Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
104. Mencurigai


__ADS_3

Kia dan Kahfi menikmati makan malamnya di sebuah rumah makan sederhana, keduanya meninggalkan rumah makan tersebut dalam keadaan kenyang dan bahagia. Sampainya di parkiran Kia merasa ada seseorang yang terus mengikutinya. Hal itu pun Kia sadari ketika ia dan Kahfi baru tiba di rumah makan tersebut. Namun hati Kia tetap husnudzon mungkin hanya kebetulan saja.


Kahfi membukakan pintu mobil untuk Kia dan memastikan kepal Kia tidak terbentur. Telapak tangan Kahfi di tempelkan pada atas pintu mobil. Kia tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih, mas!" Ucap Kia yang diperlakukan dengan baik oleh sang suami. Dan Kahfi membalas dengan senyuman manis sambil menyentuh pucuk kepala Kia mengelusnya dengan lembut.


"Sama-sama, sayang!" ucap Kahfi lalu melangkah ke arah kursi pengemudi. Satu tangan kanannya merogoh saku celana dan di berikan ya selembar uang dua puluh ribuan untuk bapak bapak paruh baya yang menjaga parkiran tersebut.


Bapak tersebut menerima dan merogoh kantong hendak memberikan kembalian kepada Kahfi.


"Tunggu mas, ini kembaliannya!" Ucap Bapak bertopi hijau army tersebut kepada Kahfi yang sudah hendak meninggalkan daerah parkiran.


"Gak usah pak, Mabil aja buat bapak!" Jawab Kahfi dan langsung membunyikan klakson tanda pamitnya kepada bapak tersebut.


"Terimakasih, nak!" Jawabnya sambil tersenyum menatap uang yang tadi hendak ia berikan kepada Kahfi dan akhirnya uang sepuluh ribuan tersebut masuk lagi ke saku celananya.


Kahfi melirik ke arah kaca spion sebelah kanan dan ia melihat sebuah mobil putih yang jaraknya tidak jauh dari mereka mengikuti mereka dari belakang.


Kia menatap curiga pada mobil putih tersebut dari sebelumnya. " Mas, sepertinya orang yang di belakang mengikuti kita!"


"Mungkin lagi kebetulan aja, sayang. Bismillah ada ada Allah yang melindungi kita." Ucap Kahfi sambil terus fokus mengemudi.


Kia terdiam dan mencerna ucapan Kahfi. Perlahan tangan kiri Kahfi menyentuh tangan kanan Kia yang ada disampingnya. Mengelus lembut berharap hal itu membuat hati sang istri sedikit tenang.


"Lebih baik dek setel murotal, biar kita dijauhkan dari hal hal yang tidak baik selama perjalan!" Ucap Kahfi yang menunjukan sebuah benda kecil yang ada di laci kecil di dalam mobil. Flashdisk berwarna merah hitam ia keluarkan dan ia berikan kepada Kia.


Kia meraih benda tersebut lalu memasukan ke lobang USB yang ada di depannya. Kia mengatur volume dan menyalakan murotal surah Al Baqoroh.


Dua puluh menit mereka berdua menikmati perjalan dengan lantunan ayat suci Al Quran di dalam mobil. Sayup sayup mata Kia pun ingin terpejam. Kahfi menyadari hal tersebut hingga ia memberhentikan mobilnya sebentar untuk mengatur posisi duduk Kia agar bisa nyaman tidur di dalam mobil.


"Loh kok berhenti, mas?" Tanya Kia bingung.


Kahfi hanya tersenyum. Dan tubuhnya langsung sedikit miring ke arah Kia untuk meraih pengaturan duduk. Muka ia langsung memerah melihat tubuhnya ada di bawah dada Kahfi yang begitu intim.


"Masa!" Ucap Kia sambil menatap pada wajah Kahfi setidaknya dia pun mencium bau parfum dari kemeja Kahfi.


Setelah selesai Kahfi menatap Kia dengan senyum jailnya. Berpura pura hendak mencium bibir cery Kia. Namun hal itu tidak ia lakukan karena malam sudah semakin larut. Kahfi hanya mencium sekilas pipi Kia dengan lembut.


"Tidur ya, sayang. Nanti kalau sudah sampai rumah ibu mas akan bangunkan, dek!" Ucap Kahfi yang melihat wajah Kia yang bersemu merah sambil menatap dirinya.

__ADS_1


Kia hanya mengangkat kepalanya ke atas dan kebawah tanda setuju. Lalu Kahfi mencium tangan Kia. Dan Kia hanya bisa tersenyum manis atas perlakuan yang Kahfi berikan kepadanya.


Baru saja Kahfi akan menduduki kursinya seseorang dari samping pintu Kahfi telah mengetuk ngetuk jendela mobil dengan begitu keras.


