Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
91. Panik


__ADS_3

Dua jam Kia masih menunggu kondisi tubuhnya sedikit membaik. Namun semakin lama ia merasakan tubuhnya seperti habis dipukuli. Rasa ngilu pada bagian bokongnya membuat langkah kakinya melemas. Sedikit dipaksakan ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajah dan urusannya di kamar mandi yang ada di dalam toko bukunya.


Dua puluh menit ia menuntaskan urusannya di kamar mandi dan ketika ia ke luar sosok Rendy ada di depan meja kasir seolah tau bahwa Kia masih ada di toko bukunya. Mata Kia terbelalak tanyanya yang belum melepas henddel pintu dengan cepat ia ingin memasukan tubuhnya ke kamar mandi karena untuk menghindari Rendy namun hal itu langsung di tahan oleh tangan kekar Rendy karena dengan sedikit berlari Rendy menuju kamar mandi.


Setengah teriak Kia mencoba berbicara pada Rendy dengan suara bergemetar karena ketakutan, di dalam toko tersebut tinggal dia dan Rendy. Karena para pelanggan sudah keluar dari dalam toko ketika Kia memberi tahu toko buku tutup lebih cepat dari biasanya.


"Pergi kamu, pergi!" histeris Kia dengan mata yang mulai basah.


Rendy bukannya menjauh dari hadapan Kia namun ia malah semakin mendekat di hadapan Kia dan tangannya hendak menyentuh dagu Kia. namun Kia menghindar membuang muka ke kanan.


"Aku sudah berjanji tadi kepadamu, bahwa aku akan kembali ketika terjadi sesuatu pada anakku" dan kau telah membuatnya terluka. Bohongnya agar Kia merasa bersalah padanya.


"Bukan... bukan aku yang membuat anakmu terjatuh, tapi tanganmu sendiri yang membuatnya terjatuh. Aku... aku tidak melihat luka serius dari anakmu, dia hanya menangis mungkin karena kaget." Ucap Kia yang membaca kebohongan dari Rendy.


Rendy meraih tangan mungil Kia dengan erat, hingga membuat Kia sulit untuk menghindar. Air mata Kia jatuh, seharusnya ini tidak terjadi bila dia menggubris saran dari Kiren agar ia memesan taxsi online.


"Semakin lama kau semakin cantik, aku menyesal karena telah memutuskan untuk tidak jadi menikah denganmu, Kia". Wajah Rendy semakin dekat dengan wajah Kia. Kia semakin ketakutan melihat wajah Rendy yang semakin mendekat dengannya. Kia mencoba berontak namun tangan kekar Rendy mengunci kedua tangan Kia.


"Lepaskan, lepaskan aku, mungkin itulah balasan untuk mu, hingga akhirnya kau ditinggalkan oleh Sonya." Teriak Kia yang berusaha bisa lepas dari tangan Rendy.


Mendengar semua ucapan Kia, Rendy malah semakin menjadi otot-otot dari tangannya semakin terlihat dan ia hendak menarik tubuh Kia dengar satu tangan menggengam kedua tangan Kia dan satunya menarik tubuh Kia ke tembok.


Kia semakin ketakutan ia hanya bisa menangis. tak ada satu orangpun datang untuk menolongnya. Hatinya hancur ketika melihat sorot mata yang penuh amarah dan nafsu dari Rendy. Takkan ada orang yang melihat mereka berdua di dalam toko tersebut karena semua koridor ditutup hanya pintu depan toko yang tersisa sedikit namun orang yang berlalu lalang pun tidak bisa mengetahui apa yang terjadi dalam.


Rendy hendak menycium bibir ranum Kia. Kia hanya bisa pasrah karena tubuhnya semakin lama semakin melemas karena kekuatan tubuh Rendy sedikit menghimpitnya.


"Tidak akan ada orang yang melihat kita bahkan suamimu pun tidak akan tahu ten..." kata-kata Rendy terpotong ketik seseorang menarik kerah kemejanya dari belakang. Pukulan pun dilayangkan ke wajah Rendy


Bug, bug pipi kanan dan kiri. Rendy kesakitan dan melihat wajah orang yang memukulinya. Matanya terbelalak ketika melihat wajah Kahfi di hadapannya. Kahfi memukul perut Rendy ketika Rendy hendak melawan Kahfi. Dua tiga tinjuan mengenai perut Rendy kembali. Rendy mengaduh kesakitan sambil mengusap darah dari sudut bibirnya.


"Bajingan!" teriak Kahfi ketika Rendy lari dari hadapannya.


Nafas Kahfi tidak beraturan selepas berkelahi dengan Rendy. Matanya tertuju pada Kia yang meringkuk ketakutan dengan badan bergemetar di sudut ruangan dekat kamar mandi. Perlahan Kahfi mendekat dan hendak memeluk Kia. Namun Kia berteriak histeris.


"Pergi... pergi, jangan ganggu aku lagi" teriaknya sambil terisak tangis yang berat dan sedikit sesak.


