
Satu bulan sudah pernikahan yang sudah Kia dan Kahfi lalu. Banyak hal hal yang diantara keduanya jadi mengenal satu sama lain. Perhatian dan kasih sayang yang selalu Kahfi tunjukan kepada sang istri menjadikan Kia seolah merasa bersyukur karena ia memiliki suami yang begitu mengerti akan dirinya dan memperlakukannya sebagai wanita istimewa.
"Sayang!"
Panggil Kahfi kepada Kia yang masih merapihkan jilbabnya di meja rias. Sambil memperhatikan wajah cantik Kia di cermin Kahfi mengulas senyum yang manis.
"Ya, mas!
Sahut Kia seketika membalikan badannya mendengar panggilan suami. Dan sedikit terkejut ketika ia dapati Kahfi sudah ada di belakangnya. Seketika Kahfi meraup wajah sang istri menjadikan Kia sedikit mendongakkan wajahnya ke atas dan bertumpu pada bagian perut Kahfi. Dengan jelas Kahfi melihat rona merah dikedua pipi sang istri tercinta yang memberikan senyum malu kepadanya.
"Kenapa, kok muka dek kemerahan gitu? pake bedak yang merah merah ya (maksudnya blason)?
Tanya Kahfi.
"Gak mas, enggak kok!"
Jawab Kia sedikit gugup sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Seketika ciuman Kahfi melesat cepat ke bibir Kia yang sudah diberi lipblam hingga membuat Kia membulatkan matanya.
"Pake lipstiknya jangan tebal-tebal, sayang! repot nanti kalau ada laki laki yang menatap dek sampe gak mau berkedip."
Ucap Kahfi sambil sedikit mengusap bibir Kia yang sedikit basah akibat perbuatannya dan berniat ingin menghapus olesan lipblam yang baru saja Kia poleskan ke bibirnya.
Dengan sedikit menunduk dan memainkan ujung jilbabnya Kia sedikit memberi penjelasan kepada Kahfi. Bahwa yang ia pakai bukanlah lipstik melainkan pelembab bibir agar bibinya tidak telalu kering. Seketika Kahfi mengulas senyum dan memberikan ciuman di pucuk kepala Kia.
"Maaf ya sayang, mas gak tau dengan benda benda yang menyangkut dengan perempuan."
Jawab Kahfi sambil memeluk Kia yang kini sudah berdiri di hadapnnya.
"Ya, Mas! nanti juga mas Kahfi akan faham dengan barang-barang yang berhubungan dengan wanita."
Jawabnya sambil menyentuh hidung Kahfi yang mancung dan membalas dengan merangkul tanganya ke pinggang Kahfi. Seketika Kahfipun menyandarkan dagunya ke bahu Kia.
"Kalau kita begini terus kapan kita berangkat ke acara Kinanti?" Ucap Kia sedikit mengendorkan pelukan Kahfi.
"Benar juga"
Jawab Kahfi sambil mencubit pipi Kia yang kini sedikit berisi. Lalu keduanya pun meninggalkan kamar dan menuju ke luar.
...****************...
Dipesta pernikahan Kinanti yang sudah banyak sekali orang orang yang mengatri untuk bersalaman kepada kedua mempelai. Seketika mata Kia berkeliling memandangi setiap tempat namun orang yang ia cari tak kunjung ia temukan. Namun dari arah samping kanan ada seseorang yang memanggil namanya dan dirasa suara itu tak asing di telinga Kia. Hingga ia menoleh dan mencari orang tersebut. Kahfi yang melihat itu dengan isyarat mata seolah bertanya kepada Kia, siapa orang tersebut.
Tanpa melepas genggaman tangan sang suami Kia melangkah mendekati orang tersebut yang sudah lama tak ia jumpai.
"Mba Sasa!
Yaa Allah mba, Kia kangen banget sama mba." Ucap Kia yang seketika melepaskan genggaman tangan Kahfi demi memeluk teman kantornya itu.
"Aku sampe kangen banget sama kamu Kia, aku pikir kita gak akan ketemu lagi. Tapi taqdir mempertemukan kita disini."
Ucap Sasa sambil cipka cipiki dan memanggutkan kepalanya seolah bertanya siapa laki-laki bersama Kia yang dari tadi menggandengnya.
"Mas Kahfi, kenalkan ini mba Sasa teman Kia plus atasan Kia waktu Kia kerja di kantor, orang yang sangat baik sama Kia."
Ucap Kia memperkenalkan. Dan Kahfi menangkupkan kedua tanganya ke dada sambil mengulas senyum.
