Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
96. Masuk Angin


__ADS_3

Adam datang ke rumah orang tua Kia dengan mobil Kahfi. Dimana Kahfi meminta tolong kepada Adam agar ketika dia pulang ke kota B membawakan mobilnya. Adam datang tak sendiri ia pulang ke kota B bersama sang istri tercinta Febby yang Kia sendiri sudah hafal sekali dengan suara dari Febby.


Ya suara yang Kia dengar tak asing itu adalah Fenny dan Adam yang datang dengan mobil sang suami.


Keduanya hanya memberi tahu Kia bahwa mobil Kahfi di bawanya ke rumah orangtuanya dahulu dan ketika Kahfi nanti sudah selesai dengan urusannya Adam akan membawakan ke rumah pak Hasbby sesuai permintaan Kahfi.


Setelah beberapa menit Kia, Adam dan Febby berbincang-bincang. Bu Asiyah hendak ke dapur membuatkan minuman untuk mereka. Namun Adam mencegahnya karena mereka sudah ada yang menunggu kedatanganya. Hingga Bu Aisyah mengurungkan niatnya ketika Kia memberitahu bahwa Adam dan Febby segera pamit pulang.


****


Mata hari menunjukan sinar yang terik hingga membuat seseorang yang baru saja mendengar kabar berita tentang menantunya yang ia percaya menjadi sangat gusar. Gejolak di hatinya memuncah ingin rasanya ia segera pulang dan memberi pelajaran kepada menantunya. Dito yang masih di ruang kerja bersama Brayen dan Tanto sang kaki tangan Rendy sudah menjelaskan tentang kelicikan Rendy kepada Dito.


Brayen dan Tanto segera meninggalkan ruangan tersebut menyusul Razi dan Kahfi yang sudah keluar terlebih dahulu setelah menjelaskan bahwa Rendy pernah berbuat tidak baik kepada Kia.


"Aku haru segera menemui Rendy di kota X untuk menyelesaikan perkara semua ini. Jadi selama di belakangku dia sudah berbuat curang terhadap perusahaan yang sudah aku percayakan kepadanya." Mata Dito sang mertua Rendy sudah tak bersahabat. Ia meraih tas kerjanya dan meninggalkan ruangan kerjanya dengan amarah dan segera ia meminta untuk Tanto ikut dengannya ke kota X dimana Rendy sekrang tinggal dan mengurus perusahaan cabang disana.


Beberapa pasang mata sang karyawan melihat sang direktur yang ke luar dengan wajah tak bersahabatnya. Tak ada yang berani menegur Dito ketika ia ke laur dari lift.


***


Di mobil Kahfi merasa lega karena telah memberitahu kelakuan Rendy kepada pamannya (Dito) setidaknya ia tidak mengotori tangannya sendiri untuk berurusan dengan Rendy. Ia hembuskan nafas lega matanya fokus ke depan.


Razi yang ada di sampingnya memperhatikan wajah sang adik ipar yang penuh dengan kelegaan. "Alhamdulillah Brayen punya kunci kebusukan Rendy, jadi kita gak perlu bertidak secara langsung untuk menanganinya!" Sambil menatap hp ia melihat kiriman chat dari sang istri sebuah video ocehan Mounera bersama Kia.


Kahfi melirik, melihat sekilas dari hp Razi wajah Kia yang sedang mengajak main Mounera dengan senyum mengembang. "Syukurlah disini banyak orang-orang yang menghiburnya, setidaknya Kia bisa melupakan kejadian semalam." Gumam Kahfi. Sedikit kecepatan ia mengendarai mobil.


"Ane yakin bro kalau adik ane akan suka sama rumah itu apalagi lokasinya juga tidak jauh dari rumah ibu dan di lingkungan itu juga dia akan dekat dengan sahabatnya Ulan." Ucap Razi yang setuju bila Kahfi dan Kia akan tinggal di kota B.


"Insyaa Allah besok ana akan membicarakan masalah pembayaran dengan yang punya rumah bersama Brayen. Sebelum ana dan Kia menepati niat hati ana untuk merenopasi dahulu agar sesuai dengan yang Kia inginkan." Kahfi melirik sekilas lalu fokus menyetir kembali.


Razi yang pandangannya menuju arah jendela terfokus ketika di benaknya terpikirkan masalah panti yang akan secara tidak langsung akan Kahfi tinggalkan.


