
Pekan ini merupakan liburan terakhir Kia dan Kahfi berada di kota B. Waktunya mereka untuk pulang ke kota X. Kia dan Kahfi sudah berpamitan kepada Bu Aisyah, pak Hasbby dan Rahma sang adik.
Rahma memeluk erat sang kakak, dengan jail Kia malah mencubit perut Rahma yang sedikit berisi. Rahma mengaduh kesakitan.
Dengan cepat Kia mencium pipi kanan dan kiri Rahma sambil memasukan uang ke saku bajunya.
Rahma tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih atas pemberian sang kakak selama berliburan Rahma sudah banyak dihujani hadiah-hadiah dari mulai baju, tas sekolah, sepatu, buku-buku novel kesukaannya dan sebuah laptop untuk Rahma.
Kia hanya ingin melihat adiknya bahagia dan lebih semangat lagi dalam belajar. "Ingat jangan boros-boros ya!" Kia memperingati.
Kahfi sudah menunggu di dalam mobil ketika Bu Aisyah dan pak Hasbby mencium anak perempuannya untuk kembali ke rumah suaminya. Lambaian tangan menjadi ritual saat perpisahan.
"Semoga kakak cepet dapet momongan ya, Bu! Biar di rumah kita nanti tambah rame dengan suara-suara anak kecil yang bermain. Ahhh, Rahma gak bisa ngebayangin nanti kakak akan tinggal disini kota ini lagi." Sambil bergelayut ditangan sang ibu Rahma dan Bu Asiyah memasuki rumah dan di ikuti pak Hasbby.
"Aamiin!" Ucap pak Hasbby dan Bu Aisyah bersamaan.
***
Di dalam perjalanan Kia sibuk dengan membalas chat dari Ulan. Senyumnya terukir ketika Ulan mengirimi foto jadul Kia ketika masih bekerja di butik. Dimana foto tersebut memperlihatkan wajah Kia yang kotor dengan debu di wajahnya. Kia masih ingat benar kejadian dalam kisah foto tersebut. Jari jemarinya begitu lincah membalas setiap chat yang Ulan kirimkan. Satu foto kenangan Kia dan Prama tak sengaja Ulan kirim, Kia membuka. Mata Kia membulat dan senyum di wajahnya memudar.
Kahfi menyadari perubahan wajah Kia hingga ada rasa ingin tahu. "Kenapa kok tiba-tiba jadi silent gitu, dek. Tadi kayanya senyum-senyum terus." Kahfi yang fokus menyetir.
Kia dengan cepat menghapus foto tersebut karena takut Kahfi melihat dan membuatnya cemburu. Kia membuang nafas dengan kasar tubuhnya sedikit mengarah ke arah Kahfi. "Gak kenapa-kenapa, tadi Ulan salah kirim aja." Kia menatap wajah Kahfi dari samping.
"Ulan yang salah kirim apa dek yang salah ketik nih? ledek Kahfi tersenyum sekilas ke samping Kia. "Ooh ya dek, kita mampir dulu ya ke rumah Naura, kata Brayen. Naura sedang main di rumahnya bersama Huda.
Mata Kia membulat. Ia seperti salah dengar dengan ucapan terkahir Kahfi yang memanggil Huda, biasnya ia menyebutnya dengan pak Huda. "Sejak kapan mas dekat dengan Brayen? mas sudah punya nomer kontak Brayen? yakin mas mau ketemu dengan mas Huda?" dengan satu jari telunjuk menempel pada bibir Kia yang sedikit di monyongkan.
Kahfi memberhentikan mobilnya ketika ucapan Kia berakhir. Wajahnya mendekat pada Kia. Kia diam ketika melihat wajah sang suami hanya beberapa inci dari wajahnya. Wajahnya memerah ketika Kahfi mencium sekilas pipi kanan Kia. "Jadi dek gak percaya nih sama suami sendiri!" Kia masih mematung dengan sikap sang suami yang begitu berani mengambil alih bibirnya saat ini.
Kia kehabisan nafas ketika ia mendorong wajah Kahfi dari hadapannya. "Massss. Ini di jalan?" Kia mengelap sisa ciuman sang suami dengan suara pelan karena malu.