"Sasa.
Ini pacar apa suamimu, Kia?"
Ucap Sasa sambil memberikan senyum dan menarik kembali uluran tanganya.
"Ini suami Kia, mba! Alhamdulillah tepat satu bulan usia pernikahan kami hari ini. Mba Sasa kesini di undang sama Kinanti juga??
Tanya Kia.
"Oohh, suamimu toh. Beruntung banget sih kamu Kia selalu mendapatkan laki laki yang keren dan ganteng setelah almarum pak Prama. Ini acara pernikahan abangku Kia. Tandas Sasa
Seketika raut wajah Kahfi mendadak berubah. Dan Kia mengelus lembut tangan sang suami. Mengisyaratkan agar ia tak perlu cemburu karena setiap Kahfi cemburu pasti Kia mendapatkan hukuman dengan dua ronde di dalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa sih nama itu gak pernah sirna dalam kehidupan Kia, selalu ada aja orang yang menyebut nama itu!" Gumam Kahfi dalam hatinya.
Seketika Kahfi izin untuk pergi mencari minum berniat menghilangkan dahaganya. Dan membiarkan Kia bersama Sasa melepas kerinduan diantara mereka.
Setelah Kahfi berlalu dari hadapan mereka berdua Kia dan Sasapun saling berbagi cerita. Dan Sasapun menceritakam bagaimana Kinanti bisa menikah dengan kakaknya (Fauzan) yang ketika itu membantu Kinanti dalam proses hijrahnya hingga kini ia menjadi seorang muslimah pada umumnya dan bisa membawa adik-adiknya kembali dan tinggal bersama Kinan di rumah yang sudah dibelikan Fauzan untuk mereka tempati bersama. Kia merasa terharu dengan kisah hijarah Kinan.
Ketika Kia sedang asik-asiknya mengobrol dengan Sasa. Lelaki paru bayapun memanggil Sasa sehingga mengentikan perbincangan mereka bedua.
"Aku menemui papahku dulu ya Kia, lain waktu Kita bisa janjian kalau kamu sedang ada di rumah orangtuamu."
Ucap Sasa sambil menyimpan nomer WA Kia.
"Insyaa Allah"
Balas Kia sambil mencari keberadaan sang suami. Akhirnya mata Kia tertuju pada kedua wanita bercadar yang sedang asyik bebincang bincang dengan Kahfi dan satu orang laki-laki yang tak Kia kenal.
Seketika kaki Kia melangkah untuk menemu Kahfi namun kakinya terhenti ketika ada sesorang yang memeluk kakinya dari belakang.
"Kakak cantik maafkan Kania sudah berlaku tak baik ketika itu!"
Ucapnya sendu
"Maafin Fatur juga ya kak Aulia!"
Seketika Kia membalikan badannya dan berjongkok memeluk sang gadis kecil dengan erat dan menarik Fatur juga hingga mereka berpelukan betiga.
"Yaa Allah Kania, Fatur kak Aulia sangat sangat rindu dengan kalian berdua."
Peluk Kia dengan sedikit tangis menghias pipinya dan Kiapun mencium keduanya bergantian.
"Maafkan kami kak, waktu itu kami tidak mendengarkan penjelasan kak Aulia. Kami menyesal telah membuat kak Aulia menangis waktu itu, karena kami tidak tau cerita sebenarnya seperti apa. Setelah mba Kinan ceritakan semuanya di rumah, rasa bersalah kami menghiasi kami setiap malam."
Tutur Fatru menjelaskan disertai tangisan diantara mereka bertiga.
"Sudah tak apa, kak Aulia sudah faham kok kalau kalian berdua begitu. Jadi sekarang yang penting kita sudah betemu lagi dan baikkan, ya kan?
Unjar Kia sambil tersenyum dan menyentuh hidung Kania dan Fatur bergantian dan merekapun tersenyum lepas. Hal itu terlihat jelas oleh Kinanti dan sang suami yang ikut tersenyum di atas pelaminan.
Tangan Kia langsung dipegangi oleh Fatur dan Kania diajak oleh mereka ke tempat yang tersedia beraneka ragam makanan. Dan keduanya membawa Kia ke stand es krim. Ketika mereka menuju tempat tersebut Kia melewati Kahfi yang masih asyik berbincang bincang. Sedikit isyarat dari Kia untuk sekedar pamit karena menemani Kania dan Fatur Kahfi menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman tanda ia mengerti akan isyarat yang Kia berikan.