Kahfi menjelaskan masalah itu akan diserahkan kepada Adam agar menjalankannya karena sudah lama ia pernah membicarakan masalah ini kepada Adam. Razi setuju akan hal itu. Dalam perjalanan pulang tak terasa mobil sudah berada di halaman rumah.


***


Keduanya sudah mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah suasana rumah sedikit sepi hanya ada Bu Aisyah yang ada di dapur.


"Pada kemana, Bu! sepi bangat? Razi yang sudah menycium tangan Bu Aisyah.


"Tari dan Rahma sedang pergi ke supermarket, tau tuh Rahma apa yang mau dicari. Kalau Kia sedang di kamar dari habis Dzuhur belum ke luar lagi." Bu Aisyah yang sedang menuangkan air.


"Kebetulan tadi lewat pasar liat buah segar-segar jadi Kahfi beli untuk di rumah." Kahfi menyodorkan dua kantong plastik kepada Bu Aisyah. "Kahfi izin masuk kamar dulu, Bu kak Razi!"


Bu Aisyah menerima dan sedikit bertanya dari mana Kahfi dan Razi hari ini. Razi memberitahu sedikit tentang niatan Kahfi ingin mempunyai rumah di kota B. Mata Bu Aisyah berbinar ketika mendengar kalau suatu saat Kia dan Kahfi akan memiliki rumah di dekatnya. Jadi ia bisa kapan saja bertemu dengan Kia.


Di kamar Kia mengunakan selimut menutupi tubuhnya di waktu siang. Hati Kahfi terusik melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Ia mendekat dan melihat Kia matanya terpejam. Perlahan tangannya menyentuh dahi Kia, keningnya agak panas.

__ADS_1


Kia merasakan tangan Kahfi yang sedikit dingin karena ketika ia masuk ia membersikan diri terlebih dahulu dan baru mendekat kepada Kia. "Mas!" Kia bangkit dari tidurnya. "Kapan mas sampe rumah?" Suarnaya serak ciri khas orang bangun tidur.


Kahfi mencium kening Kia. " Mas dan kak Razi baru beberapa menit sampai rumah. Dek sakit ya? badan dek agak panas!" Kini Kia ada di sebelahnya dengan tangan kanannya Kahfi memeluk Kia. "Sudah makan belum?"


Dengan gelengan kepala Kia menjawab. "Gak tau dek lagi gk nafsu makan, bawanya mual terus!" Kepala Kia bersandar pada dada Kahfi.


"Kenapa gak makan, sayang. Tadi dek bilang apa, mual? jangan-jangan, dua hari kemarin kan harusnya dek datang bulan, iya akan? Mata Kahfi berbinar diiringi dengan senyum yang mengembang. Kahfi menghapkan wajah Kia ke wajahnya.


Baru saja Kia akan menjawab, tiba-tiba rasa mual melanda. Kia dengan cepat bangkit dan Kahfi yang ada disebelahnya langsung menghindar dan mengejar Kia yang sudah berlari ke kamar mandi.


"Hoek... Hoek..." Kia memuntahkan air. Kahfi memijatnya dengan telaten setelah Kia memuntahkan apa yang ingin keluar dari mulutnya.


"Dek duduk disini ya, mas ambilkan air hangat dulu?" Setelah Kahfi mendudukkan Kia ke kursi kakinya menuju ke arah dapur.


Bu Aisyah melihat Kahfi yang sedikit berlari ke arah dapur membuatnya bertanya. "Kenapa nak, Kahfi ?"


"Kia sedang muntah-muntah, Bu. Ini Kahfi mau mengambil air hangat biar Kia gak terlalu mual." Kahfi langsung menuju dispenser. Bu Aisyah langsung menemui Kia di kamarnya setelah mendengar penjelasan dari Kahfi.


Bu Aisyah melihat Kia yang baru datang dari kamar mandi, dan tak lama kemudian disusul Kahfi dengan membawa segelas air hangat. Kia berjalan dengan lemas. Kahfi langsung memapahnya setelah meletakan air hangat di atas meja.


"Bawa ke rumah sakit aja ya, sayang?" Bu Aisyah yang sedang memijit tengkuk Kia.


"Iya ya sayang, kita ke rumah sakit biar di periksa dokter. Kahfi yang menatap wajah Kia yang sudah pucat.


"Sudah telat datang bulan belum? Pertanyaan Bu Aisyah membuat Kahfi dan Kia saling menatap.


"Sudah telat 3 hari Bu? jawab Kia malu-malu.