"Abis dek, ngeledek mas gitu? nanyanya udah kaya kereta api."
Kahfi menyesuaikan duduknya dan mengelus kepala Kia. Dan mobilnya melaju perlahan. Kia terdiam atas tindakan suaminya yang di luar dugaannya. Matanya melihat ke arah jendela sambil mendengarkan penjelasan sang suami yang mulai akrab dengan sahabat masa kecilnya Brayen.
Gedung-gedung tinggi yang menjulang menjadi pemandangan yang Kia sadari bahwa ia akan sampai di dekat perumahan kediaman sang sahabat. Mobil Kahfi berhenti tepat di depan rumah Brayen. Kahfi dan Kia turun dari mobil. Kahfi mengambil sebuah kotak besar yang ketika itu akan Kia bawa ke pesta pernikahan Hudan dan Naura.
***
Ulan menyambut Kia di depan pintu rumah bersama Brayen. Di ruang tamu sudah ada Huda yang duduk sendiri sedangkan Naura sedang di dapur mengambil rujakan yang dibuatnya berdua bersama Ulan.
Kahfi menyalami Huda ketika ia sudah sampai di ruang tamu. Huda tersenyum begitu juga dengan Kahfi. Kia melewati Huda karena Ulan mengajaknya ke ruang belakang untuk menikmati rujak yang ia buat. Huda melirik sekilas ketika Kia melewatinya. Kahfi melirik dan duduk di kursi sebelah kanan Huda.
"Sayang jangan lupa minuman untuk bang Kahfi." teriak Brayen yang duduk berhadapan dengan Kahfi.
"Ya sayang.!" Jawab Ulan.
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Beberapa menit Kahfi mulai angkat bicara. "Mohon maaf saya dan istri tidak bisa hadir ke pesta pernikahan pak Huda. Semoga Allah menjadikan pernikahan pak Huda dan Naura sakinah, mawadah dan Rohmah." Kahfi tersenyum.
"Oh ya bang Kahfi kemarin pemilik rumah sudah menyerahkan kuncinya kepada saya dan in... Kata-kata Brayen terhenti ketika Kahfi mengisyaratkan agar Brayen mengecilkan suaranya karena takut Kia akan mendengar.
"Maaf saya terlalu bersemangat." Brayen mengulurkan tangan memberikan kunci kepada Kahfi.
Huda melihat dan mendengarkan percakapan keduanya. Ia terdiam dan meminta izin untuk ke luar, karena merasa tak nyaman dengan pembahasan Brayen dan Kahfi tentang rencana mereka memberikan kejutan di hari milad pernikahan Kahfi dan Kia.
Kahfi melihat sekilas wajah Huda. Huda bangkit dan hendak menuju ke luar namun dengan bersamaan datanglah Ulan dengan segelas es jeruk di nampannya.
Prang... Huda menabrak Ulan dan gelas serta nampa pun jatuh ke lantai. Baju Huda basah dengan kikuk Ulan hendak membersihkan baju Huda namun Brayen menghadang karena di depan kaki ikan ada serpihan kaca gelas.
"Maaf pak Huda, saya tidak sengaja." Ulan yang tak enak hati kepada adik iparnya karena sudah membuat bajunya kotor.
"Gak apa-apa ini salah saya juga karena tidak melihat mba Ulan datang.
Naura yang datang dari arah belakang langsung menghampiri Huda karena mendengar suara nampan yang jatuh dan gelas. "Mas Huda bajunya basah! Mau di bersihkan dulu apa kita langsung pulang? Tanya Naura yang hendak membersihkan tangan Huda yang basah.
Namun dengan cepat Huda menuju kamar mandi yang ada di sebelah kanan dapur. Kia melihat Huda begitu juga Huda melihat Kia yang akan menuju ke ruang tamu. Kia hanya menganggukkan kepalanya. Huda senyum sekilas lalu masuk ke kamar mandi.
Naura melihat sekilas lalu mengetuk pintu kamar mandi? "Mas Naura ambilkan kaos bang Brayen ya?" Naura menunggu jawaban dari dalam.
"Gak usah, mas sudah bersihkan.!"
Naura hendak masuk ke kamar mandi namun tubuh Huda sudah hendak ke luar dan mereka berdua hendak bertabarakan. Naura tertegun melihat kaos Huda yang lepek dan mengajaknya untuk pulang ke rumah.
