
Jangan lupa
TIP
LIKE
KOMEN
VOTE
dan Ratenya untuk author.
🍀 SELAMAT MEMBACA 🍀
Jam sudah menujukan pukul setengah 8 malam, di kediaman abah Dahlan semua orang sibuk untuk mempersiapkan acara khitbah (lamaran) Nakia dengan seorang anak kiai. Razi yang sibuk menata air minum kemasan gelas tengah-tengah permadani yang sudah terhampar rapih.
Bu Aisyah dan nek Rumi pun tak kalah sibuknya mengatur beraneka macam kue basah dan kering untuk di hidangkan di depan menjamu tamu-tamu yang datang.
Begitu pula dengan Tari dan Rahma yang sibuk mendandani Kia dengan make up natural ala Tari, dengan balutan gamis berwarna coklat muda pemberian bu Aisyah yang ia beli seminggu yang lalu untuk hadiah ulang tahun putrinya.
Kia namapak begitu cantik sehingga Rahma tak henti-hentinya memuji sang kakak dengan godaannya.
" Masyaa Allah, kakak ku yang biasanya kaya tikus dapur sekarang cantiknya pake banget!" pasti calonnya bakalan kelepek-kelepek dech, kalah artis Bollyworld sama kakak!" pujinya seraya mencolek hidung Kia dengan jari telunjuknya.
" Emangnya ikan emas kelepek-kelepek!" kamu itu kalau muji harus yang ikhlas dong, mana ada artis India hidungnya kaya kakak?" Jawabnya sambil mengeluarkan tatapan tajam pada Rahma.
" Ihhh, dasar orang aneh!, adenya muji bukanya berimakasih malah jawanya gitu banget!" ya udah dech Rahma ke luar aja sambil liat calon nya kakak itu setampan apa? Hahaha ... Goda Rahma sedikit berlari karena Kia sudah mau melempar bantal padanya.
Kia pun mengurungkan niatnya karena Rahma sudah menutup rapat pintu kamar. Tari yang melihat kelakuan adik-adik iparnya itu hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya memakaikan lipstik warna pink muda pada bibir Kia.
" Kamu sama Rahma itu lucu, gak pernah akur!" Sama kaya aku kalau lagi adu argumen sama Kholid, sayangnya Rahma itu bisa kamu ajak tukar pakai baju dan cerita. Kalau Kholid? hemmm ... Selalu aja membocorkan ke abi umi kalau aku abis curhat."
" Kirain aku punya adik laki-laki itu lebih enak karena, kita ada yang ngejagain kalau kemana-mana. Tenyata sama saja, ya? Ucap Kia yang sudah rapih di poles oleh Tari.
Tak lama kemudian Rahma datang mengetuk pintu. Yang terlihat hanya ujung dari kepalanya memberi tahu bahwa rombongan kiai Mansur sudah datang.
" Kak, siap-siap calon imam kakak yang tampan itu sudah datang!"
Aku juga mau dong, kak! kalau calon imamnya seperti itu." Ucap Rahma yang tak lama kemudian menutup pintu kamar Kia dan kembali ke ruang tamu.
Kia yang mendengar itu hanya diam dan termenung. Tak menghiraukan candaan adiknya barusan.
" Kamu kenapa Kia?" tanya Tari yang tau perubahan wajah Kia.
Kia yang tadinya duduk di kursi meja rias beralih ke tepian tempat tidur dimana Tari duduk.
" Kenapa perasaanku tak sebahagia ketika aku di lamar oleh kak Prama ya, Tar? Apakah aku belum bisa melupakannya, atau karena aku belum mengetahui pria yang akan jadi calonku yang menjadi banyak tanda tanya pada hati ini?" ucap Kia sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Tari.
" Bismillah, kamu yakinkan hatimu bahwa calonmu ini adalah Jodoh Pilihan Allah yang sudah Allah siapkan untukmu, Kia!" jangan pernah kamu ungkit masalalu yang akan membuatmu sedih dan sakit hati lagi. " Aku yakin pria ini pasti akan menjadikanmu wanita yang paling bahagia di dunia!"
