
Tibalah mereka berdua di rumah, keduanya tak lupa mengucapkan salam dan do'a masuk rumah. Kia yang terlihat sangat kelelahan langsung duduk di kursi ruang tamu setelah ia meletakan benda pipih di atas meja. Namun hal itu ia urungkan ketika jari telunjuknya menyentuh kursi yang sebentar telah menahan bobot tubuhnya. Debu pada kursi dan meja tersebut membuatnya tak nyaman. Kahfi yang melihat hal tersebut menjadi bertanya.
"Kenapa, sayang?"
Kia yang hendak mengambil kemoceng terhenti langkahnya dengan pertanyaan sang suami.
"Banyak debu, mas. Bukanya mas kemarin kemarin pulang ke rumah ya? kok rumah seperti sudah lama ditinggal ya, mas?"
"Mas tidur di hotel yang disiapkan oleh kampus dalam pelatihan dan seminar tersebut. Jadi mas gak jadi pulang ke rumah. Dek istirahat saja di kamar. Biar nanti mas minta tolong bi Asih untuk membersihkan rumah, ya?" Ucap Kahfi sambil merangkul sang istri dan mengajaknya ke dalam kamar.
"Oooh gitu.
Gak apa apa, mas. Nanti dek aja yang bebersih rumah, gak usah merepotkan bi Asih kasiahan sudah waktunya beliau istirahat."
"Ya sudah kalau gitu beberesnya besok aja ya? kita lakukan berdua itu akan terasa ringan dan menyenangkan. Oke sayang?" Tanya Kahfi yang meletakan koper dan tas di sisi lemari kamarnya.
Sejurus kemudian Kia memilih baju tidur untuknya dan juga sang suami. Ia mengambil handuk dan sambil membawa baju ganti yang sudah ia pegang untuk di bawa ke kamar mandi. Kahfi yang melihat istrinya menuju pintu kamar mandi langsung mengekor di belakang sang istri.
"Mas, mau apa? kok ikutin, dek? Tanya Kia yang menengok ke belakang.
"Gak kok, mas cuma mau bukain pintu kamar mandi aja buat, dek! Elaknya sambil tersenyum senyum menggoda sang istri.
"Modus nih!" Ucap Kia sambil menarik hidung mancung Kahfi lalu secepat kilat Kia mencoba masuk ke kamar mandi namun tangan Kahfi terlebih dahulu menahanya hingga Kia mengkerucutkan bibirnya.
"Boleh ya. Boleh. Boleh dong? Kan udah lama kita gak mandi bareng. Ya, sayang!" Dengan memanggut manggutkan kepalanya Kahfi memohon kepada sang istri.
Kia hanya tersenyum malu ketika tangan Kahfi menyentuh pipinya sambil menerobos masuk kamar mandi.
Akhirnya merekapun mandi berdua dengan bahagia dan penuh canda tawa, saling mengkrmasi rambut mereka bergantian. (Raeder jangan ngiri ya).
*****
Pukul setengah empat pagi Kia dan Kahfi sudah selesai melaksanakan sholat tahadzud dilanjutkan dengan tilawah Qur'an bersama dan saling bergantian membaca terjemahnya sampai waktu sudah menujukan pukul setengah lima sampai berkumandanglah suara azan shubuh di iringi riuh hujan yang begitu deras. Hingga akhirnya Kahfi mengurungkan niatnya untuk berangkat ke masjid ponpes dan melaksanakan sholat berjama'ah bersama sang istri di rumah.
Setelah selesai sholat Kia yang langsung menuju dapur hendak memasak air dan nasi membuatkan sarapan pagi dan teh jahe madu untuk sang suami tercinta. Sementara Kahfi membersihkan beberapa ruangan ruangan yang sudah berdebu karena hampir sepuluh hari mereka tinggalkan.
Hampir satu jam mereka berkutat dengan urusan masing masing. Tibalah Kia menyajikan sarapan nasigoreng seafood kesukaan sang suami.
