Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
79. Berharap


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian Kahfi yang sakit dan Kia yang tiba tiba mual membuat Kahfi sedikit berharap pada istri tercintanya. Namun harapan itu sirna setelah Kahfi mendapat penjelasan dari sang istri bahwa Kia tidak biasa minum madu secara langsung. Biasanya dia mencampur madu tersebut dengan air hangat dan sedikit irisan jahe. Maka dari itu perut Kia tidak bisa menerima suapan madu yang Kahfi berikan hanya saja ia mencoba menghargai sang suami maka ia menerima madu yang Kahfi berikan kepadanya.


Siang ini Kahfi masih sibuk dengan urusannya, sejak kejadian tempo hari Kahfi seolah tak ingin membuat sang istri merasa bersalah karena belum ada tanda tanda Kia hamil. Sejenak ia melihat pada benda pipihnya. Dua sudut bibirnya melebar ketika mendapati pesan singkat dari sang istri tercinta dengan menujukan satu buah foto sang istri mengenakan baju yang dua hari lalu Kahfi belikan untuk Kia.


Tanpa membalas chat dari sang istri Kahfi langsung merpihkan meja kerjanya dan berniat untuk langsung pulang dari ruangan. Niat hati ingin segera cepat bertemu dengan sang istri. Namun langkah kakinya terhenti ketika seorang wanita yang ditemani seorang teman memanggilnya.


"Akh Kahfi!" teriak suara wanita tersebut menghentikan langkah kaki Kahfi.


Seketika Kahfi menoleh pada asal suara itu setelah ia menutup pintu ruangan dosen. Ia sudah hafal dengan suara wanita tersebut yang dirasa aneh mengapa wanita itu bisa ada di kampus tempat ia mengajar.


"Assalamu'alaikum." Ucap kedua wanita itu memberi salam.


"Wa'alaikum salam." Jawab Kahfi sambil melangkah pelan.


"Akhi mengajar di kampus ini kah? Tanya wanita tersebut.


"Ya. Sudah hampir satu tahun ana mengajar disini?


Ucap Kahfi yang ingin melanjutkan perkataanya namun tersanggah oleh wanita yang sekarang berjalan sejajar di sebelah kiri Kahfi.


"Ana juga mengajar di kampus ini, kebetulan hari pertama ana mengajar disini. Ucap Mesi yang kelihatan senang mendengar Kahfi menjadi dosen juga di kampus dimana ia akan sering bertemu dengan Kahafi sang pujaan hati semasa di kampus dulu.


"Maaf ukhti ana duluan karena ada tugas lain yang sedang menunggu ana." Ucap Kahfi tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya dengan kaki yang sedikit terburu buru.


"Ooh begitu. Silahkan, silahkan. Titip salam sama Kia ya, akhi!"


Ucapnya sedikit mengeraskan suaranya karena Kahfi sudah sedikit menjauh dari hadapannya.


"Mes. Lo kenal dengan dosen tadi? Tanya teman Mesi yang bernama Kiki yang kebetulan teman Mesi yang mengajaknya untuk melamar menjadi dosen di kampus teresebut.


"Ya. Beliau kakak kelas gue ketika kami satu almamater. Akhi Kahfi itu orang yang pernah gue ceritakan sama elo sebelum gue menikah dengan mas Akrom!" Ucap Mesi menjelaskan.


Kiki sedikit terkejut hingga menutup mulutnya dengan buku yang ada di tangannya dengan kaki yang mengimbangi langkah kaki Mesi.


"Jadi pria idaman yang sering elo ceritain itu dia. Pantesan lo masih kaya penasaran gitu secara wajahnya yang tampan dan penampilannya menarik begitu. Semua cewe juga bakalan tertarik sih sama tu orang. Tapi sayang sedikit angkuh orangnya." Ucap Kiki memberi penilaian.


"Dia angkuh mungkin sama gue doang sih, Ki!" Jawab Mesi pelan.


"Masa sih? Tapi kok elo bisa kenal sama istrinya dia?" Jangan bilang kalau istrinya itu temen deket elo ya? Tanya Kiki penasaran.


"Ceritanya panjang dah pokoknya. Yang jelas istrinya dia itu adalah mantan pegawai mamah gue waktu di butik. Dan gue juga kurang tau banyak gimana ceritanya Kahfi itu bisa nikah sama Kia."


Jelas Mesi yang sudah menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi cafe kampus.


