
πJangan lupa untuk:
TIP
LIKE
KOMEN
VOTE
dan RATEnya ya!!
π Selamat Membaca π
Malampun sudah semakin larut, suara jangkrik dan katakpun terdengar begitu nyaring karena romobongan keluarga kiai Mansur sudah pulang. Rahma yang sudah tertidur pulas dengan suara dengkuran kecil menambah kebisingan pada telinga Kia yang sedang mengkhotamkan tilawahnya malam ini.
Ketika Kia baru saja menutup kitab Suci Al-Qur'an. Terdengar suara pesan singkat dari ponselnya. Yang di lihatnya dari Huda yang mengucapkan selamat ulang tahun dan ucapan yang membuat Kia merasa terenyuh.
π±Mas Huda
Selamat ulang tahun ya, Kia.
Semoga kebahgiaan selalu menyelimuti hari-harimu.
π Dan selamat atas titik awal kebahgiaanmu bersama PRIA PILIHAN HATIMU.
Maafkan aku yang pernah singgah dikehidupanmu walaupun tak pernah ada celah di hatimu.
Aku ikut bahagia bila melihatmu bahagia. Jangan lupa undang aku dan papahku ketika kalian bersanding di pelaminan! π
Dan semoga kamu suka dengan kado pemberian dariku, yang mungkin esok akan tiba di rumah abah Dahlan.
Setelah Kia membaca pesan dari Huda tak terasa air matanya mengenang di pelupuk mata. Perlahan ia memainkan jari jemarinya membiarkan menari pada benda pipih sambil terus berpikir rangkaian kata yang akan ia ketik dan ia sampaikan kepada pria yang hatinya saat ini pasti sangat terluka.
π±Kia
Aamiin Yaa Robb'alamiin. π€²π»
Terima kasih banyak atas do'anya, mas! Maafkan diri ini yang tak bisa membalas ketulusan hati mas Huda terhadap, Kia. Bukan maksud hati Kia melukai hati lembut mas Huda. π
Diri ini terlalu naif bila membiarkan hati tulus mas Huda terluka karena bayangan wajah kak Prama hadir bila kia menatap wajah mas Huda. ππ»
Kia pasti akan mengundang mas Huda dan om Prayoga. Sampaikan salam rindu Kia kepada beliau. ππ»
Kia sangat berterimakasih atas pemberian mas Huda selama ini. ππ»
Perlahan Kia meletakan ponselnya di atas meja lalu ia bawa dirinya ke kamar mandi untuk berwudu menenangkan hatinya.
Pas di depan pintu kamar Kia bertemu abah Dahlan yang ia pun baru selesai dari kamar mandi.
" Loh, kamu belum tidur, nak?" Tanya abah Dahlan sambil memperhatikan wajah cucunya yang sepertinya habis menangis.
" Belum, bah!" Kia habis tilawah tadi sekarang kebelet pengen pipis. Jawabnya bohong.
" Oh begitu, jangan malam-malam besok pagi kita akan mengatarkan ayah, Rahma dan ibumu pulang!" ucap abah Dahlan memberi tahu.
" Ya, bah!" ucap Kia lalu menuju kamar mandi.
ππ
Di lain tempat. Dua pria yang masih terjaga dari masih saja membahas tentang kejadian malam ini yang membuat Kahfi banyak pertanyaan pada Yazid.
" Udahlah jangan mikirin calon bidari terus, udah pasti ukhti Aulia itu akan jadi istri dunia akhirat mas Kahfi!" celetuk Yazid yang masih belum puas menggoda kakak angakatnya yang dia anggap seperti kakak kandung karena dari kecil Yazid selalu dilindungi oleh Kahfi.
" Mas itu bukan sedang memikirkan ukhti Aulia, tapi memikirkan perkataanmu yang tadi anta sampaikan di rumah abah Dahlan tentang ukhti Dora?" ucap Kahfi penasaran yang kini sudah mendekatkan dirinya di sebelah Yazid yang sedang memeluk guling milik Kahfi.
