
Mobil hitam itu kini sudah terpakir tepat di halaman rumah berbahan kayu jati, yang di sisi kanan kirinya di tanami berbagai macam tanaman umbi-umbian, cabe, tomat dan berbagai macam sayur-sayuran yang sudah tumbuh dengan subur.
Perlahan sang pemilik rumah ke luar ketika mendengar suara deru mobil yang seketika berhenti di depan rumahnya.
Perlahan wanita yang sudah banyak dengan kerutan di wajah serta tangannya melangkahkan kakinya ke luar dari rumahnya. Menatap sang cucu yang sudah tumbuh besar mendekatinya. Air mata kebahagiaan jatuh begitu saja ketika Pak Hasbi ke luar dari dalam mobil di ikuti Kia, Rahma dan bu Aisyah yang sudah menenteng bawaannya masing-masing kecuali Razi yang langsung menuju bagasi untuk menurunkan koper hijau milik Kia.
Rahma seketika berlari menghampiri neneknya yang sudah hampir setengah tahun tidak ia jumpai.
"Assalamualaikum, nenek Rahma kangen banget sama nenek." Ucap Rahma seketika langsung memeluk dan mencium nek Rumi yang masih mengenakan gamis dan kerudung instan.
"Yaa Allah, cucu nenek sudah sebesar ini sekarang!" Ucapnya sambil menciumi kedua pipi Rahma dengan gemasnya karena pipi Rahma begitu cabi sehingga terasa empuk sekali menciumnya.
"Ummi sehat, mi? tanya pak Hasbi yang sudah mencium punggung tangan yang sudah banyak kerutan sehingga terasa seperti mencium bagian tulang yang terbalut kulit saja.
" Alhamdulillah, ummi sehat, Bie! Jawabnya seketika memeluk anak ke 2 dari 2 bersaudara.
Semua saling berpelukan ketika menyalami nek Rumi dengan dekapan pelukkan kerinduan antara cucu-cucunya dan menantunya.
__
Kia, Razi, Rahma, bu Aisyah dan pak Hasbi 'pun kini sudah memasuki rumah yang terasa sejuk ketika kaki mereka baru melangkah dari luar pintu menuju ke dalam ruangan yang sudah lama mereka rundukan suasananya.
Seketika nek Rumi melihat Kia dan menyuruhnya untuk segera meletakan barang-barang miliknya ke lemari yang sudah disediakan oleh neneknya dengan tatapan penuh haru, nenek Rumi menggandeng tangan cucu nya yang mulai hari ini tinggal bersama dia dan sang suami abah Dahlan.
"Cucu nenek yang satu ini kelihatan makin kurus saja!" Ucap nek Rumi yang ikut masuk mengatarkan ke dalam kamar tang akan Kia tempati selama ia tinggal dengan nenek dari ayahnya.
"Nenek, bisa aja!" badan Kia memang segini, nek." Jadi gak ada yang berubah. Ucap Kia sambil meletakan tas yang ada di bahunya.
Nenek tau semua cerita tentang cucu, nenek dari ayahmu. "Kamu tidak usah bersedih, karena Allah pasti sudah menyiapkan Jodoh Pilihan-Nya untuk kamu." yang sudah tiada janganlah ditangisi karena itu tanadanya kita tidak ikhlas dengan ketentuan Allah." Ucap nek Rumi memeluk erat tubuh cucunya yang semakin dewas.
" Ya, nek!"
"Bantu Kia ya nenek agar Kia bisa menjadi hamba yang lebih baik lagi!" supaya Kia bisa mengikhlaskan apa yang bukan milik Kia. Tandasnya sambil menengelamkan wajahnya pada bahu yang sudah tidak bisa menahan beban terlau berat.
"Inshaa Allah, lingkungan di sini akan bisa menjadikanmu wanita yang sholihah dan kuat. Ucap nek Rumi meyakinkan.
***
__ADS_1
Sore hari, keluarga pak Hasbi sedang membantu abah Dahlan yang sedang berada di kebunnya. Disana terdapat sebuah gubuk yang terbuat dari bambu-bamu yang atapnya terbuat dari jerami-jerami yang sudah mengering untuk tempat beristirahat abah Dahlan ketika lelah mencangkul.
Pak Hasbi dan Razi sedang membantu abah Dahlan 'orang tua dari pak Hasbi' yang sedari siang belum mengetahui kedatangan anak, cucu dan menantu di istananya. Abah Dahlan seorang petani di daerah X ini, ia adalah sosok pekerja keras dan tekun dalam bekerja. Hari ini adalah hari dimana jagung yang ia tanam harus di panen.
" Abah, Rahma boleh ya minta jagunnya untuk nanti malam kita buat jagung bakar sama-sama!" Ucap Rahma yang senang sekali memasukkan jagung-jagung itu ke dalam karung satu persatu.
" Ambillah yang banyak, cucuku sayang!" separuhnya nanti akan abah bagi-bagikan kepada para tetangga. Ucapnya yang sambil membereskan batang-batang dari pohon jagung tersebut.
"Biar Kia saja, bah! yang nanti membagi-bagikan kepada para tetangga." Ucap Kia yang meraih kantong pelastik yang sebagian sudah berisi jagung-jagung yang Kia bungkus.
" Biar nanti aa bantu berkeliling membagikannya ya, Kia!" Ucap Razi yang sudah menaruh cangkul yang kotor dengan tanah merah di samping gubug.
"Yuuuk, kita pulang hari sudah semakin sore nenek sama ibu kalian pasti sudah menyiapkan untuk makan sore!" perintah abah Dahlan kepada para cucu-cucunya.
Akhirnya merekapun beranjak untuk pulang ke rumah. Sebelum mereka pulang mereka semua membersihkan kaki dan tangan yang sudah kotor dengan tanah-tanah merah di sebuah sungai yang mengalir yang tak jauh dari perkebunan jagung milik abah Dahlan.
Pak Hasbi yang membawa gerobak berisi karungan jagung yang di bantu oleh Razi mendorong gerobak itu agar tidak terlalu berat ketika pak Hasbi menarik benda beroda 2 yang terbuat dari bahan-bahan kayu pilihan. Kia dan Rahma yang menikmati perjalanan sambil menenteng 2 kantong kresek yang sudah berisi jagung-jagung yang akan di bawa kerumah abah Dahlan.
Sesampainya mereka di rumah Kia dan Razi langsung membagi-bagikan jagung untuk para tetanggannya. Banyak para tetangga yang berucap terima kasih ketika mereima jagung-jagun tersebut dari Kia dan Razi.
" Ini cucunya abah Dahlan yang dari kota x ya?" ayu banget wajahnya neng. Ucap ibu-ibu yang berkerudung asal menempel di telinganya yang menerima kantong kresek dari tangan Kia.
"Kalau ibu punya anak laki-laki pasti udah ibu pinta untuk jadi menantu ibu, neng!" Ucap ibu yang berdaster coklat sambil mengendong bayinya yang masih usia 8 bulanan.
Kia yang mendengar banyak celotehan dari ibu-ibu tersebut hanya bisa tersenyum sambil menunduk seraya tanganya mengelus lembut bayi yang ada di gendongan ibu yang berdasteran itu.
Akhirnya kantong demi kantong jagung itu habis juga di bagikan kepada tetanga.
" Saya pamit ya, ibu-ibu! ucap Kia yang sudah di tunggu Razi di dekat lapangan bulu tangkis.
"Terimakasih ya neng, aa!" Teriak para ibu-ibu yang melihat langkah Kia yang mendekati kakak laki-laki yang kaosnya sudah kotor.
***
"Di mesjid tadi Razi seperti melihat Adam anak Ustadz Subekti, yah! Tanya Razi yang kini sudah ada di teras depan bersama abah Dahlan dan pak Hasbi.
" Adam memang tinggal di sini karena, ia selain jadi pengajar di asrama di sini dia juga mengajar anak-anak panti asuhan yang tak jauh dari kampung ini, a!" Ucap pak Hasbi menjelaskan.
__ADS_1
" Nak Adam itu, kalau gak salah sedikit lagi akan menikah dengan orang yang tak jauh dari tempat tinggal mu, Bie!" Ucap abah Dahlan kepada pak Hasbi.
" Benarkah, gitu bah? tanya pak Hasbi.
" Ya benar!" denger-denger lewat ta'aruf yang sudah lama nak Adam serahkan kepada akhwat yang memang belum lama mengajar di asrama tersebut namanya Febri apa Fani gitu walau sebelumnya dia pernah hamoir mengkhitbah anak seorang ustadz tapi sayang akhwatnya sudah ada yang mengkhitbah terlebih dulu sebelum nak Adam. Ucap abah Dahlan.
" Kok ustadz Subekti tidak pernah memberitahu hal ini kepada ayah, ya!"
" Mungkin ustadz Subekti juga belum sempat kali, yah, untuk kasih tau ke ayah jadi beliau menunggu waktu yang tepat. Ucap Razi.
Ketika ketiga laki-laki itu sibuk dengan perbincangannya Kia datang membawakan 3 cangkir kopi dan sepiring jagung rebua serta singkong kukus yang uapnya masih mengepul.
" Kalu ngobrol tanpa sugguhan akan terasa hampa!, maka dari itu Kia bawakan sugguhan untuk abah, ayah dan aa Razi. Ucapnya sambil meletakan sugguhan di atas meja bulat yang terbuat dari kayu berwarna coklat.
" Makasih ya, cucuku sayang!" Ucap abah Dahlan sambil mengelus kepala Kia.
Tiba-tiba seseorang datang memberi salam. mereka pun serempak menjawab orang tersebut yang masih menggunakan koko berwarna navy dan kain sarung berwarna coklat.
" Yaa Allah, nak Adam!" sambut pak Hasbi ketika pria berkulit putih itu mencium punggung tanganya seraya tangan kirinya menepuk-nepuk bahu kanannya.
" Kebetulan sekali pak Hasbi ada di sini, jadi saya bisa sekalian membicarakan ini kepada pak Hasbi dan abah Dahlan. Ucap Adam yang masih berdiri.
Seketika Kia pun masuk ke dalam ketika pria itu datang dan menyalami 3 laki-laki yang ada di teras.
"Sepertinya aku pernah melihat fotonya waktu Tari mengatakan kalau laki-laki itu meminta untuk berta'aruf padanya seminggu setelah aa Razi mengkhitbah Tari. Batin Kia.
.
.
.
.
.
Bersambung----
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE dan bintang LIMANYA, ya para pembaca setia DJPA.
Salam sehat dan semangat selalu untuk kalian semua.