Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
54. Hari Milad


__ADS_3

Jam sudah berganti hari, hari pun telah berganti bulan. Usia Kia hari ini genap 24 tahun tak ada seorangpun yang mengucapkan. Kia pun tak sadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia masih saja sibuk dengan rutinitasnya sehari-hari.


Seperti pagi ini Kia yang sudah ada di dalam kelas yang sedang asyik bercerita tentang si kancil dan si anak monyet. Anak-anak panti semua sangat antusias sekali ketika mendengarkan cerita dari Kia. Kia sangat mahir menirukan suara-suara yang bernaeka ragam.


Semua anak-anak panti tertawa mendengar akhir dari cerita itu. Begitu juga dengan pria berkaca mata yang sedang asik mengulas senyum yang cukup lebar. Tanpa ia ketahui ada 2 pasang mata yang sedang melihatnya yaitu Adam dan juga Dora.


Dora adalah anak dari bu Asih dan pak Kirman yang rumahnya tak jauh dari panti. Bu Asih dan pak Kirman sendiri adalah yang mengurusi makan dan kehidupan sehari-hari anak-anak panti yang tinggal di menetap di panti sebelum ada orangtua asuh yang mengambil meraka agar hidup layak.


" Ehem ... Ehem ... Ehem ..." Deheman Adam seketika mudarkan tawa Kahfi yang tadi begitu lebar.


" Ternyata Kia itu gak cuma menghibur anak-anak panti aja ya, dia juga bisa menghibur kak Kahfi yang jarang sekali bisa tertawa lebar seperti ini!"


Kahfi pun yang mendengar ucapan itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Yang ia lihat Adam dan Dora telah dekat dengannya.


" Ahhh, akhi Adam bisa saja. Ana hanya tak sengaja lewat sini dan ana penasaran ada hal apa yang bisa membuat anak-anak tertawa sekaras itu. Dan ternyata ukhti Aulia sedang bercerita."


" Ana baru melihat kak Kahfi tertawa selebar itu. Biasanya kan, paling banter juga kak Kahfi senyum seperti ini!" Ucap Adam yang menunjukan senyum ala Kahafi yang sedikit menarik sudut bibirnya saja.


" Antum ini, bisa saja!" ucapnya singkat.


" Benarkan apa yang saya bilang ukh Dora? Tanya Adam pada wanita bergamis cram yang sedari tadi hanya terdiam dan membenanam rasa cemburu akan kehadiran Kia di pantiasuhan selama ini.


" Apa yang di katakan akh Adam itu benar kak!" kak Kahfi lebih sering tersenyum lebar ketika mendengarkan ukh Aulia bercerita, karena saya sering memergoki kakak seperti tadi." Jawab Dora yang membenarkan tutur kata dari Adam.


Ketika mereka bertiga sedang asik membicarakan tetang Kia, tak lama kemudian anak-anak panti pun ke luar yang di ikuti Kia di belakang mereka.


" Kakak tampan!" teriak Kania yang sudah memeluk tangan Kahfi.


" Sudah selesai ya belajarnya?" Ucap Kahfi mengelus lembut pucuk kepala gadis kecil itu.


" Kak tampan tau, kalau hari ini perut Kania dan teman-teman merasa sakit karena terlalu banyak tertawa mendengar cerita dari kak Aulia yang cantik ini!" Ucap Kania yang tangan kirinya memegang tangan Kia.


" Wah sepertinya idola Kania sekarang pindah ke kak Aulia dong, bukan ke kak Kahfi lagi?" Tanya Adam sambil memainkan manik mata dan halisnya.


" Kok, kak Adam tau?" kan Kania belum pernah kasih tau kak Adam soal ini?"


" Kania gak perlu heren kenapa kak Adam bisa tau karena semalam kak Adam sudah menemukan lampu wasiat jadi kak Adam bisa tau isi hati, Kania!"


" Kania, kak Aulia pamit duluan ya!" karena kakak di tunggu sama abah Dahlan di rumah. Jadi Kania selamat melanjutkan cerita nya sama kak Adam ya!" Ucap Kia seraya mengelus pucuk kepala Kania dan berpamitan kepada Adam, Dora dan juga Kahfi.


🌼🌼🌼


Awan putihpun menghilang langit berubah menjadi kelabu seakan hari siang ini akan turun hujan. Rintik-rintik hujan sudah mulai turun membasahi pohon-pohon disetiap jalan dan telah menyirami bumi yang sangat merindukan air hujan.