"Sudah ya, jangan menghancurkan apa yang akan jadi kebahgiaanmu hari ini!" Ucap Tari menenangkan
" Tapi___
Ucapanya terpotong ketika Razi datang ke kamar Kia dan menyuruhnya untuk ke luar.
" Kia ayo ke luar!" semua sudah menunggu jawaban darimu!" ucap Razi yang sudah membuka pintu kamar Kia.
" Ba ... ba ... baik, A!" Ucapnya gugup.
__ADS_1
Tari yang mengetahui kegugupan Kia, ia langsung menggenggam tangan Kia dengan erat dan menuntunya untuk melangkah ke depan seraya merapihkan jilbab yang Kia kenakan.
Jantung Kia bersegup tak karuan ketika kakinya sudah melangkah ke luar kamar, tanganya terasa dingin dan pandanganya selalu tertuju pada bawah lantai yang berkramik warna coklat.
***
Sampailah Kia di ruang tamu. Tangan lembut Tari menyentuh bahu Kia agar pandanganya tidak lagi menatap ke bawah lantai. Perlahan Kia sadar akan sentuhan tangan Tari dan ucapan pelan Tari yang menyuruhnya agar menatap ke depan.
" Kia, lihat padanganmu ke depan bukan ke lantai!" ucap Tari pelan.
Seketika Kia melihat ke depan, matanya tertuju pada pria berkaca mata yang duduk di sebelah kanan kiai Mansur yang menggunakan baju batik berwarna hitam dengan hiasan motif batik berwarna gold dan di sebelah kiri kiai Mansur ada Yazid yang mengunakan batik berlengan pendek berwarna merah marun dengan motif burung cendrawasi.
Mata Kahfi dan Yazid pun tertuju pada Kia yang mengulas senyum tipis kepada mereka. Kahfi hanya bisa bersuara dalam hatinya. Merasakan jantungnya yang berdegup kecang seperti habis lari maraton yang cukup jauh
" Masyaa Allah cantiknya kamu Aulia, kalau saja aku yang mengkhitbahmu terlebih dulu pasti kamu akan jadi istriku dan menemaniku dalam mengurus panti dan rumah kita kelak." Batin Kahfi.
Kia dan Taripun mendudukan bobot tubuhnya di samping kiri bu Aisyah.
" Masyaa Allah cantiknya, pantas saja anak saya ingin segera mengkhitbah nak Aulia!" ucap kiai Mansur membuat semua orang tersenyum bahagia.
" Adik ana ini memang cantik, kiai. Namun kisah hatinya selalu berujung dengan air mata, semoga lamaran ini adalah awal dari sebuah titik awal dari kebahagiaannya!" ucap Razi yang ingin sekali melihat adiknya bahagia tanpa air mata lagi.
" Nak Razi ini bisa saja, semoga Allah meridhoi dan memudahkan semuanya untuk kita semua."
" Aamiin yaa Robbal'alamiin" ucap semua bersamaan.
"Kita langsung saja ya, karena hari sudah makin larut nanti ceritanya kita sambung lagi setelah ini!" ucap abah Dahlan.
Kedua tangan Kia kini sudah menggenggam tangan Tari dan bu Aisyah. Tangan yang dingin karena rasa gugup selalu menyelimuti ketika ia belum tahu siapa calon yang akan menjadi imam dalam hidupnya.
Perlahan pak Hasbi memegang mic dan menanyakan maksud dan tujuan dari kedatangan keluarga besar kiai Mansur datang berkunjung ke rumahnya.
Mic pun kini beralih kepada kiai Mansur mengulang kembali maksud dan tujuannya.
