
Malam menyapa rembulan yang bersinar di hiasi indahnya lampu-lampu di jalan, lalu lalang kendaraan sudah terliglhat lengang.
Seperti sepasang mata masih belum terpejam, entah apa yang ia pikirkan di depan jendela, yang terhirup angin malam menyapu rambutnya yang sengaja ia lepaskan ke depan.
"Aku senang melihat wajahmu yang kini sudah terlihat ceria, tidak seperti hari-hari yang lalu aku temui wajah tak semangatmu. Senyummu mulai terukir, mata indahmu mulai berbinar.
"Aku ikut senang dengan keadaanmu yang sekarang Kia!", walau semuanya belum kembali seperti pertama kali aku mengenalmu, wajah yang selalu terlihat bahagia, ceria, dan selalu terukir canda tawa dengan teman kejamu. Bathin Prama yang senyumnya mulai mengembang di dua sudut bibir ketika wajah Kia menari-nari dalam pikirannya.
Kamu lain dari wanita yang aku kenal, yang selalu terlihat konyol walu cara berpakaian dan tingkahmu sedikit tomboy".
Flash back on
" Maba... mba...!!
"Hallo apa ada orang, butik segini gedenya masa gak ada karyawan satu juga yang nongol?. Umpat Pram yang mencari keberadaan karyawan butik tersebut.
"Ya ada kok, pak!... Ada apa?" salah seorang menjawab.
Dengan pandangan mencari-cari asal suara tersebut, Prama mengintai setiap ruang dan deretan baju-baju yang sudah tertata rapi, namun dia tidak menemukan keberadaan sang pemilik suara tersebut.
Si mbanya dimana?, kok saya gak liat?, tanya Prama bingung.
"Saya ada sisini pak?, gak jauh dari bapak berdiri, coba bapak tengok sebelah kanan bapak dan liat ke atas. Perintah Kia.
" Yaa Allah, pantes aja saya gak bisa liat si mbanya!, lah wong ada di atas, ucap Prama sambil menepuk jidatnya karena heran.
"Hehe... maaf ya pak, abis tanggung kalau saya turun lagi karena tinggal satu barang yang harus saya letakan di atas. Senyum Kia sambil membereskan bajunya yang sedikit terkena debu. Namun, ketika selangkah lagi kakinya menuruni tangga.
Aaaawasss...! teriak Prama kaget karena melihat Kia yang hampir terjatuh. Dan spontan tanganya meraih badan Kia yang akan tumbang ke lantai.
"Aaisssshh... Makasih pak untuk bantuannya", ucap Kia yang tersenyum kikuk dan wajahnya bersemu merah.
"Lain kali kalau mau manjat-manjat minta tolong pekerja laki-laki dong!, gak pantes permpuan manjat tangga setinggi itu!". Ucap Prama sambil melepaskan tangannya dari badan Kia.
Disini itu gak ada pekerja laki-laki tuan?, lagi pula saya sudah biasa kok manjat-manjat kalu lagi bantuin ayah saya benerin genteng. Ucap Kia sambil melipat tangga yang baru saja ia pakai.
Jangan panggil saya bapak?, saya belom tua, umur saya baru 17 tahunan. Canda Prama bohong."
__ADS_1
"Mana ada usia 17 tahun mukanya setua ini, kalau angkanya di balik mungkin saya percaya. hehe, senyum Kia yang memaerkan gigi gingsulnya.
"Baiklah,... baiklah saya panggil kakak aja, gimana?"
Mana bisa begitu, uban dirambut saya saja belum ada. Kalu kakak saya tidak keberatan.
****
Tolong si mbanya carikan saya celana panjang yang kuwalitas bagus ukuran size 29 dan baju gamis untuk tante saya usia kurang lebih 50 tahunan.
Jangan panggil saya mba, saya bukan tukang jamu!, panggil saya Nakia aja, jawab Kia kesal.
"Kamu itu udah kaya tikus dapur, liat wajah kamu di kaca!. senyum Prama yang kegelian melihat wajah Kia yang sedikit kotor karena bekas debu.
Benar saja ketika Kia melihat wajahnya di cermin mukanya itu sudah seperti anak kecil yang baru bisa belajar makan karena berantakan.
