
Tibalah Kia dan Kahfi di pesta pernikahan Brayen dan Ulan. Keduanya adalah sahabat baik Kia, Brayen teman kecil Kia yang selalu setia mendampingi Kia sampai ia bekerja di kantor yang sama. Ulan adalah sahabat sewaktu Kia masih kerja di butik. Kurang lebihnya Ulan tau kisah kisah pilu yang pernah Kia lalui.
Kaki Kia menuju kamar pengantin disebuah hotel yang sudah Ulan dan Bryen sewa untuk pestanya yang sekali seumur hidup itu. Banyak tamu tamu penting, teman dan rekan kerja Brayen yang menemaninya di acara akad. Ulan melihat sahabatnya dari cermin yang baru saja menutup pintu kamar. Kia memberikan senyum terbaik untuk sahabatnya lalu keduanya saling berpelukan dengan rasa haru biru yang menghiasi keduanya.
"Barokallah ya Ulan, akhirnya kamu melepas masa lajangmu dengan teman kecilku. Pokoknya aku seneng banget liat sahabatku menikah hari ini!" Ucap Kia yang mencium pipi kanan kiri Ulan sambil terus memeluknya.
"Ahhh, kamu curang datangnya pas hari H, harusnya kamu tuh nemenin aku dari pas lamaran dan bantuin aku buat nyiapin acara aku juga. Tapi sayang sekarang kamu udah jadi orang yang jauh." Ucap Ulan yang meraup wajah Kia.
Setelah semuanya siap kini sang pengantin wanita didekatkan dengan sang pengantin laki laki. Kia yang mengatarkan Ulan untuk sampai di kursi sang pengantin hanya bisa mengulas senyum kepada kedua sahabatnya tersebut. Kia begitu tak jub dengan Ulan yang begitu berbeda, cantik dan anggun. Dengan balutan kebaya kekinian dengan hiasan slorski yang senada dengan warna gaun kebaya yang berwarna coklat muda.
"Warna dan model gaunya hampir mirif dengan gaun yang dipilihkan Prama ketika itu. Ahhh, udah Kia jangan di ingat ingat lagi.
Bathin Kia
"Aku gak nyangka banget kalau kedua sahabatku ini disatukan dalam pelaminan. Pokoknya aku adalah orang yang paling bahagia melihat kalian berdua di pelaminan ini."
Ucap Kia sambil memegangi kedua tangan Ulan yang tak habis habisnya memuji kecantikan Ulan.
Kahfi yang ada disebelah Kia pun ikut tersenyum melihat sang istri begitu bahagia melihat sahabatnya menikah.
"Jangan salah ya, guwe bener bener dek degan waktu tadi akad takut salah ngucapin." Ucap Brayen yang menarik tangan Kahfi untuk foto bersama mereka ber tiga
.
Kahfi yang kaget sedikit membelalakan matanya ke arah Kia, dan Kiapun mengisyaratkan agar ia menurut dengan ajakan Brayen.
"Jangan kasar begitu doang, Yen. Liat tuh saumi aku ampe syock gitu ditarik paksa sama you"
Ucap Kia sambil menarik jas hitam yang Brayen kenakan.
"Maaf, maaf ya pak ustadz maklum ini terlalu semangat." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Panggil aja Kahfi, gak usah pake ustdz." Jawab Kahfi sambil memegang bahu Brayen dan akhirnya dua pasang penganti baru itupun berfoto bersama dengan gaya formal dan gaya narsiznya.
"Lan, maaf ya aku gak sampe selesai nemenin kamu!" Ucap Kia sedih.
"Loh kenapa, emang? curang banget dah. Pokoknya kamu gak aku izinin pulang kalau acaranya belum selesai." Ucap Ulan sambil memegangi tangan sabahatnya tersebut yang takut kehilangan.
"Tuh tanya sama suamiku. Izin dulu sama Mas Kahfi?" Ucap Kia sambil majukan bibirnya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya hari ini ada rapat di kampus jadi saya tidak bisa menemani Kia sampai acara selesai. Bila Kia mau sampe acara selesai gak apa apa nanti setelah saya selesai rapat bisa saya jemput!" Jelas Kahfi mengizinkan sang istri menani sahabatnya.
