Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
64. Meninggalkannya Satu Persatu


__ADS_3

Jam menunjukan pukul setengah 4 pagi, Kahfi sudah terbiasa bangun untuk mandi dan langsung melaksanakan sholat Qiamul lail. Setelah selesi berdo'a Kahfi melihat Kia masih tertidur dengan pulas masih menggunakan jilbab instan yang tak ia lepas dari semalam.


Mengingat kejadian semalam seolah masih menari-nari dalam benak Kahfi. Ketika Kahfi meminta Kia untuk membuka jilbabnya, perasaan mengelitik menghiasi hati Kahfi yang melihat tingkah lucu Kia yang sangat ketakutan ketika dirinya mendekat dan hendak membuka kerudung.


" Hemmm ... Gimana aku gak penasaran kalau dirinya seolah tak rela bila suaminya melihatnya tanpa jilbab. Dasar akhwat aneh." Batin Kahfi ketika dirinya mendekat pada Kia.


Seketika Kahfi mendekatkan diri mencoba untuk membangunkan Kia yang masih tertidur pulas sambil memeluk guling. Dengan jahilnya Kahfi merebut guling yang ada dalam dekapan Kia sehingga membuat Kia mengeliat mencari gulingnya tersebut.


" Rahma, jangan ambil guling kakak!" kakak lagi gak sholat jadi kamu jangan ganggu-ganggu kakak deh!" ucapnya dalam mata masih terpejam.


Perlahan Kahfi mendekat dan menatap wajah Kia yang masih terpejam. Ia elus halis, hidung sampai dagu Kia dengan lembut namun sang pemilik wajah tak bergeming sedikitpun. Tanpa permisi ia mengecup kening Kia dengan lembut.


" Maaf ya, dek mas curi-curi seperti ini!" ucapnya pelan.


Perlahan Kia mulai membuka matanya dengan sedikit terkejut ia hampir memukul wajah Kahfi dengan bantal yang ia pikir Rahma yang mengerjainya. Sedikit terkejut Kia kaget dengan kehadiran Kahfi tepat di dekat wajahnya. Dengan mata yang membulat sempurna ia beranya.


" Kenapa kakak ada di kamarku?"


Sedikit beranjak dari posisi sebelumnya Kahfi duduk di tepi tempat tidur sambil memegang kening Kia dengan kerudung yang sudah tidak karuan bentuknya.


" Dekkk, kamu gak amnesia kan?"


Bebrapa menit Kia berpikir dan melihat sekeliling kamar yang masih dihiasi dengan bunga-bunga.


" Yaa ampun!" sekarang aku kan sudah resmi menjadi istri dari kak Kahfi?" bodohnya pertanyaan ku barusan!" batin Kia.


Azan shubuh pun berkumandang. Kahfi bangkit dan hendak mengambil kain sarung.


" Tunggu biar Kia yang ambilkan!" ucapnya sambil bangkit dan memperbaiki kerudungnya.


" Sudah tidak apa mas bisa ambil sendiri! Dek bisa kanjutkan tidurnya. Pasti dek lelahkan karena acara kemarin!"


Kiapun meraih tangan Kahfi dan menciumnya sebelum Kahfi berangkat ke mesjid.


💕💕💕


" Bu hari ini biarkan Kia yang buat sarapan ya!" ucap Kia ketika berada di dapur disana sudah ada nek Rumi dan bu Aisyah.


" Tak apa sayang kita bisa lakukan semuanya sama-sama, ya!" ucap bu Aisyah.


" Nakia, kenapa kamu gak istirahat saja di kamar, biarkan semua ini nenek dan ibumu yang mengerjakan!" ucap nek Rumi yang sedang membersihkan sayur sawi untuk campuran nasi goreng.


" Kia gak betah, nek!" kalau harus bermalas-malasan di kamar. Lebih baik Kia di dapur sambil masak nasi goreng. Nenek dan ibu pasti sudah kangen dengan nasi goreng buatan Kia?"


" Ya sudah terserah kamu saja, sayang!" ibu dan nenek ke depan dulu ya! Ucap bu Aisyah di iringi anggukan kepala oleh Kia.

__ADS_1


Dengan lincahnya Kia mengulek semua bumbu untuk nasi goreng. Bakso, sayur, sosis, sawi dan mentimun yang sudah di potong-potong oleh bu Aisyah dan nek Rumi sudah terjejer rapi di dekat meja kompor.


