Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
72. Pantai Kenangan


__ADS_3

Pagi di tepian pantai Kahfi dan Kia yang sudah bereliling untuk mencari baju gantinya di hari ini akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati suara deru ombak dan angin pantai. Seketika langkah mereka terhenti ketika suara yang tak asing memanggilnya dari arah samping kanannya.


"Kak Kia!" teriak wanita bergamis warna pink muda sedikit berlari melepaskan genggaman tangannya dari sosok pria yang tak asing juga bagi Kia dan Kahfi.


Kiapun tersenyum kepadanya dan sekilas menatap sang suami ketika kakinya hendak melangkah menghampiri wanita yang sudah memanggilnya itu. Namun hal itu ia urungkan ketika melihat perubahan wajah Kahfi ketika melihat sosok pria yang ada di samping Naura.


"Kakak ada disini juga, sejak kapan, kak?"


"Kakak ke sini dari siang kemarin, kamu nginep disini juga Naura?"


Kahfi yang tetap tenang memegang erat tangan Kia sembari mengulas senyum kepada Naura dan diringi sambutan tangannya menyalami Huda yang baru saja mendelat pada mereka bertiga karena Naura berlari mendelati Kia.


"Oooh pantes kemarin kata bang Brayen sekilas seperti melihat kak Kia disini tapi aku, kak Intan dan mas Huda tidak percaya karena gak mungkin kak Kia ke pantai ini lagi karena kata kak Intan pantai ini mengingatkan kakak akan sosok Kak Prama kan?


Deg...


Kata-kata Naura tadi membuat Kahfi, Kia dan Huda sedikit kaget hingga membuat Kahfi yang ada di samping Kia berdehem.


"Ehemmm...!" Mas mau ke toliet sebentar ya de nanti mas ke sini lagi." ucap Kahfi tak ingin mendengar cerita Naura tentang Prama yang akan membuatnya terbakar cemburu.


"Baik, mas! Hati-hati de tunggu mas di gajebo sana ya!"


"Iya"


Perlahan Naura menjadi salah tingkah dan tak enak hati ketika melihat perubahan wajah Kahfi setelah ucapannya tadi. Ia mendekat pada Kia setelah melihat Kahfi sedikit menjauh dari keberadaan merek bertiga.


"Kak maaf ya. Naura gak sengaja keceposan di depan kak Kahfi, duuhhh... Punya mulut gak bisa di jaga nih jadi bikin kak Kahfi kehilangan moodnya deh. Maaf ya kak!" Dengan menggengam kedua tangan Kia Naura seolah merasa sangat bersalah.


"Sudah tidak apa-apa. Mas Kahfi orangnya baik dia tidak akan memukulmu atau mencakarmu kok, dek!" ucap Kia menghibur Naura dengan gaya harimau yang akan me cakar angsanya.


Dari kejauhan Brayen berteriak-teriak memanggil-manggil Kia dan Naura untuk ikut mendedekat padanya yang sudah ada di tengah-tengah pantai dengan sebuah perahu kecil yang muatannya kurang lebih enam orang.


"Kia, Naura sini kita keliling-keliling, asyik pake banget muter-muter pantai anginnya lagi gak terlalu kenceng jadi gak akan bikin kita pusing!" Teriaknya kepada mereka yang kini sudah duduk di gajebo yang sudah Kia dan Kahfi booking.


"Aku gak ikutan, bang. Abang aja sama kak Intan. Awas kalau ada ombak jangan nyebur ya! Teriak Naura senang.


"Kak Kia mau pesen degan kelapa, gak? Kalau mau sekalian aku mau beli ni!


"Boleh de, kakak pesen dua ya yang satu gula aren dan yamg satu gula putih aja!" makasih ya de.


"Ya kak. Kakak gak apa-apa kan aku tinggal sebentar! "awas ya mas Huda gangguin kak Kia, tar kena amuk dari kak Kahfi baru tau rasa!"


"Apa sih!" jawab Huda sedikit ketus karena tidak mau dicurigai.


Naura pun berjalan mendekati gubuk sang penjual es kelapa yang beberapa meter dari tempat mereka duduk.


"Gimana kabarnya?" ucap Kia dan Huda bersamaan.


"Alhamdulillah aku baik, mas!" jadi barengan gini nanaya nya." ucap Kia tersipu malu dan duduk mereka berjauhan dan sejajar di tepian gajebo.


"Mas juga alhamdulillah baik. Kamu kesini lagi bulan madu apa cuma sekedar melepas rindu dengan panatai ini?"

__ADS_1


"Maksud mas Huda, apa ya?" intonasi Kia sedikit meninggi ketika pertanyaan Huda padanya seolah ingin mengorek masa lalu Kia dengan Prama.


