Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
93. Liburan


__ADS_3

Bulan yang dinanti-nanti Kahfi dan Kia pun tiba. Dimana di akhir bulan Juni ini Kahfi sudah free dengan pekerjaannya ia sudah memesan tiket untuk berlibur ke luar. Satu Minggu mereka menghabiskan liburannya ke pulau Dewata dan pekan ini mereka berniat untuk bisa berlibur ke keluarga Kia, yang ada di kota B. Kia dan Kahfi baru mendarat dari bandara dijemput sang kakak Razi. Ketika mata Kia melihat sosok sang kakak yang selalu ia rindukan tubuhnya langsung berhambur ke arah Razi.


"Aa... Kia kangen banget sama aa dan keponakan Kia, ikutan nginep kan aa Dede Momonya?" Kia yang perlahan melepaskan pelukannya dari sang kakak dan menoleh ke arah sang suami. "Sini mas biar tas dek yang bawa aja, mas'kan sudah repot bawa koper dan tas dek juga." Sambil meraih tas yang ada tangan Kahfi, Kia mengulas senyum ke arahnya dan Kahfi pun membalas seraya mengulurkan tangan ke arah Razi.


"Ya-lah, dek. kapan lagi bisa kumpul-kumpul keluarga kalau bukan liburan panjang begini." Razi membantu keduanya membawakan barang-barang yang mereka bawa dan mendorong satu persatu koper yang Kahfi bawa tadi jadi berkurang beban baginya. "Kenapa banyak banget sih bawanya nh, bro?" Razi melirik ke arah Kia. "Kamu gak kasihan apa dek sama suamimu bawa koper aja sampe dua belum lagi ini printilan-printilan yang bikin berat aja." ocehnya yang tak tau apa yang dibeli oleh adiknya ini.


Kahfi hanya tersenyum ketika mendengar ocehan Razi yang tau isi tas dan paper bag yang Kia punya adalah oleh-oleh untuk keluargannya dan keluarga kiyai Mansur. Kini tangan Kahfi bisa memegang erat tangan Kia, agar Kahfi bisa melindungi Kia. Kia terenyum ketika tangan kekar Kahfi merahi tangannya. Razi hanya bisa berdehem ria ketika melihat pasangan di depannya seolah menunjukan keromantisan di hadapannya.


"Setelah liburan, dua bulan ke depan pasti akan ada kabar baik, biar Momo ada teman mainnya!" celetuk Razi yang berlalu dari mereka berdua dan Kahfi serta Kia pun saling menatap satu sama lain dan beraamiin ria bersamaan, sambil mengejar langkah sang kakak ipar.


***


Satu jam perjalanan kini mereka bertiga sampailah dikediaman kedua orang tua Kia. Yang telah lama Kia rindukan beberapa bulan belakangan ini. Kahfi bersyukur Kia bisa cepat membaik selama satu bulan belakangan ini. Kahfi yakin sehabis liburan panjang ini tidak akan lagi ada rasa gundah di dalam hati Kia. Kia dan Kahfi melepaskan alas kakinya dan menaruhnya di rak di ikuti juga Razi yang di belakang mereka.


"Assalamu'alikum warohmatullahi wabarikatuh, ketiganya mengucapkan salam bersamaan ketika sampai di depan rumah, yang sudah ada Tari, Rahma yang sedang menggendong anak Razi, Bu Aisyah dan pak Hasbby. Kia langsung mencium tangan pak Hasbby dan memeluknya, bergantian ke sang ibu sambil menitikkan air mata Kia memeluk erat sang ibu yang sangat ia rindukan kehangatannya. "Maafin Kia ya Bu Kia baru bisa main lagi ke sini" Kahfi yang menunggu hendak bersalaman ke Bu Aisyah seraya mengelus-elus punggung Kia.


"Sehat nak Kahfi" ketika pak Hasbby menerima ciuman tangan dari sang menantu. "Alhamdulillah sehat, Yah. Semoga ayah dan ibu juga selalu sehat." kini Kahfi bergiliran menyalami Bu Aisyah. Dan Kia sudah memeluk erat sang adik dan kak ipar dan kini tertuju pada si bayi kecil yang sedang memandangnya bingung.


