Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
110. Kita Berdua Saja


__ADS_3

Kahfi asyik dengan pemikirannya. Hingga akhirnya ia mendudukkan tubuhnya dan mengurungkan niatnya untuk beristirahat.


Kahfi meraih ponsel yang ada di saku celananya. Mengirimkan pesan singkat kepada Tanto dan Brayen untuk menemuinya di kamar.


Tari dan Ulan melihat Kia keluar dari kamar dengan dengan wajah yang sulit di artikan.


Perbincangan antara Tari dan Ulan terhenti ketika melihat Kia berjalan langsung ke arah dapur.


Kia menuju ke dapur hendak mengambil segelas air. Wajah Bu Aisyah muncul dari arah dapur dan membuat Kia sedikit kaget dan mencoba untuk menyesuaikan dirinya bertingkah senatural mungkin di hadapan sang ibu.


"Cari apa, sayang?" Bu Aisyah melihat jelas sisa air mata di mata Kia dan wajah Kia masih terlihat pucat.


Kia menggelengkan kepalanya tak mencerna pertanyaan sang ibu. "Ibu lagi ngapain?" Bukannya menjawab namun Kia malah memberikan pertanyaan kepada sang ibu.


"Ibu baru mau membawakan makanan untuk kamu dan nak Kahfi!" Bu Aisyah meletakan kembali nampan yang sudah berisi makan siang yang sudah ia siapkan dan ada beberapa potongan buah apel dan mangga serta semangkuk sup ayam dan juga nasi yang sudah terisi dengan lauk pauk.


Kia meneguk segelas air yang barusan ia ambil sampai tandas. Tanpa melihat sang ibu memeperhatikan dirinya yang seperti orang habis dikejar kejar orang jahat.


"Ada apa sama kamu, nak?" Pertanyaan Bu Aisyah membuat Kia hampir menjatuhkan gelas yang hendak ia letakan ke atas meja.


Kia mengelengkan kepalanya. Dan melihat ke arah Bu Aisyah.


"Seorang ibu tidak bisa dibohongi, nak. Apa yang kamu sembunyikan?" Kalimat Bu Aisyah membuat hati Kia kaget. Apa kah wajahnya terlihat jelas bahwa ia merasa ketakutan dan menyembunyikan suatu hal.


Bu Aisyah memeluk Kia dari belakang. Dan Kia meraih kedua tangan Bu Aisyah dan menempelkan pipinya ke tangan hangat sang ibu. Kia tak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Kia hanya bisa mengeluarkan buliran bening dan merasakan sesak di dadanya.


Bu Aisyah dapat merasakan kesedihan sang putri. "Gak apa apa kalau kamu belum siap menceritakan hal itu kepada ibu. Namun ingat jangan menyiksa dirimu sendiri untuk memendamnya sendiri, sayang!" Bu Aisyah mengecup kepala Kia yang tertutup jilbab berwarna toska.


"Maaf kan Kia, Bu" Kia merasakan kehangatan dari pelukan sang ibu tercinta dan membuat hatinya sedikit lega.


Jam menunjukan pukul empat sore. Keluarga besar pak Hasbi sudah pulang ke rumah masing masing.

__ADS_1


Begitu juga dengan Brayen dan Ulan sudah pulang dari jam dua siang. Setelah Brayen dan Tanto berbicara dengan Kahfi di kamar.


Brayen tak menceritakan persoalan Kahfi yang menanyakan kejadian selama ia tak sadarkan diri kepada sang istri tercinta.


Di perjalanan Brayen dan Tanto merasa ada sesuatu yang Kia sembunyikan kepada Kahfi. Hingga membuat Kahfi menanyakan hal demikian kepada dirinya dan juga Tanto. Brayen hanya bisa merasa kasihan kepada pasangan suami istri tersebut karena apa yang menimpa dirinya seminggu kemarin membuat hubungan mereka ternyata sedikit bermasalah.


"Yang, kita cari rujakan yang di dekat pasar tradisional ya. Aku pernah beli sama mamah dan rasanya itu enak loh, yang!" Suara ulang memecah lamunan Brayen.


"Baiklah, sayangku" Brayen langsung menjawab dan memutar balik arah mobilnya


"Aku seneng banget liat Kia dan Kahfi bisa tinggal disini. Jadi aku bisa main dan masak bareng sama Kia. Celoteh Ulan.


Sambil fokus mengendari mobilnya Brayen mengelus lembut perut sang istri yang sudah semakin membuncit. "Seminggu ini jangan ganggu mereka dulu ya, ayang!"


"Loh emang kenapa? Se'engganya kan Kia bisa terhibur dengan kedatangan aku, yang!" Sambil membuka cemilan keripik rasa jagung Ulan melihat ke arah Brayen dan setelah bungkusan itu terbuka Ulan memasukannya satu persatu ke mulutnya.


Brayen membuka mulutnya memberi kode kepada Ulan. "Mas Kahfi kan baru pulang dari rumah sakit, yang. Jadi butuh istrirahat yang cukup!" Brayen hanya tidak ingin istrinya mengganggu hubungan Kia dan Kahfi yang saat ini bermasalah.


***


Di rumah baru Kia. Kia sedang mempersiapkan obat yang harus Kahfi minum sore ini. Ia mencari keberadaan Kahfi. Ia melihat ke dalam kamar yang tadi ia masuki berdua, namun Kahfi tidak ada. Kia mencarinya ke ruang tamu, dan ke ruangan kerja Kahfi yang ada di bawah. Namun Kahfi belum juga ia temukan. Dari atas Kia melihat ke arah bawah dan matanya tertuju pada sosok yang ia cari sedang duduk di dekat kolam Ikan yang ada di dekat kolam renang.