20 menit kemudian nasi goreng buatan Kia pun selesai. Tari yang sedang hamil tergoda dengan aroma nasi goreng buatan Kia.


" Hemmm ... Wanginya menggoda tenggorokanku, Kia!" ucap Tari yang langsung ada di belakang Kia.


" Sebentar ya kakak iparku tang cantik" aku belum selesai membuat ceplok telor tapi kalau kamu mau makan duluan tak apa karena, sebagian sudah terhidang di meja!" ucapnya sambil membalikan ceplok telor yang tersisa 3 butir telur yang belum di gorengnya.


" Widihhh ... Pengantin baru kok adanya di dapur, bukannya di kamar?" Goda Razi yang mendekati Tari yang sedang menyatap nasi goreng buatan Kia seketika mulutnya terbuka dan menarik sendok berisi nasi goreng dari tangan Tari.


" Aa!" kebiasaan deh! Ucap Tari.


" Enakkk nya nasi goreng buatan penganti baru! Kalah ni nasi goreng langganan aa sama buatanmu, dek!"


" Dari pada aa nganggur mendingan aa bawain nasi goreng ini ke depan biar kita bisa makan sama-sama di ruang tamu!" perintah Kia.


" Siap!" jawab Razi singkat.


Semua keluargapun menikmati nasi goreng buatan Kia. Semua memuji rasa nasi goreng tersebut hingga membuat Kia seolah terbang seperti kapas karena mendapat pujian dari semua orang terkecuali Kahfi yang masih canggung dengan semuanya walau dia akrab dengan Razi tapi tidak menutup kemungkinan dirinya merasa canggung dalam situasi yang kini sudah menjadi adik ipar Razi.


💕💕💕


Jam menunjukan pukul 10 siang abah Dahlan dan pak Hasbi sudah berada di perkebunan. Ulan yang sudah mengemas barang-barangnya karena sebentar lagi Brayen dan Naura akan datang menjemputnya.


Tak lama kemudian mobil Brayen sudah terpakir di depan rumah abah Dahlan. Suara kelakson mobilpun ditekan oleh Brayen seolah ia tak ada waktu untuk turun dan berbincang-bicang dengan Kia lagi karena perjalanan mereka lumayan lama bila menggunakan mobil.


" Ya tak apa, Naura!" Insyaa Allah bila kakak sedang menginap di rumah ayah, kakak akan main!"


" Maaf ya Kia, tante, nek dan kak Kahfi!" Ulan pamit, sampaikan salam Ulan kepada om Hasbi dan abah Dahlan!" Samara (sakina, mawadah dan Rohmah) terus ya Kia dan kak Kahfi!" ucap Ulan seraya menutup pintu mobilnya.


Mobil Brayen pun berlalu dan sampai tidak terlihat lagi. Kia dan Kahfipun masuk ke dalam rumah setalah nek Rumi dan bu Aisyah masuk terlebih dahulu.


" Rumah ini sedikit lagi akan terasa sepi. Satu persatu sudah pulang!" ucap nek Rumi yang duduk di ruang tv dengan bu Aisyah.


Kia yang mendengar hal itu langsung duduk di dekat nek Rumi sambil memeluknya.


" Nenek jangan sedih gitu dong!" kan Kia akan tetap tinggal di sini juga walau, nanti Kia akan tinggal di rumah mas Kahfi!" tapi Kia janji akan sering-sering datang ke rumah nenek kok!" ya kan, mas Kahfi?" tanya nya sambil memegang kedua tangan dua wanita yang paling ia sayangi di dunia ini.


" Ya tapi kamu juga harus sering-sering juga main dan menginap di rumah ibu?" walau jauh setidaknya 1 bulan sekali kalian harus menginap! Jangan melupakan ayah dan ibu begitu saja!" ucap bu Aisyah berkaca-kaca.


" Tidak ibuku sayang, minggu depan Inshaa Allah Kia akan menginap di rumah karena kebetulan mas Kahfi ada urusan disana yang harus diselesaikan! jadi ibu jangan sedih lagi ya!" Kia sayangggg sekali sama ibu, nenek dan juga semua!" ucapnya sambil mencium pipi kedua wanita paruh baya tersebut bergantian.


Kahfi yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan 3 wanita yang ada di dekatnya, dengan perlahan mengutarakan keinginannya agar hari ini Kia dapat ikut tinggal di rumahnya yang sudah dua hari ini tidak ia tempati.