"Sebentar ya, sayang. Aunti bersih-bersih dulu, nanti kita main bersama ya, sholihah?" Kia menggoda Momo yang kini sudah di gendong oleh Tari. "Semuanya, Kia dan mas Kahfi bersih-bersih dulu ya!" Kahfi mengikuti Kia dari belakang. Kaki Kia terhenti ketika ingat oleh-oleh yang ia bawa belum di turunkan di mobil hingga membuat tubuhnya menabrak Kahfi yang ada di belakangnya.


Brukkk... "Awww" Teriaknya kesakitan ketika kakinya mengenai roda koper.


"Yaa Allah, dek. Kenapa berhenti mendadak? Kahfi langsung melihat ke arah kaki Kia sambil membungkukkan badannya, hingga orang-orang yang di ruang tamu pun menoleh ke arah Kia dan Kahfi"


Bu Aisyah langsung menghampiri keduanya " Kenapa nak Kahfi ?"


"Tidak apa-apa, Bu!" Kahfi langsung mengendong Kia ke kamar ketika mereka berdua sudah menjelaskan yang terjadi barusan. Bu Aisyah menyusul sambil mendorong koper yang tadi hendak Kahfi bawa. "terimakasih Bu, sudah dibawakan" Ucap Kahfi dan Kia ketika melihat Bu Aisyah masuk ke kamarnya"


"Ya sama-sama, ya sudah kalian bersih-bersih dulu dan beristirahat sebentar ibu mau siapin makan dulu ya!" Bu Aisyah meninggalkan keduanya dan berlalu ke arah dapur.

__ADS_1


Setelah Kahfi merapihkan baju-baju yang ada di dalam koper ke lemari ia langsung menuju ke arah Kia dan berjongkok di hadapan Kia hendak melihat kaki Kia yang terkena koper.


Mata Kia membulat sempurna ketika melihat sang suami yang kini ada di dekat kakinya. Ia duduk di kursi meja riasnya. Karena merasa tak enak hati dengan suami ia bangkit dan memilih duduk di lantai. Mata Kahfi berkeliling sambil melihat pergerakan sang istri yang tak taunya hanya ingin mensejajarkan duduk dengannya. kedua sudut di bibirnya melebar, tersenyum dengan manis serta sempurna. Kia hanya bisa menatap ke anehan pada suaminya yang senyum sendiri.


"Mas kok senyum-senyum gitu, ada yang aneh ya sama muka, dek? Kia memberanikan diri menyentuh kedua pipi Kahfi dengan kedua tangannya.


"Gak ada apa-apa sama dek. Mas cuma lucu aja, kenapa dek harus turun dari kursi, mas kan cuma mau liat kaki, dek. ada lukanya apa gk!?" Kahfi yang sudah membuka kaos kaki sang istri. Dilihatnya memar pada ujung jari tengah Kia.


Kia meraih tangan kekar sang suami yang sedang menyentuk kakinya. "Ini gak kenapa-kenapa, mas. " Terimakasih mas selalu mengkhawatirkan, dek." Dengan beraninya Kia mencium pipi Kahfi. Kahfi hanya tersenyum menatap wajah sang istri yang kini menahan malu karena tindakkannya.


***


Jam sembilan malam. Semua keluarga berkumpul di ruang tengah setelah menyelesaikan makan malam bersama. Kia sedang asyik berbagi cerita kepada sang adik dan kakak ipar, dan juga sang ibu mereka semua mengulas senyum ketika mendengar kelakar dari Rahma yang senang berkelakar. Suasana di ruang tengah menjadi sedikit berisik hingga mengusik tidur Mounera. Tari langsung masuk ke ke kamar dan menemani sang buah hati agar bisa tidur kembali.


"Kamu si dek, guyonan terus kita-kita jadi ketawa dan bikin Momo bangun deh. Kia melempar boneka Teddy Baer Rahma yang ada di sebelahnya. Rahmah membalas dengan melempar bantal kursi hingga Bu Asiyah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Dari sebelum nikah sampe sudah nikah kedua anak ini gak pernah kalau gak bertengkar dech, Yangs ati jail yang satunya juga usilan." Bu Aisyah berlalu dari mereka berdua. Kahfi yang melihat tingkah laku sang istri hanya memandanginya dan tersenyum ke arahnya.


