Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
40. Kenangan Gaun Pengantin


__ADS_3

Malam hari. Berawal dari sebuah obrolan dan canda-candaan kecil yang menghias keharmonisan dari keluarga pak Muhamad Hasbi. Setelah semuanya selesai dengan makan malamnya, mereka masih saja asyik di kursi masing-masing. Ketika di meja makan mereka mewajibkan meninggalkan ponselnya di kamar masing-masing, agar ketika maka tidak ada yang sibuk dengan benda pipihnya.


"Ehem ... Yang mau nikah semangat banget ni cari uangnya. Udah punya ruko kecil di mesir sana masih mau menjelajahi bisnis di sini dan menjadi dosen pula. Celetuk Pak Hasbi yang menatap anak laki-lakinya yang seolah banyak yang dipikirkannya.


"Ahh, ayah bisa aja." Razi cuma mau memperbaiki ekonomi keluarga kita yah, walau bagaimana pun kan Razi kuliah sudah banyak mengeluarkan biaya. Razi cuma ingin ayah gak cape-cape lagi untuk berkeja. Ucap Razi yang menatap pria paruh baya yang ada di hadapannya.


"Iya ayah ngerti a," cuma ayah gak mau kamu sibuk dengan semua urusanmu beberapa hari ini sampe kamu lupa untuk acara walimahmu yang kurang dari 2 bulan.


"Ya, a... Aa kan belum siapin gaun penganti, hantaran dan semua keperluan buat acara nanti, kalau aa sibuk gini gimana, coba? Tambah bu Aisyah yang sedikit melirik pada Kia dengan wajah yang tidak segembira tadi.


Akhirnya Kia pun memberikan saran yang sudah lama ingin ia sampaikan.


" Aa kalu Kia boleh saran gimana aa sama Tari gak usah pesen gaun pengantin lagi, kan postur tubuh dan tinggi badan aa sama almarhum Kak Prama hampir sama dan postur tubuh Kia dan Taripun hampir sama, gimana kalau aa dan Tari pake baju pengantin Kia aja!" Ucapnya seolah memperkuat dirinya untuk tidak menunjukan wajah sedihnya.


"Tapi, kak."


Ucap Rahma yang terporong oleh Razi yang tak setuju akan usulan adiknya itu.


"Itu tidak baik, dek. Apa kata orngtuanya Tari kalau aa sama Tari menggunakan baju pengantin yang bukan pilihan atau keinginan Tari, apa dia nanti tidak tersinggung" hah! Ucap Razi yang menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, sayang ... Pasti seorang penganti wanita pasti punya impian tentang baju pengantin yang akan ia gunakan di moment sakralnya. Maaf ya sayang, bukanya ibu dan aa mu menolak saran dari kamu, karena ini adalah hari bersejarah buat Tari. Tukas bu Aisyah memberi pengertian kepada anak gadisnya yang duduk di sebelah Rahma.


" Begini saja, nanti coba kamu bicara langsung sama Tari. Siapa tau Tari mau menerima saranmu. Kali ini pak Hasbi ikut memberikan jalan tengah untuk masalah ini.


"Tapi, kak ... Kakak kan nanti bisa memakai gaun pengantin itu bila kakak sudah mendapatkan pengganti dari kak Prama. Itu akan menjadi sesuatu yang bersejarah buat kenangan kakak dan kak Prama, Ya kan, bu?" Ucap Rahma yang di tatap tajam oleh ibunya dan juga Razi.

__ADS_1


Haduh ini anak segala bilang kaya gitu lagi. Batin Razi.


"Stttt ... Rahma, kamu ini bicara apa sih. Sudah kamu selesaikan tugas kamu dulu sana! Perintah bu Aisyah yang menyadari perubahan wajah Kia yang sudah membendung air terjuan yang akan mengalir dari kedua matanya.


"Hmmm, ibuu...?"


Aku juga kan bagian dari keluarga ini, masa aku gak boleh ikut campur?" Bangkitnya Rahma dari kursi yang sudah ia dorong ke belakang dengan pakasa dan sedikit mengkrucutkan bibirnya menandakan kekecewaan yang mungkin dia masih dianggap anak kecil.


"Ya sudah kalau begitu, Kia masuk kamar karena sudah ngatuk." Ucapnya bohong seraya menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Nak, sayang ... Dengarkan dulu!"


Seraya bu Aisyah hendak mencegah Kia untuk pergi ke kamarnya karena, bu Aisyah tidak ingin Kia bersedih lagi.


Dengan cepat pula Razi meraih tangan bu Aisyah agar bu Aisyah tidak usah khwatir dengan Kia. "Ibu gak usah susul Kia dulu, biarkan dia sendiri! ada kalanya dia akan memahami semua ini dengan baik. Suasana hatinya belum begitu baik beberapa hari ini. Pasti dia hanya merasa sedih karena, belum bisa menerima kenyataan bahwa Prama telah tiada.


