Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
98. Rencana


__ADS_3

Jama'ah bergegas untuk pulang setelah mendengarkan kajian dari Kahfi. Tinggallah Kahfi dan beberapa tokoh di desa tersebut. Kahfi masih berbincang-bincang membahas tentang perkembangan panti yang kelak akan si serahkan kepada Adam karena dirinya sudah sangat sibuk dengan urusan perusahaan mendiang orangtuanya dan belum lagi tugas ia sebagai dosen dan sering dipanggil untuk mengisi kajian-kajian.


Kahfi izin untuk pulang ketika ia menerima pesan singkat dari sang istri yang sedang menunggunya di rumah kiyai Mansur. Motornya melaju ke arah rumah sang ayah angkat yang tak jauh dari masjid An Nur. Motor telah terpikirkan di halaman asrama. Kahfi menuju ke tempat dimana Kia sedang membantu kak Fatimah membereskan peralatan makan setelah makan siang.


"Assalamu'alaikum" Ucap Kahfi ketika masuk ke ruang tengah dimana hanya tinggal kak Fatimah dan Kia.


"Wa'alaikum salam." Jawab kak Fatimah dan Kia bersamaan. Kia langsung menghampiri kedatangan sang suami. Mencium punggung tangannya dan Kahfi pun melakukan hal yang sama kepada Kia disertai ciuman kening.


"Kamu sudah makan siang belum, Kahfi?" Tanya kak Fatimah yang kini duduk di rumah tengah.


"Kahfi sudah makan, kak. Kok sepi pada kemana?" Kahfi duduk di sebrang Fatimah.


Kia pergi ke dapur membuatkan jus mangga permintaan Kahfi yang sebelumnya mengirim lewat chat. Buah mangga sudah rapi dipotong-potong oleh Kia lalu memasukannya ke alat blander.


Kak Fatimah izin untuk pergi ke asrama putri dan meninggalkan Kahfi dan Kia di rumah.


"Gak apa-apa kan Kia kakak tinggal? karena siang ini ada jadwal untuk rapat mengenai penyambutan Santi baru." Ucap kak Fatimah yang menghampiri Kia sebentar lalu pergi.


Kahfi mendekat. Tangannya melingkar dari arah belakang Kia, dagunya ia letakan di bahu kanan Kia.


Pergerakan Kia sedikit melambat karena ulah Kahfi. "Mas jangan ganggu dek dulu, ini bukan di rumah kita loh. Nanti kalau ada yang lihat kan malu!" Ucap Kia yang kegelian karena Kahfi meniup-niup telinga Kia yang tertutup kerudung.


Kahfi tak memperdulikan perkataan Kia. Seseorang datang tanpa suara, melihat pemandangan suami istri yang sangat romantis.


"Ehem... ehem...! haduhh mata ane ternodai disiang bolong gini." Ucap Yazid dengan pura-pura menutup wajahnya dengan tangannya.


Wajah Kia memerah karena malu dengan ke datangan Yazid. Ia mencoba melepaskan pelukan Kahfi yang melingkar di perutnya. Namun Kahfi malah dengan sengaja meledek Yazid, membalikan tubuh Kia ke hadapannya dan mencium pipi Kia di depan Yazid yang hendak mengambil air minum di dalam kulkas yang tak jauh dari mereka berdua.


"Yaa Allah, Yaa Allah, Cobaan apa yang ada di hadapan hamba ini, Yaa Allah! Mas bro ini bener-bener membuat jiwa zomblo ane meronta-tonta ini."Ucap Yazid yang dengan cepat ingin meninggalkan pasangan yang ada di hadapannya.


Wajah Kia sudah sepeti tomat, malu karena sang suami sudah kelewatan menggodanya di depan sang adik ipar. Ia memukul pelan lengan Kahfi. Dengan terkekeh Kahfi mencubit hidung Kia.


