
Kia mulai memasukan pakaian-pakaiannya ke dalam koper hijaunya. Tak lupa ia menyimpan gantungan konci boneka tikus dan Jerapah serta menyelipkan ke dalam kopernya, buku berwarna hijau milik sang laki-laki yang sudah tenang di alam sana. Ia usap lembut buku yang sudah seminggu ia terima dari Pak Prayoga. Berharap bila hatinya sudah siap ia akan baca buku itu di tempat barunya.
"Biarkanlah barang-barang pemberianmu aku simpan di kamar ini."
Kia meletakan sepasang boneka tikus dan jerapah berukuran sedang pemberian Prama, dan menyimpan cincin tunanganya itu ke dalam laci mejanya dengan kota bening berukuran sedang.
Perlahan pak Hasbi masuk ke dalam kamarnya untuk melihat kesiapan Kia dalam melakukan perjalanan di hari ini.
"Nakia, sudah selesai belum berkemasnya?" Tanya Pak Hasbi yang membuat Kia menoleh ke asal suara, dan melihat pria paruh baya itu sudah duduk di tepi tempat tidurnya.
"Alhamdulillah, sudah siap, yah!" Kia mau titip kardus berisi baju pengantiin ini ke kamar Rahma. Ucap Kia lirih.
"Kenapa kamu harus menyimpannya di kamar Rahma, bila hal itu bisa membuatmu sedih lagi, nak?" Kata-kata itu terlontar dari bibir pria paruh baya tak berkumis, yang melihat anak gadisnya menatap sedih kotak besar berisi baju pengantinnya.
Perlahan Kia berjakan mendekati pak Hasbi dan mendudukan bobot tubuhnya tepat dekat sang ayah, yang tangannya seraya mengukur pada tubuh pak Hasbi, gadis yang tubuhnya semakin ramping itu bersandar pada dada sang ayah. Pak Hasbi yang merasakan pelukan dari Kia, ia pun membalas pelukan itu dan mencium pucuk kepala anak gadisnya. Sedikit mata yang berkaca-kaca, pria paruh baya itu mencoba untuk memahami suasana hati anak kekeduanya.
"Kita harus bisa sekuat hati, untuk bangkit dari keterpurukan. Jangan sampai kesedihanmu, membuat Allah cemburu karena cintamu terlalu besar melebihi cinta kita kepada sang kuasa!" Ayah yakin anak ayah yang satu ini akan bisa melalui hari-hari dengan lebih baik dan bisa menjadi hamba-Nya lebih baik lagi. Nasehatnya sambil mengelus lembut kepala yang sudah berbalut jilbab berwarna lavender yang terus memelul erat tubuh sang ayah yang meruoakan cinta pertama untuk sang anak hadisnya.
" Inshaa Allah, yah!" Kia akan berusaha untuk ini semua. Ucapnya meyakinkan.
"Ayah yakin kalau kamu tinggal disana, kamu akan mudah melupakan kesedihanmu, karena dekat rumah nenek ada asrama dan panti asuhan. Kamu akan terhibur dengan anak-anak asuh disana. Dan ayah sudah minta tolong kepada ustadz Subekti agar kamu bisa mengajar anak-anak panti di sana bersama anaknya. Kata pak Hasbi menjelaskan.
" Benarkah, yah?"
Tanya Kia yang mendongakan wajahnya ke arah wajah sang ayah yang penuh dengan bulu-bulu di bawah dagunya yang sebagian sudah ada yang berwarna putih.
"Ya, sayang" sekarang cuci mukamu ayah dan aa Razi menunggumu di mobil, ya?
"Baik, yah!"
***
Kia pun bergegas untuk ke kamar mandi dan merapihkan kembali kamar tidurnya agar semuanya tertata rapi sebelum kepergiannya. Ia tatap semua benda-benda yang ada di dalam kamarnya dan ia elus lebut kasur yang selalu membuatnya nyaman ketika tidur dan menciumi boneka-boneka yang ada di sisi kepala tempat tidurnya.
"Aku akan kembali suatu saat nanti dan ketika aku bisa menemukan Jodoh Pilihan Allah, aku takkan merubah suasana kamar ini sedikitpun!" Selamat tinggal semuanya aku pasti akan merindukan suasana kamar ini." Gumamnya seraya menarik hendel pintu lalu menutupnya.