__ADS_1
" Jadi begini mas bro, abi itu ingin menjodohkan mas bro dengan ukhti Dora karena melihat ukhti Dora itu seolah menaruh hati dengan mas bro, dan ukhti Dora pun begitu loyal kepada panti yang mas bro bangun selama ini, jadi abi berfikir kenapa tidak menjadikanya sebagai pendamping mas bro yang sudah mumpuni dalam panti." begitu mas bro. Dan satu lagi sepertinya ukhti Farahpun menyukai mas broku yang gantengnya gak ketulungan!" Goda Yazid.
" Tapi, ana ngerasa ukhti Dora itu tidak terlalu bisa mengayomi dan bersikap lembut terhadap anak-anak panti karena ana sering melihat ia memarahi anak-anak panti dengan bentakan, tidak seperti ukh Aulia yang selalu bersikap lembut dalam menegur kesalahan anak-anak panti yang melanggar atau bersikap tidak baik di kelas." Ucap Kahfi seraya menopangkan dagunya pada tangan kanan kiri dan tangan kanannya memeluk bantal yang ia raih dari kepala Yazid.
Hanya sahutan kata " Iya" dari Yazid. Yang tak taunya orang yang Kahfi ajak bicara sudah memejamkan mata sambil memeluk guling dengan hangatnya.
Kahfi yang sadar akan sahutan singkat dari Yazid lalu ia membalikan badannya melihat Yazid.
" Huuu ... Dasar kebiasaan kalau orang lagi serius-serius ngobrol malah ditinggal tidur! Dasar Abu Naum! Gerutunya sambil menepuk bokong belakang Yazid.
Perlahan Kahfi membaringkan tubuhnya di samping Yazid sambil menepuk-nepuk bantal yang akan menopang kepalanya. Namun hal itu ia urungkan dengan menekuk kedua tangannya dan meletakannya di bawah kepalanya sambil hanyut dengan kenangannya yang kali pertama bertemu dengan Kia waktu di perpustakaan
ππ
Flash back on
" Ahhh... maaf... maaf!!", saya tidak melihat anda?. Ucap Kahfi yang ketika itu meenggunakan baju koko berwana merah. Perlahan ia meraih satu persatu buku yang berserakan di lantai.
"Maaf saya yang salah tadi, tidak melihat ke arah belakang terlebih dahulu!". Maaf ya, mas!" ucap Kia panik sambil mengulurkan tanganya untuk meminta maaf, namun Kahfi hanya mengatupkan dua tanganya ke dada. Menandakan ia tak mau tersentuh oleh Kia. Mungkin Kia berpikir terlaku sombong dirinya sehingga tak mau menerima uluran tangan Kia.
" Tidak masalah!", maaf saya pamit!!. Ucap Kahfi yang ketika itu menggunakan koko berwarna merah dan langkahnya langsung menuju meja kasir.
"Iya..." jawab Kia.
Kia hanya terbengong ketika pria itu menolak uluran tangannya dan menatap pungung pria yang sudah berlalu dari hadapanya.
Kahfi berjalan menuju kasir dalam hatinya berkata.
"Semoga kelak kita bisa bertemu lagi dengan disituasi dan tempat yang lain. wanita yang belum ia ketahui namanya namun sudah membuat kesejukan di hatinya ketika menatap bola mata indah Kia, dan turur katanya yang lembut."
Flash back off
" Tak ku sangka kini kita disatukan dengan ikatan yang akan menjadikan kita sebagai pasangan yang halal. Dan sebentar lagi kamu akan menjadi calon ibu dari anak-anakku kelak. Aku bisa memenikmati hidup ini bersama mu". Mungkin 'Diakah Jodoh Pilihan Allah?' yang Allah ridhoi dalam setiap do'a-do'aku. Sosok yang ke ibuan dan lembut yang selalu aku rindukan kasih sayang dari seorang ibu. Mungkin itu akan ada padanya." Gumamnya dalam pikiran dan batinnya.