"Gak apa-apa, sayang toh itu cuma Yazid, bukan di depan Abi atau jama'ah kok!" Kahfi mengambil gelas yang sudah berisi jus mangga. "Terimakasih ya sayang jusnya.


"Oow... owww... Surjana sekali perkataan mas bro. Anggap aja kak Kia ana ini cuma angin." Yazid yang belum meninggalkan ruangan dapur.


Kia menyelinap di balik punggung Kahfi karena ia mengira Yazid sudah pergi dari dapur.


***


Di kediaman Huda. Naura sedang berkemas untuk membawa beberapa baju ganti untuk ia dan sang suami Huda. Tak sengaja ia melihat sekilas foto seorang wanita yang ada di dalam lemari Huda. Dengan hati yang penasaran perlahan ia menarik foto yang ada di bawah tumpukan kaos Huda. Jantungnya berpacu dengan cepat takut-takut Huda masuk ke kamar, secepat mungkin tangannya meraih foto tersebut namun dengan tiba-tiba tangannya terpaku karena tangan kekar Huda menghentikan gerakan Naura.

__ADS_1


"Jangan menyentuh apa yang tidak seharusnya kamu ambil." Suara Huda begitu tegas dan datar.


Dengan panik Naura berusaha menyesuaikan hati dan sikapnya. "Maa... maaf, mas!" Naura kelihatan panik dan wajahnya sedikit pucat karena yang ia takutkan terjadi.


"Lain kali bila menemukan sesuatu harus bertanya dulu dan jangan mengambil apa yang tidak saya perintahkan." Huda berlalu dari hadapan Naura dengan membawa foto Kia yang sudah lama ia simpan.


Ada rasa sedih dan penasaran di hari Naura. Sepertinya foto itu begitu berarti bagi Huda, sampai-sampai ia sebagai istrinya pun tidak boleh melihatnya. Naura penasaran dengan siapakah orang di dalam foto tersebut. apakah bagian dari masa lalu Huda apa kah itu foto sang mamah tercintanya. Naura menutup lemari setelah semuanya rapi ia mendorong koper itu di dekat pintu kamar.


Huda kembali ke kamar dan mendorong koper yang Naura letakan di dekat pintu. Naura mengunci pintu kamar, mengekor mengikuti langkah Huda.


"Bi Neng tolong selama saya dan Naura pergi tolong bila ada yang datang ke rumah saya dan Naura sedang berbulan madu ke Australia." Ucap Huda kepada asisten rumah tangganya.


"Baik, den!" Jawab bi Neneng


Huda dan Naura sudah di dalam mobil. Selama perjalanan suasana di dalam mobil sangat hening tak ada pembicaraan diantara keduanya.


Satu jam mereka berdua sampai di bandara. Sudah ada pak Prayoga dan sang tante. Naura mencium tangan sang papah mertua dan Tante. Mereka berempat memasuki kabin.


Pak Prayoga memperhatikan Huda dan Naura yang bejalan agak berjarak. Hingga sang papah menegur anak semata wayangnya. "Huda, kenapa istrimu tidak kau gandeng. Kalau ia tertinggal bagaimana?" Ucap pak Prayoga sambil menggelengkan kepalanya.


Huda berhenti sejenak dan melangkah mendekat pada Naura. Perlahan ia meraih tangan Naura dan menggengam dengan erat walau agak sedikit terpaksa. "Kalau bukan karena permintaan papah aku tidak mungkin menikahi Naura. Di hatiku masih tersimpan nama Kia"


Naura melirik pada gengaman tangan Huda. Hatinya merasa hangat walau ia tahu Huda melakukannya pasti dengan terpaksa.


Beberapa menit mereka berempat sudah ada di dalam pesawat. Huda duduk berdua dengan Naura, dan pak Prayoga duduk berdua dengan sang adik.


