
Matahari sudah mulai terik, seorang yang masih rapih dengan kemeja panjang berwarna biru itu masih berjalan menuju pintu keluar dari gedung yang besar nan tinggi. Wajahnya memancarkan kebahagiaan, di setiap langkahnya ia terus mengucapkan rasa syukur karena, akhirnya ia diterima menjadi dosen di kampus yang telah memberikannya gelar S1. Dengan langkah yang begitu semangat ia menuju parkiran di mana motornya ia letakan.
Sesorang yang hendak menutup pintu mobilnya akhirnya terhenti dan datang mendekatinya.
"Assalmu'alaikum, ya Akhi Razi? Ucap sesorang berkemeja abu-abu dan berkacamata tersebut menyapanya.
Razi pun menoleh pada asal suara tersebut. " Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, ya Akhi Kahfi!" Masyaa Allah, ana sudah lama baru melihat antum lagi setelah sekian tahun!" Masya Allah ... Masya Allah. Ucap Razi yang menyalami sahabat lamanya sewaktu KKN kuliah dulu.
"Alhamdulillah, ana baik, akh!" antum sedang apa di sini? Tanyanya yang sambil terus menepuk-nepuk bahu Razi.
"Ana habis melamar jadi dosen di kampus ini, Alhamdulillah mulai minggu depan ana sudah mulai mengajar di sini." Ucap Razi senang bisa bertemu lagi dengan Khafi yang penah membantunya waktu KKN beberapa tahun yang lalu.
"Ana pamit duluan ya?, karena, hari ini harus balik lagi ke daerah x untuk memengurus Yayasan Panti Asuhan yang sudah di kelola di daerah x. Kapan-kapan antum mampirlah bila sedang singgah di daerah sana!" Samapai ketemu lagi di lain kesempatan, Assalamu'alaikum. Tukasnya berpamitan dan langsung memasuki mobil yang akan ia kendarai.
"Wa alaikum salam, aamiin, Insyaa Allah ... " hati-hati, akh! Jawaba Razi sambil melambaikan tangannya.
****
"Assalamu'alaikum ...
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu pada kamar Kia.
"Kia ..., ada nak Ulan dan nak Brayen di luar!" Ucap bu Aisyah.
"Wa alaikum salam ... Ya, bu ... Sebentar Kia akan ke luar. Ucapnya pelan yang sambil merahi jilbab instan yang ada di lemari.
Perlahan ia pun melangkah kan kakinya untuk ke ruang tamu walau, sedikit lemas ia berusaha untuk menemui dua sabahatnya itu.
"Yaa Allah, Kia, kamu pucet banget!" ucap Ulan yang melihat ke hadiran Kia di hadapan meja sebrang kursi yang ia duduki.
"Aku udah gak apa-apa kok, Lan! Kamu gak usah panik gitu liat akunya, kaya liat hantu aja!" Ucap Kia yang sedikit mengulas senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Gue kesini mau kasih tau elo sessuatu tentang kejadian yang menimpa Prama. Ucap laki-laki yang berwajah oriental yang duduk di sebelah Ulan, yang tak lain dia adalah Brayen sahabat semasa sekokah Kia.
Kia langsung tertunduk ketika mendengar nama pria yang ia sangat cintai disebut oleh Brayen. Ulan yang ada disebelahnya seolah memberi isyarat tak enak hati bila membicarakan hal penting itu dengan kondisi Kia yang belum satabil, dengan sebuah sengolan pada siku tangannya, Ulan mencoba untuk menyakinkan Brayen.
Brayen yang tau hal tersebut seolah menjawab dengan sebuah kedipan mata dan anggukan pada Ulan.
"Maaf ya Kia, mungkin hal ini akan bikin elo merasa sedih lagi ketika gue bahas ini ke elo. Gue cuma menyampaikan amanat pak Proyga yang harus memberitahu sama elo, kalu yang celakain Prama itu adalah Delia mantan kekasih Prama yang sudah bebas dari jeruji besi.
Deg . . .
Hati Kia seolah kaget mendengar tutur kata yang disampaikan oleh Brayen. Ia langsung menatap mata lawan bicaranya dengan tegas.
" Benarkah? Berarti aku selama ini salah menduga? Karena, yang aku pikir Mawarlah yang telah mencelakai Kak Prama karena motif sakit hati!" Ucap Kia sedikit kaget.
"Ini ada hubungannya juga dengan Mawar, karena Mawar dan Delia itu sepupuan mungkin selama ini Mawar selalu memberikan info tentang Prama kepadanya. Ucap Brayen sambil meutar-mutar pergelangan tangannya dengan 5 jarinya.