Teriak Kania dan Fatur ketika Kia berhenti sejenak di hadapan Kahafi dan teman temannya tersebut. Dan satu wanita bercadar itupun sedikit memperhatikan Kia dari atas hingga bawah.
"Sepertinya aku kenal dengan wanita ini. Bukankah dia adiknya Razi?" cantik juga istrinya Kahfi tapi sedikit masih agak kekanak-anakan!"
Gumam Azizah yang melihat Kia bersama dengan dua anak kecil yang lewat di hadapannya.
"Bukankah itu adiknya Razi ya akh Kahfi? dia tidak berubah dari aku masih kuliah bareng dengan si raja minyak itu. Adiknya Razi itu cantik dari dulu dan anaknya mandiri."
Ucap Susan yang sedikit mengenal Kia ketika ia pernah berkunjung ke rumah Razi beberpa kali untuk mengerjakan tugas kuliah dan bekerjasama dalam bisnis mereka.
"Kalian mengenal Kia ketika itu?" Tanya Kahfi penasaran.
"Ia kami sering main ke rumah Razi sekedar membahas kerja kelompok dan bisnis antara kami dan Razi. Kia itu kalau kami sedang ke rumahnya selalu menyapa kami dengan ramah dan ana sering banget ngedenger kalau Kia suda beradu argumen dengan adiknya, pokoknya kaya Tom and Jerry. Ucap Susan mengenang masa masa itu disertai tawa kecil dari Susan.
"Tapi kita juga lihat kalau Kia itu lebih sering main dengan laki laki dibading dengan perempuan!" Tukas Azizah menambahkan
"Ya bener, bener ana sampe hafal temennya Kia yang namanya Brayen sering banget ngajakin Kia ke luar sampe sampe si Razi itu ngomelin temennya buat gak ngajak-ngajak Kia main sama anak laki-laki karena takut adeknya jadi tambah tomboy." Ucap Susan sambil tersenyum.
"Istriku tomboy? apa iya, perasaan kayanya dia peminim banget gak ada tomboy tomboynya."
Gumam Kahfi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalian sampe hafal banget sama nama temen laki laki Kia? mereka sempet pacaran ya sampe seringnya mereka berduaan? karena ana liat sampai sekarang mereka kelihatan masih akrab. Tanya Kahfi ingin tahu.
"Kenapa anta cemburu ya sama laki laki bernama Brayen itu?"
Ucap Dimas laki laki yang bersama mereka yang kebetulan bertemu di acara tersebut karena pernah satu kampus.
"Cie, cieeee ada yang cemburu nih? Ledek Susan memgoda Kahfi yang sedikit salah tingkah karena ketahuan cemburu oleh Dimas.
Hanya Azizah yang tak berani angkat suara. Dia hanya diam yang matanya sesekali melirik pada pria berkacamata tersebut.
__ADS_1
"Sudah, sudah gak baik menggoda teman!" Ucap Azizah sedikit ketus penuh penekanan.
Hampir satu jam Kahfi dan Kia diacara pesta pernikahan tersebut karena mereka banyak bertemu dengan teman temanya hingga mereka lupa kalau mereka datang berdua dan sibuk dengan urusan mereka masing masing.
Kahfi yang sadar dengan hal itu langsung merogoh benda pipih yang ada di saku celananya dan menelepon Kia.
"Assalamu'alaikum. Sayang ada dimana? masih bersama Kania dan Fatur kah??
0oh gitu ya sudah, mas di tempat yang tadi dek lewati ya.
Ya mas gak akan kemana mana kok. Mas tunggu ya!" Ucap Kahfi yang sudah mengakhiri teleponnya.
"Ehem!"
Dehem Suzan
"Beda dah yang udah punya istri panggilannya pake sayang segala. Perasaan dulu kalau ada akhwat yang kasih CV aja kaya ogah ogahan. Udah ketemu bidadari kayanya dah jadi ustadz bucin banget nh!"
Ledek Dimas. Namun perkataan itu seolah membuat hati Azizah merasa panas.
Seketika Kiapun datang dengan sedikit ada noda eskirm yang menempel di bawah dagunya.
"Assalamu'alaikum" Salam Kia kepada teman teman Kahafi. Seketika Kahfi langsung mendekat kepada Kia ketika semuanya sudah menjawab salamnya.
"Wa'alikum salam" Jawab mereka kompak. Dan Kahfi langsung mengelap sisa eskirm yang sudah agak mengering di dagu Kia. Hingga semuanya menatap kepada Kia dan Kahfi.