Perlahan ia menarik kedua tanganya dan memeleuk guling yang masih tersisa satu di belakang Yazid. Ia peluk guling itu dan mulutnya tak berhenti berkomat-kamit membaca do'a dan mulai memejamkan matanya setelah selesai dengan ritual do'anya yang setiap hari tak pernah ia lupakan.
ππ
Mata yang nya perlahan ia buka kembali ia raih ponsel pada mejanya. Terilhat kontak atas nama pak Karim memanggil.
π Wa'laikum salam, iya pak ada apa malam-malam telpon?
Tanya kahfi yang setengah sadar.
π ini den, nak Fatur badannya panas sekali!" bapak sudah kasih obat turun panas tapi panasnya gak turun-turun.
Ucap pak Karim panik.
π Ya sudah saya akan segera kesana kita bawa Fatur ke klinik 24 jam yang ada di ujung jalan" tunggu ya pak saya cari kuci mobil saya dulu!"
π ya den, cepet ya den! wassalamu'alaimum
Kahfi pun bergegas meraih jaket dalam lemari dan meraih kunci mobil yang ia letakan di laci dekat tv, tanpa memperdulikan pakain tidur yang sudah ia kenakan.
Suara berisik yang Kahfi ciptakan tidak mengusik tidur lelap Yazid sedikitpun.
Perlahan Kahfi ke luar dan mengunci rumah dari luar, dan begegas ke garasi mobil dan menekan kunci mobil dari kejauhan untuk membuka pintu yang terkunci. Perlahan ia dudukan bobot tubuhnya di kursi pengemudi dan langsung mengendarai mobilnya ke halaman dimana rumah singgah untuk para anak-panti tidur.
Pak Karim yang melihat keberadaan mobil Kahfi langsung menghampiri dan menggendong Fatur. Kania yang menangis tersedu karena sedih melihat abangnya sakit seraya ingin menghampiri mobil Kahfi memohon agar ia bisa ikut dengan Kahfi membawa abangnya Fatur yang tergulai lemas.
" Kakak tampan, Kania boleh ya ikut dengan, kakak! Kania gak bisa tidur tenang tanpa abang Fatur!" ucapnya sambil terus menangis dan mengusap lembut matanya yang sudah basah dengan air mata. hiks ... hiks."
Kahfi yang melihat itu tidak tega melihat Kania yang di temani bu Asih dalam gendongannya lalu meraih Kania kecil untuk berpindah dalam gendongan tangannya.
" Kania boleh ikut, tapi Kania janji jangan nangis!" banyaklah berdo'a untuk kesbuhan abang Fatur, ya?" Ucap Kahfi menenangkan dan mendudukan Kania di kursi depan dekat dengannya.
__ADS_1
Dengan sebuah anggukan Kania mengerti akan perintah Kahfi dan mengulas senyum kecil. Dalam perjalanan Kania tak henti-hentinya membacakan surah Al- Fatihah untuk Fatur.
Kahfi yang melihat tingakah Kania tangan kirinya mengusap lembut kepala Kania yang tanganya tak ia turunkan seraya berdo'a.
ππ
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di klinik tempat dimana Kia pernah dibawa. Kahfi yang menggendong Kania yang tertidur pulas masuk ke dalam untuk mendaftarkan Fatur ke tempat pemdaftaran.
" Anak bapak kenapa?" Tanya perawat yang tak mengenal Kahfi.
Lalu salah satu suster bernama Widia menyenggol lengan suster yang barusan bertanya pada Kahfi berbisik mengatakan bahwa anak yang ia gendong bukanlah anaknya.
