendak melanjutkan ucapannya sudah dipotong oleh tantenya.
“Cuma apa? Cuma karena cinta kamu jadi tidak konsen seperti ini?, tante harap kamu bisa merubah sikapmu untuk bisa menempatkan dimana waktunya kamu bekerja dan dimana kamu bisa menempatkan perasaanmu. Ucap tantenya yang berlalu pergi meniggalkan pria yang kini duduk termenung menelaah apa yang sudah tantenya ucapkan barusan.
****
Bagaimana kalu kita mampir ke restoran itu?, tunjuk Pak Handoko pada sebuah restoran yang cukup terkenal di kota tersebut.
Saya akan teraktir kalian berdua hitung-hitung atas keberhasilan yang sudah membuat bu Meta percaya kepada promosi iklan yang sudah kita buat dan presentasi yang sudah disampaikan Nakia yang mebuat semua orang bangga. Tutur pak Handoko yang duduk di samping supir pribadinya karena Kia dan Sasa duduk di kursi bagian belakang.
“Terimakasih pak, ucap mereka bergantian.
Saya yang harusnya berterima kasih kepada kalian karena ini semua atas keraja keras kalian selama ini, apa lagi Kia yang sudah bisa langsung beradaptasi dengan kita.
Akhirnya mereka pun sampai di restoran tersebut. Ketika mereka bertiga hendak duduk Kia lebih dulu izin untuk ke toliet . Karena menahan sesuatu yang ingin ia keluarkan. Langkah kaki Kia dipercepat untuk sampai ke toliet tersebut, beruntungnya tempat tersebut tidak banyak orang sehingga dengan leluasa ia mengeluarkan air yang sudah dari tadi ia tahan.
“Huu… lega akhirnya aku bisa buang air kecil yang sudah aku tahan dari selesi meeting, Ucapnya yang membuang beban yang ia tahan sedari tadi.
Dan ketika ia hendak keluar dari tempat tersebut ia bertemu dengan seseorang yang sudah lama ia lupakan dan berharap tidak pernah lagi berjumpa dengan orang tersebt. Namun sialnya semua itu tidak seperti yang ia ingin kan.
Bruk…
Tas yang hendak ia pakaipin terjatuh ke lantai karena sesorang yang sudah menabraknya dengan cepat mengambil tas dan memberikan kepada pemiliknya. Setelah Kia melihat siapa yang telah menabraknya alangkah terkejutnya dia.
“ini tidak mungkin, bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi? Bukanya dia sudah pindah dari kota ini setelah ia menikah dengan wanita itu. Batin Kia yang bertanya kepada hatinya sendiri.
__ADS_1
“Nakiaaa…? Ucap laki-laki itu dengan kagetnya setalah melihat wajah dari sang pemilik tas.
“Kak Rendy?, balas Kia singkat.
“Apa kabar Kia?. Maaf tadi aku tidak sengaja.
Kamu sedang apa di sini? Tanyanya.
“Tidak perlu kak Rendy tau sedang apa aku disini, ucap Kia yang menghidar dari pegangan tangan Rendy.
"Maaf kak...!, aku sudah tidak ada waktu, karena temanku sudah menungguku. Elaknya yang membuang kasar tangan Rendy yang sudah menggengamnya erat.
“Lepaskan aku kak, aku mau
menemui temanku. Teriak Nakia yang lebih berusaha melepaskan genggaman tersebut. Namun Rendy tetap tidak menghiraukannya.
“Aku mohon aku ingin menjelaskan semua tentang kita yang sepenuhnya kamu belum tau, Kia.
“Aku sudah tidak butuh penjelasan itu karena aku sudah tau semuanya dari kak Bayu, ucap Kia lantang dan penuh amarah di wajahnya atas perlakuan Rendy.
“Kia… aku mulai mencintaimu
pada saat itu, namun aku…
" Namun apa hah? Namun kau telah menjadikan aku sebagai taruhan? Hah. Kini Kia semakin murka karena Rendy telah mendorong tubuhnya sehingga menyatu pada dingding dan menahan kedua tangan Kia dengan kuat.
“Aku bilang lepaskan…!" lepaskan aku!!, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dan kau sudah menikah, jadi apa yang kau lakukan sekarang itu tidaklah benar?. Ucap Kia yang sudah merasa sedih karena wajah Rendy semakin mendekat padanya.
Bug… bug…
Dua tinjuan mendarat pada
wajah Rendy.
“Apa yang mau elo lakuin sama
Kia, hah? Setelah luka yang elo kasih dan sekarang dengan senaknya elo mau balik
lagi sama dia, urus aja istri lo yang lagi bunting. Dasar ******** gak tau diri, Ucap Prama penuh amarah dan panas dalam dadanya karena melihat perlakuan Rendy kepada Kia.
Rendy yang terjatuh hanya diam tak berdaya karena tinjuan yang diberikan Prama begitu keras padanya.
“Apa urusan lo? Mau ikut campur masalah gue sama Nakia? Hah, Balasnya lemah.
“Semua ini jadi urusan buat gue karena Kia ini tunangan gue. Ucapnya bohong karena ingin melidungi Kia dari laki-laki seperti Rendy.
Kia hanya tersentak kaget mendengar tutur l kata yang di lontarkan Prama pada Rendy dengan isak tangis dan air mata yang sudah mengalir deras.
“Hayuk. .. sayang kita pergi dari sini, Ucap Prama yang sudah menghapus air mata Kia dan merangkulnya dengan erat.
“Terimakasih ya kak, ucap Kia
__ADS_1
lirih.
Rendy yang melihat perlakuan Prama pada Kia hatinya merasa sakit ternyata orang yang sudah ia cintai telah mendapatkan pengganti dirinya.
“Jadi sekarang Kia sudah punya tunangan?
****
“Kia kamu kenapa? Tanya Sasa
bingung karena melihat Kia yang sudah di gandeng Prama dengan keadaan menangis.
“Ada yang mengganggunya tadi
di toliet, Jawab Prama, Karena Kia masih belum bisa menjawab dan menjelaskan
apa yang telah terjadi padanya.
"Maaf pak Handoko sepertinya Kia tidak bisa melanjutkan makan siangnya dengan anda dan Sasa.
“Tidak apa pak Prama, sebaiknya anda bawa saja Nakia pulang agar dia bisa lebih tenang. Ucap Handoko memberi saran ketika melihat
keadaan Kia yang ada di hadapannya.
" Terima kasih, dan kami permisi, ucap Prama yang tak melepaskan gengaman tanganya pada Kia."
.
.
.
.
Bersambung------
Mohon maaf ya bila tulisannya ada yng longkap dari kalimat yang sebumnya. Karena aku nulisnya pake laptop, dan pas aku lihat di hp ternyata hasilnya jadi berntakan.
Mohon maaf ya dengan ketidak nyamanannya.
Jangan lupa:
LIKE
KOMEN
SHARE dan
VOTEnya
Terima kasih semuanya
__ADS_1