"Dek, wanginya menggoda perut ini? mas tunda dulu ya bersih bersihnya!" Ucap Kahfi yang sudah mencuci tangannya dan menghampiri sang istri yang sedang menata piring untuk sang suami tercinta. Perlahan kedua tangan Kahfi menjulur ke perut Kia yang berdiri di dekat meja makan membelakangi sang suami.
"Masss... Duduk ya kita makan sama sama!" Ucap Kia yang sedikit kegelian dengan kelakuan sang suami mengunyel ngunyel wajahnya ke punggung sang istri.
"Terimakasih ya sayang untuk sajian sarapannya!" Kahfi yang secepat kilat kini sudah mencium pipi kiri sang istri dari samping.
__ADS_1
"Sama sama. Suamiku sayang." Kia yang sudah memasukan nasi goreng ke piring yang sudah ia siapkan.
Dua puluh menitan mereka menyelesaikan sarapannya namun tubuh Kahfi belum beranjak dari kursi yang ia duduki. Perlahan ia menanyakan sesuatu yang beberapa hari telah mengganjal hatinya.
"Sayang. Mas boleh bertanya dan tau gak?" Tanya nya sambil meletakan piring yang hendak Kia bawa ke dapur dan Kahfi mengajak Kia untuk duduk kembali. Sedikit menggeserkan kursi yang hendak Kia duduki ke hadapannya.
"Nanya apa, mas?" Tanya Kia bingung dengan tatapan sang suami yang sedikir serius.
"Beberapa hari yang lalau mas menemukan map hijau di dalam mobil mas. Mas tidak sengaja membukanya karena mas fikir itu map milik mas. Dan pas mas buka ternyata isinya sebuah sertifikat rumah atas nama, dek?" Mas baru membukanya pas mas mau jemput dek di rumah ayah dan ibu.
Yang jadi pertanyaan mas. Sebelumnya rumah atau villa tersebut atas nama Prama tapi telah berubah atas nama dek di dalam sertifikat tersebut." Tanya Kahfi yang menatap lekat mata sang istri.
Wajah Kia seketika berubah seperti menahan ketakutan. Ia tundukan wajahnya dari tatapan sang suami yang ada di depannya begitu dekat. Dengan cepat Kahfi memegang dagu Kia membuat Kia menatap kembali wajah sang suami dengan seribu pertanyaan.
"Sebenarnya?" Ucap Kia terputus dengan satu pertanyaan lagi dari sang suami.
"Dek bisa menerima sertifikat itu dari siapa dan kapan? dan mengapa dek gak bilang terus terang sama, mas?" Kini kedua tangan Kahfi menggenggam erat tangan Kia yang sudah terasa dingin.
Kia terdiam bingung hendak mulai dari mana. Hingga Kahfi angkat bicara kembali.
"Kita ini suami istri, dek gak perlu takut sama mas. Mas ini suami dek. Jadi segala sesuatu yang terjadi pada dek mas harus tahu. Istri mas dapat harta dari pria lain. Dan mas tahu Prama itu mantan dek. Yang mungkin seumur hidup gak bisa dek lupakan. Tapi tolong hargai mas sebagai suami dek." Ucap Kahfi yang kini menundukan kepalanya sambil memijat mijat kepalanya. Hingga membuat Kia semakin serbasalah.
"Maaf, mas. Bukanya dek membelakangi mas. Tapi ketika itu mas sedang marah sama dek dengan akibat kejadian diacara pesta pernikahan Ulan dan Brayen. Niat, dek ketika mas pulang dek ingin menjelaskannya sama mas Kahfi. Dek tau dek salah. Dek juga sudah chat mas ketika hendak pergi dengan pak Huda waktu itu. Tapi chat dek gak mas balas. Telephon pun gak mas angkat.
Malam itu situasinya sangat sulit untuk Kia putuskan. Dilain sisi dek menunggu jawaban izin dari mas, di sisi lain Pak Prayoga sudah menelephon Pak Huda berkali kali untuk bisa membawa dek ke rumah pak Prayoga." Tutur Kia menceritakan kejadian malam itu.
