Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
66. Ritual Yang Tertunda


__ADS_3

Sudah 5 hari Kia tinggal bersama Kahfi kini saatnya mereka berdua mengemas baju-bajunya ke dalam koper untuk pergi menemui paman Dito. Selama disana mereka berdua akan tinggal di rumah orang tua Kia.


" Sayang!"


Begitulah sekarang Kahfi memanggik Kia setiap harinya.


" Ada apa, mas?" tanya Kia sambil memasukan 1 kaos lagi untuk Kahfi ke dalam koper berwarna coklat.


" Bawa bajunya jangan banyak-banyak ya, nanti kita bisa beli disana bila kurang!" ucap Kahfi mendekatkan tubuhnya dari belakang Kia.


" Baiklah!" jadi tidak usah memakai koper ya, mas!" Ucap Kia sambil menoleh ke belakang dan melihat dagu Kahfi sudah menaut pada bahunya.


" Sayang, apa tamu tak diundang de sudah pergi?" tanyanya sambil mencium aroma sampo pada rambut Kia.


Deg ...


Hati Kia berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan Kahfi.


" Pasti dia meminta haknya pagi ini?" bagaimana ini? Aku merasa belum siap, bila aku menolaknya maka malaikat akan melaknatku!" Yaa Robb aku rasa aku belum siap!" Batin Kia.


" Sayanggg ... Kenpa diam? " tanya Kahfi sambil membalikan tubuh Kia untuk menghadapnya.


Dengan kagetnya Kia melepas baju yang baru saja ia ke luarkan dari dalam koper.


" Ooohh Itu ... Itu ... De sudah ... Sudah selesai, Alhamdulillah! " jawabnya gugup


" Kenapa de gugup? hem!" tanyanya lagi sambil meraih dagu Kia yang matanya tak fokus menatap lawan bicara yang ada di depannya.


" Gak, gak kenapa kok, mas!"


" Deak, boleh mas melakukannya pagi ini?"


Tanpa menunggu jawaban dari mulut Kia, Kahfi sudah mengeserkan tubuh Kia ke tengah kasur empuknya. Perlahan ia mengunci kedua tangan Kia sambil terus mencium aroma wangi dari tubuh sang istri yang kini masih menggunakan baju tidur berlengan pendek. Dengan sedikit gerakan Kia mencoba menghindar namun bibir Kahfi sudah melesat dengan cepat ke atas bibir Kia. Hati Kia berdebar hebat, matanya betemu dengan mata dari laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya. Perlahan ia menikmati sosoran dari bibir Kahfi dengan mata terpejam. Tubuhnya memanas ketika Kahfi memgabsen setiap gigi Kia dengan lidahnya.


Ketika mereka sama-sama saling menikmati suara salam dan ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Perlahan Kahfi menyudahi aksinya dan mengusap lembut bibir Kia yang basah karena ulahnya.


" Sepertinya Yazid yang datang!" ucap Kahfi sambil merapihkan baju dan rambutnya.


" Biar de ya ke luar melihat!"


" Sayang, lihat bajumu? Biar mas saja yang ke luar menemui Yazid, ya!" Ucap Kahfi sambil mencium pucuk kepala kia yang tanpa hijab.


" Maaf Kia lupa kalau Kia belum menganti baju!"


Perlahan Kahfi melangkah ke luar menemui sang tamu yang sudah mengganggu hal romantisnya dengan Kia.


🌸🌻 🌸


" Wa'alaikum salam ... Ada apa, Zid pagi-pagi banget udah ke sini?" ucap Kahfi yang sudah ada di teras rumah dimana Yazid sudah duduk menunggu sang pemilik rumah.


" Lama banget sih buka pintunya!" mentang-mentang pengantin baru betah banget di dalem kamar!" ucapanya mengoda.


" Iya maaf, tadi mas sama Kia sedang membereskan baju!" jawab Kahfi sambil melihat paper bag yang ada di atas meja.


" Ini apaan, Zid?