Setelah perkataan Bu Aisyah Kia langsung berganti pakaian. Kahfi menunggunya dengan terus mengukir senyum di wajahnya hatinya bahagia bila benar istrinya hamil di usia pernikahannya yang kurang lebih sudah masuk 9 bulan. Demikian juga dengan Kia yang sudah bebrapa kali sempat membeli alat cek kehamilan. Walau ujung-ujungnya ia kecewa karena hasilnya pasti selalu negatif dan dalam pikirannya ia tidak terlalu banyak berharap karena takut-takut ia kecewa kembali.


Keduanya pergi ke bidan terdekat setelah berpamitan kepada Bu Aisyah. Kini Kahfi dan Kia sudah ada di ruangan bidan. Kia selesai si periksa, dan sang bidan langsung menjelaskan bahwa belum ada tanda-tanda Kia hamil. Hal yang Kia rasakan saat ini hanya masuk angin dan lambungnya yang sedang tidak baik.


Kahfi tersenyum ketika wajah Kia menyapanya setelah mereka berdua mendengar penjelasan dari sang bidan.


"Bersabar ya, semoga Allah memberikan kalian berdua keturunan di waktu yang tepat." ucap sang bidan berkerudung biru.


"Aamiin Yaa Mujibbassaillin" Kahfi dan Kia menjawab bersamaan.


Kahfi dan Kia pun menunggu di bagian apoteker, Kahfi mengenggam erat tangan Kia, sesekali menciumnya dan mengelusnya. "Allah masih memberikan kita kesempatan untuk berpacaran terus. Nanti ketika sudah waktunya pasti Allah akan memberikan kita malaikat-malikat yang cantik dan lucu." Sambil terus mengulas senyum Kahfi menghibur sang istri.


"Nyonya Kia" sang apoteker memanggil. Dan Kahfi mengambil obat yang diberikannya setelah mendengarkan penjelasan aturan minum setiap obat.


Keduanya melangkah meninggalkan klinik bidan tersebut. Di perjalanan Kahfi tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Kia bersandar ke bahu Kahfi setelah sang driver taxsi online membawa mereka ke tempat tujuan.


"Maafin dek ya, mas! Belum bisa menghadirkan malaikat kecil di perut, dek!" Dengan lesu Kia tak berani menatap wajah Kahfi.


Kahfi dengan Jalil berbisik letelinga Kia. " Gak apa-apa sayang, berati kita harus kejar setoran biar cepet dapet!" Ledeknya yang membuat Kia yang sedang bersandar di bahunya bangkit dengan cubitan kecil ia mencubit lengan Kahfi yang membuat Kahfi mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Sang driver hanya tersenyum melihat sepasang suami istri di belakangnya sedang bersenda gurau. Hingga ia memberikan saran kepada Kia dan Kahfi untuk memakan buah kurma muda agar bisa cepat punya momongan.


Kia dan Kahfi berhenti sejenak ketika sang bapak di depannya memberikan saran. "Suatu saat kami akan mencobanya" ucap Kahfi setelah berterimakasih kepada bapak setengah baya tersebut.


Kahfi dan Kia sudah tiba di rumah orangtuanya.


Semua orang sedang menunggu berita baik dari Kahfi dan Kia.


Hingga Rahma yang sangat antusias menunggunya di depan teras dan berteriak ketika melihat Kia dan Kahfi sudah sampai.


"Ibu, ayah, kak Tari dan AA Razi, kakak dan mas Kahfi sudah pulang." Dengan cepat menghampiri. "Gimana kak, Momo jadi punya temen main kan, iya?!" Dengan menggandeng tangan Kia di sebelah kanan dan Kahfi si sebelah kiri.


"Rahmaaa." Teriak pak Hasbby yang mendengar pertanyaan si bontot Rahma. "Kakak kamu masuk juga belum udah ditanya-tanya gitu."


"Biarin kakakmu yang memberitahu, lagian anak kecil tau apa sih! Celetuk Razi yang sudah rapih dengan Mounera di gendongannya.


"Loh embul-embulnya , aunti mau kemana nih udah cantik bener? dengan dipapah Kahfi Kia mencium Mounera, dan masuk ke ruang tamu.


"Gamana nak, Kahfi hasilnya? tanya Bu Aisyah yang sudah menunggu


"Allah belum memberikan kepercayaan buat kita berdua punya keturunan jadi kaya bidan Kia karena telat makan jadi lambungnya luka dan masuk angin."