Kahfi mencoba mendekat dan meraih tubuh Kia. Dengan rasa sedih ia memeluk Kia dengan erat. "Ini mas Kahfi sayang. Dek gak usah takut lagi, sekarang ada mas disini, sayang." Ucap Kahfi dengan pelan sambil terus mengelus-elus punggung Kia dan menciumi pucuk kepala Kia.

__ADS_1


Kia yang mendengar perkataan Kahfi dengan cepat kedua tangannya memeluk erat tubuh sang suami tercinta. Dengan isakkan tangis yang menggetarkan tubuhnya. Kahfi sedikit mengendurkan tubuhnya dan perlahan tangannya meraih wajah Kia yang menyelusup ke tubuh Kahfi.


Kahfi melihat wajah Kia dengan pilu. Tak pernah ia melihat wajah Kia sesedih ini dan terlihat jelas pula rasa takut pada wajah Kia. Air matanya semakin deras ketika Kia menatap wajah kahfi. Jilbab yang dikenakan Kia pun sudah tak karuan bentuknya.


"Sayang maafin, mas ya!" Ucap Kahfi sambil mencium kening Kia. Mas tidak tau apa yang terjadi sama dek kalau mas telat datang kesini.


Kia hanya terdiam tak menjawab. hatinya pilu menginggat kejadian barusan. Wajah Rendy yang hanya bebrapa centi di hadapannya. Membuat ia merasa bersalah kepada sang suami.


Kahfi membopong tubuh Kia ke atas kursi panjang di ruang baca berniat untuk mengistirahatkan sang istri. Setelah Kahfi membaringkan Kia ke kursi panjang, Kahfi berniat hendak mencari minum ke meja dekat kasir, karena ia melihat ada sebotol air di meja terebut. Namun tubuhnya dihentikan oleh tangan Kia yang menarik ujung belakang jas Kahfi.


Dengan nada pelan Kia membuka suara. "Dek mau cepat pulang, mas!"


Seketika Kahfi langsung menoleh dan menyetujui permintaan sang istri tercinta. "Baiklah, sayang. Dek masih lemas tidak? Bila masih lemas biar mas gendong dek ya? saran Kahfi yang melihat sang istri seakan tak berdaya.


Kahfi mengendong Kia menuju lift, semua mata tertuju pada mereka berdua ketika mereka sampai di dalam lift. Kia yang malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya ke dada Kahfi.


***


Dua puluh menit kemudian mereka berdua sampai di parkiran. Kahfi hendak merogoh kantong jasnya mencari kunci mobilnya. Namun itu sulit dilakukan karena ia masih ada Kia yang ia gendong. Kia yang sadar akan kesulitan sang suami ia meminta untuk turun. Namun ketika Kahfi menurunkan tubuh Kia menjadi tak seimbang dan hampir terjatuh. namun dengan sigap Kahfi merangkulnya dengan satu tangan.


Setelah Kahfi membuka kunci mobilnya ia langsung mengendong Kia kembali untuk masuk dan duduk di depan, sabuk pengaman pun sudah ia pakaikan sekarang Kahfi yang masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Kia hanya menjawab dengan anggukan sambil menatap wajah Kahfi yang kini begitu dekat. Air matanya jatuh kembali ketika ia merasa bersyukur karena pertolongan Allah yang mendatangkan sang suami tepat pada waktunya. Dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya ketika Kahfi tidak datang menolongnya tadi.


Kahfi yang sadar akan air mata Kia yang keluar dari matanya seketika ia menghapusnya dan mencium pipi kanan dan kiri Kia. "Sudah jangan diingat-ingat lagi kejadian tadi. Mas janji akan selalu menjaga dek, dan selalu ada di sisi dek kapan saja, ya sayang." ucapannya diakhiri dengan mencium bibir Kia sekilas.


***


Setelah Kia dan Kahfi sampai di rumah. Kahfi berniat hendak membopong Kia kembali namun niatnya di tolak Kia karena Kia merasa kesakitan pada bagian bokongnya bila terkena tangan Kahfi akibat ia terjatuh yang terkena kayu pada kursi di toko bukunya.


"Dek yakin kuat untuk berjalan?"


Sambil memegang tangan Kahfi Kia melangkah dengan pelan. "Insyaa Allah dek bisa dan kuat, bila dek jatuh kan ada mas Kahfi!"


"Baiklah. Pelan, pelan sayang."Ketika mereka berdua hendak membuka pintu rumah pak Karim yang kebetulan habis dari masjid menyapa dan bertanya karena melihat Kia berjalan seperti orang kesakitan. Kahfi hanya menjawab seperlunya tanpa memberi tahu detail kejadian siang tadi.


Setengah jam berlalu, Kahfi yang sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi selsai sholat isya langsung menuju sang istri yang duduk di tepian tempat tidur. "Dek mau bersih-bersih dulu apa mau langsung makan? Kini Kahfi duduk di ujung kaki Kia. dan melihat gamis Kia yang kotor seperti bekas coklat pada bagian depan dan belakang gamisnya.