"Maaf, bukan begitu maksudku!" jawab Huda sedikit gugup.


"Kia gak tau kalau mas Kahfi itu memesan penginapan di dekat pantai ini. Kalaupun Kia tau mas Kahfi akan mengajak Kia ke pntai ini, Kia akan memintanya untuk memilih tempat lain!


"Kenapa, karena kamu belum bisa melupakan sosok adikku? Karena tempat ini begitu banyak menyimpan banyak kenangan dan sebenarnya kamu masih mencintai Prama 'kan?" kenapa Kia, kenapa kamu malah menikah dengan dia bukan dengan aku yang masih bisa membuatmu menemukan sosok Prama di dalam diriku!" ucap Huda dengan nada sedikit sendu karena menahan sesak tangis di dalam dadanya.


"Mas Huda!" intonasi Kia sedikit meninggi


"Kia pernah bilang bukan, kalau mas Hudan dan Kak Prama itu berbeda. Apa mas Huda rela bila wanita yang mas Huda nikahi itu sebenarnya tidak pernah memcintai mas Huda dan mengangga mas Huda hanya mirif dengan lelaki yang Kia cintai. Dan ingat mas, Kia sudah mulai bisa mencintai mas Kahfi karena dia lelaki yang tak pernah mengorek masa lalu Kia selama ini." isak tangis Kia pun pecah dan ia berlalari ke tengah pantai meninggalkan Huda dengan sesak di dadanya dan kenangan dengan Pramapun muncul setelah ia berada di tengah-tengah pantai dengan sedikit deru ombak dari kejauhan.


"Loh kak Kia kemana, mas? Tanya Naura ketika tidak melihat keberadaan Kia bersama Huda yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Bodoh, bodoh banget si lo Huda, kenapa lo harus ngomong kaya gitu sama Kia. Pasti hatinya sangat sedih dan marah sama lo, Huda!" Batin Huda menyesali atas perkataanya kepada Kia.


Dari kejauhan Kahfi melihat istrinya ada di tengah-tengah pantai sedikit berlari ia mendelati Kia karena ombak besar sudah mulai mendekat pada Kia.


"Yaa Allah apa yang Kia lakukan di tengaj-tengah pantai. Itu akan membuatnya temgelam kalau aku gak cepet-cepet menghampirinya.


Ketika Kahfi berlari dengan cepatnya. Naurapun panik ketika melihat ombak besar yang akan membuat Kia hanyut terbawa ombak. Naurapun dengan cepat berteriak dan menepuk-nepuk bahu Huda.


"Mas... Mas... Mas Huda cepat tolong kak Kia, Mas. Ombak besar datang menghampiri kak Kia, mas. Cepetan!"


Sedikit kaget Huda langsung berari kencang mendekat pada Kia. Namun ombak besar sudah menerjang Kia ketika Hudan dan Kahfi sudah mendekati keberadaan Kia


"Sayanggg, teriak Kahfi ketika mendapatkan tubuh Kia dan memeluknya erat dengan satu tangan. Dan berusaha membawanya ketepian pantai.


Dengan nafas tersengal-sengal Kahfi terus berusaha berenang dan membawa Kia ke bibir pantai yang sudah ada Naura dengan wajah panik melihat kejadian tadi di susul Brayen dan Intan yang mendekat pada mereka. Kahfipun berhasil membawa Kia dan menidurkannya di atas pasir sambil menenkan-nekan bagian dada Kia agar Kia tersadar namun usahnya tidak membuathlan hasil.


"Coba kasih nafas buatan, mas Kahfi!" ucap Brayen memberi saran.


Kahfipun mengikuti instruksi Brayen. Disisi lain Huda yang melihat adegan itu hatinya merasa panas hingga akhirnya ia duduk sedikit menjauh dari mereka. Naura yang tau Huda begitu kelelahan denga cepat ia memberikan sebotol air mineral kepada Huda.


"Kenapa Kia bisa ada tengah-tengah pantai, bukannya tadi dia sedang dengan kalian berdua!" tanya Kahfi ke arah Huda dan Naura dengan nada panik dan setelah itu Kia pun menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya.


"Mas...!" ucap Kia lemah.


"Alhamdulillah, sayang akhirnya de sadar!" de istirahat ya!" senang Kahfi melihat istrinya sudah sadar dan langsung menggendong Kia. Kia yang hatinya masih merasa sedih tak menghiraukan tatap Huda kepadanya dengan tangan dikalungkan ke leher Kahfi Kia masih terkulai lemah.


"Istirahat ya Kia! Maaf kalau kejadian ini bikin acara kamu dan mas Kahfi keganggu!" ucap Ulan merasa tak enak hati.


"Kak Kia, mas Kahfi Naura minta maaf ya!"