"Beneran, mas Kahfi?" Tuh Kia udah dapet lampu hijau dari mas Kahfi!"
Ucap Ulan sambil loncat kegirangan di atas pelamin hingga membuat Kia menahan bahu Ulan untuk menghentikan aksinya.
"Ulan, Ihhh kamu tuh agun dikit apa. Lagi jadi ratu seharian juga. Cegah Kia seperti menenangkan anak anak yang dapat balon dari ornagtuanya
****
Setelah Kahfi berpamitan untuk pergi ke acara rapat. Kia kini duduk dengan Naura adik Brayen. Sambil membahas kedekatannya dengan Huda. Yang kebetulan beberapa bulan yang lalu Naura sudah masuk kerja di kantor cabang perusahaan yang Huda pimpin.
"Kak Kia gimana rasanya jadi istri pak dosen plus ustadz?" Tanya Naura sambil mengambil salad buah.
"Hemmm, gimana ya. Banyak hal yang bisa kakak pelajari sih. Kakak banyak belajar dengan mas Kahfi, beliau sosok suami yang pengertian, rajin, romantis dan kadang lebih kemanjanya. Wajar sih mas Kahfi bersikap manja mungkin karena ia seseorang yang haus akan kasih sayang. Tapi Allah Maha Penyayang sehingga beliau dipertemukan dengan keluarga kiayi Mansur yang menjadikannya benar benar tanpa perbedaan antar anak andung dan anak angkat."
Ucap Kia menjelaskan.
"Ooh gitu, jadi mas Kahfi itu anak angkat kiyai Mansur? Ihhh, Kak Kia beruntung banget dapetin kak Kahfi ya, udah tampan, baik dan jiwa sosialnua itu yang Naura salut banget ama kak Kahfi. Keren dah pokoknya!" Ucap Naura bahagia mendengar cerita Kia dan mulutnya sambil menikmati salda buah yang ia pegang.
"Ya. Kak Kia yang beruntung tapi mas Kahfi yang kena musiabah depetian kakak. Ucap Kia diiringi canda tawa.
"Semua sudah jadi suratan taqdir yang harus kakak lalui, Nura. Gimana hubungan kamu sama pak Huda, enak doang sekarang kerja barengan jadi sering ketemu?" Ucap Kia yang tak menyadari kehadiran Huda.
Naura yang mendengar perkataan Kia hanya terdiam mematung. Pasti pria yang disebut sebut oleh Kia barusan mendengar perkataan Kia yang jaraknya keduanya tidak begitu jauh.
"Assalamu'alaikum" Salam dari Huda mendekati dua wanita yang sama sama ada di hatinya
Seketika Kia menoleh ke arah suara tersebut.
"Wa'alaikum salam" Ucap Kia dan Naura bersamaan.
"Panjang umurnya ya mas Huda baru aja kita ngomongin mas Huda udah dateng aja." Ucap Kia sambil melirik ke arah Naura.
"Ngomongin apaan nih. Ngomong ngomong suami kamu kemana, apa datang sendirian?" Tanya Huda kepada Kia yang ada di sebelah kirinya.
"Mas Kahfi kebetulan ada rapat di kampus. Jadi gak bisa nemenin Kia sampe acara selesai. Insya Allah nanti pas pulang dijemput lagi ke sini. Jelas Kia kepasa laki laki yang pernah menaruh hati padanya.
"Pak Huda sama siapa kesini?" tanya Naura celingukan mengedarkan pandangannya ke seluruh kerumunan orang orang yang abru datang. Takut takut Huda datang dengan seorang permpuan yang pernah datang ke kantornya waktu itu.
__ADS_1
"Saya sendiri saja, kenapa memang?" Tanya Huda
"Gak. Gak. Kenapa kenapa kok, pak. Kirain Naura pak Huda sama cewek yang waktu itu datang ke kantor. Ucap Naura tanpa sadar menunjukan rasa cemburunya.
Kia yang tau rasa cemburu pada Naura kini ia buka suara untuk menggoda keduanya.
"Cieee, ada yang cemburu kayanya tuh, Mas Huda. Peka dikit doang mas Huda sama calonnya. Canda Kia yang ditanggapi Huda dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
Naura yang mendapat godaan dari Kia hanya tersipu malu. Dan mempelkan badannya kepada Kia untuk menyembunyikan wajahnya bersemu merah.
"Perempuan itu hanya bagian dari masa lalu saya. Jadi sudah gak ada hubungannya lagi dengan saya. Jadi jangan ambil pusing dengan keberadaanya."
Ucap Huda sambil meraih minuman berwarna merah lalu meminumnya. Setelah air itu melepas rasa dahaganya Huda langsung meraih tangan Naura untuk menemaninya ke pelaminan menemui Brayen dan Ulan meninggalkan Kia yang kini sendiri.
Setelah Huda dan Naura menjauh dari pandangan Kia. Kia pun menuju salah satu kursi di mana ada beberpa orang yang sedang menikamti hidangan yang tersedia di meja tersebut sekilas ia melihat seseorang yang sudah lama tak ia jumpai.
*****
Kahfi yang sudah sampai di kampus langsung memasuki ruang rapat dan bergabung bersama doseb dosen yang lain yang sudah ada bebrapa yang datang begitu juga dengan Mesi dan temannya Kiki. Mesi mengulas senyum ketika Kahfi duduk yang kebetulan kursi mereka berhadap hadapan.
"Pak Kahfi, ini ada bebrapa berkas untuk bahan rapat hari ini." Pria berkemeja hitam itupun memberikannya di hadapan Kahfi.
"Ohh, ya baik. Terimakasih." Ucap Kahfi sambil meraih berkas teresebut.l?
Rapatpun di mulai setelah pimpinan direktur kampus bergabung. Semua mata tertuju pada sang pimpinan yang sedang membahas tentang semua yang saat ini menjadi problem kampus. Terkecuali Mesi yang sangat menikmati pemadangan yang ada di depan menjanya. Seseorang yang pernah ia sukai dan ia memberanikan diri untuk memberikan CV ta'aruf kepada sang pujaan hati.
Satu jam berlalu semua orang seolah mengertukan dahinya dengan segala keputusan pimpinan kampus di mana semua dosen harus bisa mengikuti apa yang sudah jadi keputusan pimpinan.
"Sepertinya bulan bulan ini aku akan sangat sibuk mengurusi ini semua. Kia pasti akan sering aku tinggalkan remi mengurus ini semua. Siapa yang bisa menemani Kia bila nanti aku ke luar kota. Ditambah lagi Kia yang ketakutan ketika Rendy sudah tau tempat tinggal kami. Yaa Robb." Gumam Kahfi dalam hati sambil terus memijit kepalanya.
"Sudah pak dosen ustadz jangan terlalu dipikirakan lebih baik kita jalani. Saya ngerti pak dosen ustadz ini pasti kepikiran istrinya yang akan sering di tinggal tinggal demi seminar seminar yang akan pak dosen ustadz jalani. Ucap laki laki berjas abu abu tua yang kebetulan salah satu dosen yang cukup dekat dengan Kahfi
"Ya pak Bambang. Ya mau gimana lagi saya sudah menolakpun pimpinan tetep aja milih saya." Ucap Kahfi diling senyum kepada lawan bicaranya.
"Tenang pak Kahfi, Kia itu wanita mandiri dan pemberani. Pasti dia akan menjaga dirinya demi sang suami tercinta." Ucap Ibu ibu berkacamata yang kebetulan salah satu teman Razi.
Mesi hanya diam ketika mendengar semua orang menyemangati Kahfi. Tidak dengan dirinya yang sepertinya akan mencari kesempatan karena akan mengikuti seminar itu berdua dengan Kahfi dan salah satu dosen laki laki yang baru bebrapa bulan bergabung dikampus tersebut.
Setelah semuanya bubar Kiki langsung berpamitan pada Mesi yang kebetulan ia sudah dijemput.
__ADS_1
"Mes, aku duluan ya. Pak Kahfi. Semangat buat mengikuti seminar dan pelatihan pelatihan lainnya. Ucapnya sambil menginggalkan Kahfi dan Mesi yang masih membereskan berkas berkas yang masih berceceran.