Naura melirik pada Huda yang akan memejamkan matanya. Naura sedikit ketakutan ketika pesawat akan lepas landas ia memberanikan diri memegang tangan Huda agar ia merasa tenang.


Mata Huda terbuka dengan sempurna ketika tangan dingin Naura sudah berada di atas tangannya. "Kenapa, baru pertama kali naik pesawat tanyanya sedikit ketus?"


Naura menggelengkan kepala. Seketika jantung Naura semakin tak karuan ketika pesawat sudah stabil terbang di udara matanya tak sanggup untuk melirik kesamping jendela pesawat. Wajahnya pucat, dan tangannya semakin terasa dingin.


Huda baru ingat apa yang pernah Brayen katakan. Bahwa Naura mempunyai pobia ketinggian, ketika ia berpergian dengan pesawat Brayen selalu menemaninya sambil menggengam erat tangan sang adik dan membiarkan sang adik bersandar kebahunya hingga ia tertidur.


Ada rasa kasihan pada hati Huda ketika melihat wajah pucat naura. Perlahan ia mencoba melakukan apa yang Brayen katakan. Mata Naura membulat dengan sempurna dengan tindakan Huda. "Aku tau ini dari abangmu yang pernah mengatakan bahwa kamu punya pobia ketika menaiki pesawat terbang"


Naura perlahan memejamkan matanya.Pak Prayoga yang ada di sebelah mereka tersenyum dengan perlakuan sang anak kepada istrinya. Ia yakin lama kelamaan Huda pasti akan mencintai Naura.


***


Pernikahan Huda dan Naura sebenarnya atas permintaan pak Prayoga. Karena ia yakin Naura bisa membuat anaknya Huda bisa kembali move on dari Kia. Karena ia tau Huda begitu mencintai Kia, walau ia tau Kia sudah menikah dengan Kahfi. Ia melihat itu karena Huda sering melihat foto-foto Kia di medsosnya ketika itu pak Prayoga tak sengaja melihat Huda yang tertidur di ruang kerjanya dengan laptop yang masih on dan dilihatnya begitu banyak foto-foto Kia yang ia simpan di laptopnya.

__ADS_1


Pak Prayoga tak pernah bisa tidur karena memikirkan masa depan sang anak satu-satunya harapan dia. Hingga akhirnya ia sering sakit-sakitan karena memikirkan Huda yang selalu menghabiskan malamnya dengan selalu memikirkan Kia. Ia selalu merasa menyesal karena pernah melakukan perkataan sang mamah tercinta yang ketika itu akan mengenalkan dirinya dengan Kia. Namun justru sang adik yang lebih dahulu mengenal Kia.


Pak Prayoga sering mendengar nama Naura di perbincangan para karyawan di perusahannya. Yang di gosipkan dekat dengan Huda. Sampai akhirnya ia menyelidiki tentang Naura dan kedekatanya dengan sang anak. Sampai akhirnya ia memutuskan agar Huda segera menikahi Naura walau ia tau Huda belum sepenuhnya menerima Naura di hatinya.


***


Jam bergulir dengan begitu cepat tak terasa sudah pukul 8 malam. Kia dan Kahfi baru saja pulang dari rumah abah Dahlan. Rasa rindu Kia terbayarkan sudah ketika ia datang berkunjung ke rumah sang kakek dan nenek yang begitu mencintainya.


Kia menyimpan baju rajutan hasil sang nenek di lemari gantung. Kia keluar dari kamar dan melihat sang suami sedang berada di ruang kerja yang bersebalahan dekat kamarnya. Kia mendekat, perlahan tangannya meraih brosur universitas tempat Kahfi mengajar. "Sibuk ya mas? baru pulang langsung pegang laptop ?"


Jari-jari Kahfi dengan lincah menari di atas keyboard dan matanya fokus menatap layar laptop. "Gak juga sayang, mas cuma menyicil persiapan meeting untuk pekan depan." Ucap Kahfi yang lalu menghentikan ketikannya ketika melihat Kia yang sedang menatap brosur. "Dek, kenapa gak kuliah lagi aja!" dua tangannya menopang dagunya sambil menatap sang istri yang duduk di hadapannya dengan brosur di tangan.