"Bersihkan wajah mu pakai ini!, biar gak disangka tikus dapur kalau ada yang melihat kamu lagi, dengan memberikan sapu tangan miliknya untuk Kia, Prama tersenyum penuh makna.
Terimakasih, raih Kia yang kini membersihkan wajahnya dengan sapu tangan berwarna hijau muda milik Prama.
" Jadi geli sendiri gue kalau inget pertama kali ketemu sama Kia!".
Sayangnya walau mereka sering bertmu di butik, Prama maupun Kia tidak memiliki nomer ponsel mereka masing-masing.
Walau sesekali Prama pernah berniat untuk memintanya. Namun semua itu ia urungkan karena merasa tidak enak kepada Kia yang mungkin saja merasa risih.
Prama sesekali sering melihat posingan-postingan sosmed Kia yang sering diunggahnya, jadi dia sedikit banyaknya dia tau tentang Kia.
Seperti malam ini ada satu notif masuk ke benda pipihnya Prama, yang memberitahu bahwa Kia baru saja membuat suatu postingan di halaman facebooknya.
"Jangan pernah berharap lebih kepada Makhluknya, namun berharaplah kepada Sang Pemilik Hati". Karena hal itu takkan menjadikanmu merasa kecewa dan sakit hati".
****
Dalem banget postinganmu Kia
Apa yang terjadi sebenarnya denganmu?. Apa Kia sedang patah hati ya?? Baru sebulan yang lalu dia posting satu buah cincin yang melingar di jarinya. Kenapa sekarang dia malah poting kata-kata seperti orang yang sedang patah hati? Apa jangan-jangan Kia tidak jadi menikah dengan laki-laki itu?, tanya Prama dengan perang bathin di hatinya.
__ADS_1
" Yaa Allah,... Kenapa gue jadi kepo gini sama urusan orang." Biarlah mau dia jadi atau enggaknya nikah sama laki-laki itu, bukan jadi urusan gue, toh gue bukan siapa-siapa Kia kan?"
"Prama... Prama, kenapa kamu senyum-senyum sendiri kaya gitu?. Ucap sesorang yang sudah sedari tadi melihat tingkah laku anak laki-lakinya itu."
"Ehh... papah, belum tidur pah?
"Tadinya papah baru mau masuk kamar, tapi liat pintu kamar kamu agak sedikt terbuka dan lampu kamarmu masih nyala jadi papah samperin dah."
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri kaya gitu?, gak kaya biasanya kamu senyum sama hp kamu?.
"Gak pah, tadi Prama lagi baca komik lucu!, jadi bikin Prama pengen ketawa dech. Ucap Prama bohong.
"Ohh gitu!... kirain papah ada apa?. Ya sudah, papah mau istirahat dulu. Jangan lupa besok ada meerting di kantor X, persiapkan diri kamu dan jangan lupa jaga kesehatan tidur jangan larut malam, tukas Malik yang kini meninggalkan anak laki-lakinya.
" Ya pah, selamat istirahat."
Perlahan Prama meraih benda pipih itu kembali. Mulai menscroll halaman facebook milik Kia, dan menatap satu foto Kia yang sedang tersenyum manis dengan balutan jilbab warna marun yang bermotif bunga kecil dengan bawahan gamis berwarna senada sedikit warna pink pada pada bagian bawahnya. Foto itu ia unggah tiga bulan yang lalu saat idul fitri.
"Masyaa Allah, cantik banget si kamu Kia, tanpa beban kamu berekspresi, senyum yang selalu aku rindukan dua minggu ini."
"Yaa Allah, kenapa perasaan ini mucul lagi?, hemm... mungkin ini hanya ungkapan rasa kagum gue sama Kia. gumamnya menepis perasaan yang tak biasa di hatinya.
.
.
.
.
---- Bersambung----
Jangan lupa buat LIKE, Komen dan VOTE sebanyak-banyaknya ya mentemen apa lagi yang punya Koin lebih buat disumbangin ke novel ini...
Biar aku tambah semangat dan gak bikin Nakia sedih lagi
Salam... Love... Love untuk kalian
__ADS_1