" Maaf saya ingin mendaftarkan atas nama Fatur Abdu Rahman usia 9 tahun yang sejak sore tadi sudah demam dan sekarang sudah demam tinggi." Ucap Kahfi tanpa menghiraukan perkataan suster penjaga yang mengatakan Kania sebagai anaknya.
Pak Karim yang sudah duduk menunggu suster penjaga mengatarkan ke ruang inap langsung berdiri sambil memabawa Fatur dalam gendonganya dan mengikuti langkah Kahfi yang menuju ruang inaf.
" Kak Kahfi tunggu sebentar ya, dokter Danil pasti sebentar lagi datang!" Ucap suster Widia yang sudah mengenal siapa Kahfi.
Tak lama kemudia dokter Danil datang dan langsung mengenali Kahfi yang sedang memangku Kania yang tertidur.
" Siapa yang sakit mas, Kahfi? tanya dokter Danil yang mengalihkan penglihatan Kahfi ke arah suara tersebut.
Perlahan Kahfi memberikan Kania pada pak Karim agar duduk bersama pak Karim. Dan Kahfi menghampiri dokter Danil untuk menjelaskan.
" Ini dok, Fatur dari sore panasnya gak turun-turun padahal sudah di beri obat parecetamol yang ada di pati!" Jelas Kahfi.
Dokter Danilpun langsung memeriksa suhu badan Fatur, dan mengecek bagian mata dan mulutnya menggunakan senter kecil.
" Suster tolong siapkan infusan dan suntikan vitamin di dalamnya untuk energi!" perintah dokter Danil.
"Bagaimana, dok keadaan Fatur, apa dia baik-baik saja?" tanya Kahfi yang mendekatkan tubuhnya pada Fatur yang terus terpejam.
" Syukur alhamdulillah anda tidak telat membawanya kalau tidak anak ini akan mengalami dehidrasi. Saya pikir ia mengalami demam bukan hanya kali ini saja, kemarin-kemarin pasti anak mengalami demam cuma mungkin namanya anak-anak tidak di rasa!" ucap dokter Danil menjelaskan.
" Jadi sakit apa Fatur, dok?
" Fatur terkena typus, jadi dia harus di rawat beberapa hari di sini?" ucap dokter Danil sambil menuliskan resep obat yang harus Kahfi tebus di ruang obat.
Dokter Danil pun beranjak meninggalkan ruangan setelah suster selesai memasangkan infusan dan memberikan cairan vitamin pada selang infusan Fatur.
" Tidurkanlah anak gadis itu di tempat tidur sebelanya! perintah dokter Danil melihat Kania yang tidur terlihat tidak nyaman di pangkuan pak Karim.
" Terima kasih, dok!" ucap Kahfi yang menghampiri pak Karim berniat untuk membawa Kania tidur di sebrang ranjang sebelah Fatur.
" Sertap 2 jam sekali nanti suster akan mengecek infusannya!" tukas dokter Danil yang di ikuti suster Widia di belakangnya.
Kahfi pun meletakan Kania dan memerintahkan pak Karim untuk pulang naik ojek karena pagi-pagi pasti bu Asih dan Dora akan kerepotan bila tak ada pak Karim yang akan menyiapakan sarapan dan makan anak-anak panti.
Pak Karimpun pulang dengan ongkos yang diberikan Kahfi kepadanya. Dan membiarkan menjaga dua anak yang sudah tertidur di tempat tidur klinik.
Sambil duduk ditengah-tengah antara Kania dan Fatur Kahfi mengirim pesan pada Adam. Agar setelah subuh bisa datang menggantikannya dia di klinik, karena ia harus mengurusi surat-surat yang harus ia lengkapi untuk diberikan ke KUA dalam 3 minggu ini.
.
.
.
.
.
.......
...**Bersambung----...
__ADS_1
Sehat-sehat dan berkah selalu untuk kaian semua pembaca setia DIAKAH JODOH PILIHAN ALLAH**?