" Titipan abi untuk orang tua kakak ipar, karena abi pas shubuh sudah berangkat untuk mengisi ceramah di daerah B jadi minta ana untuk mengatarkannya langsung ke rumah mas!"


" Oooh begitu, terima kasih ya dedek kecilku yang beranjak dewasa karena sudah mau mengatarkannya pagi-pagi buta seperti ini!" ucap kahfi sambil mengacak-ngacak kepala Yazid yang tak memakai peci.


" Ihhh, apaan si mas bro, lebay banget dah!" ucap Yazid jengkel.


Ketika dua lelaki itu sedang asik berjenaka dan saling mengoda tiba-tiba Kia datang sambil membawa ponsel Kahfi di tangannya.


" Mas, ini ada telpon dari om Dito!" ucap Kia yang sudah rapih dengan gamis berwarna hijau muda pemberian Kahfi waktu itu.


" Ya! Masih, sayang!" ucap Kahfi sambil meraih ponsel yang Kia berikan.


" Ehem ... Ehem ... Tau deh yang pengantin baru!" Kayanya sengaja banget nih manggil sayangnya di depan ana sampe-sampe jiwa jomblo ana meronta!" ucap Yazid melirik Kahfi.

__ADS_1


Dengan isyarat satu telunjuk di depan bibinya Kahfi menoleh pada Yazid agar tidak mengodanya dirinya di depan Kia.


" Mau di buatin minum apa, Zid?" tanya Kia pada pria yang masih menggunakan kaian sarung dan kokok berwarna toska.


" Tidak usah repot-repot kakak ipar! Ana mau pamit kok. Ana cuma membawakan titipan abi untuk kedua orangtua kakak!"


" Sampaikan ucapan terima kasih kepada abi ya, Zid!" maaf juga sudah merepotkan kamu, Zid!"


" Ya sudah aku pamit pulang ya kakak ipar!" selain kata sayang gombalan apa yang sering di lontrkan mas bro ana kepadamu, kakak ipar?" ucap Yazid memelankan suaranya karena takut Kahfi mendengar.


Kia yang mendapat godaan dari Yazid hanya diam membisu dan menampakan wajah yang malu serta memerah. Kahfi yang sudah selesai menutup telponnya dengan cepat mencubit pinggang Yazid dengan sedikit menarik.


"Awww, mas bro!" sakit tau!" teriaknya kesakitan.


" Sudah mas peringatkan jangan menggoda kakak ipar, malah sengaja mengodanya di depan ana, emangnya ana gak denger!" heh!" ucap Kahfi yang kini mendekat pada Kia dan merangkul bahu Kia di depab Yazid.


" Iya ... Ya, maaf!" kalau mau mesra-mesraan jangan di depan rumah masuk aja ke kamar!" ucapnya setengah berlari mendekati motornya yang terpakir jauh dari rumah Kahfi.


" Awas anta ya, Zid!" teriak Kahfi hendak melempar sendal ke arah adik angkatnya tersebut.


" Masss ... Kaya Tom and Jerry aja kalau udah ketemu sama Yazid!" ucap Kia sambil tersenyum kecil.


" Habisnya seneng bener godain mas!" Kita lanjutin yang tadi ya, deak?" ucap Kahfi sambil mengendong Kia masuk ke dalam rumah.


Di sebrang sana yang tak jauh dari ruang kamar anak-anak panti ada sepasang mata yang melihat ke romantisan Kahfi terhadap Kia dari ke jauhan. Hatinya sakit ketika melihat pria yang ia cintai begitu bahagia dengan wanita pilihannya.


" Kenapa mas Kahfi tidak pernah peka akan cintaku padanya!" Harusnya aku yang sekarang tinggal bersamanya, bukan kamu Aulia!" Batinnya sambil meremas gagang sapu yang ada di tangannya.


🌸🌻🌸


Dengan semangatnya Kahfi menaruh Kia di atas kasur. Niat hati ingin melanjutkan ritual yang tadi sempat tertunda. Namun suara dari perut Kia membuat Kahfi mengurungkan niatnya kembali karena dia tak mau bila Kia sampai telat untuk sarapan.


" Sayang, laper ya?" Ucap Kahfi ketika melihat Kia yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


" Kita sarapan dulu, ya!" ajak Kahfi sambil membuka tangan Kia yang menutupi wajahnya sendiri.


" Tapi, mas!" ucap Kia yang tak mau mengecewakan suaminya.


" Tapi de belum sempat bikin sarapan pagi ini!" maaf ya, mas!" ucapnya sedih.


" Tak apa! Hari ini biarkan mas yang membuat sarapan untuk bidadari syurganya mas!"


" Kita buat sarapannya sama-sama ya, mas!"


" Baiklah!" kelihatannya lebih seru ya, sayang!"


🌸🌻🌸


Kia sudah membersihkan rempah-tempah untuk membuat nasi goreng. Kahfi memotong-motong bakso, sosis dan cumi basah yang masih tersisa di dalam kulkas yang sudah dibersihkan oleh Kia kemarin.


Ketika Kia akan mengulek bumbu dengan cepatnya Kahfi mengambil cobek dan ulekan yang Kia pegang.


" Biar mas yang menguleknya! " Deak, duduk manis saja di sana, ya!" ujuk Kahfi pada meja makan yang tak jauh dari dapur.


" Tapi___


Ucapannya terpotong seketika karena Kahfi sudah mengecup sekilas bibir Kia dengan lembutnya.


" Kalau de banyak protes mas kapan masaknya!" pokoknya de duduk manis percayakan sarapan pagi ini kepada chafe Kahfi." Ucapnya sambil melipat kedua tangannya dan bergaya ala cover boy.


20 menitan Kahfi berkutat dengan alat tempurnya di dapur. Dua piring nasi goreng seafood pun kini tersaji di hadapan Kia.


" Dari wanginya, sepertinya nasi goreng buatan mas cukup enak!" puji Kia sambil mengipas-ngipaskan kepulan asap pada piring yang ada di hadapanya ke arah wajahnya.


" Ini bukan sekedar cukup bahkan lebih enak dari chafe mana pun karena, membuatnya dengan penuh bumbu cinta dan sholawat di dalamnya.


Seperti biasa walau Kahfi menyediakan dua piring mereka tetap saja makan satu piring berdua. Kali ini Kia yang bergantian menyuapi Kahfi dengan tangan lembutnya. Kia terus muji.masakan suaminya yang begitu lezat. Kahfi yang senang mendapt pujian dan dengan kepekaan Kia terhadapnya membuat Kahfi terus mengulas senyum manis kepada Kia ketika ia menyuapi Kahfi.


🌸🌻🌸

__ADS_1


Jam menujukan pukul 10 pagi. Kahfi dan Kia sudah memasukan barang bawaanya ke dalam mobil. Ketika Kahfi mengunci rumahnya dengan rapih. Sesorang menghampiri mereka dengan sedikit berlari.


" Kakak cantik mau kemana?"


" Kania!" ucap Kia ketika melihat gadis kecil itu mendekat dan memeluk kedua kakinya.


" Hai gadis cantik!" bukanya serkarang jamnya Kania belajar dengan kak Dora, ya? Ucap Kahfi mengelus kepala Kania.


" Kak tampan tidak akan lama kan pergi dengan kakak cantik?" Kania pasti akan meridukan kakak bedua!" ucapnya sambil menunjukan wajah sedihnya.


Dengan sedikit mensejajarkan tinggi badan gadis mungil itu, Kia mencoba untuk memberi pengertian kepada Kania. Tutur kata lembut Kia membuat gadis kecil itu mengerti bahwa kepergian mereka berdua tidak akan lama dan semua ini karena Kia meridukan tempat kelahirannya.


" Inshaa Allah, nanti kakak akan belikan boneka cantik kesukaan Kania, ya!" bujuknya agar Kania senang.


Ketika Kia sudah selesai memberi pengertian kepada Kania Dorapun memghapiri mereka bertiga.