Kia yang kini sudah berada di pertengahan jalan tak lama di susul oleh Kahfi yang mengendari motor karena kondisinya sekarang sudah hujan turun dengan lembatnya. Kia yang tetap melanjutkan perjalananya tanpa meneduh pun mempercepat langkah kakinya agar bisa cepat sampai ke rumah abah Dahlan. Kahfi yang melihat itu langsung menberikan payung yang ada di tangannya.


" Ukh, pakailah payung ini karena hujannya sangat lebat!" Ucap Kahfi yang sudah menepikan motornya di dekat Kia yang dirinya sendiri sudah memakai jas hujan.


" Tidak apa kak Kahfi, lagi pula rumah abah sudah sedikit lagi juga sampai. Tolaknya.


" Sudahlah pakai, ini payung dari Kania yang tak mau melihat ukhti kehujanan dan sakit!"

__ADS_1


" Baiklah, terimakasih, kak!" kakak sendiri mau pergi kemana?


" Ana mau ke asrama, kiayi besar manggil ana untuk menemuinya!" kalau begitu ana duluan ya? Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam."


🌼🌼🌼


Sesampainya Kia di rumah, suasana ruamah seakan-akan tak ada penghuni begitu sangat sepi. Lampu rumah pun padam menjadikan suasana mendung di luar semakin gelap. Dan ketika Kia menutup pintu dan menekan saklar lampu agar bisa menerangi pandanganya. Lampupun menyala.Bersamaan dengan itupun suara ledakan balon dan ucapan ulang tahunpun terdengar begitu meriah.


Wajah Kia terlihat kaget dan terkejut akan hal itu.


" Selamat hari lahir kakak ku yang cantik temen beranatem?" ucap Rahma yang sudah membawa kue dengan banyak toping keju dan dua boneka beruang dan tikus di atasnya yang menandakan sosok dirinya dan kakak tercuntanya.


" Baarokallah fii umrik, adik iparku yang sholihah!" Ucap Tari sambil membawa kotak yang dibukus kertas kado bermotif bunga.


" Yaa Allah, Rahma, Tari, aa Razi, ayah dan ibu!" kalian semua kesini untuk membuat Kia jantungan ya?" Ucapnya yang masih kaget dengan ledakan balon yang begitu bersahutan.


" Kami semua sengaja kesini untuk kamu sayang, karena kami sudah rindu sama bu guru yang sudah betah di kampung nenek." Ucap bu Aisyah yang hendak memeluk Kia namun Kia tolak karena bajunya begtu lepek.


" Jazakallahu untuk kalian semua, maaf kangen-kangenannya tar dulu ya!, karena Kia harus mandi dan ganti baju dulu!"


" Sayang, minumlah teh manis hangat ini supaya kamu gak kedinginan!" perintah nek Rumi yang sudah menyodorkan segelas teh manis kepada Kia.


" Terima kasih, nenek ku sayang!" ucapnya sambil menerima gelas tersebut.


Setelah meminum teh manis itu sampai tandas, Kia pun langsung menuju kamar madi yang tak lama kemudian di ikuti Rahma seraya membawa baju ganti untuk Kia ke kamar mandi.


" Maafin Kia ya bu, yah!" Waktu acara resepsi pernikahan kak Adam dan Febby, Kia tidak jadi pulang karena Kia harus menggantikan kak Adam yang cuti mengajar waktu itu!"


Ucap Kia sambil duduk di himpit oleh bu Aisyah dan pak Hasbi.


" Ya tak apa-apa, ayah dan ibu ngerti kok kalau anak ayah ini sudah menikmati hidupnya di sini!" Ujar pak Hasbi sambil mencium pucuk kepala Kia.


" Ayah bisa aja, Kia gak akan lupa kok sama tanah ke lahiran Kia"


" Gimana kalau nanti dia sudah nikah dengan orang sini ya, yah? pasti gak akan pulang-pulang dech ke rumah. Ucap Razi yang kini buka suara.


" Apaan sih, aa? mana ada orang sini yang mau dengan Kia, aa? disini lingkungannya orang-orang alim semua. Sedang Kia, orang yang baru belajar agam setelah dapat teguran dari Allah." Ucap Kia merendah.


" Ishhh ... ishhh ... ishhh ... tak betul-tak betul ... tak betul, bicara capak macam tu. Kakak gak tau aja kalau ada pemuja rahasia di sini." Ucap Rahma yang hampir keceplosan.


" Maksud kamu, dek?"