Tok


Tok


Tok


Kia yang baru hendak memejamkan matanya sampai terkaget dan beranjak dari sandarannya. Begitu juga Kahfi langsung menoleh ke arah pria yang bertopeng. Kia menyadari hal demikian langsung ketakutan dan meraih lengan Kahfi dengan cepat.


"Masss!" Ucap Kia sedikit panik.


Sesorang yang bertopeng mengangkat satu tangan kirinya ke arah mobil putih dimana ada tiga orang temannya yang lain di dalam dengan menggunakan topeng yang sama untuk mendekat pada mobil yang Kia dan Kahfi tumpangi. Kahfi belum membuka kunci mobilnya. Kini orang yang bertopeng tersebut berhambur ke dua sisi. Dua orang yang bertubuh tinggi kekar mencoba mengendor pintu mobil bagian Kahfi. Dan dua orang lagi mengedor pintu bagaian arah Kia.


Kia panaik dengan tangan bergemetar ia meraih ponsel yang ada di dalam tasnya mencoba untuk menelpon seseorang untuk meminta bantuan. Namun dua orang yang ada di sisinya berusaha memecahkan jendela mobil sebelah Kia. Dengan hati bergemetar dan tubuh yang tak karuan Kia menjatuhkan ponselnya ke bawah nada pada ponselnya belum terhubung ketika Kia hendak menelpon seseorang tersebut.


Kahfi mencoba ingin menenangkan Kia, namun dua orang yang disisinya sudah memecahkan kaca pada jendela mobil Kahfi.


Prang


Kia berusaha untuk meraih tangan Kahfi namun tubuhnya tak kuat menahan tarikan dari dua orang dari arah belakangnya.


"Masss... masss, mas Kahfi !" Tidak Kia yang kini tubuhnya sudah menjauh dari mobil Kahfi dimana dua orang tersebut berhasil membuka pintu disebelah Kia. Kahfi menatap samar samar wajah Kia yang basah dengan air mata dan ketakutan. Kahfi tak berdaya karena darah yang mengenai kepalanya begitu deras.


Empat orang bertopeng berhasil membawa Kia ke dalam mobilnya. Kia mencoba berontak namun tenaganya tak bisa menahan serangan dari kedua orang bertopeng tersebut. Kaki Kia lemas dan ia tak sadarkan diri ketika salah satu dari mereka membius Kia dan berhasil membawa Kia ke dalam mobil dan dengan cepat salah satu pria berkepala.botak tersebut mengendari mobil dengan laju yang cepat.


Angin malam menusuk dingin ke tubuh Kahfi yang lemas dan tak sadarkan diri. Jalan sudah sangat sepi akan lalulalang kendaraan. Tak ada pun satu kendaraan yang melintas di jalan tersebut karena jalan yang sedikit rusak dan gelap.


Suara dari ponsel Kia terdengar nyaring, Kahfi masih setengah sadar meraba keberadaan ponsel yang tadi terjatuh oleh Kia ia berusaha hendak meraih ponsel tersebut namun seseorang dari sebelah kiri sudah terlebih dahulu meraih ponsel tersebut.


"Bang Razi cepetan ke TKP sesuatu telah terjadi dengan Kia dan Kahfi." ucap Brayen yang baru tiba di tempat yang tadi Kahfi sempat mengirim share lock.


Setelah Kahfi melihat pria yang bertopeng Kahfi dengan cepat meraih ponselnya dan meminta bantuan ke pada beberapa temannya yang terdekat di daerah tersebut. Chat itu ia kirimkan langsung ke Brayen karena posisi ruang Brayen tidak jauh dari jalan tersbut. Dua puluh menit Kahfi mengirim chatnya Brayen baru tiba. Setelah empat orang bertopeng tersebut membawa Kia pergi.


"Ye... Nnn. Ki, kia, Yen!" Ucap Kahfi dengan suara pelan dan matanya hampir tertutup rapat dan hanya bebrapa detik Kahfi pun langsung pingsan dengan ucapan terakhirnya.


Brayen langsung menelpon beberapa temannya untuk datang ke TKP. Setelah ia berbicara pada orang tersebut Brayen langsung membawa Kahfi ke dalam mobil miliknya dan menuju rumah sakit terdekat di daerah tersebut.

__ADS_1


****


Setelah mereka berhasil membawa Kia di sebuah bangunan tua yang jauh dari jalan raya. Kia masih belum sadarkan diri efek dari obat bius. Dua orang menidurkan Kia di atas kasur yang sudah usang, dengan ikatan pada lengan Kia. Setelah pria bertubuh kekar itu keluar dari kamar seseorang melangkah masuk untuk melihat ke adaan Kia.