Kahfi melemparkan segenggam umpan ikan pada ikan koi yang dua hari kemarin baru datang. Dan sekelompok ikan tersebut langsung melahap bulir bulir kecil berwana merah mudah sedikit pucat itu ke mulutnya. Senyum Kahfi mengembang.


Kia melangkah dan menuju ke arah dimana sang suami berada dan hendak membawa obat yang sudah ia letakan di meja di ruang tengah dan beberapa buah pisang.


Kahfi tak menyadari kehadiran Kia dengan nampan yang berisi obat obatan dan segelas air mineral. Karena Kahfi menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Kahfi melihat dua ikan koi yang sedang berkejar kejaran berebutan makanan ikan yang ia lempar sedikit demi sedikit.


"Mas minum obatnya dulu! Kia meletakan nampan di atas meja di dekat Kahfi. Sontak membuat Kahfi menoleh ke arah keberadaan Kia.


"Sebentar mas cuci tangan dulu!" Kahfi hendak bangkit dari jongkoknya. Namun keseimbangan tubuhnya lagi lagi membuat ia hendak terjatuh.

__ADS_1


Dengan sigap Kia memegang tubuh Kahfi sekuat tenaga. "Pelan pelan, mas! Jangan terlalu lama berjongkok itu akan membuat mas pusing ketika mas akan berdiri!" Kia memapah Kahfi ke tempat duduk. Dan merogoh kantong baju gamisnya dimana ia sudah membawa tisu basah berukuran kecil dan mengeluarkannya.


Kia meraih tangan Kahfi, mengusap lembut tangan Kahfi dengan tisu basah. Kia meletakan tissue yang sudah ia pakaikan kepada Kahfi dan mengambil selembar kembali tisu itu untuk membersihkan kembali tangan Kahfi.


Tangan kiri Kahfi menindih tangan Kia dan mengangkatnya ke arah wajahnya. " Sayang. Maafin, mas. Selama mas gak sadarkan diri pasti dek sangat tersiksa di rumah kosong itu." Kahfi mencium punggung Kia yang masih memegang tisu basah, tercium aroma dari tisu basah tersebut.


Kia terdiam tak bisa berkata kata. Dia tau pasti suaminya sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa dirinya. Maka dari itu setiap kali ia menatap wajahnya, Kahfi pasti meminta maaf kepadanya. "Minum obatnya dulu ya, mas!" Kia menarik tangannya perlahan.


Kahfi terdiam dan melihat wajah Kia yang tak seceria biasanya.


Kia menyodorkan satu gelas air dan memasukan bebrapa obat ke mulutnya. Kahfi hanya melihat ke arah mata Kia tanpa menyadari obat obatan itu sudah masuk ke dalam mulutnya dan di dorong langsung dengan segelas air. Sebelumnya Kahfi biasanya minum obat harus dengan bantuan buah pisang, karena ia tidak terbiasa meminum obat kimia yang dari dokter. Namun hari ini Kahfi secara tak sadar sudah bisa meminum obat tanpa bantuan buah tersebut.


Kia tersenyum karena ini pertama kalinya ia melihat sang suami dengan mudah meminum obat tanpa bantuan buah pisang. "Mas. Kamu udah bisa minum obat tanpa dibantu buah pisang?"


Kahfi melihat wajah Kia yang tersenyum. Ia merasa bahagia. Dan ia belum sadar dengan ucapan Kia barusan karena ia masih terbuai oleh senyuman yang ia rindukan dari senyum manis sang istri.


Kia melambai lamabaikan tangannya. Dan Kahfi baru tersadar, mencium tangan Kia dengan hangat. "Terimakasih, sayang!" Kahfi bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapan Kia.


Kia mengekor sambil membawa nampan yang hanya berisi obat obatan dan buah pisang yang ia letakan sebelumnya di atas meja ruang tengah ia tinggalkan begitu saja.


****


Malam pun tiba. Kahfi dan Kia baru selesai dari sholat Isyanya dan di akhiri dengan tilawah bersama. Kahfi ingin mengajak Kia ke kamar utama yang ada di lantai atas. "Kita tidur di kamar utama saja ya, dek!" Kahfi melipat sarung yang ia kenakan.


Kia masih sibuk melipat mukena dan melihat Kahfi sudah keluar dari musholah rumahnya. Kia mengejar Kahfi dan mengikuti langkah Kahfi.


Kahfi memperlambat langkahnya menyesuaikan dengan Kia. Tanganya langsung meraih tangan Kia dan menggandengnya untuk menuju tangga atas. "Mas takut jatuh kalau gak dibantu sama, dek!" Alasan Kahfi agar Kia tak menghindar dari dirinya.


Kia mengerakan kepalanya tanda setuju dan membantu Kahfi menuju kamar atas.


Kahfi meminta Kia membuka pintu kamar mereka berdua. Dengan pelan Kia membuka hendel pintu dan melihat sekeliling kamar tersebut dengan warna hijau muda yang mendominasi warna kamar tersebut.

__ADS_1


Wajah terkejut Kia terlihat jelas. Kamar impian nya terwujud. Gorden berwarna hijau muda, foto penganti mereka berdua di letakan di atas tempat tidur sesuai dengan ukuran tempat di tidurnya. Kia melihat setiap sudut dari kamarnya. Mata Kia tertuju pada lemari berukuran besar dimana ruang ganti untuk dirinya dan Kahfi. Berjejer baju baju muslim dimana di bawahnya ada sepatu dan sendal sendal sesuai selera Kia. Dan disebelah lemarinya ada lemari khusus untuk jilbab dan kerudung kerudung instan dengan beaneka ragam warna. Mata Kia berkaca kaca. Kahfi hanya tersenyum melihat sang istri yang menangis terharu.


__ADS_2