"Dasar beruang madu!" Kia bangkit dari ruang tengah dan hendak menuju ke ruang tv.


"Dasar tikus dapur" Balas Rahma. Kia terdiam sejenak mendengar Rahma mengumpatnya dengan Tikus dapur hingga terlintas seseorang yang pernah memanggilnya dengan sebutan itu.


Rahma menatap sang kakak tanpa ada pembalasan seperti biasanya. sang kakak hanya terdiam mematung hingga Razi menyadarkannya dengan satu jari telunjuk menyentuh hidung Kia. "Malah bengong, kenapa inget sama almarhum yang pernah manggil kamu dengan panggilan itu!" celetuk Razi hingga Kahfi yang sedang mendengarkan pak Hasbi berbicara sampai menoleh dan mencerna perkataan Razi barusan.


Kia melihat ke arah Razi sambil mengisyarkan satu telunjuk di kedua bibirnya serta mengedeip-ngedipkan matanya. Menandakan suara Razi begitu keras takut-takut Kahfi mendengar dan menjadikannya salah paham. Razi menangkupkan ke dua tangannya dan berlalu dari hadapan Kia ke arah kamarnya. Ia tidak mau kena ocehan Kia ketika nanti ada sesuatu diantara Kia dan Kahfi.


Kahfi izin ke kamar kepada pak Hasbby ketika benda pipih di saku celananya berdering, berjalan sambil meraih tangan Kia yang sedang berdiri di ruang tv ketika dirinya melihat sang kakak masuk ke kamar. Kia menatap ke arah tangannya, dan mengikuti langkah sang suami. Kahfi menutup pintu kamar ketika mereka berdua sudah di dalam.


"Mas, ada apa? siapa yang telepon? Kia duduk mengikuti Kahfi.

__ADS_1


"Adam!" Jawabnya singkat. Kia menjawab dengan anggukan dan menatap sang suami yang masih berbicara serius di dekat jendela kamar.


Kia bangkit dari duduknya dan berniat hendak melangkah ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya. Kia berhenti ketika Kahfi menyudahi pembicaraannya di telepon dan berbalik ke arah dimana Kahfi berada.


"Mas!" Kia terdiam ketika melihat wajah Kahfi yang sedikit berbeda.


Kahfi pura-pura sibuk dengan ponselnya, sambil mengscroll yang sebenarnya ia hanya menghindari wajahnya yang mungkin Kia sudah hafal dengan rasa cemburunya. "Dek bukannya mau ke kamar mandi?" elaknya agar Kia tidak menanyakan hal itu kepadanya.


Kia pun mengurungkan pembahasan itu kepada hingga akhirnya ia menjawab dan berlalu dari hadapan Kahfi ke arah kamar mandi. Kahfi menghembuskan nafasnya yang berat dan merebahkan tubuhnya ke tas kasur sambil memainkan benda pipih yang ada di tangannya sambil melihat-lihat jadwal di pertengahan bulan ini. Denting suara hand phone Kia munculah satu id dari chat tersebut Kahfi mau tak mau matanya ke arah benda yang ada di sisi kirinya yang kebetulan benda itu ada di atas nakas. Hatinya bergemuruh kembali ketika melihat nama Huda.


Lima menit Kia sudah menuntaskan urusannya di kamar mandi. Di lihatnya sang suami yang berbaring membelakanginya. Kahfi tak ingin Kia mengetahui wajahnya yang menahan rasa api cemburu. Ia mencoba menahannya dengan baik namun rasa itu lebih kuat dari tekadnya. "Ada chat masuk di hp, dek tadi, kayanya penting karena suaranya berkali-kali." Ucapnya dengan penuh penekanan dan ia pun bangkit dan menuju ke arah kamar mandi.


