
Kia pun menutup lemari pakaian itu cep at ketika suara Kahfi memanggilnya.
" Sayang, kok lama banget emang masih banyak baju yang harus di rapihkan?" tanya Kahfi yang mulai mendekat pada Kia dengan cepat Kia membalikan badannya ke hadapan Kahfi.
" Gak mas!" ucapnya seraya berdiri ketika sudah memasukan baju Kahfi ke dalam lemarinya.
"Sayangnya mas kenapa kok mukanya sekarang sedikit muram?" tanya Kahfi sambil mengikuti langkah Kia ke arah tempat tidur.
" Deak gak apa-apa, mas!" Kia ambil minum dulu ya biar malam-malam gak usah ke dapur cari minum!" ujar Kia seraya mengambil teko kecil berwarna bening di atas mejanya yang biasa ia gunankan.
" Ya sudah, mas mau ke kamar mandi dulu, jangan lama-lama yang sayang ke dapurnya!"
" Iya" ucap Kia berlalu dari kamar.
Beberapa menit kemudian mereka berdua selesai dengan urusan masing-masing. Kia sudah menaruh gelas dan teko yang tadi dia bawa ke atas meja. Kahfi yang sudah menunggu Kia di tepian tempat tidur menatap sekilas isi kamar yang penuh dengan boneka jerapah dan tikus mulai dari yang kecil sampai yang besar terjejer rapih di lemari kecil miliki Kia khusus untuk boneka dan pernak pernik miliknya.
" Sayang!" kenapa di dalam kamar ini banyak sekali boneka tikus dan jerapah? Kesukan de ya?" pertanyaan Kahfi membuat jantung Kia berdetak sedikit kencang karena hal itu akan membuat dirinya merasa sedih bila harus ia ceritakan.
" Kenapa kok diam? Salah ya mas bertanya seperti itu?" ucap Kahfi seraya menarik tangan Kia yang berdiri tepat di dekatnya untuk duduk di sampingnya.
Dengan gelengan kepala Kia menjawab menandakan pertanyaan Kahfi itu tidak ada yang salah. Yang salah mungkin suasana hati Kia yang mengingatkannya pada laki-laki yang pernah singgah di hatinya.
Perlahan Kahfi mendekap Kia yang mematung di dekatnya sambil meletakan dagunya di atas kepala Kia yang polos tanpa kerudung.
" Ya sudah mas gak akan bertanya lagi mengenai benda yang ada di sekliling kamar ini bila itu membuat sayangnya mas memberikan wajah sedihnya sama mas!" mulut mas nya aja yang gatel nanya-nanya terus tentang masa lalu, dek?" ucap nya mengelus lembut rambut panjang Kia yang hitam dan wangi.
Wajah Kia seketika mendongak ke atas melihat pria yang masih mengenakan kacamatanya terlihat menjadi orang yang bersalah walau sebenarnya pertanyaan itu tak jadi masalah bila tidak memiliki nilai masalalu di kehidupan Kia.
" Maafin de ya, mas!" ucap Kia seraya mengelus lembut pipi Kahfi yang polos tanpa jembros di pipinya.
Kahfi yang mendengar kata maaf yang ke luar dari mulut Kia seketika menangkupkan kedua tanganya ke wajah Kia. Seraya menatap bola mata Kia yang begitu bulat dan menciumnya dengan lembut.
Kia yang mendapatkan perlakuan itu dari Kahfi hanya diam tanpa berkutik yang menjawab hanyalah detak jantung yang berpacu cepat ketika dirinya menerima sentuhan lembut bibir dari sang suami yang begitu mencintainya.
Dalam batin Kia berkata. " Terimakasih ya mas, mas selalu memahami Kia. Tanpa harus mengorek masalalu Kia bersama kak Prama. Walau Kia tau sedikit banyaknya pasti aa Razi pernah menceritakannya kepada mas. Tapi dengan kedewasaan mas, mas masih menghargai Kia.
Kia yang tersadar dirinya masih menggunakan baju biasa berniat ingin mengganti baju nya dengan baju tidur. Perlahan Kahfi melepaskan Kia dan membiarkan istri nya untuk pergi dari hadapannya menuju kamar mandi. Selesai dengan ritual kebiasaan mereka sebelum tidur kini Kia berada dalam dekapan Kahfi sambil mendengarkan Kahfi membaca buku. Baru 15 menitan Kahfi membacakan buku mata Kia sudah terpejam sempurna. Kahfi yang menyadari tubuh istrinya semakin memberat menadakan sang pemilik tubuh sudah tertidur. Perlahan ia letakan kepala Kia pada bantalnya dan meletakan buku bacaan tersebut ke atas meja dan mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur.
" Selamat mimpi indah sayang! Ucapnya seraya mengecup kening Kia dan menggeserkan tubuhnya untuk bisa memeluk sang istri yang sudah terlelap di alam mimpi.
Mereka berdua pun tidur dalam satu selimut dan tangan kiri Kahfi menindih perut ramping Kia dengan hangatnya. Mereka pun tertidur pulas sampai suara sholawatan di masjidpun terdengar di telinga Kahfi.