Tap


Tap


Tap


Langkah kaki sepatu mendekat ke dalam, senyum nya mengembang dengan penuh percaya diri dan kemenangan. Bobot tubuhnya ia jatuhkan ke sisi kasur dimana ada Kia yang masih terpejam, dengan tubuh yang sedikit meringkuk karena kedua tangannya di ikat kebelakang. Perlahan tangannya menyentuh kepala Kia yang masih berbalut kerudung yang sudah tidak karuan bentuknya.


" Semakin hari kamu semakin cantik, Kia. Salahku yang telah meninggalkanmu waktu itu karena demi Sonya." Ucap Rendy yang kini tangannya hendak menjajaki wajah Kia.


Perlahan mata Kia bergerak menyesuaikan cahaya lampu yang sedikit redup. Mata Kia terbuka namun pandangan nya masih sedikit buram, yang di lihatnya tangan Rendy yang hendak menyentuh pipinya. "Jangan sentuh aku!" Ucap Kia masih dengan suara yang parau.


"Akhirnya kamu bangun, Kia." Ucap Rendy dengan suara yang sedikit berat dan tubuhnya sedikit ia turunkan agar bisa menatap wajah Kia.


Kia berusaha untuk duduk dengan sekuat tenaga dengan mengerahkan tubuhnya mengangsrut ke atas menggunakan kakinya. Rendy malah semakin memajukan tubuhnya ke arah Kia. hingga membuat Kia berteriak sekuat tenaga. "JANGAN SENTUH AKU, KAK RENDY!" Ucap Kia dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Kia mencoba untuk memberontak dan menendang tubuh Rendy dengan sembarang. Namun sialnya Rendy malah memegang erat kaki Kia yang masih berbalut kaos kaki berwarna pink. Tangan kekar Rendy mencengkram pergelangan kaki Kia dengan kuat, hingga membuat Kia merapatkan kedua bibirnya untuk menahan rasa sakit.


"Kamu masih ingat dengan kata kataku ketika di toko buku itu, aku pasti akan mendapatkan mu kembali Kia apapun caranya. Jadi jangan coba coba untuk menghindar dariku kalau kamu gak mau terluka!" Ucap Rendy memperingati dengan wajah yang berjarak satu jengkal dari wajah Kia.


Kia semakin ketakutan dengan tatapan Rendy dengan wajah mereka begitu dekat dan Rendy bisa dengan mudah untuk menyentuh Kia.


" Kak Rendy sudah mempunyai Sonya, dan kak Rendy sendiri yang sudah meninggalkan Kia demi Sonya. Jadi untuk apalagi kak Rendy masih mengejar Kia!" Ucap Kia dengan air mata yang berlinang.


Rendy bangkit dari duduknya menatap dinding. Itulah bodohnya aku ketika itu, aku malah menyia nyiakan dirimu dan memilih Sonya yang justru main belakang dariku. Ku mohon Kia tinggalkan Kahfi mari kita perbaiki hubungan kita dan menikahlah denganku!" Ucap Rendy yang kini berbalik kembali ke tepian tempat tidur sambil menatap wajah Kia dengan begitu dekat. Mata mereka saling bertatapan namun Kia langsung menundukan pandangannya. Dan Rendy meraih paksa dagu Kia agar menatapnya kembali.


" Jangan harap aku mau. Karena aku sudah bahagia dengan pernikahanku dengan mas Kahfi, dia laki laki baik yang bisa mengormatiku dan menjagaku dengan begitu baik. Jadi jangan harap Kia mau kembali." Ucap Kia dengan penuh penekanan pada setiap katanya.


Hingga membuat hati Rendy terasa terusik dan menarik tubuh Kia yang ramping mendekat padanya hingga keduanya begitu dekat dan melihat jelas wajah masing masing. Kia meringis kesakitan karena cengkraman tangan Rendy yang begitu kuat pada pinggang Kia. Kia mencoba memberontak namun Rendy malah lebih kuat menarik tubuh Kia hingga dada keduanya menepel hanya terhalang oleh baju masing masing.


Kia menendang papan dari kelapa tempat tidur lalu mendang ke arah depan tubuh Rendy. Tubuh Rendy terjatuh dan tubuh Kia pun terlepas dari cengkaraman tangan Rendy.


"Beraninya kau, Kia!" jangan salahkan aku bila kesabaran ku sudah habis akan menodai mu dan hal itu akan membuat Kahfi enggan denganmu lagi. Ha ha ha ha haaa... ucap Rendy dengan tawa yang mengelegar di ruang kamar tersebut.


Kia mencoba mengesek gesekan tali yang mengikat kedua tanganya ke bagian sisi tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2