"Yang sabar ya, Kia. Allah pasti akan memberikan kalian keturunan di waktu yang tepat. ikhtiar, doa dan tawakal." Ucap Tari yang sudah meneteng tas bayi.


"Insya Allah, kak?" Jadi aunti mau ditinggal pulang nih sama Dedek Momo. Kia yang mencium gemes Mounera tapi membuat Momo tertawa geli.


"Ya susah kami pamitan ya, lain waktu nanti kita main ke tempat aunti Kia biar ketemu juga sama uyut disana." Pamit Razi kepada semuanya.


Semua orang mengatakan Mounera sampai mobil yang dikendarai Razi tak terlihat. Rahma memeluk Kia dari belakang dengan sikap manjanya yang jarang sekali ia perlihatkan di depan ayah dan ibunya. Hingga secara iseng pak Hasbby meledeknya.


" Awas kak Kia, biasanya kalau Rahma udah kaya gitu ada maunya tuh"


"Apaan sih, ayah!" emang adek gak boleh manja sama kakak sendiri. Kan udah lama kak Kia gak main lagi kesini dan Kia kangen sama kakak." Celotehnya yang kini sudah melepaskan pelukannya ketika diledeki oleh sang ayah.


Kahfi dan Kia pamit untuk ke kamar. "Jangan lupa di minum obatnya ya, sayang.!" Kahfi mencium kening Kia dan langsung menuju kamar mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian tidur.


Beberapa menit setelah keduanya menyelesaikan urusan masing-masing. Duduklah mereka di kursi panjang di kamarnya. Kahfi menyodorkan hp yang sudah ada beberapa contoh foto rumah dengan tipe dan gaya yang berbeda.


"Kalau dek di suruh memilih dek pilih yang mana? kepala Kahfi bersandar ke bahu Kia.


Jari-jari Kia dengan lincahnya mengscroll setiap foto yang ada di hp Kahfi. Matanya tertuju pada rumah minimalis dua lantai dengan gaya Eropa. "Kenapa mas nanyain ini sambil kasih dek foto-foto ini? mau renopasi rumah kita ya, sayang. Mata Kia tertuju pada rambut hitam Kahfi dan mengelusnya lembut.


Kahfi menatap hp yang Kia hadapkan ke wajahnya. Kepala Kahfi merosot ke paha Kia. "Gak, mas cuma mau tanya aja selera rumah yang dek inginkan." Kahfi mencium perut datar Kia dan sesekali mengelusnya dengan lembut.


Kia menyadari bahwa sang suami sudah begitu menginginkan perut Kia membuncit. Wajahnya melihat ke bawah mengelus pipi Kahfi. Kahfi memutar dan mencium telapak tangan Kia dengan lembut. Kia mencubit hidung mancung Kahfi sambil mengulas senyum. "Mas udah kepingin banget ya perut dek ini buncit?" maaf ya sayang dek belum bisa membuat perut ini buncit di mana akan ada malaikat kecil di dalamnya suatu saat." Mata Kia mulai mengeluarkan mutiara bening.


Mata Kahfi terangkat ke atas untuk melihat wajah sang istri yang sudah mengeluarkan cairan bening tersebut. Tubuhnya yang nyaman tidur di pangkuan sang istri langsung bangkit dengan cepat kedua tangannya dengan lembut menghapus air mata Kia. "Mas gak menuntut dek untuk segera hamil, sayang. Mas lagi kepingin aja mencium perut dek. lagi kangen manja-manjaan sama, dek. Sudah ya sayang jangan di pikirin. Kita jalanin aja semuanya dengan santai jangan dibawa pusing dengan hal demikian.

__ADS_1


Dengan sedikit dipaksakan Kia tersenyum. "Tapi setidaknya dek kepikiran ketika ada beberapa orang yang selalu menanyakan tentang dek yang belum juga hamil padahal usia pernikahan kita tidak lama lagi akan genap 1 tahun." Wajah Kia sedikit tak bersemangat dan melihat ke jari-jarinya.


Kahfi memeluknya dengan erat. " Bila ada orang yang bertanya bilang saja 'Doakan saja' gitu, sayang. dan dek jangan terlalu dipikirkan itu bisa membuat dek stres sendiri. Ya, sayang. Nikmati aja masa pacaran kita sekarang, yang penting kita selalu ikhtiar terus tiap malam !" Goda Kahfi hingga membuat ia mendapatkan pukulan kecil dari Kia.


__ADS_2