__ADS_1


Kia yang sadar akan tatapan Kahfi yang tertuju pada gamisnya dengan cepat Kia berkata.


"Tadi ada anak kecil yang mungkin kesasar masuk ke toko buku, dan ia memegang gamis dek jadi beginilah hasilnya. Ucap Kia yang tak memberi tahu bahwa anak itu adalah anak Rendy.


"Oohh gitu. Kirain mas, dek makan coklat sampe lap ke gamis, dek. Mas bantu ya buat dek bersih-bersih biar gak lengket ketika dek tidur nanti.


"Gak usah, dek bisa sendiri mas." Kia yang kini sudah menurunkan kedua kakinya ke lantai.


"Yakin bisa sendiri?" Kahfi yang mengekor di belakang Kia. karena takut sang istri jatuh dengan tiba-tiba.


"Insyaa Allah bisa mas!"


"Ya sudah mas tunggu dek di depan pintu ya kalau dek butuh pertolongan mas, mas akan langsung datang. ya sayang. Satu tangan Kahfi memapah Kia ke dalam kamar mandi dan meletakan handuk yang akan kita gunakan.


Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi. Kia melihat wajahnya di cermin. Matanya sembab karena bekas tangisan wajahnya menjadi sendu. Ia mengulurkan tangannya hendak mengambil sisir namun Kahfi terlebih dulu mengambilnya dan menyiarkan Kia dengan perlahan.


"Lain waktu bila pegawai tidak bisa masuk dek gak usah menggantikannya ya, gak apa-apa toko bukunya tutup saja. Mas gak mau lagi hal seperti ini terjadi. Kenapa tiba-tiba Rendy tau kalau dek hari ini jaga toko buku? apa dia pernah melihat dek sebelumnya di toko buku di mall itu? Kahfi bertanya tanpa menyadari Kia kini menangis karena teringat kembali akan kejadian beberapa jam yang lalu.


Tarikan dari Isak tangis Kia terdengar Kahfi memutar tubuh Kia dari hadapan cermin menjadi menghadap ke tubuhnya. Tubuh Kahfi membungkuk dan sedikit berjongkok untuk melihat ke arah wajah Kia. "Maafin mas ya sayang, mas bukan bermaksud untuk membuat dek teringat akan kejadian tadi siang. mas hanya tidak habis pikir dengan kelakuan Rendy kepada, dek!"


Sambil memainkan jari jemarinya Kia mendudukkan wajahnya dan melihat ke arah lantai, tanpa sepatah kata. Berusaha untuk menetralkan hatinya agar tidak menangis namun hal itu tak bisa ia lakukan. Sakin ia berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada sang suami. Hatinya semakin sakit dan pilu. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Izzahnya sebagai seorang istri dimana Rendy dengan mudah memegang serta ingin menciumnya tadi siang. Kalau bukan rada sakit pada punggungnya mungkin dia bisa melawan Rendy atau berlari ke luar.


Kahfi yang sadar sang istri terdiam dan malah makin membuatnya menangis lebih banyak lagi, akhirnya ia berdiri dan memeluk kepala Kia. Hingga kini wajah Kia berada tepat di perut Kahfi. Kahfi meraih kepala Kia dan membuat Kia menatap wajah Kahfi dengan sedikit mendongak. Sambil menatap wajah sang istri Kahfi berbicara. "Mas akan laporkan Rendy kepada polisi karena sudah menganggu ketenangan orang lain dan perlakuan tidak senonoh kepada dek."


Dengan gelengan kepala Kia menjawab saran Kahfi.


Menandakan bahwa dirinya tidak setuju. "Kenapa sayang?" dengan begitu Rendy gak akan menganggu dek lagi, sayang.


"Kasihan makanya, mas kalau dia melihat ayahnya dipenjara karena ibunya sudah meninggalkannya. Ucap Kia lirih.


Perdebatan keduanya akhirnya diputuskan oleh keputusan Kia yang membiarkan Rendy bebas namun ia berjanji akan menjaga dirinya lebih hati-hati lagi, dan tidak akan pergi sendiri bila berpergian kemana pun.


Malam semakin larut, semua mata mulai terpejam tapi tidak dengan Kia. Ia masih memikirkan kejadian tadi siang, dan mencoba mencari solusi agar ia bisa aman dari pengawasan Rendy.


"Apakah aku harus pindah dari sini dan menetap di kota agar hal ini tidak terulang kembali. Tapi bagaimana dengan panti bila aku dan mas Kahfi pindah?!. Semakin dipikir ia merasa pusing sendiri.


Lamunannya terhenti ketika notifikasi chat muncul di layar hand phone nya. Dan chat itu dikirim oleh Ulan yang menanyakan kabar tentang sahabatnya yang satu ini.

__ADS_1


Kia membalas dengan bertanya balik tentang kabar Ulan. Keduanya menikmati chat yang saling memberikan kabar tentang aktifitasnya dan masalah hatinya. Walau tak semua Kia ceritakan kepada sahabatnya walau sedekat seperti saudara sendiri.


__ADS_2