" Nek, ibu!" Kahfi mohon maaf, sesuai dengan yang pernah Kahfi utarakan sebelumnya, siang ini Kahfi ingin membawa Kia untuk pindah ke rumah Kahfi!" itupun kalau nenek dan ibu tidak keberatan!" Ucapnya penuh santun.

__ADS_1


" Ibu dan nenek tidak berkeberatan bila memang nak Kahfi ingin membawa pindah Kia hari ini juga!" toh kini Kia memang sudah seharusnya mengikuti kemana suaminya hendak membawanya, selama itu baik untuk kalian berdua. Sudah jadi kewajiban Kia sebagai seorang istri untuk memenuhi dan mentaati perintah serta kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suaminya! Ucap Bu Aisyah sambil memegang tangan kiri Kia dengan erat dan sedikit mengelus nya dengan lembut.


Kia yang mendengar ucapan bu Aisyah seolah berpikir atas apa yang di utarakan bu Aisyah. Otaknya berfikir bahwa dirinya belum sepenuhnya menuruti dan mematuhi perkataan suaminya.


" Yaa ampun berdosanya aku, yang masih menyebunyikan wajahku di balik kerudung padahal sudah beberapa kali mas Kahfi ingin melihatku tanpa kerudung!" bodonya kamu, Kia!" Gumamnya dalam Hati.


💕💕💕


Kini tibalah Kia di rumah Kahfi dengan bawaan tas yang tidak terlalu besar Kia menaruhnya di depan pintu. Kahfi yang sedang mengambil satu koper di bagasinya langsung mendekat pada Kia yang beberapa menit menunggu Kahfi membukakan pintu rumah yang sudah dua hari tak ia tempati.


Sambil melangkahkan kaki kanannya ke dalam rumah Kia dan Kahfi mengucapkan salam dan membaca do'a masuk rumah. Agar terhidar dari jin-jin penghuni rumah yang singgah di dalam rumah sehingga jin-jin tersebut pergi dari dalam rumah dan mencari sarang persembunyian di rumah yang lain.


Kia yang baru pertama kali masuk ke dalam rumah tersebut seolah heran dengan keadaan isi rumah yang begitu sangat rapi dan terurus oleh sang pemilik istana. Perlahan tanganya mengusap meja dan lemari buku yang membelakangi ruang tamu. Tak ada debu yang menepel pada benda yang Kia sentuh menandakan sang pemilik rumah begitu apik dan bersih dalam mengurus rumah.


" Dek, kamar kita di sini!" dek bisa menata kembali apa yang kurang cocok di kamar ini!" Ucap Kahfi seraya membukakan pintu dan mengucapkan salam kembali.


Kia yang sedikit takjub dengan suasana dan isi kamar yang akan ia tempati bersama sang suami. Hingga akhirnya ia membuka suara dan bertanya langsung kepada Kahfi.


" Apakah semua ini mas yang merapihkan dan membersihkan seisi rumah ini?"


"Kenpa? Dek gak suka ya! Tanya Kahfi yang menatap Kia yang seolah masih menela'ah isi kamar Kahfi.


" Tidak, Kia suka malah sangat suka!"


" Syukur alhamdulillah kalau, dek suka!" maaf ya kalau rumah mas tidak sebesar rumah abah Dahlan ataupun rumah orangtua, dek!


" Besar kecilnya rumah itu tidak jadi masalah asalkan penghuninya bahagia itu yang utama" ucap Kia sambil membuka lemari pakaian yang sudah Kahfi sediakan untuknya.


" Dek istirahat saja biar mas yang memasukan baju-baju dek ke dalam lemari, ya!


" Tidak mas!" ini sudah jadi kewajiban dek sebagai seorang istri untuk melakukannya! Lebih baik mas saja yang beristirahat!" ucap Kia yang mulai memasukan baju dan kerudungnya ke dalam lemari.


" Kalau begitu kita bisa melakukannya sama-sam itu akan mempersingkat waktu dan kita bisa beristirahat setelahnya bersama!"


Kiapun menurut. Akhirnya merekapun melakukanya bersamaan setelah semuanya masuk ke dalam lemari tak sengaja Kahfi meraih baju yang kelihatan transparan yang menurutnya itu sangat seksi.


" Dek, ini beneran baju milikmu? Ucap Kahfi sambil memajangnya di hadapan Kia."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung-----


__ADS_2