" Kania, kakak cari kemana-mana ternyata kamu di sini, ya?" yukkk ... Kita kembali ke kelas!" ucapnya sambil memberikan senyum terpaksa kepada Kia.


" Baik, kak!" kakak tampan dan kakak cantik hati-hati di jalan, Kania akan selalu merindukan kakak berdua setiap hari! " ucapnya seraya melangkah dan melambaikan kedua tanganya.


" Terima kasih, Kania cantik yang rajin ya belajarnya!" ucap Kia yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


Mobil Kahfipun melaju di depan gerbang mereka berpapasan dengan Adam yang akan memasuki pintu gerbang.


" Assalamu'alaikum, sudah mau berangkat ya, akh?" sapanya ketika mobil Kahfi berhenti.


" Wa'alaikum salam, ya akh!" ana titip anak-anak panti ya! sering-seringlah melihat keadaan mereka ketika malam bersama Yazid, ana Kahwatir kejadian seperti Fatur terulang!" jawab Kahfi yange urunkan kaca jendela mobilnya.


" Insyaa Allah, siap. Akh!" hati-hati di jalan jangan lupa mampir juga ke rumah orang tua ana disana, ya!"


" Insyaa Allah. ana berangkat dulu ya, akh!" Assalamu'alaikum ....


" Wa'alaikum salam warohmatulloh ...


🌸🌻🌸


Baru dua jam perjalanan yang mereka tempuh. Tepat di sebuah masjid yang cukup besar Kahfi memarkirkan mobilnya berniat untuk melakukan sholat dzuhur terlebih dahulu dan baru melanjutkan perjalanannya kembali. Selama perjalanan Kahfi menyalahkan murotal dan melihat Kia yang mengikuti bacaan setiap suroh yang dibacakan.


" Sayang, kalau ngatuk tidur aja!" nanti kalau sudah sampai mas bangunkan, ya!"


" Gak mas!" Kia gak ngatuk kok. Lagian kalau Kia tidur mas gak ada yang nemenin ngobrol dan mas yang nanti malah mengantuk!" ucapnya melihat sekilas pada pria yang kini mengenakan kacamatanya.


Sekejap Kahfi mengehentikan mobilnya. Meraih tangan Kia yang ada di atas paha.


" Makasih ya, sayang! untuk semuanya. Mas bersyukur Allah mempertemukan kita walau di tempat yang berbeda dan di keadaan yang berbeda pula!" ucapnya seraya mencium tangan Kia dengan lembutnya.


" Maksud, mas? memang sebelumnya kita pernah bertemu di tempat lain ya? tanya Kia sedikit bingung.


Sedikit menjalankan laju mobilnya dengan pelan Kahfi menjelaskan kejadan pertama kali dirinya bertemu dengan Kia di toko buku. Ketika itu Kahfi tau bahwa Kia bersama laki-laki namun ia berprasangka baik bila laki-laki itu bukan siapa-siapa Kia.


" Jadi pria yang waktu itu menolak uluran tangan de itu, mas Kahfi? Tanya kaget.


" Iya itu mas, sayang! " kenapa beda ya sama yang sekarang?"


" Pantas aja, waktu de liat mas buka kacamata, Kia kayanya gak asing sama wajah mas Kahfi. Tapi Kia lupa pernah melihat mas itu dimana!"


" Ya waktu itu de bersama dengan laki-laki yang perawkannya tinggi kecil, ya!" dia siapanya, dek?"


Pertanyaan Kahfi yang membuat Kia enggan bicara tentang masa lalunya dengan Prama. Semuanya seolah mengores kesedihan yang belum sembuh benar di hatinya. Sehingga Kia hanya terdiam sedih ketika wajah Prama melintas di benaknya. Kahfi yang menyadari perubahan wajah istrinya diam dan tetap fokus menyetir. Walau banyak pertanyaan yang ingin dia tau tentang laki-laki yang wajahnya sedikit mirif dengan Huda.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung----


__ADS_2