🌻🌻🌻
Pagi hari, Rahma yang sudah rapih menggunakan seragam putih birunya dengan cepat menyeruput susu buatan bu Aisyah yang sudah tandas ia minum.
" Rahma kalau minum pelan-pelanlah!" ucap Kia yang sedang mengatur nasi goreng yang baru saja ia letkan di atas meja makan.
" Rahma buru-buru kakakku sayang!" jawab Rahma sambil meraih tangan kanan bu Aisyah yang masih basah karena baru selesai mencuci tangan selesai memasak dan langsung mencium punggung tanganya.
" Kamu gak sarapan nasi goreng buatan kakakmu dulu! katanya kangen masakan kak Kia?" tanya bu Aisyah yang sudah mendapat ciuman dari Rahma.
" Sisain aja bu!" kak aku berangkat ya! Assalamu'alaikum,... uap Rahma seraya berlari setelah mencium tangan kakaknya.
__ADS_1
"Yuukk, yah!" Rahma gak mau ketinggalan temen-temen yang udah berangkat dari tadi! Ucapnya menuju pintu depan dimana pak Hasbi sudah memanaskan motornya dan langsung melepaskan standar motor ketika Rahma sudah duduk di belakangnya.
" Hati-hati, sayang! Ucap bu Aisyah yang mengatarkan keberangatan Rahma yang sudah pagi-pagi sekali berangkat karena ada kunjungan ke musium bersejarah yang ada di kota ini.
Ketika bu Aisyah sampai di ruang meja makan Kahfi baru saja ke luar dari kamar dengan berpakaian rapih.
🌻🌻🌻
" Loh kok nak Kahfi sudah rapi, mau kemana?" tanya bu Aisyah ketika Kahfi mendekat pada Kia yang sudah menyajikan nasi goreng untuk sang suami.
" Kita nanti jam 8an akan pergi ke kota B, menemui pamanya mas Kahfi yang tinggal disana, bu?" jawab Kia sambil menuangkan air mineral hangat pada gelas yang ada di dekat Kahfi.
" Oooh seperti itu, tapi nanti pulang lagi ke sini kan?" tanya bu Aisyah sambil memasukan nasi goreng ke mulutnya.
" Kemungkinan tidak bu, karena Kahfi berniat untuk mengajak Kia pergi liburan ke pantai kan mumpung lagi ada di sini!" ucap Kahfi sedikit melirik ke samping Kia.
" Ya bu, mas Kahfi ingin tau wisata-wisata yang ada di sini kemungkinan dua hari kami baru pulang ke sini lagi!" ucap Kia menjelaskan.
" Baiklah, ibu ngerti kok! Kalian kan belum seminggu jadi penganti baru jadi ibu tau pasti kalian ingin menilmati masa pacaran kalian bedua. "Jangan lupa berikan ayah dan ibu cucu ya!" ucap bu Aisyah yang membuat Kia kaget dan terbatuk mendengar perkataan bu Aisyah.
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Suara batuk Kia, lalu Kahfi pun dengan sigap memberikan air yang tadi Kia tuangkan untuknya kepada sang istri.
" Pelan-pelan sayang kalau makan!" ucap Kahfi sambil mengelus pelan punggung Kia.
Bu Aisyah yang melihat perlakuan Kahfi Kia begitu perhatian kepada Kia membuatnya tersenyum bahagia karena bersyukur Kia bisa menikah dengan Kahfi yang mau menerima Kia apa adanya dan begitu mencintai anaknya dengan tulus walau baru beberapa bulan mereka mengenal.
Kia yang baru sadar bahwa semalam ia tidak memberikan haknya kepada Kahfi menatap Kahfi dengan rasa bersalah.
🌻🌻🌻
" Loh, bukanya tadi mas mengobrol di depan sama ayah, kok sekarang ada di kamar?" pertanyaan itu melesat dari bibi Kia yang kaget akan keberadaan sang suami yang sudah ada di dalam kamar.
" Iya, memang tadi mas sama ayah, tapi ibu minta tolong ayah buat mengatrkan ke pasar, jadi dari pada mas bete di depan sendirian jadi mas ke kamar dech! Sambi mau intif sayangnya mas pakai baju?" ucapnya sambil menaikan kedua halisnya menggoda Kia.
" Ihhh, masa apa sih!" Ucap Kia risih dengan tatapan Kahfi yang memandang dirinya yang hanya menggunakan handuk yang menutupi dadanya sampai ke atas lutut.
" Emang suami gak boleh liat istrinya sendiri? Semalam kan de udah tidur jadi kita gak jadi lagi malam pertamanya!" ucap Kahfi melirik Kia dengan tatapan penuh arti. Kia yang mendapat tatapan itu dengan cepatnya ia meraih baju yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur dan berlari ke kamar mandi dengan cepat.
Kahfi yang melihat tingkah lucu dari sang istri hanya tersenyum kecil sambil berpura-pura mengejarnya. Dan menunggu sang istri di depan pintu kamar mandi sambil terus menggoda Kia yang ada di dalam.