Kia yang menyadari hal itu wajahnya langsung memerah karena menahan malu.
"Yaa Allah mas Kahfi kenapa berbuat seperti ini di depan teman temannya. Gak tau apa aku malu diliatin mereka semuanya." Bathin Kia.
"Ehem... ehem. Bisa kali mesra mesraanya nanti pas di rumah aja. Gak kasian apa ama kita kita yang zomblo karena Allah ini. Mata kita jadi ternodai ini melihat adegan di depan mata." Celetuk Dimas yang semenjak kuliah selalu asal nyeletuk.
"Inilah nikmatnya pernikahan, segala sesuatu yang dulunya haram karena sudah adanya pernikahan maka menjadi halal dan ibadah. Makanya kalian semua segerakanlah menikah" Jawab Kahfi yang berusaha menghapus sisa eskirm tersebut.
"Ya makanya cariin dong sama antum. Gak muluk muluk kok ana mau juga sama yang kaya antum. Sebelas dua belasnya yang kaya gitu dah, kalau gak di bawa itu dikit juga gak apa-apa, ane langsung ajak ke pengulu dah." Canda Dimas yang melihat kecantikan Kia.
"Stttt, kondisikan mata antum. Jangan liat istri ana sampe segitunya." Jawab Kahfi yang langsung menutup mata Dimas dengan tangannya.
"Yaa salam. Antum pelit bener, ane cuma liat apa yang ada di depan mata ane juga." Ya udah deh ane pamit pulang ya. Jangan lupa ya cariin ane yang di bawah ini sedikit juga ane rela. Ucap Dimas yang kini melangkahkan kakinya untuk pulang dan meninggalkan mereka berempat.
"Ya susah akh Kahfi ana juga pamit ya. Semoga lain kali ana bisa kenal lebih dekat dengan istri antum walaupun kami dulu pernah kenal." Ucap Susan sambil berpamitan.
"Siapa dua wanita itu, mereka pernah kenal dengan aku? siapa mereka, tapi aku juga seakan tak asing dengan suara barusan!"
Gumam Kia.
Setelah Kia dan Kahfi menjawab salam. Kahfi dan Kia pun berpamitan kepada Kinanti dan Fauzan setelah memberikan ucapan selamat dan doa untuk mereka berdua. Di ikuti Kania dan Fatur yang mengatar sampai depan pintu gedung. Kahfi dan Kiapun melambaikan tangan dan ciuman jauh untuk Kania dan Fatur.
"Nanti aku dan Kania akan main ke panti untuk bisa main lagi sama kak Aulia di taman bunga. Sampaikan salam kami untuk teman teman di panti ya kak!" Teriak Fatur sebelum Kia dan Kahafi menjauh dari mereka.
...****************...
Di dalam mobil.
Kia yang sudah terlihat lelah terdiam matanya sambil melihat ke arah depan kaca mobil. Seketika tangan Kahfi menyentuh tangan kanan Kia dengan lembut.
"Sayang, dek cape ya?" Tanyanya sambil fokus menyetir.
"Sedikit, mas!" Jawabnya lembut
"Kalau dek cape dan gantuk, gak apa apa tidur aja, sayang!" ucap Kahfi sambil mengelus pangkal kepala Kia.
"Gak apa, Mas. Dek gak terlalu mengatuk kok. Kalau dek tidur nanti mas gak ada yang temenin ngobrol dong."
Ucap Kia sambil menatap peria berkacamata tersebut dan mengelus bahunya dengan lembut.
" Gak apa apa, sayang. Mas udah biasa kok menyetir tanpa ada yang nemenin. Udah dek tidur aja biar nanti pas sampe rumah dek sedikit bertenaga dan seger!" Ucap Kahfi sekilas melihat Kia.
"Mas sebenarnya siapa dua akhwat tadi? kok dia bilang penah kenal dek?" tapi dek juga gak asing sama wanita tadi, cuma yang satunya kaya liat dek sedikit aneh. ucap Kia
"Aneh? aneh kenapa? emang dek tau, kan mereka pake nikob dari mana dek tau kalau mereka liat sayangnya mas aneh?
__ADS_1
"Ya kan kelijatan, mas. Dari sorotan matanya. Jangan jangan salah satunya mantan, mas ya?" Selidik Kia
"Kalu ia emang kenapa, sayangnya mas cemburu ya?" Ledek Kahfi sambil menghentikan mobilnya ketika melihat reaksi Kia dengan ucapannya barusan.