Naura mengekor pada Huda, dan menuju parkiran mobil yang cukup luas di depan rumah Brayen.
"Kak Kia terimakasih banyak ya untuk bingkisannya. sampai ketemu lagi nanti."
"Sama-sama, hati-hati ya Naura." Sambil melambaikan tangan Kia tersenyum kepada Naura.
Kahfi menempel di dekat Kia, ketika melihat Huda yang tersenyum kepada istrinya. Ia pegang bahu kanan Kia. Dan melihat mobil Huda sudah berlalu di hadapannya.
Kini Kahfi dan Kia yang berpamitan kepada Ulan dan Brayen. Krena perjalanan mereka cukup lama untuk sampai ke kota X. Ulan memeluk erat tubuh Kia sambil mengelus perut sahabatnya yang masih rata berharap Kia juga cepat hamil.
Kia tersenyum atas perlakuan Ulan. "Sehat-sehat ya bumil, jangan cape-cape dan angkat-angkat beban berat ya. Insyaa Allah Dede utun ammah akan main lagi ke sini kalau kamu sudah lahir ke dunia ini." Bisik Kia ke perut Ulan yang usia kandungannya genap 4 bulan.
Ulan dan Brayen mengaminkan secara bersamaan. "Elo juga biar cepat punya ya, Kia. "Jangan kasih kendor bang Kahfi!" Ledek Brayen hingga dirinya mendapat pukulan kecil dari tangan Ulan.
Kahfi dan Kia hanya tersenyum. "Jaga Ulan baik-baik, Yen. Jangan ditinggal jauh-jauh ya. Awas aja kalau Ulan kenapa-kenapa gue gak akan segan-segan kasih hukuman buat, elo !" Kia masuk ke mobil ketika Kahfi sudah membukakan pintu.
****
Empat jam perjalan sudah dilalui Kia dan Kahfi. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Jalan raya sudah ramai dengan lapu jalan yang berwarna warni. Suara jangkrik pun terdengar nyaring ketika Kahfi sudah melewati persawahan yang penuh dengan tanian sayur mayur.
Pintu gerbang panti asuhan sudah di tutup. Kahfi hendak turun dari mobil namun pak Karim sudah datang ketika melihat mobil Kahfi yang datang. Ucapan salam menyambut pak Karim. Kahfi membuka jendela mobil dan mengucapkan terimakasih ketika pak Karim sudah membukakan gerbang.
__ADS_1
Mobil Kahfi sudah terpakir di garasi depan rumahnya. Diliriknya sang istri yang masih tertidur pulas. Tangan kekarnya mengelus pucuk kepala Kia. Hendak membangunkan namun ia tidak tega karena wajah Kia terlihat sangat lelah. Kahfi turun dari mobil. Membuka pintu rumah terlebih dahulu, lalu kembali ke mobil untuk menggendong sang istri yang tertidur. Perlahan ia membawa Kia masuk ke kamar mereka tak lupa mengucapkan salam dan membaca doa masuk rumah.
Kahfi melepaskan alas kaki sang istri, lalu melepas jilbab yang Kia kenakan dengan perlahan. Ia mengambil satu setel baju piyama dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Lima belas menit di dalam kamar mandi. Ketika hendak ke luar ia lupa membawa handuk. Perlahan ia membuka pintu kamar mandi dengan kepalanya yang menerobos ke luar sedikit. Dipikirnya Kia masih tidur hingga ia hendak meraih handuk yang 5 langkah dari kamar mandi.
Sepasang mata melihat ke arah suara pintu kamar mandi yang terbuka dan melihat hanya kepala sang suami yang terlihat. Matanya masih samar-samar melihat. Kia terkejut ketika melihat Kahfi yang ke luar dengan polos sehingga ia menutup wajahnya dengan bantal yang ada di dekatnya. Sambil. berteriak "Aahhh... Massa Kahfiii"
Langkah Kahfi terhenti sejenak mendengar teriakan dari Kia. setelah sadar bahwa sang istri sudah terbangun. Dengan cepat ia meraih handuk. Perlahan kakinya menuju Kia yang masih menutupi wajahnya dengan bantal. "Hemmm... kaya liat hantu aja teriak sampe segitunya. Kan udah sering liat mas.!" Tangan Kahfi perlahan meraih bantal yang menutupi wajah Kia.