Di dalam kamar. Setelah aku menutup dan ku kunci pintu kamarku. Ku jatuhkan tubuh ini tepat di belakang pintu. Hatiku bagaikan tersayat sembilu mendengar perkataan Rahma, yaa Allah mungkinkah aku akan menemukan jodohku lagi? Ataukah aku akan merasakan rasa sakit ini lagi? Aku hanya pasrah kepadaMu bila Engkau pertemukan aku dengan Jodoh Pilihan-Mu. Namun bisakah aku melupakan kenangan manis bersama kak Prama? Apa aku akan seperti ini?. Banyak pertanyaan dalam hati ini. Perlahan ku lihat sebuah kardus besar bertuliskan nama percetakan yang sudah mengirim kardus besar beriisi undangan yang akan di sebarkan kepada kerabat, sahabat dan rekan kerjaku di bawah tempat tidurku.


Perlahan ku buka perekat yang sangat kuat pada kardus tersebut, kuraih gunting yang ada di meja untuk memudahkanku membuka kardus dan melihat rancangan undangan yang sudah ia pesan waktu itu.


Ku ambil satu buah undangan yang sudah ada nama seseorang yang akan diundangnya. "Lihat kak, undangan ini begitu indah? kakak paling pandai dalam memilih segala hal untukku, kakak paling mengerti kalau aku tidak bisa memilih undangan yang sederhana namun terkesan elegan.


" Coba kakak lihat, di sini sudah ada nama kita berdua "Menikah Prama Purnama dan Nakia Rahmadhani Aulia" nama kita terukir indah, kak!"


Jariku mengikuti setiap huruf yang tertera dalam undangam tersebut sebuah nama yang di tulis dengan tinta emas dan terlihat jelas namaku dan dirinya yang begitu menonjol. Ku usap air mata yang mulai membasahi undangan ini. Ku cium namaku dan namanya sesekali ku dekap dengan hangatnya.

__ADS_1


Ku lihat ada sebuah kotak berukuran sedang yang sudah ku hafal benar sebuah kotak itu berasal dari mana. Aku tak tau kalau kotak dan kardus-kardus ini ada di bawah tempat tidurku. Ku coba untuk meraih kotak tersebut perlahan ku lepaskan simpul pita di atasnya. Ku lihat gaun penganti yang pernah ku pakai waktu di butik tante Renata ketika bersamanya.


"Lihat ... Lihat, kak! ini baju pengantin yang kakak pilihlan untuk ku, aku suka warna dan modelnya! Kakak selalu membuatku semakin jatuh hati karena kakak selau bisa memilihkan yang terbaik yang aku sukai.


Perlahan ku buka resleting belakang gaun pengantin, aku coba untuk memakainya walau belum tertutup sempurna punggungku, ku coba bercermin sambil terus menatap diriku yang bagaikan bak seorang putri kayangan walau, tak ku pakai jilbab pasangannya namun ku coba memakai mahkota di kepalaku. Aku mengoceh di depan cermin sendri.


"Lihat... Lihat aku sekarang, kak!" aku sudah memakai baju yang sudah kakak pilihkan. Mungkin bila kakak ada di sini, seminggu lagi aku bisa menggandeng tangan kakak seperti putri-putri kerajaan yang di gandeng mesra oleh sang pangeran yang tampan.


Hehe ... Masa putrinya mengis ya, kak? Kalau kakak liat aku jadi pengantin dan menangis pasti make up ku akan luntur dan kakak akan menjauhiku dan menganggap aku seperti nenek sihir karena, mataku penuh dengan nodah hitam bekas ailiner yang kebasahan karena air mataku. Aku terus menangisi sikap dan tingakah laku ku dalam cermin di meja riasku. Kuputar-putarkan tubuhku seloah aku yang akan menjadi pengantin esok hari.


Ku tunjukan aksiku seolah aku sedang menatapnya dan memeperagakan ekspresi wajahku yang seolah telah menerima cincin yang ia sematkan di jarimanisku selesai pembacaan ijab dan khobul.


"Aku, bisa gila dengan semua ini, aku benar-benar di luar kendali, ku sadari diriku sedang berhayal di depan cermin. Ku jatuhkan lagi tubuh ke atas lantai. Ku letakan mahkota yang ada di ke palaku di atas meja. Perlahan aku ingin melepaskan gaun pengantin yang aku gunakan. Namun, tubuhku mulai kehilangan tenaga. Untuk melepas gaun yang ada di tubuhku saja, aku tak bisa. Bagaiman caranya aku bisa merebahkan tubuhku di atas kasur? Perlahan mataku mulai lelah mungkin akibat terlalu lama aku menangis.


Dan tak terasa suara ayam terdengar di gendang telingaku, aku tersasar ternyata aku tertidur di bawah lantai sampai jampun menunjukan pukul 4 pagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung-----


__ADS_2