"Udah-udah jangan pada lebai gitu dah. Alhamdulillah Kia bisa selamat dan gak kenapa-kenapa! Ucap Brayen memecah suasana.


🌻🌻🌻


Malam hari, seorang sedang duduk termenung. Bayangan wajah Kia yang terlihat pucat masih menari di dalam otaknya. Rasa bersalah atas perkataannya yang seharusnya tidak ia ucapkan kepada Kia selalu menggajal hatinya.


"Seandainya aku tidak mengatakan kata-kata itu kepadanya mungkin hal tadi tidak akan terjadi. Bagaimana kalau Kia tidak langsung tertolong pasti ia tidak ada di dalam kehidupanku lagi, maafkan aku Kia. Aku memang laki-laki bodoh, sangat bodoh!" teriak Huda yang tak menyadari keberadaan Brayen yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Jadi kejadian tadi itu gara-gara ucapan mas Huda? Apa yang mas Huda katakan kepada Kia sehingga ia berada di tengah-tengah pantai, hah!" Geram Brayen yang mendengar ucapan Huda tadi.


"Loh Brayen!" apa maksud kamu?" tanyanya gugup


"Aku denger apa yang barusan mas Huda katakan. Asal mas Huda tau ya, saya dan Kia itu sahabatan sudah lama mas sejak kami SMP dan sampai sekarang jadi saya tau gimana Kia dan cerita Kia semuanya. Jadi kalau mas Huda menyakiti dan membuat Kia dalam bahaya sama aja mas menjadi musuhku." dengan nada marah Brayen meninggalkan Huda tanpa mendengar penjelasan dari Huda.


"Brayen, semua itu gak yang kamu pikirkan!" saya cuma..."


Ucpaan Huda terpotong ketika Naura datang dengan pertanyaan kepada Huda.


"Bang Brayen kenapa, kok kaya marah banget gitu sama mas Huda? Ada masalah apa, mas?" tanya Naura pensaran.


"Gak kenapa-kenapa, dia cuma salah paham aja!" jawab Huda sambil berlalu dari hadapan Naura.


"Dasar orang aneh ditanya malah pergi gitu aja. Hemmm... Ada apa ya sama mas Huda dan bang Brayen, ya?" entahlah!" batin Naura langsung masuk ke dalam kamar dimana sudah ada Ulan yang sudah bersiap akan tidur.


"Naura, kamu beneran gak tau kenapa Kia tiba-tiba ada di tengah-tengah pantai?"


"Aku beneran gak tau kak. Kan tadi aku langsung pergi untuk beli degan buat aku dan kak Kia. Aku liat dari kejauhan kak Kia itu ngobrol sama mas Huda, cuma Naura gak tau apa yang mereka bahas. Pas Naura ke gajebo kak Kia udah gak ada dan mas Huda juga kaya orang aneh gitu sambil terus menutup wajahnya kaya orang merasa bersalah atau apalah itu!"


"Apa jangan-jangan mas Huda ngebahas tentang Prama, atau tentang perasaannya?" tanya Ulan menerka- nerka.


Deg...


Hati Naura kaget ketika Ulan mengatkan tentang perasaan Huda. "Apa mas Huda sebenarnya suka ya sama kak Kia? Apa jangan-jangan perempuan yang sering mas Huda ceritakan itu adalah kak Kia?" Batin Naura


"Maksud kak Ulan, mas Huda itu pernah suka sama kak Kia?"


"Cerita mereka itu sedikit penuh tanda tanya pokoknya deh. Yang kakak tau Kia itu cuma cinta sama Prama walau pernah ada ucapan dari mamahnya kalau Kia akan dikenalkan oleh Huda. Yang waktu itu Huda belum pulang dari Australia. Dan Kia kenal dengan Prama terlebih dahulu dibandingkan Huda. Walau pada waktu itu Kia gak tau kalau Prama itu anaknya bu Melanda orang tua dari Huda dan Prama. Secuil ceritanya sih gitu, Naura!"


"Oooh gitu ceritanya!"


"Mending kita tidur yuk, besok pagi kan kita bakalan balik lagian ini udah jam 11 malem. Kakak cape abis acara bakar ikan tadi!"


"Ok calon kakak iparku yang baik dan cantik hati."


"Jangan lupa baca do'a biar gak mimpiin mas Huda bakalan negejar-ngejar kamu ya, dek!" bisik Ulan tepat di telinga Kia dan dengan cepat ia menutup wajahnya dengan bantal agar tidak kena lemparan maut dari. Naura.


"Kakak apaan sih." awas ya tar aku bilangin sama abang Brayen kalu kakak tidurnya ngorok. Goda Naura langsung mematikan lampu kamar.


.


.


.


.


.


Bersambung---

__ADS_1


__ADS_2