Kia terkekeh. Sambil menghampiri Kahfi dan kini ia ada di sebelah Kahfi. "Hemm... mau sih tapi dek bingung mau kuliah dimana?


Kahfi menarik Kia untuk duduk di pangkuannya. "Ya sudah kuliah di tempat mas aja kan bisa sekalian berangkatnya sama mas. Gimana?"


Kia sedikit terkejut atas perlakuan Kahfi dan hendak bangkit dari pangkuan sang suami. Namun Kahfi menariknya kembali. "Massa...! Kia me.oeringati ketika Kahfi mengunyel-nguyel punggung Kia. "Apa mas gak risih kalau dek kuliah di tempat yang sama di tempat mas ngajar?"


"Ya gak-lah sayang, justru mas akan tambah semangat karena pergi dan pulang bareng sama istri tercinta. Mas berencana akan membeli rumah di kota B biar mas gak khawatir meninggalkan dek dan jarak tempuh mas juga akan lebih dekat."


Dengan senang Kia langsung berbalik ke hadapan Kahfi. " Beneran, mas?


Kahfi menggerakkan kepalanya sambil tersenyum.


Kia mencium pipi Kahfi kegirangan. Kahfi menunjuk ke pipi sebelahnya untuk di cium. Tapi Kia malah berjalan menuju kursi yang tadi ia tinggalkan.


"Ahhh dek curang!" Kahfi melanjutkan untuk mengetik kembali. "Gimana mau ya mas daftarkan kuliah di universitas tempat mas mengajar? Kahfi membuka web dan meminta Kia untuk mengisinya.


Kia masih sedikit ragu, namun Kahfi memberikan penjelasan tentang masa depan yang dapat Kia raih ketika ia melanjutkan pendidikannya. Setelah mendengarkan penjelasan sang suami akhirnya Kia mau mendaftarkan.


Senyum terukir di bibir Kahfi melihat sang istri yang semangat kembali untuk mengejar impiannya sebagi sang arsitektur dimasa depan. Karena ia tau kemapuan Kia dari cerita sang mertua dan kakak ipar.


Dua jam mereka menghabiskan waktu di ruang kerja. Kahfi sudah menyelesaikan tugasnya. Dan Kia sedikit banyaknya tahu tentang universitas dari sang suami.


Keduanya memutuskan untuk beristirahat. Kahfi dan Kia masuk ke kamar. Berganti baju dengan baju tidurnya setelah berwudhu sebelum tidur. Kahfi melaksanakan rutinitasnya sebelum berbaring ke tempat tidur. Kia menunggu sang suami selesai sholat karena ia sedang datang bulan sehingga tidak melakukan hal rutinitas sholat taubat sebelum tidur.


Kahfi tersenyum ketika melihat sang istri sudah bersiap akan memejamkan mata. "Dek bobo aja duluan. Mas masih mau baca buku sebentar, ya sayang." Kahfi mendekat di sebelah Kia.


Kia memeluk tubuh Kahfi yang setengah duduk di sisinya. Perlahan mata Kia terpejam ketika Kahfi mengelus punggungnya dengan lembut, dan mencium pipinya setelah Kia terpejam.


Setengah jam Kahfi membaca buku matanya mulai lelah dan menguap. Ia letakan kaca mata di nakas. perlahan ia menarik selimut dan mendorong kakinya hingga kepalanya sudah berada di bantal. wajahnya menghadap kepada Kia yang sudah terhanyut dalam mimpi indah, sebelah tangannya ia letakan di atas pinggang Kia. Perlahan matanya mulai terpejam setelah menyelesaikan doa hendak tidur.

__ADS_1


__ADS_2