***
Rasa bahagia tak bisa di sembunyikan oleh Rahma yang kini duduk di belakang bersama Kia dan bu Aisyah. Bagaimana tidak sekarang mereka sudah mempunyai kendaraan roda empat yang belum lama Razi beli dari hasil usaha ruko yang ada di negara Piramid, yang sekarang di kelola oleh temannya yang ada disana dan dia tinggal menerima kiriman dari hasil keuntungan. Sebenarnya sudah lama sekali Razi membeli mobil itu, namun baru bisa ia gunakan karena menunggu SIM dan kelengkapan surat-surat lainnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ya bu sekarang kita kalau mau kemana-mana gak harus pinjam mobil paman Karno atau ustadz Subekti karena kita sudah punya mobil sendiri. Ucap Rahma senang.
" Alhamdulillah, ini berkat kerja keras aa mu, tapi bila aa mu sudah menikah dengan nak Tari pasti mobil ini akan aa mu bawa. Ucap bu Aisyah yang membuat Rahma mengerucutkan bibirnya ketika mendengar mobilnya tidak akan lama di rumah pak Hasbi.
"Ibu ini bilang apa sih, bu? Razi gak kan bawa mobil ini kemana-mana. Karena Razi beli memang untuk keluarga kita. Jadi walaupun Razi sudah menikah, Razi gak akan bawa pindah Tari, Razi akan tetap tinggal bersama ayah dan ibu. Ucap Razi menjelaskan kepada ibunya.
" Hore ... Berarti Rahma bisa nebeng tiap hari dong sama aa kalau Rahma mau sekolah? dan Rahma gak akan kesepian karena ada pengganti kak Kia" Ucapnya kegirangan.
" Kamu ini gak mau susah banget. Enakkan juga naik motor jadi kamu gak telat ke sekolahnya dasar, beruang madu!" ucap Kia yang kini angkat bicara.
" Ishhh ... Ishhh ... isih, Tak seronok, tak seronok, dasar tikus dapur." Ucap Rahma yang mengikuti gaya tingkah laku Upin Ipin. Yang menbuat Kia ingat dengan panggilan sayang dari seseorang yang selalu ia rindukan.
Tepat di sebuah pemakaman yang kini tak jauh dari perjalanan mereka, Kia minta berhenti di sebuah tempat pemakaman.
" A ... Kia mau turun dulu sebentar ke sini, boleh? Tanyanya sambil menepuk bahu kanan Razi.
" Ia boleh" jawabanya singkat sambil memberhentikan laju kendaraannya tepat di gerbang pemakaman.
"Perlu ayah temani, nak? Tawar Pak Hasbi ketika Kia hendak membuka pintu mobil.
" Tidak usah yah, Kia hanya pamitan sebentar saja ke makam kak Prama" Jawab Kia lalu menutup pintu mobil itu dan melangkah melewati banyaknya gundukan tanah.
Perlahan Kia pun meletakan dua bunga mawar berwarna putih yang sudah ia beli di tengah perjalanan tadi lalu meletakan bunga tersebut di atasnya seraya mengelus lembut nama yang terukir di atas batu nisan tersebut.
Suaranya agak memberat, buliran berlian yang meleleh di kedua matanyapun jatuh tanpa permisi.
" Assalamu'alaikum, Jerapah Cungkingku? Semoga kakak di tempatkan di syurganya Allah dan tenang di alam sana, ucapnya setelah mukutnya berkomat kamit mendo'akan dua orang yang ada di dalam peristirhatannya.
"Kak, hari ini Kia pamit untuk tinggal bersama nenek di daerah x." Kia janji ketika Kia pulang Kia akan selalu mampir ke pemakaman kakak. "Kia tau, mungkin Kia takkan bisa menghapus kenangan-kenangan bersama kakak sampai kapanpun. Tapi inilah jalan satu-satunya agar Kia bisa memulai kehidupan baru yang masih panjang harus Kia lalui. Bukan... Bukan maksud hati Kia melupakan kakak. Ucap Kia yang terisak dan bernada semakin rendah.