"Ooh gitu. Tapi sebenernya elo nikah sama mas Akrom tulus kan? bukan jadiin mas Akrom pelampiasan elo karena cinta yang tak sampai itu?"


Ucap Kiki mengorek penjelasan dari Mesi.


Mesi pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ketika itu. Setelah pesanan yang mereka pesan sudah datang mereka asik menikmati makanan sambil bertukar cerita tentang masa lalunya.


Setengah jam kemudian mereka berdua pulang dengan kendaraan masing masing. Mesi yang merasa bahagia karena ia akan lebih sering melihat Kahfi di kampus yang sama. Kiki yang sudah di jemput oleh sang suami.


...*****...


Di perjalananan Kahfi seolah tak menyangka bahwa dirinya akan bertemu bahkan akan bekerja satu kampus dengan Mesi. Wanita yang bebrapa tahun lalu terobsesi bisa berdampingan dengan Kahfi. Namun satu dan lain hal Kahfi tidak menyukai cara Mesi dalam bergaul dengan lawan jenis hingga Kahfi selalu tak merespon setiap Mesi ingin lebih dekat dengannya.


Jam ditangan Kahfi sudah menunjukan pukul tiga sore. Kahfi merasa rindu karena sedari pagi ia sudah berangkat mengajar karena perjalanan yang lumayan memakan waktu. Rasa rindu pada sang istri begitu memuncah apa lagi setelah Kia mengirimkan foto dirinya dengan gamis yang ia berikan beberapa hari yang lalu.


"Yaa Allah kenapa aku bisa sekangen ini sama istriku padahal baru enam jam jauh darinya!" Ucap Kahfi sambil menyetir dan tetap fokus ke depan.


Satu pesan baru saja Kahfi terima dari sang istri. Namun ia tak menggubrisnya karena ingin cepat sampai ke rumah dan melepas lelahnya dengan sang istri tercinta.


Dua puluh menit kemudian mobil Kahfi sudah terpakir di depan rumahnya dengan cepat ia menutup pintu mobil. Salampun ia ucapkan di depan pintu rumahnya namun sahutan dari dalam tak terdengar olehnya. Kahfi meraih hendel pintu dan sepertinya pintu rumah masih terkunci.


"Assalamu'alaikum"


"Sayang"


"Sayang"


Teriak Kahfi memanggil sang istri. Sejurus kemudian Kahfi merogoh handphone yang ada di saku celanannya mencoba untuk menelepon sang istri.


Sambunganpun terhubung.


"Sayang. Dek dimana? kok gak izin dulu sama, mas. Sayang!" Ucap Kahfi sambil membuka pintu ruamahnya dan langsung meletakan tas di atas meja.

__ADS_1


"Dek tadi sudah chat sama mas, memangnya belum di baca ya?


Dek sedang di mall Rembulan menemani kak Fatimah dan Yazid beli perlengkapan untuk Yazid nanti di Kairo, mas!" Jawab Kia di sebrang telepon.


"Ya, mas belum lihat chat dari, dek. Udah semangat cepet cepet pulang buat ketemu bidadarinya, mas. Ehh, ternyata yang dikangeninya gak ada di rumah.


Ya sudah nanti bada ashar mas susul dek kesana ya!" Ucap Kahfi mengakhiri panggilan teleponnya.


****


Tibalah Kahfi di mall dimana Kia, Yazid dan kak Fatimah baru saja selesi melaksanakan sholat magrib. Dan Kahfi pun yang sudah ke luar dari area musholah tempat parkir. Tanpa pikir panjang lagi Kahfi langsung menuju keberadaan mereka bertiga.


Kia yang sudah hafal dengan gestur tubuh sang suami seketika menghampiri Kahfi yang matanya belum bisa menemukan keberadaan sang istri.


"Assalamu'alaikum, mas!" Ucap Kia sambil menepuk bahu kiri Kahfi.


Sontak Kahfi membalikan badannya dan menatap sang istri dengan senyum bahagia. Ciumtangan dan keningpun sudah menjadi kebiasaan mereka beredua hingga lupa kalau mereka kini ada di tempat umum.


"Ehemmm."


"Ehemmm!"


Yazida beredehem ria. Ketika menghampiri Kia dan Kahfi.


"Jangan usil dech!" Ucap Kahfi sebelum ia mendapat cemoohan dari sang adik angkat.


"Ia, ia dech. Buat pasangan suami istri bebas aja." Celetuknya sambil berlalu dan melambai lamabaikan tangan kanannya dan tangan kirinya menteng bawaan baju baju yang sudah ia beli tadi.