Kia masih memejamkan matanya walau bantal susah Kahfi singkirkan. Kia mencium wangi sabun dari tubuh Kahfi yang sebagian dadanya terbuka dan rambutnya masih basah. "Massa, usah sana pakai baju dulu. Dorong Kia yang mukanya merah karena malu melihat sang suami yang masih menggunakan handuk.
Bukannya mendengarkan perkataan Kia. Kahfi malah menggoda sang istri dengan menarik wajah Kia ke dada bidangnya. Wajah Kia bak tomat yang matang memerah dan enggan untuk menatap wajah sang suami.
"Dek... liat wajah mas dong, kayanya menghayati banget wangi badan mas. Jangan-jangannn... Mulut Kahfi di tutup oleh jari telunjuk Kia. Dengan agresifnya Kia mencium bibir Kahfi sekilas.
Mata Kahfi membulat ketika menerima ciuman kilat sang istri. Ia tak menyangka Kia akan berbuat seperti itu. Saat Kahfi masih tertegun Kia ingin bangkit dari tempat tidur namun tangan Kahfi dengan cepat menjatuhkan tubuh Kia ke atas kasur. Mata mereka berdua saling menatap. Hidung Kahfi menyentuh hidung Kia.
Kia tak berkutik dan matanya menatap Kahfi tanpa berkedip. Jantungnya berpacu dengan cepat hingga menyaingi suara detikkan jam dinding yang ada di kamarnya. Keduanya hanya bisa mendengarkan suara jantung masing-masing.
Kahfi menyambar bibir Kia dengan lembut. Tangannya menahan kedua tangan Kia agar tak bergerak. Beberapa detik keduanya seperti kehilangan nafas.
"Dek harus bertanggung jawab untuk semua ini." dengan lincahnya tangan Kahfi membuka setiap kancing baju Kia. Kia pasrah tak berkutik. Hingga kedua ya menikmati setiap sentuhan yang dilakukan mereka berdua. Malam terasa sangat panjang dan indah bagi mereka.
***
Matahari sudah masuk ke lobang udara yang ada di rumah Kahfi. Sepasang suami istri masih menikmati hari yang santai di dalam kamar. Kia yang masih nyaman mendengarkan cerita yang Kahfi bacakan sehabis shubuh ketika mereka selesai bertilawah. Wajah Kia menyelusup ke ketiak Kahfi. Dengan lembut ia menutup buku yang sedang Kahfi bacakan.
"Mas nanti kita main ya ke rumah abi Mansyur dan abah Dahlan. Dek kangen." Kapala Kia mendongak ke wajah Kahfi, namun tangannya tak lepas memeluk tubuh sang suami.
"Ya sayang. Mau kemana jam berapa? Hemm
.. Kahfi mencubit hidung Kia perlahan meletakan buku bacaannya dan memeluk erat sang istri dalam posisi tidur. Ciuman bertubi-tubi mendarat di kening dan kepala Kia.
"Bada dzuhur gimana, mas ? Sorenya kita ke bawah Dahlan kan nanti malam mas ada kajian di Masjid dekat rumah Farah.
"Baiklah sayang. Ohhh iya ya malam ini bada isya mas isi kajian di masjid An Nur. Untungnya dek ingetin mas, mas hampir lupa. Kahfi mencium Kia. Terimakasih ya sayang.
"Sama-sama, suamiku yang tampan dan Sholih. Kia hendak bangkit dan melepaskan pelukannya.
"Dek mau kemana?
"Mau ke dapur liat stok yang bisa di bikin sarapan."
"Gak usah bikin sarapan, mas udah pesen bubur kacang ijo plus salad buah lewat ojek online. Jadi sayangnya mas bisa manja-manjaan dulu. Apa mau nyicil lagi nih. Ledek Kahfi.
Namun Kia kini sudah ke luar dari kamar menuju taman belakang. Di lihatnya Dora di sebrang sana sedang menyiram taman bunga di asrama panti. Kia tersenyum dari kejauhan. Namun Dora diam tanpa membalasnya.
__ADS_1