Kia melihat sekilas wajah anak suami yang sedikit ditekuk berlalu dari hadapannya Kia yang menyadari perubahan sikap Kahfi dengan sedikit agresif ia langsung menghentikan langkah kaki Kahfi dan melingkarkan kedua tangannya ke pingang Kahfi sambil menyandarkan wajahnya di punggung kekar Kahfi. Kahfi terdiam tanpa pergerakan.


Kia semakin mengeratkan pelukannya "Maafin dek ya mas, kalau dek bikin hati mas gak nyaman. Mas jangan marah sama dek. Di hati dek cuma ada mas Kahfi seorang." Kia selalu nyaman dengan aroma di tubuh Kahfi hingga wajahnya tak ingin lepas dari punggung yang sudah membuatnya nyaman. "apapun permintaan mas malam ini akan dek lakukan tapi janji mas gak boleh kasih muka masam mas ke dek lagi!"


Kahfi sedikit tersenyum dengan kata-kata sang istri dan berniat ingin mengerjainya, hingga ia memutuskan untuk tidak merespon tindakan sang istri. Perlahan tangan Kahfi melepaskan pelukan dari Kia tanpa menoleh Kahfi berjalan ke arah kamar mandi karena dirinya sudah tak tahan untuk BAk.


Kia sedih karena Kahfi sama sekali tak merespon permintaan maafnya. Sampai akhirnya ia bolak balik bak strikaan. beberapa menit ia menunggu Kahfi di depan pintu kamar mandi, akhirnya Kahfi muncul juga masih sama dengan wajah datarnya. Kia mengekor di belakangnya sambil terus berceloteh meminta maaf. Kahfi duduk di atas kasur dan meraih selimut namun tangan Kia dengan cepat mencegahnya. Kini bukan kata-kata lagi yang keluar dari Kia melainkan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Kahfi yang tak tega dengan sebuah air mata akhirnya ia menyudahi kepura-puraanya.


"Hiks... hiks..." suara Isak tangis Kia terdengar jelas di dada Kahfi, karena Kia langsung berhambur memeluk Kahfi yang sudah hendak merebahkan tubuhnya.


Kahfi meraup wajah Kia yang sudah basah dengan air matanya sambil tersenyum ke arah Kia dan menempelkan hidungnya, dengan gesekan lembut Kahfi mencium bibir ranum Kia sekilas. "Mas udah maafin, dek kok. Tangan Kahfi memeluk tubuh Kia dengan satu tangannya dan tangan kanan menghapus air mata Kia. Tadi mas kebelet banget mau ke kamar mandi tapi dek malah mencegah mas masuk, jadi mas cuwekin permintaan maaf, dek!"


Tubuh Kia sedikit mendorong tangan Kahfi. "Jahat, mas Jahat bikin dek merasa bersalah." Kedua tangan Kia memukuli dada bidang Kahfi dengan bibir yang sedikit di majukan ke depan.


"Ya maaf ya sayang. Abis mas cemburu ketika ngeliat dek yang seolah memikirkan orang tersebut ketika Rahma mengatai dek dengan sebutan kesayangan itu. Pasti dek kebayang lagi kan masa-masa indah itu" Kahfi menyandarkan tubuhnya ke dipan. Kia sedikit mendongak ke wajah Kahfi dan menarik rambut jangut Kahfi yang tipis.


"Aww... sakit dek." Kahfi mengaduh dan memegangi bagian yang sakit. Kia hanya tersenyum dan hendak berbaring di samping Kahfi namun setelah Kahfi membaringkan Kia dengan cepat ia menindih tubuh Kia, dimana Kahfi kini ada di atas Kia. dengan sedikit berbisik ke telinga Kia ia mencoba menggoda sang istri. "Tadi ada yang bersedia akan melakukan apa saja, utntuk permohonan maafnya, berarti malam ini mas akan membuat dek begadang sampai pagi" bisik Kahfi menggoda.

__ADS_1


Mata Kia membulat, dan wajahnya hendak berpaling ke arah kanan Kahfi, namun dengan cepat Kahfi memajukan bibirnya ke bibir Kia. Hingga malam itu mereka habiskan dengan indah. Keduanya tertidur pulas ketika mereka sudah mandi bersama dan langsung beristirahat dengan penuh kehangatan.


__ADS_2