"Udah dech kalau ketemu berdua pasti bikin ribut. Mending kita cari restoran, kasian nih perut udah kerasa laper banget."


Ucap kak Fatimah sambil menarik tangan Kia dari tangan Kahfi.


"Kak, kok Kianya di ambil sih!" aku kan lagi melepas kangen sama istriku." Ucap Kahfi memelas sambil mengekor pada Kia dan Kak Fatimah.


"Kangen, kangenannya nanti aja di rumah kalau di luar Kia bebas sama kakak dulu ya" Sanggah kak Fatimah sambil memainkan manik matanya kepada adik angkatanya tersebut.


"Hemmm. Gitu banget, kaya gak pernah ngerasain masa masa pengantin baru aja nh kak Fatimah. Kahfi masih ingat betul waktu kakak dan mas Noval baru tiga bulanan nikah. Kak Fatimah kaya gak mau lepas sama mas Noval waktu kita jalan jalan ke pantai. Inget gak kak? Ucap Kahfi mengenang.


"Pokoknya hari ini istrimu kakak pinjam dulu ya, adekku yang paling tampan." Ujar kak Fatimah yang tak mau jauh dari Kia.


"Ya sudah Kahfi pasarah aja dech."


Setelah mereka berempat makan. Yazid dan kak Fatimahpun pamit untuk pulang duluan karena suami dari kak Fatimah sudah berada di rumah kiyai Mansur.


Sedangkan Kahfi dan Kia masih ingin berjalan jalan dan mencari sesuatu untuk ia beli.


Seketika Kaki Kia terhenti ketika ia melihat toko perlengkapan bayi.


"Mas, kita lihat ke dalam yuk! dek mau cari cari kado untuk keponakan kita nanti. Karena kandungan Tari sudah masuk usia delapan bulan." Ucap Kia sambil menarik tangan Kahfi


Tanpa menunggu lama Kia langsung mengelilingi setiap sudut toko tersebut. Ia tertarik dengan baju bayi yang berwarna pink yang menurutnya itu sangat lucu bila suatu saat bisa memiliki anak permpuan.


"Ini lucu sekali ya, mas? Sayang anak aa Razi jenis kelaminnya laki laki."


Ucapnya sambil mengelus lembut baju dres tersebut lalu ia cium dan dekap. Kahfi yang melihat tingkah laku sang istri hanya tersenyum.


"Kalau dek suka beli saja. Siapa tau Allah kasih kita kepercayaan untuk memiliki anak permpuam."


Ucap Kahfi sambil merangkul bahu Kia dan ikut memegang dres bayi tersebut.


"Aamiin. Semoga saja ya, mas. Tapi maaf, belum ada tanda tanda di dalam perut dek ini!"


Ucap Kia sambil mendongakkan wajahnya ke hadapan Kahfi dan meraih tangan Kahfi untuk memegang perutnya yang masih rata


"Gak apa apa, sayang. Sabar aja dulu, pernikahan kita kan baru mau ke dua bulan. Allah masih mengizinkan kita untuk menikmati masa masa pacaraan dulu. biar kita bisa sama sama saling mengenal pasangan kita masing masing. Ya kan, sayang?"


Setengah jam Kia memilih milih barang untuk hadiah sang ponakan barunya. Kia memutuskan membelikan stroller berwarna biru dan lima set baju baju bayi dan dua kokok bayi untuk anak Tari dan abangnya Razi.


*****


Tibalah Kahfi dan Kia di rumah. Kahfi yang sudah sangat sibuk menurun nurunkan barang belanjaan yang baru saja mereka beli berdua. Kia yang sibuk menata barang barang tersebut hingga hatinya bertanya tanya dengan bungkusan satu paperbag yang ia rasa ia tidak membelinya tadi.


"Mas!" Teriak Kia kepada Kahfi yang masih ada di luar hendak mengunci pintu rumah.


"Kenapa, sayang! Jawab Kahfi seraya hendak menghampiri sang istri namun Kia terlebih dahulu menemuinya dari ruangan kamar sebelah.

__ADS_1


"Ini belanjaan mas, ya? tapi dek tadi gak liat mas beli sesuatu buat, mas?" Tanya Kia bingung.


"Ooh itu?"


"Itu buat dek. Buka aja, sayang!"


Jawabnya sambil meluruskan badannya di atas sofa di depan tv.