" Pokoknya kalau udah di penginapan mas gak mau tau ya, mas akan menagih janji de dan gak akan membiarkan sayangku tertidur sebelum memberikan kewajibannya sama mas!" ucap Kahfi sedikit mengeraskan suaranya agar Kia mendengarnya.
" Iya!" ucap Kia singkat dan tak lama kemudian ia ke luar dari kamar mandi sudah dalam keadaan rapih. Kahfi yang sudah menunggu Kia di depan pintu dengan cepat ia memeluk Kia sambil mencolek hidungnya.
" Udah berani yang ngehindarin mas!" ucapnya menatap Kia dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Kia. Dengan cepatnya Kia mencium pipi Kahfi dengan sedikit menjinjitkan kakinya mengimbangi tinggi badan Kahfi.
Cup ... Cup ...
Dua kecupan melayang ke wajah Kahfi dengan kilatnya. Kahfi yang mendapat kecupan dari sang istri hanya terbengong dan memegang kedua pipinya dengan pelan tanpa di sadari sang istri sudah lepas dari pelukannya.
" Berani ya sekarang cium-cium mas!" Ucap Kahfi mendekat pada Kia yang sudah ada di depan cermin untuk menyisir rambutnya, namun dengan cepat sisir itu direbut Kahfi.
__ADS_1
" Sini biar mas yang sisir rambut de!" ujarnya menyisir pelan rambut hitam Kia.
" Gak apa-apa mas, Kia bisa melakukannya sendiri. " Sini sisirnya!" pinta Kia memelankan suaranya dan ingin meraih sisir yang ada di tangan Kahfi.
" Mas senang melakukannya, biarkan mas saja!" ini tanda kasih sayang mas untuk dek." kita bisa melakukannya bergantian ya!" ujar Kahfi diikuti anggukan kepala oleh Kia.
" Sudah rapih, sayang" jangan pakai lipstik ya kalau berpergian kecuali kalau di rumah ada mas saja baru boleh!" ucap Kahfi mengingatkan.
" Tidak suamiku, sayang!" Terima kasih untuk sisirannya!" ucap Kia mengusap lembut tangan Kahfi yang ada di bahunya.
" Sama-sama, sayang! Mas senang denger de panggilan sayang. Coba ucapkan dengan lembut lagi!" ucap Kahfi menggoda istrinya.
" Mas ...! Ucap Kia penuh penekanan dan mengelitiki pinggang Kahfi dengan kedua tanganya.
"Iya ... Hahaha ... iya sayang . . . hahaha amapun ... Ampun ... ampun, sayang!" ucap Kahfi berteriak kegelian.
Hingga kepala belakang Kahfi terjeduk lemari baju yang ada di dekatnya.
Bruk ...
"Aaaawww... Teriak Kahfi kesakitan dan Kia pun menghentikan tingkah jahilnya pada sang suami ketika mendengar suara benturan dan teriakan dari mulut Kahfi.
" Masss ... Teriak Kia panik ketika melihat suaminya kesakitan dan mengusap-ngusap lembut bagian belakang kepala Kahfi.
" Gak apa, sayang!" ucap Kahfi ketika melihat wajah panik Kia.
" Benarkah?" maaf ya masa!" Sebentar Kia ambil kan batu es biar benturannya tidak membengkak!" ucap Kia hendak meninggalkan Kahfi.
Dengan cepat Kahfi menarik Kia dengan satu tangan di pinggang raping Kia hingga membuat Kia sedikit kaget dan mencondongkan dadanya pada dekapan Kahfi. Mata Kia membulat dengan sempurna ketika tatapan Kahfi bertemu dengan mata indah Kia. Dengan cepatnya Kahfi menarik tengkuk Kia dan bibir mereka pun bertemu satu dengan yang lainnya. Kahfi menyosor bibir ranum Kia dengan lembut dan mengeratkan dekapannya pada pinggang Kia ketika ia merasakan debaran jantung Kia terdengar begitu cepat di dada Kahfi. Sedikit tersengal Kahfi merasakan nafas Kia yang semakin memelan.
" Terima kasih karena sudah mengkawatirkan mas seperti tadi!" ucapnya yang sudah melepaskan bibirnya dan mengusap lembut bekas air di bibir Kia tanpa melepaskan dekapan tanganya di tubuh ramping sang istri.
Kia yang merengangkan cengkraman pada kemeja Kahfi menjawab dengan sebuah anggukan pelan dan mengusap lembut bibir Kahfi lalu menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Kahfi yang tubuhnya masih bersandar pada lemari baju yang ada di belakangnya.
" Mas ... !"
" Hemmm, kenapa sayang?"
" Sudah jam berapa sekarang? kita sholat dhuha dulu baru kita berangkat ya!" ucap Kia sambil memainkan kancing kemeja Kahfi.
" Ya! Sayang."
.
.
.
.
Bersambung---
Mohon maaf aku baru up karena semunggu ini anak pertamaku sakit dan akupun dilanda ngidam yang Masyaa Allah nikmatnya.
__ADS_1
Terimakasih kepada semua yang setia membaca karyaku ini. Jangan lupa reat, vote, like, komen dan tip nya ya! Terima kasih sehat-sehat selalu untuk kalian. 😘🙇😘