" Gak, gak maksud apa-apa kok, tadi ada angin lewat aja sekilas!" canda Rahma.


Ketika mereka semua sedang berbincang-bincang tak terasa sudah masuk waktu dzuhur, suara hujan pun sudah terhenti yang terdengar sekarang adalah suara kumandang azan yang saling bersahutan.


Para lelaki-lakipun beranjak untuk pergi ke masjid. Kia yang masih mempunyai air wudhu langsung masuk ke kamar untuk melakasanakan sholat dzuhur yang di susul oleh Tari yang ikut ke dalam kamarnya setelah selesai berwudhu.


15 kemudian Kia dan Taripun telah selesai melaksanakan shalat dzuhurnya. Tari yang masih melipat mukena yang ia gunakan langsung menarik tangan Kia, seraya ada hal yang ingin ia tanyakan.

__ADS_1


" Kia, apa kamu tahu kalau kiayi Mansur sudah meminta mu untuk menjadi calon menantunya kepada abah Dahlan?"


Pertanyaan itu spontan menghentikan kegiatan Kia yang hendak melipat sajadahnya. Matanya langsung menatap manik indah mata yang di miliki Tari.


" Aku sudah melakukan istikharah, Tari. Tapi dalam mimpi ku selalu wajah itu yang muncul tapi bukan wajah anak kiayi Mansur!" Aku tidak yakin dengan keputusan abah, ayah dan ibu juga aa Razi yang ingin menta'arufkanku dengan Yazid anak dari kiayi Mansur yang usianyapun beda 2 tahun lebih muda dari aku, tar? " Ucap Kia yang sudah menjatuhkan wajahnya ke bahu kanan Tari.


" Ya ampun jadi selama ini Kia belum tahu siapa yang akan mengkhitbahnya besok. Yang dia tahu anak kiayi Mansur adalah Yazid?" Batin Tari.


" Kia, kamu yakinlah bahwa keputusan kiyai besar meminta kamu sebagai calon menantunya itu tidaklah salah, kamu jangan lihat dari satu sisi saja. Mungkin kiayi Mansur telah menemukan sesuatu yang istimewa pada dirimu yang tidak di miliki wanita lain selalain dirimu, persiapkanlah dirimu untuk malam ini?" Ucap Tari yang mengelus lembut punggung Kia.


Seketika Kia bangkit dari bahu yang sudah ia jadikan sandaran. Matanya membulat ketika mendengar kata-kata Tari yang harus mempersiapakan dirinya malam ini.


" Apa kamu bilang, Tari?" malam ini? maksud kamu kiayi Mansur dan anaknya akan datang malam ini untuk mengkhitbahku, malam ini juga?" Tanyanya kaget sambil mengusap kasar wajahnya.


" Iya, sayang!" ucap bu Aisyah yang kini sudah masuk ke dalam kamar.


" Yaa Allah ibu, kenapa semua orang gak bilang sama Kia kalau hari ini keluarga kiayi Mansur akan datang malam ini, segala sesuatunya Kia belum siapkan, ibu?" Ucap Kia bingung.


" Kamu gak perlu kahwatir sayang, ibu dan Tari sudah mempersiapkan baju gamis yang akan kamu kenakan malam ini. Aa kamu pun sudah memesan ketring untuk malam ini."


" Jadi, semuanya ini sudah kalian persiapakn semua untuk mengatur hari dimana Kia akan dikhitbah, sedang orang yang akan menerima khitbahan inipun tidak mengetahuinya dan Kia pun belum tau siapa dan bagaimana Yazid putra dari kiayi Mansur yang baru pulang dari Meseri itu?" ucap Kia yang seraya memijat keningnya yang terasa pusing.


Bu Aisyah hanya bisa menatap bingung pada Kia, yang iapun tak tak tau siapa yang akan menjadi calon dari Kia. Pembicaraan itu yang tau hanyalah pak Hasbi, abah Dahlan dan Razi juga Tari yang secara tidak langsung pernah mendengar pembicaraan Razi lewat telpon ketika abah Dahlan meminta pendapat pada Razi.


.


.


.


.


.


.


Bersambung----


Penasarankan Kia itu bakalan Nikahnya sama siapa? hihihi ... selamat menunggu up selanjutnya.


Jangan lupa hargai author dengan sedikit jejak jari jemari kalian lewat


Tip


Komen


Like


Vote


dan Reat nya ya!!

__ADS_1


Salam sehat dan berkah selalu untuk kalian semuanya**.


__ADS_2