Kia dan Kahfi pun merasakan gemetar dalam hatinya ketika nama itu di sebutkan oleh kiai Mansur. Mata Kia berbinar perasaanya memuncah karena ada rasa tak percaya bahwa nama yang di sebutkan bukanlah nama Yazid putra bungsu dari kiai besar melainkan pria yang pernah hadir dalam mimpinya beberapa minggu-minggu ini.
Begitu juga dengan Kahfi merasakan getaran dalam dadanya ketika wanita yang ia harapkan ternyata akan benar-benar menjadi pendamping hidupnya, yang pernah ia utarakan pada Razi kakak Kia.
" Benarkah yang aku dengar barusan, kenapa bukan nama Yazid yang di sebutkan oleh kiai Mansur, tapi mengapa nama ku?" bukankah ketika itu beliau sendiri yang mengatakan bahwa ia akan melamar cucu abah Dahlan yang menjadi calon menantunya?" batin Kahfi tak percaya.
Kia yang hanya terdiam dengan banyak tanda tanya dalam pikiranya, hingga mendapat senggolan halus dari bu Aisyah, yang tak sabar menunggu jawaban dari bibir ranum putrinya.
" Nak, jawab?" semua orang menunggu jawaban dari mu, sayang!" ucap bu Aisyah lembut.
Dengan sedikit gemetar dan rasa gugup Kia mendekatkan mic itu pada mulutnya.
"Dengan diiringi Bismillahirrohmaanirrohim, saya menerima khitbah atau lamaran dari kak Kahfi." ucapnya di akhiri senyum tipis penuh bahagia.
" Alhamdulillahirrobbil'alamiin!" sahut semua kompak.
Do'a penutuppun di pimpin oleh abah Dahlan, dengan penuh idmat dan khusu. Setelah selesai semua keluargapun berdiri dan menuju ruang makan untuk memyantap hidangan yang sudah di siapkan oleh keluarga Kia.
Terkecuali Kia dan Kahfi yang masih merasakan kejadian yang tak diduganya malam ini.
" Ana pikir kiai melamarmu untuk Yazid, bukan untuk ana?" apa ukh Aulia mengetahuinya?" Tanya Kahfi sambil melihat kearah Kia yang tertunduk malu.
" Jujur saya awalnya kaget ketika ayah ibu bilang kalau malam ini keluarga kiai Mansur akan datang mengkhitbah saya, saya pikir putra yang kiai maksud adalah Yazid tapi ternyata kakak!" jawab Kia yang menyembunyikan senyumnya di balik tangan yang ia taruh di bibir atasnya.
" Ehem ... Ehem ... Ehem, ada apa nih bawa-bawa nama ana?, kayanya nama ana disebut-sebut!" ucap Yazid yang tadi habis menerima telpon dari teras. Yang tak di ketahui kehadiranya oleh Kia dan Kahfi yang sedang membahasnya di ruang tamu.
__ADS_1
" Maaf, saya tidak mebermaksud membicarakan akhi Yazid!" ucap Kia gugup.
" Tidak masalah, ana tau antara kalian pasti ada kesalah pahaman ketika abi mengutarakan maksudnya kepada ukh Aulia dan mas Kahfi."
" Waktu itu abi bercerita kalau abah Dahlan sering menceritakan tentang kisah kehidupan ukh Aulia kepada abi, begitu juga abi sering menceritakan kisah kehidupan mas Kahfi kepada abah Dahlan yang sedikit banyaknya mengetahui asal usul dari mas Kahfi. "
"Lalu apa hubunganya dengan kamu, Zid? Tanya Kahfi penasaran.
" Ya, awalnya abi berniat untuk menjodohkan ana dengan ukh Aulia, ketika itu. Setelah ana pikir-pikir ana ini anak yang masih bau kencur jadi merasa belum pantas untuk berumah tangga, lalu ana usulkan ke abi kenapa tidak mas Kahfi saja, dari segi usia memang sudah matang dan cukup, dari penghasilan sudah ada, dari tempat tinggalpun sudah ada. Lalu abi pun berpikir ulang yang awalnya ingin mengkhitbahkan ukhti Dora sebagai calon mas Kahfi akhirnya jatuhlah pilihan itu kepada ukhti Aulia. Mungkin mas Kahfi waktu itu hanya mendengar sekilas pembicaraan ana dan abi yang membuatnya salah paham."
" Kenapa anta tidak memberi tahu ana sebelumnya? Akan ana berfikir hal yang tidak-tidak kepada anta? Ucap Kahfi mengintrogasi.
Kia hanya terdiam ketika melihat dua pria yang di depannya sedang mengajukan tanya jawab bagaikan kuis-kuis yang ada di televisi swasta.
" Jangan di bahas di sini, mas!" ana tak enak dengan ukhti Aulia!" elak Yazid yang tak mau memperpanjang obrolan yang tak ada habisnya itu.
Kia hanya tersenyum tipis ketika melihat dua lelaki itu begitu akrabnya. Tiba-tiba Rahma datang menghampiri Kia dengan sebuah piring berisi buah di tangannya yang lalu ia sodorkan ke arah Kia tanpa melihat dua laki-laki yang sedang menatapnya aneh.
" Tikus dapur, eh maksudku Anjeli mau gak nih buah melon yang sudah Rahma potong khusus buat kakakku yang cantik ini?" Ucapnya menawarkan.
Kia yang kesal di panggil tikus dapur di depan Yazid dan juga Kahfi hanya berdecis pelan dengan mata memelototi Rahma.
" Jangan panggil kakak tikus dapur di depan kak Kahfi dan Yazid?" ucapnya pelan.
" Ops ... Maaf, maaf kak!" Rahma gak tau kalau di sana ada kak Kahfi dan kak Yazid yang caem itu!" ucapnya seraya menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
" Ana mau dong ukh buah melonnya, kebetulan melon itu kesukaan ana!" ujar Yazid yang membuat Rahma salah tingkah dan membelalakan matanya tak percaya karena Yazid menggodanya.
" Boleh, boleh, ini buat kakak aja!" ucap Rahma! Sambil menghampiri keberadaan Yazid yang tak jauh dari dirinya.
" Ukhti tidak salah panggil ana dengan panggilan kakak, bukanya kita seumuran, ya?" tanya Yazid yang melihat postur tubuh Rahma yang lebih besar dari Kia kakaknya.
" Ish ... nyebelin banget sih ni orang, orang cute kaya gini di bilang seumuran sama dia? Apa gak liat apa mukaku masih baby pace gini!" Gerutu Rahma dalam hati.
Kia yang mendengar ucapan Yazid hanya tersenyum jail pada adiknya sambil berbisik.
" Makanya punya badan itu kurusin dikit biar gak di sangka badanmu itu lebih tua dsri usiamu!" dasar beruang madu." Ucap Kia jail.
" Iihhh ... Sama nyebelinnya si kakak sama orang itu!" Kesal Rahma sambil meninggalkan Kia dengan pukulan kecil pada bahu kiri Kia.
Yazid yang melihat Rahma yang sudah berlalu begitu cepat dari hadapannya memainkan mata dan halisnya kepada Kahfi seolah ada yang salah dari perkataannya barusan.
Kahfi yang mengetahui akan isyarat Yazid ia menjawab dengan sedikit mendekatkan mulutnya pada telinga Yazid.
" Yang barusan itu adiknya ukh Aulia yang masih sekolah di bangku Menengah Pertama kelas 3 kalau gak salah." Ucap Kahfi yang sudah menarik wajahnya dari Yazid.
Yazid yang mengetahui itu hanya bisa tepok jidat dan menggaruk-garuk sisi kepala kananya yang tidak gatal.
" Ya ampun pantas saja dia langsung kabur, ana sudah menyinggung perasaanya berarti." abis kalau dilihat dari postur tubuhnya dia itu seperti seusiaku, mas!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
🍀 Sehat-sehat selalu untuk kalian semua 🍀