
🌼🌼Tangisaan Dalam Hati 🌼🌼
🌼Aku ingin membungkam pada alam hari ini
Suasananya menghayutkan lautan hatiku
Deseiran darahku mengalir cepat
Seolah tak bisa ku tahan amarah dalam hati
Perasaanku bagaikan tercabik-cabik semilu
Ngilu ku rasakan ...
Pedih membekas ...
Perih ngurasa jiwa ...
Ingin ku tuangkan tangisaku sejadi-jadinya
Menjerit pada alam yang membisu melihatku
Angin menampar perasaanku yang begitu teriris
Aku tak mengerti akan semua ini
Tuhan mengapa harus aku yang seperti ini ?
Tuhan mengapa semua ini bisa terjadi pada diriku?
Aku tak pernah tau akan rencana-MU yaa Robb ...
Ku pasrahkan
__ADS_1
Ku serahkan
Dan ku gantungkan semua ini kepada-MU
Bimbing aku dan hatiku Yaa Robb .... 🌼🌼*
Perlahan Kia menyimpan buku diary berwarna coklatnya, sebagai ungkapan hati yang ia alami. Walau hanya sebuah puisi yang hanya dirinya yang bisa memahami. Ia usap air mata yang terus membanjiri pipinya walau sedikit lemah ia tetap berusaha untuk bangun dan meninggalkan kursi yang telah menopang bobot badannya.
Perlahan ia beralih ke kasur empuknya, seraya mengambil foto yang pernah ia cetak bersama sang pujaan hati yang sudah tenang di alam sana.
"Kak, ... Kenapa kakak begitu cepat meninggalkanku? Tidakkah kau tau, hatiku begitu rapuh seperti kertas yang sudah terbakar lalu tertiup angin, ragaku begitu lemah seperti tak bertulang? Aku tau kau tak menginginkan aku seperti ini, tapi bagaimana aku tak seperti ini kalau harapan dan impian kita telah sirna?. Ucapnya seraya mengelus lembut foto yang terbingkai kayu sesekali ia dekap foto itu dalam dadanya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suarq ketukan pintu daei depan kamarnya.
"Dek, boleh aa masuk? Tanya Razi yang sudah ada di ambang pintu sambil membawa nampan yang berisi semangkok sup dan sepiring nasi, berharap adiknya mau makan hari ini.
"Dek, sudah hampir satu minggu kamu terus beriam diri di kamar, apa kamu tidak penat, hah? Lihat wajahmu semakin tirus, aa gak mau kamu terus-terusan kaya gini, kamu ini udah dzolim sama badanmu, dek!" Ucap Razi seraya meletakan namapan yang berisi hidangan makan siang untuk Kia, yang sudah satu minggu tak berselera makan.
"Biarkan Kia seperti ini, a! Kia lebih baik istirahat di kamar saja, dari pada Kia di luar yang terus teringat keberadaan kak Prama, yang pernah mengisi isi ruangan di rumah ini. Hiks ... Hiks ... Jawabnya yang merasa pilu bila mengingat kenangannya berasama Prama yang pernah makan bersama di meja makan, selalu bersenda gura bila sedang berada di ruang tamu bersama keluarganya. Bayangan Prama terus saja menari-nari dalam memorinya ketika ia melihat ruangan-ruang rumah yang pernah Prama singgahi.
" Ya susah kalau begitu" sekarang kamu makan, ya! Titah Razi sambil memasukan sesedok nasi yang sudah tercampur kuah sop ayam yang mendekat ke mulut Kia.
Dengan sedikit gelengan kepala Kia seolah menolak suapan dari Razi.
"Sesedok saja tak apa, dek!"
Paksa Razi yang tak mau adikknya semakin drop bila tak di paksa makan.
Sedikit membaringkan tubuhnya Kia menolak kembali perintah kakak kandung yang sangat menyayangi adiknya itu.
"Kia belum mau, a!"
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu gak mau makan juga jangan salahkan aa, kalau senin depan kamu harus ikut aa, untuk pergi ke asrama teman aa yang yang ada di daerah x agar kamu bisa melupakan kenangan-kenangan bersama Prama!" Aa gak mau dek, liat kamu seperti ini seolah tak lagi punya gairah hidup. Gertak Razi yang sedikit menaikan intonasi suaranya yang membuat Kia sedikit kaget dan langsung bangkit dari tubuh yang sedikit lagi menempel pada kasur empuk miliknya. Razi sedikit mengacak-ngacak rambutnya kasar.
Tangis Kia pecah mendengar suara Razi yang sedikit mengiang di gendang telinganya. Seraya memegang tangan Razi yang ada di samping kanannya.
"Kia gak mau tinggal disana, Kia mau makan asal aa gak bawa Kia ke tempat itu, biarkan Kia mengubur masalalu Kia bersama kak Prama pelan-pelan, a! Jangan bawa Kia kesana, Kia gak mau jauh dari ibu, Rahma dan ayah. Tangisnya yang seraya memberi pengertian pada kakak laki-laki satu-satunya.
" Ya udah, sekarang makan ya? Aa gak mau liat kamu kaya gini terus setiap hari, Prama juga pasti sedih kalau liat kamu kaya gini terus, dek! Allah membenci hambanya yang berputus asa dan terlalu menangisi apa yang bukan milik kita. Bujuk Razi yang kini meniciumi pucuk kepala adiknya seraya mendekap adiknya dalam pelukan hangat.
Bu Aisyah mendengar suar Razi yang sedikit keras yang membuatnya melihat keadaan putrinya di kamar. Diikuti Razi yang menoleh pada keberadaan bu Aisyah.
"Sudahlah Razi, jangan terlalu keras sama adikmu, kasian dia sedang sedih, kita jangan buat dia semakin sedih lagi, dengan memaksakannya untuk pergi ke asrama, kalaupun dipaksa nanti Kia 'nya gak betah, kita tunggu dia siap atau mungkin pilihan lain ke rumah nenek di daerah x, disana juga tidak jauh dari kegiatan-giatan ta'lim yang akan membuat suasana hatinya membaik. Tandas bu Aisyah seraya menarik Razi sedikit menjauh dari Kia yang sudah mulai mau makan sendiri walau hanya beberapa sendok yang masuk ke dalam mulutnya.
" Makan yang banyak, sayang! biar kamu punya tenaga nanti kita coba jalan-jalan ya, kamu mau kemana, nak? Tanya bu Aisyah seraya duduk di sisi tempat tidur Kia.
Kia hanya menjawab dengan sebuah gelengannkeoala yang dikiti Razi yang sedikit mendekay kelada bu Aisyah dan Kia.
"Razi pamit ya bu, mau coba kasih lamaran ini ke kampus x, mudah-mudahan Razi bisa jado dosen disana. Ucap Razi yang sudah mencium pungeung tangan bu Aisyah dan tak lupa mencium pucuk kepala adiknya.
"Sering-sering baca Qur'an ya, dek! biar kamu gak kebanyakan bengong dan Al -Qur'an itu menenangkah! Tandasnya meninggalkan dua wanita yang memandang ke pergiannya.
"Kamu tau sayang, aa kamu sudah melakukan ta'aruf ke rumah temen kamu Tari. Insha Allah 2 bulan lagi acara pernikahannya. Ucap bu Aisyah yang sudah meletakan piring yang masih ada sisa nasi di piringnya ke atas meja.
" Benarkah, bu?"
Akhirnya mereka akan bersatu ya bu, tidak seperti Kia. Ucapnya yang sedikit melemah ketika mengingat semua kejadian yang malang menimpanya.
.
.
.
Bersambung---
__ADS_1