Tanpa ia sadari ada dua sosok pria di belakangnya yang memlihatnya menangis tersedu. Perlahan Kia mengusap sisa air matanya ketika mendengar langkah kaki yang mendelatinya terhenti.
" Nak, terima kasih kamu selalu mampir ke tempat ini!" Ucap pria paruh baya yang menyentuh bahu Kia yang membuat Kia bangkit berdiri dan menoleh ke arah sumber suara.
" Hari ini Kia tak 'kan sesering dulu untuk berkunjung ke sini, om? Ucapnya seraya mengusap sisa air mata di sudut matanya dan melihat pria muda di samping pak Prayoga yang menatapnya dengan penuh tatapan yang sulit di artikan.
" Hari ini kamu akan berangkat kesana, nak? tanya Prayoga.
" Iya, om"
__ADS_1
Jawab Kia singkat dan sambil tertunduk untuk menghindari tatapan pria berkaos coklat yang berdiri di sebalah kanan pak Prayoga.
" Hati-hati dan semoga kamu bisa memulai kehidupan barumu dan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Prama!" jangan lupa untuk berkabar kepada om dan jangan lupakan kami yang disini! Tandas pak Prayoga menahan panas pada kedua matanya.
Kia hanya bisa menunduk mendengar setiap pertakataan yang diucapkan calon mertuanya, dengan rasa sedih ia beranikan diri memeluk pria paruh baya itu dengan linangan air mata.
"Inshaa Allah, Kia takkan pernah melupakan om dan yang lain nya, bila Kia sedang pulang ke sini, Inshaa Allah Kia akan mampir berkunjung ke istana om." Ucapnya lirih.
"Makasih, nak!" om yakin Prama pasti meridhoi keputusanmu ini, karena hal ini akan membuatnya bahagia di alam sana dari pada melihatmu selalu bersedih di sini. Ucap Prayoga sambil mengelus belakang punggung Kia yang sudah ia anggap seperti outrinya sendiri dan dirasanya badan itu semakin mengecil sebelum ketika ia berkunjung ke rumahnya pertama kali bersama Prama.
"Saya pamit ya om, semoga om selalu diberikan kesehatan oleh Allah dan selalu bahagia."
Dan Kia titip om Prayoga ya, mas Huda, jangan pernah kecewakan papah mas Huda, ya!" Ucap Kia yang sudah melepaskan pelukannya pada tubuh yang sudah semakin tak berotot.
"Inshaa Allah, aku akan selalu ada di samping papah sampai kapanpun, karena yang ia miliki saat ini hanyalah aku. Ucap Huda yang sudah mengulurkan tanganya pada bahu Prayoga, walau ada sedikit kecewa pada do'a papahnya yang ia sampaikan untuk Kia.
" Maafkan kesalahan Kia selama ini ya, om!" Katanya sambil meraih tangan Prayoga dan mrncium pungung tangannya.
"Om yang seharusnya minta maaf kepadamu, nak. Jawabnya sambil mengelus pucuk kerudung Kia.
Terakhir mata Kia tertuju pada Huda yang berdiri disamping pak Proyoga seoalah laki-laki itu merogoh kantong celananya seraya ingin memberikan sesuatu pada Kia yang ada di dalam saku celananya.
" Anggaplah ini sebagai kenang-kenangan dari mas Huda. Semoga kamu menyukainya, ya!" Ucap Huda seraya menyerhakan kotak berwarna coklat yang ia berikan kepada Kia dengan matanya selalu menatap pada gadis yang matanya sembab karena habis menangis.
" Terima kasih, mas" semoga mas Huda selalu diberikan kebahagiaan dan mendapatkan wanita yang selalu mengisi hari-hari mas Huda dengan indah. Ucapnya yang entah dari mana bibir pink nya dapat mengucapkan kata-kata itu kepada pria yang masih mengharapkan cintanya.
" Aamiin ... "Aku akan menunggu cinta itu datang walau harus dengan waktu yang lama. Jawab Huda yang membuat Kia membulatkan matanya dan menatap pria yang ada di hadapannya lalu mendudukannya.
" Mengapa mas Huda bicara seperti itu? padahal kata-kataku waktu itu begitu jelas agar ia tidak mengharap lebih kepadaku!" Batin Kia.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung----