
ππJANGAN LUPA
LIKE
KOMEN
TIP
VOTE
DAN RATE NYA YA! ππ
ππππ ππ ππ
ππSELAMAT MEMBACA ππ
" Seperti yang tadi Kia bilang mas, setiap kali Kia melihat mas Huda, bayangan kak Prama selalu muncul di benak Kia."
Mas Huda memang bisa menerima kalau mas Huda bersama wanita yang mas Huda cintai tapi, wanita itu sebenarnya tidak cinta? dia menerima mas Huda karena mas Huda mirif dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya?
"Apakah itu tidak sakit?"
" Apakah itu akan adil untuk kehidupan mas Huda? Ucap Kia lirih.
Perasaanya seolah tak ingin menyakiti pria yang sudah begitu baik terhadapnya. Tapi akan 'kah adil bila ia hidup dalam bayang-bayang adiknya? mata Kia makin terasa panas. Ia tarik napas panjang dan mendongakan kepalanya agar air matanya tidak tumpah di hadapan Huda.
" Aku akan berusaha agar kamu bisa menerima ku sebagai mas Huda, bukan sebagai Prama adikku, Kia? Jawab Huda melemahkan intonasi suaranya yang menahan sedih.
" Sampai kapan, mas?"
tanyanya lagi yang kini berderai air mata. Yang tak bisa menatap pria yang kini sudah berkaca-kaca.
" Sampai kamu bisa menerima kehadiran diriku dan mencintaiku!"
Hiks ... hiks ... suara tangis Kia semakin tersedu. Yang tak tau bagaimana caranya meyakin kan Huda agar tidak terlalu berharap lebih padanya.
" Kia tidak bisa menjanjikan semua itu mas!"
" Kia, apa kamu meragukan hati ini?" Meragukan kesungguhanku kepadamu?" tanya Huda yang kini berlutut di hadapan Kia yang tertunduk dengan derai air mata yang tak henti.
Kia sedikit menggeserkan kursi yang ia duduki menghindari pria yang mencoba untuk mendekatinya.
" Mas janganlah mas Huda berlaku seperti ini!" Masih banyak wanita lain yang lebih baik dari Kia, mas!" Yang bisa membuat mas Huda bahagia dan hidup tanpa dibayang-bayangi masa lalu wanita yang mas cintai.
" Tidak Kia, aku hanya mencintai kamu, sejak awal aku melihat dirimu aku makin jatuh cinta padamu!"
" Tidak baik mas, bila kita terlalu mencintai manusia sedangkan yang pantas kita cintai sepenuh hati hanyalah Allah sang pemilik hati kita!"
" Tapi, Kia___
Ucapannya terhenti dengan balasan tutur kata Kia.
" Kita sama-sama mendekati-Nya ya, mas!" Kita berdo'a untuk masalah hati ini. Bila Allah meridhoi kita untuk bersama maka Allah akan mudahkan semuanya. Tapi bila tidak, kita harus ikhlas menerimanya!" Allah Yang Maha Membolak Balikan Hati hamba-Nya. Ucap Kia yang sudah sedikit tenang sambil mengusap sisa air matanya.
Huda hanya terdiam dengan kata-kata Kia, seolah ia kehabisan kata-kata untuk meyakinkan wanita yang sudah mengisi hatinya selama ini. Hanya satu anggukan kepala menandai persetujuan kata-kata Kia.
ππ
Suara motor metik terhenti di halaman rumah abah Dahlan. Seorang pria berkaca mata dan seorang anak perempuan bergamis hitam sambil memegang seikat bunga melati dan bunga mawar yang ia ikat dengan tali pelastik. Dengan semangatnya gadis kecil itu mendekat dimana Kia berada.
" Sepertinya ada yang mencarimu, Kia? Ucap Huda yang membuat tubuh Kia memutar ke arah belakang.
" Kakak cantik ... !" teriak Kania dengan sedikit berlari membawa bunga di tangan kanannya.
Kia berusaha untuk sedikit menghilangkan jejak sisa air matanya dengan usapan ibu jari pada kedua matanya.
" Wa'alaikumsalam, bidadari cantik kakak yang sholihah!" Sambut Kia dengan menyodorkan kedua tangannya seraya memeluk Kania kecil.
Assalamu'alaikum ... "Maaf Kania lupa mengucapkan salam"
__ADS_1
Kakak cantik habis nangis ya? pasti om jangkung itu yang sudah membuat kakak menangis" Ucap Kania sambil mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam pada Huda.
" Bukan, bukan om itu kok!" kakak tadi hanya kelilipan debu jadi mata kakak memerah!" Jawab Kia sedikit berbohong kepada gadis kecil itu.
Sementara Kahfi hanya terdiam berdiri dekat sepeda motor merahnya. Sambil melihat ke arah Kia dan Kania, tanpa mengetahui keberadaan Huda yang tertutup pohon dekat tiang rumah abah Dahlan.
" Kakak tampan jangan diam di situ sendirian nanti ada yang menculik, kakak!" nanti aku 'kan merasa sedih bila tidak ada kakak tampan." Teriak Kania sambil melambai-lambaikan tangannya seraya menyuruh Kahfi untuk menghampiri mereka.
" Kakak cantik ini bunga untuk kakak cantik!" tadi aku memetiknya untuk kakak bersama abang Fatur tapi kakak cantik sudah pulang duluan jadi, aku minta tolong sama kakak tampan untuk mengatarkanku kesini." Celoteh Kania yang kini Kia di dudukan di kursi bekas bobot tubuh Kia.
Huda hanya terdiam melihat tingkah laku-laku Kania yang seolah begitu dekat dengan Kia dan pria yang ia panggil 'Kakak tampan' pikirannya mulai beramin-main menerka akan pria yang kini mendekat pada mereka bertiga.
Sepertinya aku pernah melihat laki-laki ini, tapi dimana? ... oh ya, aku ingat pria ini bukanya waktu itu ada di acara pernikahan Razi dan Tari, waktu itu Kia mengobrol bersamanya. Gumam Huda.
" Assalamu'alaikum, maaf bila kedatangan kami mengganggu kalian berdua!" Ucap Kahfi yang menyalami Huda dan sekilas melirik ke arah Kia yang masih terlihat benar bahwa wanita itu habis menangis.
" Tidak, tidak sama sekali!" Ucap Huda seraya mengisyaratkan agar Kahfi duduk di dekatnya.
" Mas Huda ini adalah kak Kahfi, pemilik panti dimana Kia mengajar selama ini dan gadis kecil yang cantik ini namanya___
Kata-kata Kia terpotong karena Kania turun dari kursinya dan menghampiri Huda lalu menyodorkan tangan mungilnya kepada Huda.
" Aku Kania, om!" Om jangan bikin kakak cantikku menangis, kalau tidak nanti aku akan menjewer telinga om!" Tuturnya sambil menunjukan jari telunjuknya kepada Huda. Lalu ia kembali duduk dekat Kia.
" Kania ... panggil Kahfi penuh penekanan dan tatapan kepada Kania.
" Kamu tidak boleh bicara seperti itu kepada om yang baru kamu kenal, itu tidak baik, sayang!" Minta maaf ya sama omnya! Perintah Kahfi dengan lembut.
" Baik kakak tampanku!" Om ... Kania minta maaf ya, maaf kalu Kania tidak sopan kepada, om!"
Ucapnya seraya mencium tangan Huda dengan lembut.
" Tak apa gadis cantik, om tidak marah kok!" Ujar Huda seraya mengelus lembut pucuk kepala Kania.
" Kania mau es kirim gak, kak Aulia punya beberapa es krim di dalam, loh?"
" Aku mau, aku mau kakak cantik!" teriaknya kegirangan lalu meraih tangan Kia dan masuk ke dalam rumah.
***
Kini tinggallah Kahfi dan Huda berdua di luar. Keduanya hanya saling diam dengan peikirannya sendiri.
" Maaf akhi ini sepupu Kia atau teman Kia, karena ana baru memlihat antum? Tanya Kahfi buka suara.
" Saya Huda kakak dari calon Kia yang meninggal karena kecelakaan." Saya pernah melihat anda waktu acara pernikahan Razi dan Tari waktu itu!" Ucap Huda menegaskan.
" Benarkah? tapi kenapa ana tidak melihat antum? Razi itu adalah teman kuliah ana cuma beda semester, ana akrab dengan Razi hanya di kampus jadi ana pun baru mengetahui kalau Razi punya dua adik perempuan.
Ana mengenal Kia ketika dia mengajar di panti. Sebelumnya ana tidak mengetahui kalau dia adik Razi." Tutur Kahfi menjelaskan.
" Kania itu anak anda?" sepertinya dia begitu akrab dengan Kia layaknya seperti anak dan ibunya." Ucap Huda mengintrogasi.
" Kania itu adalah seorang anak kecil yang dititpkan kakaknya bersama abangnya Fatur. Kakaknya Kania datang ke panti saya karena, dia merasa tak mampu lagi membiayai adik-adiknya karena dia belum mendapar pekerjaan sedangkan rumah yang ia tempatipun akan di jual oleh pemiliknya, jadi dia tidak tau lagi harus menitifkan adik-adiknya kemana. Sampai akhirnya ia menemukan panti asuhan Al Kautsar!"
" Waktu itu Kania menangis, ketika kakaknya meninggalkan mereka di panti, dia sempat tidur bersama saya beberapa bulan di rumah saya di dekat panti." Makanya saya dan Kania begitu dekat karena hanya Kania yang paling kecil di panti di bandingkan anak-anak lain.
" Semenjak kehadiran Kia, Kania merasa Kia itu seperti pengganti dari kakaknya, yang sudah meninggalkannya di panti mungkin bahkan lebih, karena perhatian Kia begitu lebih dari seorang kakak. Ia rela menahan rasa traumanya pada darah demi mengobati luka Kania waktu Kania jatuh dan lututnya berdarah.
" Trauma akan darah? apa ini semua ada hubungannya dengan kejadian Prama? waktu kecelakaan?" Batin Huda.
Saya sangat bersyukur Kania bisa menemukan sosok pengganti kakaknya yang sepertinya kasih sayang yang Kia berikan layaknya seorang ibu. Tukas Kahfi menceritakan tentang Kania kecil.
" Saya pikir Kania itu anak anda!" Dan maafkan saya bila sudah salah menduga tentang anda."
" Tidak apa?, mungkin antum orang yang kesekian menilai saya dan Kania layaknya seorang ayah dan anak tanpa istri!" Ucap Kahfi diakhiri tawa kecil.
" Hahaha ... anda biasa saja." Lain waktu mampirlah keperusahaan papah saya, siapa tau saya bisa membantu keperluan panti asuhan yang di butuhkan, ya walau tidak banyak! Ucap Huda merendah.
" Hebat masih muda anda sudah punya perusahaan." Puji Kahfi.
__ADS_1
Ketika Kahfi dan Huda seperti kelihatan akrab dan banyak tawa yang Kia dengar dari dalam. Gadis kecil itupun datang dan duduk di pangkuan Kahfi.
" Kakak tampan sudah mengenal om ini, ya? Kania dengar kalian tertawa-tawa, jadi Kania juga ingin ikut tertawa dengan kakak tampan dan om caem. Celoteh Kania yang bibirnya masih ada sedikit sisa es krim di sudut kanan bibirnya.
Huda yang melihat itu berinisiatif untuk mengelap bekas es krim dengan tisu.
" Makasih ya om caem!" seraya mencubit kecil hidung Huda.
" Sama-sama gadis cantik. Lain waktu om akan ajak kamu dan teman-temanmu liburan ke kebun binatang dekat sini!" Kania, mau?
" Benarkah om caem? Hore ... hore ... tapi Kania sudah sering ke kebun binatang bersama kakak tampan dan teman-teman. Kania belum pernah ke pantai. Apa om caem mau membawa kami semua ke pantai? Tanyanya antusias.
" Inshaa Allah, Kania suka dengan pantai?" adik om juga suka sekali dengam pantai. Dulu om dan adik om sering sekali main di pantai bila liburan sekolah, kami berdua selalu berlari-lari dan bermain bola kadang juga kami berteriak bersama. Kenang Huda akan sosok Prama.
Kia yang mendengar cerita Huda seolah teringat akan sosok Prama yang pernah mengajaknya ke pantai ketika itu.
" Kakak cantik ... kakak cantik!" Panggil Kania yang melihat Kia terdiam tanpa menanggapi panggilan Kania karena ia sedang asik dengan lamunannya.
Akhirnya Kania pun menepuk paha Kia agar wanita bermata bulat itu tersadar dari lamunannya.
" Ahhh, ia kenapa, sayang?"
" Kakak cantik kenapa kok bengong? Kania pamit ya kakak cantik, karena kakak tampan harus mengajar di asrama." Ucap Kania yang sebenarnya masih ingin bersama Kia.
" Kania di sini saja dengan kakak, biarkan kak Kahfi berangkat mengajar!" nanti akan kakak bacakan buku cerita yang banyak, mau? Bujuk Kia.
" Tapi___"
gadis kecil itu melirik ke arah Kahfi seolah meminta persetujuan darinya.
Kahfi yang mengetahui maksud lirikan mata dari Kania. Ia seolah menyetujui permintaannya.
" Ya kamu boleh di sini dulu tapi jangan merepotkan kak Aulia, ya?"
" Benarkah kakak tampan? hore ... hore ... Terima kasih, Kania sayang banget sama kakak tampan?" teriak nya kegirangan.
Pada waktu Kahfi berpamitan untuk pulang tak lama kemudian Huda pun berpamitan untuk pulang.
" Om caem nanti main lagi kesini ya?" Kania akan menagih janji om caem! Ucap Kania sambil mencium punggung tangan Huda.
" Inshaa Allah, kelinci kecil!" tunggu om ya. Nanti om akan kabari lewat kakak cantik yang ada di sebelahmu, ok?" Ucap Huda melirik Kia sekilas.
" Siap om caem!" Hati-hati di jalan. Ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Huda pun berpamitan kepada Kia dan mengucapkan salam.
" Pikirkanlah masalah hati ini!" Akhir kata yang Huda ucapkan ketika tubuhnya berlalu dari Kia.
" Wa'alaikusalam!" balas Kia sambil menundukan pandangannya pada pria yang sudah berlalu dari hadapannya.
Bonus visual
Huda Purnama
Muhammad Kahfi Al Kautsar
Nakia Rahmadhani Aulia
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung----