
Jam sepuluh pagi di rumah abah Dahlan. Nek Rumi yang sudah sibuk menata rantang yang sudah diisi dengan lauk pauk dan sayur kesukaan sang cucu dengan bahagia ia letakan di atas meja. Sambil menunggu sang suami pulang dari kebun. Matanya terus menatap pintu depan rumahnya. Berharap sang suami sudah pulang.
Terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahnya. Hati nek Rumi bertanya tanya siapakah yang datang pagi pagi. Suara salam pun terdengar olehnya. Suara yang sudah lama ia rindukan beberapa minggu ini. Niat hati ingin mendatangi rumah sang cucu tapi sepertinya Kia yang mendatanginya.
Pintu rumah pun ia buka ketika ia selesai menjawab salam. Kedua tanganya langsung merangkul kedatangan sang cucu tersayangnya.
"Yaa Allah, nenek sampe kangen banget sama kamu, sayang. Kirain nenek cucu nenek udah lupa jalan ke rumah, nenek.
Senyuman manis menghias wajah Kia dan Kahfi ketika melihat nek Rumi sehat sehat saja. Matanya seolah sedang mencari seseorang yang belum kelihatan.
"Kia juga kangen banget sama nenek, nek! Maaf hampir dua minggu Kia menginap di rumah ibu. Kakek kemana, nek? kok gak kelihatan?"
"Nak Kahfi duduk, nenek buatkan teh hangat ya!
"Kakek mu belum pulang dari kebun. Gak tau tuh biasanya jam sembilan juga kakek udah pulang, ini tumben banget udah jam segini belum pulang." Ucap nek Rumi hendak jalan ke arah dapur untuk menyediakan minum untuk Kia dan Kahfi.
Kia yang tau, langsung mencegah nek Rumi dan menyuruhnya untuk duduk di dekatnya.
"Nenek kaya Kia sama mas Kahfi tamu aja. Kalau Kia atau mas Kahfi haus, Kia akan ambil sendiri nek ke dapur!"
"Ya, nek!" Nenek duduk aja disini ngobrol sama kita. Cucu nenek dari semalam ribut kangen sama nenek pengen main." Kahfi yang sudah kelihatan akrab dengan nek Rumi.
"Niat nenek sama kakek mau main ke rumah kalian. Alhamdulillah kalian yang malah datang kesini, abis nenek nunggu kakek lama banget belum pulang juga." Nek Rumi yang melihat ke arah Kia dan Kahfi yang kelihatan sedikit kurusan.
Suara langkah kakipun terdengar. Nek Rumi yang sudah hafal ia pastikan itu sang suami yang sudah pulang dari kebun. Abah Dahlan yang sudah hafal dengan motor Kahfi ia sudah pasti tau siapa tamu yang ada di dalam rumahnya. Setelah ia mengucapkan salam abah Dahlan mendekat pada mereka bertiga yang sedang asik berbincang bincang. Dengan dua kantong keresek yang beriisi hasil panennya hari ini.
"Wahhh, ada cucu kakek dan nak Kahfi nih, pantes aja suara ketawa nenek sampe kedengeran dari luar. Ucapnya yang menerima ciuman tangan dari Kia dan Kahfi.
"Iya. Nunggu kakek kelamaan sampe akhirnya orang yang mau kita datengin udah kesini duluan. Kakek lama banget ngapain aja, kek? Tanya nek Rumi penasaran.
"Ia tadi ada pak Ahmad, nawarin tanah yang katanya mau di jual. Lagi butuh dana buat anaknya kuliah katanya. Abah Dahlan yang sudah duduk di sebelah kiri kursi yang Kahfi duduki.
__ADS_1
"Maksud kakek pak Ahmad ayahnya Farah?" Tanya Kia kaget.
"Ya, sayang. Kata pak Ahmad Farah kuliahnya lagi butuh dana gede buat dia KKN sama adik adiknya yang mau lulus sekolah semuanya.
"Terus kalau pak Ahmad mau jual tanah sawahnya gimana dia bisa nani lagi, kek?" Tanya Kia yang kasihan dengan keluarga Farah.
"Bilang aja kek, pak Ahmad gak usah sampe jual sawahnya. Biar nanti uang sekolah adiknya Farah, Kahfi yang akan tangung. Kalu mau pak Ahmad kerja aja di pabrik paman Dito. Nanti Kahfi yang antar ke pabrik biar pak Ahmad bisa langsung kerja dan bisa punya penghasilan tambahan. Pas libur beliau tetep bisa tani! Ya kan, sayang?" Tanya Kahfi meminta pendapat pada Kahfi.
"Ya, mas. Dan adiknya Farah juga bisa tuh pulang sekolah jaga toko buku kita. Farah juga bisa ngajar di panti kalau dia mau!" Kia yang semangat banget buat nolongin sahabatnya di tempatnya yang sekarang.
"Nanti kalau abah ketemu sama pak Ahmad akan abah sampaikan ya, Nak Kahfi!"
"Oooh Iya. Nenek katanya tadi sudah masak buat di bawa ke rumah Kia. Kalau orangnya ada di sini lebih baik kita makan sama sama di sini. Abah udah laper nih" Ucapnya sambil memutarkan tanganya ke atas perut.
"Yaa Allah, nenek. Repot repot sampe masakin buat ke rumah Kia? Ihhh nenek, main main aja nek gak usah repot repot masak segala. Makasih ya nek udah perhatian banget sama Kia.
Kahfi tersenyum melihat sang istri begitu manja dengan neneknya sambil terus memeluk meluk nek Rumi dan meminta di elus kepalanya.
Akihnya makanan yang tadi nek Rumi masukan pun ia sajikan di meja makan. Ada ayam goreng, sayur asem, tak lupa tahu, tempe dan sambal terasi yang kini sudah menjadi kesukaan Kahfi.
Suasana makan siangpun begitu hangat. Kia yang sesekali manja minta disuapi oleh sang nenek hingga membuat sang suami bergeleng geleng kepala dengan tingkah sang istri.
*****
Dikediaman pak Prayoga.
Huda yang baru pulang dari kantor seperti kelihatan lelah karena banyak meeting dengan beberapa rekan bisnisnya. Pak Prayoga yang melihat raut wajah Huda yang begitu suntuk hingga mengurungkan niatnya untuk bertanya kepadanya.
"Papah sudah makan, pah?" Pertanyaan itu sepertinya sudah menjadi rutinitas Huda ketika ia pulang dari kantor.
Pak Prayoga yang sedang duduk di ruang tv pun memanggutkan kepalanya disertai senyum yang mengembang dari kedua bibirnya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu lelah sekali, nak! Memangnya Brayen belum masuk kerja hingga membuatmu kelelahan seperti ini?"
"Gak, pah. Hari ini memang lagi banyak kerjaan yang bikin Huda harus memutar otak karena ada beberapa perusahaan yang minta penjelasan dengan produk baru yang baru kita keluarkan. Bagusnya sih Brayen bisa di andalkan jadi Huda tidak terlalu kewalahan." Jawab Huda yang menyandarkan tubuhnya ke di samping sang papah.
"Ya sudah kamu mandi dan istirahatlah. Besok rumah ini gak akan sepi karena ada Bima yang akan tinggal disini. Tante Meta yang meminta dia untuk bisa menemani papah kalu kamu sedang di kantor."
"Bima? Bukanya dia masih sekolah? Tanya Huda kaget.
"Dia sudah lulus, tapi anaknya belum ada kemauan buat kuliah. Katanya mau istirahat dulu tahun depan baru dia akan lanjutin kuliah. Tantemu berharap Bima bisa mencontoh kamu."
"Oooh gitu. Syukur dech kalau dia masih ada niat buat kuliah asal jangan kaya kakaknya aja numpang hidup sama mamahnya walau sudah beristri"
"Kamu gak boleh gitu. Proses pendewasaan orang berbeda beda. Oooh ya, gimana tanggapan Kia tentang Sertifikat itu?" Tanya pak Prayoga yang akhirnya ia lontarkan juga.
Raut wajah Huda langsung berubah karena masih teringat jelas ketika Kahfi marah sekali di malam itu. Apa lagi ketika Kahfi tau tentang sertifikat itu. Pikir Huda yang masih mererka nerka prasangkanya.
"Huda belum tau lagi pah kabarnya Kia. Huda takut kalau suaminya Kia tau tentang sertifakat yang Prama wariskan untuk Kia, malah bikin rumah tangga mereka bernantakan. Karena sepertinya suami Kia itu pencemburu banget, pah?" Jawab Huda yang memijit keningnya.
"Ooh gitu. Papah juga sempet mikir kesana sih, lain waktu kita mampir ke rumah nya dan mencoba menjelaskan tentang sertifikat tersebut agar tidak menjadi salah paham diantar mereka. Gimana?
" Tapi gak bisa bulan bulan ini kita ke daerah itu, pah. Huda lagi banyak kerjaan. Oooh ya, dua minggu lagi Huda akan ke Singapur karena salah satu perusahaan disana akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan kita.
"Ya sudah kalau gitu biar nati papah saja yang kesana kalau Bima sudah tinggal disini. Biar papah minta antar sama pak Ujang. Ucap pak Prayoga yang sudah berdiri meninggalkan Huda yang masih kepikiran masalah malam itu.
"Kahfi pasti marah besar sama Kia karena kejadian malam itu? Aaaahhh. Kenapa aku malah kepikiran itu lagi!" Bathin Huda yang perang dengan dirinya sendiri.
Sesaat kemudian suara chat masuk terdengar oleh Huda. Di lihatnya chat dari Naura yang menantakan kabar pak Prayoga.
Dengan cepat Huda membalas chatnya dan mengabarkan bahwa papahnya sudah sehat.
Chat basa basi pun Huda lanjutkan untuk menghilangkan kepenatanya di hari ini. Sepertinya Huda sudah mulai membuka Hati dan mulai menyukai Naura tepatnya ketika di acara pernikahan Brayen dan Ulan. Dimana ia merasa kehadiranya di hargai ketika Naura menanyakan hadiah yang pantas untuk Ulan dan Brayen.
__ADS_1
Ia tersenyum sendiri ketika Naura mulai membalas keingin tahuannya tentang kehidupan Naura. Sepertinya ia akan terbiasa cara mengobati rasa yang ada di hatinya saat ini.