"Terus dek tanpa menunggu jawaban dari mas, dek langsung ke rumah Pak Prayoga berdua dengan pak Huda?" Tanya Kahfi yang menatap lekat wajah Kia.
"Ya, mas.
Maaf, mas. Malam itu kondisi pak Prayoga sangat ngedrop. Asisten rumah tangga mereka menelepon Pak Huda dan mengabarkan bahwa pak Prayoga pingsan. Dengan cepat pak Huda langsung pulang dan hendak membawa pak Prayoga ke rumah sakit. Dek ikut karena asistenya bilang beliau terus memanggil nama, dek. Dan pak Huda memaksa dek untuk ikut karena ia takut kalau papahnya tidak kuat lagi.
Malam itu dek sudah ajak Naura untuk ikut bersama kami berdua agar tidak terjadi fitnah. Namun Ulan melarang karena ada sesi foto keluarga besar yang akan dilakukan.
Tibanya dek di rumah Pak Prayoga ternyata pak Parayoga sudah di bawa ke RS terdekat oleh tantenya pak Huda. Sampainya dek di Rumah Sakit. Pak Paryoga sudah siuman dan beliau memberikan sertifikat ini kepada, dek." Jelas Kia sambil membayangkan kejadian malam itu. Kini Kia memegang tangan Kahfi dan melatakkan tangan Kahdi ke pipinya.
"Percayalah, mas. Dek gak sedikitpun ingin berbuat durhaka kepada suami dek sendiri. Dek menerima ini karena pak Prayoga tak mau ingkar janji dengan almarhum kak Prama. Karena almarhum telah mengatas namakan villa ini untuk dek ketika kami meutuskan untuk menikah waktu itu.
Pak Prayoga tak ingin hal ini menjadi ganjalan dalam kehidupannya. Dek juga gak akan menempatkan villa ini. Ini akan dek serahkan kepada mas untuk mas bisa maanfaatkan keperluan panti dan ponpes kiyai Mansur." Ucap Kia lirih sambil memeluk sang suami.
"Kali ini mas maafkan dek. Tapi lain kali jangan ulangi hal ini lagi sebelum mendapat izin dari, mas ya!" Jawab Kahfi yang mengelus lembut kepala Kia dengan beberkali kali mengecupnya.
"Insyaa Allah, dek gak akan mengulanginya lagi. Hati dek hanya untuk mas Kahfi takkan terbagi lagi."Ucap Kia yang memaksakan tersenyum dipelukan Kahfi.
__ADS_1
"Mas gak akan ambil sertifikat ini. Dek saja yang simpan bila suatu saat dek ingin menjualnya pergunakanlah uangnya untuk kemasalahatan orang banyak. Insyaa Allah panti dan pondok pesantren Alamiin sudah cukup , jadi dek bisa berikan kepada lembaga yang lebih membutuhkan. Semoga dek juga tidak terhayut kembali dengan kenangan masa lalu dek." Ucap Kahfi yang beranjak dari kursinya dan meninggalkan Kia sendiri di meja makan.
****
Sore hari. Kia sedang menyiram tanaman di taman depan panti asuhan. Kegiatan itu telah lama tak Kia lakukam semenjak ia menikah dengan Kahfi. Sekarang digantikan oleh Dora anak dari bu Aisih dan pak Karim orang kepercayaan Kahfi sejak dulu.
Bu Asih mendekat ketika melihat bukan anaknya yang mengerjakan. Dengan cepat ia hendak meraih selang air yang telah Kia pegang.
"Yaa Allah neng Kia, ngapain? Biarin ini tugasnya Dora setiap hari, nanti baju neng Kia basah kena air." Ucapnya sambil mencegah. Namun Kia hanya terseyum dan tetap memegang erat selang tersebut.
"Gak apa, bi Asih! Kia sudah terbiasa kok, dulupun hal ini sering Kia lakukan, bukan? Kia hanya kangen dengan taman ini.