" Apa mereka sudah diserahkan kepada yang berwajib? Tanya Kia penasaran.
"Itulah yang bikin kami semua mencari orang-orang terdekat dari mereka berdua karena, mereka menjadi buron setelah polisi tau bahwa mereka pelakunya, sekarang om Prayoga sedang mengerahkan semua polisi agar mencari keberadaan mereka. Jawab Brayen yang sebenarnya ingin menjelaskan satu hal lagi namun terpotong oleh pernyataan Kia.
"Nah, itu yang tadi gue mau sampein sama elo. Setelah gue dan mas Huda mencoba buat dateng ke rumah Kinanti, kata adik-adiknya, Kinanti belum pulang dari ngelamar pekerjan. Cukup sedih sih gue ngedenger cerita kedua adiknya Kinanti, semenjak Kinanti dipecat dia belum dapet kerjaan lagi. Gue sama mas Huda sempet kasih dia kesempatan buat dia kerja di kantor kita namun dengan syarat dia harus kasih tau keberadaan Mawar dan sepupunya itu. Ucap Brayen sambil menatap Kia yang mulai mengeluarkan buliran bening pada matanya.
" Gue sebenernya sedih banget waktu liat Kinanti sampe sujud-sujud ke kak Prama waktu itu, karena gue ngerasain giman punya adik yang masih sekolah sedangkan harapanya hanya dia. Ucap Kia mencoba memposisikan dirinya bila ada pada konsiai Kinanti ....
"Walau gue tau, mungkin karena dia temenan deket sama Mawar jadi dia mengikuti kemauan Mawar buat memcoba bantu ngebuliy gue, Yen. Tambahnya sambil menatap Ulan yang hanya terdiam.
Ketika mereka sedang membahas masalah tersebut bu Aisyah datang dengan membawa 3 gelas jus alpuket berharap Kia bisa meminumnya pula.
" Yaa ampun ... tante repot-repot buatin kita jus. Ucap Ulan yang mencoba membantu meletakan gelas-gelas panjang itu ke atas meja.
"Gak apa-apa, Nak Ulan. Kebetulan tante beli banyak buah alpuketnya. " Ayoo silahkan di minum mumpung masih dingin, kan seger siang-siang gini minum jus. Ucap bu Aisyah seraya duduk si sebelah kiri Kia.
"Terima kasih, tante!" Ucap Ulan dan Brayen bersamaan.
__ADS_1
Nak Ulan dan nak Brayen ini, tante lihat sering datang berduaan kesini, ya? apa kalian sudah janjian apa memang ada hubungan khusus nih? Tanya bu Aisyah penasaran seolah mewakili rasa penasaran pada hati Kia.
"Ahh, tante kita kan jadi malu? Ucap Ulan yang sudah menunjukan muka memerahnya sambil tertunduk.
" Hmm ... kebetulan kita janjian, tante!" Ucap Brayen singkat.
Terdengar suara motor di luar, dengan langkah cepat dan ucapan salam dari Razi yang baru pulang. Tegur sapapun mengisi ruangan semakin ramai, membuat bu Aisyah semakin senang melihat Kia yang bisa mengulas senyum siang hari ini.
"Gimana, a hasilnya hari ini? Tanya bu Aisyah
" Alhamdulillah, mulai minggu depan aa sudah ngajar di kampus tersebut bu. Jawabnya senang.
"Alhamdulillahirobbil'alamiin, ibu ikut seneng a, dengernya!"
"Selamet ya a, akhirnya aa akan dipanggil pak dosen juga. Canda Kia. Yang membuat Razi bahagia melihat adiknya yang kini sudah mulai membaik suasana hatinya.
" Alhamdulillah, kan berkat do'a kalian semua aa bisa di terima di kampus tersebut.
"Selamet ya Aa bro ... semoga jadi dosen pavorit di kampus x sekali gus mencari bidadari yang akan di persunting sebagai calon istri. Canda Brayen yang sekilas melirik Ulan.
"Aa ku ini udah punya calon, tau? orangnya cantik, lembut dan Inshaa Allah sholihah. Ucap Kia yang memperhatikan tingakah salah tingkah kakaknya yang menggaruk-garuk pungung kepala yang tidak gatal.
" Hmm ... do'akan saja ya, semoga Allah mudahkan semuanya. Ucap Razi yang berlalu meninggalkan mereka berempat di ruang tamu menuju kamarnya
"Aamiin . . ." Ucap semua serempak.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung-----