Perlahan Kia membuka paparbag belanjaan tersebut. Ia sangat terkejut ketika melihat isinya dan itu termyata baju bayi permpuan yang tadi ingin Kia beli namun ia ragu. Diam diam Kahfi membelikannya untuk sang istri karena ia melihat Kia begitu menyukai baju baju bayi permpuan tersebut dari ekspresi wajahnya.


Mata Kia mulai berkaca kaca dengan cepat ia memeluk Kahfi yang sedang berbaring di atas sofa. Kini tubuh sang istri sudah ada di atas Kahfi dengan buliran air mata Kia mengucapkan terimakasih kepada sang suami.


"Maafin dek ya mas. Belum bisa memberikan kebahgiaan sama, mas. Apalagi bulan ini belum ada tanda tanda calon bayi di perut, dek."


Ucap Kia sendu dan penuh kesedihan.


Perlahan Kahfi menge cup kening Kia dan meraup wajah sang istri dan menatap wajahnya dengan tidak ada jarak yang memisakan mereka berdua. Kahfi bisa melihat keseihan wajah sang istri.


"Seperti yang tadi mas bilang, sayang. Mas tidak mempermasalahkan itu semua.


Jangan kahwatir dengan keturunan untuk kita. Allah masih memberikan kesempatan untuk kita saling mengenal satu sama lain.


jangan permasalahkan hal ini ya, sayang. Mas bahagia banget bisa berjodoh dengan dek.


Untuk masalah anak kita masih punya banyak waktu untuk itu semua. Yang penting kita sudah ikhtiar, berdo'a selanjutnya kita pasrahkan saja kepada yang Kuasa. Kapan waktunya pasti Allah akan memberikan kita kepercayaan untuk memiliki keturunan. Ya, sayang. Jangan sedih lagi, ya!.


Ucap Kahfi menghibur sang istri yang kini sudah ada di pelukamnya dengan wajah sedikit memaksakan senyuman.


"Terimakasih ya, mas. Dek juga berayukur berjodoh dengan mas. Karena mas dengan sabar mau menerima dek dengan apanya diri dek. Yang mungkin wanita di luaran sana banyak berharap bisa bersuamikan mas Kahfi yang sholih, tampan dan berjiwa sosial yang tinggi."


Ucap Kia sambil memainkan hidungancung sang suami.


"Gak boleh bilang gitu. Kita sama sama saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing masing.


Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada Kia dan dengan cepatnya Kahfi melum mat bibir Kia dengan lembut.


Kia hanya pasrah dengan gerakan sang suami dan ia pun mencoba untuk membalas lum atan tersebut sambil menatap bola mata sang suami yang sendu, lalu tangan Kia membelai lembut rambut Kahfi.


Setelah berapa detiik Kahfi melepaskannya karena ia tau sang istri seperti sulit untuk bernafas.


"Sayangnya mas udah kecapean ya? Maaf ya sayang. Mas dari siang memendam kangen sama dek. Berharap tadi pas pulang cepat, bisa meluk meluk dek melepaskan kerinduan. Ehhh, ternyata istri mas yang cantik dan sholihah ini gak ada di rumah."


Ucap Kahfi sambil membersihkan sisa air liur pada bibir Kia akibat perbuatannya.


"Ya maaf." Ucap Kia yang kini sudah duduk di pangkuan Kahfi dan melepaskan jilbab yang masih menempel pada kepalanya.


"Sayang kita bobo yuk. Pasti' dek juga sudah lelah dan ngatuk kan?"


"Sedikit sih, mas."


"Hemmm. Kalau gitu boleh dong malam ini kita nyicil adonan dede bayi lagi!"


Ucap Kahfi sambil menggendong Kia ke dalam kamar.


"Masss...!"


Lepasin, nanti kalau dek terjatuh gimana?" Ucap Kia sambil memukul bahu Kahfi.


"Dek nya jangan bergerak nanti akan jauh beneran nih!"


Ucap Kahfi sambil membaringkan Kia di atas tempat tidur.


"Dek bersih bersiih dulu ya, mas. Gk nyaman badan kerasa lengket."


Ucap Kia yang bangkit dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi.


Baru bebrapa menit Kia di dalam kamar mandi, tiba tiba kepalanya muncul di pintu.


"Masss!" Panggil Kia manja


"Ya sayang!" jawab Kahfi


"Tamu tak di undang datang!"


Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya.

__ADS_1


Kahfi yang mendengar itu hanya bisa pasrah. Ternyata seminggu ini ia harus bersabar dan berpuasa dulu untuk menunggu tamu tak di undang itu pergi.


__ADS_2