Dulu Kania dan Fatur yang sering nemenin Kia kalu Kia sedang menyiram bunga bunga di taman ini. Mereka biasanya sambil basah basahan sengaja biar bisa Kia mandiin." Kenang Kia sambil terus mengulas senyum
"Ngomong ngomong neng Kia sebut sebut nama Kania dan Fatur, tiga hari lalu mereka datang kesini dengan kakaknya dan suami dari kakaknya itu. Kania dan Fatur nyariin neng Kia, kangen katanya pengen ketemu." Ingat bi Asih sambil menemani Kia menyirami bunga.
"Beneran, bi? Yaa Allah, Kia kangen banget sama Kania dan Fatur. Hampir setiap hari kita itu ngabisin waktu di panti dan di rumah abah Dahlan. Kasian mereka jauh jauh kesini Kianya gak ada ya, bi? Sahut Kia sambil terus menyirami semua bunga bunga di sekeliling taman tersebut.
Dari kejauhan. Ada seseorang yang baru pulang dari ponpes menatap Kia sambil tersenyum senyum dari arah rumahnya.
"Ternyata dia disana. Mas cari cari kamu, dek. Ternyata orangnya lagi asyik banget nyiram bunga sambil ditemenin bi Asih." Gumam Kahfi.
"Ya mereka juga bilang kangen sama panti dan temen temen disini. Kania dan Fatur bagi bagiin coklat buat anak anak panti. Dan... Oh ya bibi lupa ada titipan juga buat neng Kia dari mereka. Sebentar ya neng bibi ambil dulu di rumah." Ucap bi Asih berlalu dari hadapan Kia menuju ke rumah yang beberapa langkah dari taman.
Kini Kahfi berjalan menuju keberadaan sang istri dengan sebuah tentengan pelastik berwarna bening, Kahfi sambil mengulas senyum mendekati Kia dan mencoba untuk mengerjai sang istri. Sendal Kahfi sengaja ia lepas dan berjalan mengendap endap dari belakang Kia. Sejurus mungkin tangan Kahfi menutup mata Kia.
Dari aroma baunya Kia sudah hafal betul kalau itu Kahfi. Kia yang masih memegang selang air yang masih mengalir dengan jahilnya ia mengerjai balik sang suami.
"Hayoo siapa?" Ucap Kahfi dengan menirukan suara ornag lain.
"Dek tahu ini masa Kahfi". Jawabnya sambil menyemprotkan air itu ke belakang hingga Kahfi kebasahan wajah dan baju yang ia gunankan.
Kia berteriak sambil terus tertawa ketika Kahfi mengnyiramkan air ketubuhnya hingga membuat keduanya basah basahan.
Mereka terlihat bahagia dan Kahfi sampai lupa dengan bungkusan yang ada di tangannya hingga makanan kesukaan Kia itu basah semuanya.
Bi Asih yang hendak memberikan paper bag kepada Kia akhirnya mengurukan niatnya karena melihat sepasang suami istri tersebut main siram siraman layaknya anak kecil yang perang bermain air sambil berlari larian mengitari taman
"Yaa ampun den Kahfi sama neng Kia ini emang pasangan yang ideal dan romantis. Ahhh coba sumiku juga bisa kaya gitu." Gumam bi Asih pada dirinya sendiri.
"Kenapa, ibu mau ya kaya den Kahfi dan neng Kia!" Ucap pak Karim yang membuat bu Asih tergaket dan spontan memukul bahu sang suami.
"Bapak ini, bikin ibu kaget aja. Untung aja ibu gak punya penyakit jantung. Ucap bu Asih yang masih syik menonton Kia dan Kahfi di taman.
__ADS_1
Namun lain dengan wajah seseorang yang seakan iri dengan kejadian yang ada di depan matanya. Ia hanya menatap sinis pada adegan Kia dan Kahfi.
"Seharusnya aku, bukan kamu yang bersama mas Kahfi. Karena aku orang yang lebih mengenal dirinya dari pada kamu, Kia." Bathinnya dan berlalu pergi dan masuk ke dalam rumah dengan hati yang kesal.