Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
59. Tertusuk Tulang Ikan


__ADS_3

Pekan ini Kahfi dan Kia disibukan dengan semua keperluan yang harus mereka persiapkan sebelum pernikahan. Kia memutuskan untuk menikah di daerah abah Dahlan. Surat-surat yang mereka perlukanpun sudah diserahkan kepada petugas KUA.


Kia tang masih bingung dengan keputusannya untuk mengenakan gaun pengantin yang baru atau menggunakan gaun pengantin yang akan dia pilih sendiri. Saat ia berpikir keras untuk semua itu suaran ponsel di atas mejanya pun bersering. Di lihatnya nama Kahfi.


" Wa'alaikum salam, ya kak!"


" Jam 10 ana jemput ya ana bersama akhi Adam kita ke tempat rias pengantin dan ukhti nanti mencoba gaun pengantin yang cocok menurut ukhti, bisa kan?" ucap Kahfi di sebrang sana. Yang mana kini mereka sudah memiliki nomer ponsel masing-masing ketika mendapat godaan dari dokter Danil ketika di klinik.


" Inshaa Allah, saya siap-siap dulu dan minta izin pada abah dulu ya, kak!"


" Baiklah, ana tunggu ya!"


" Wassalamu'alaikum ...


" Wa'alaikumusalam ...


Kia pun langsung mengganti baju merapihkan penampilannya. Ia raih gamis berwarna toska yang ia padu padankan dengan jilbab bermotif bunga-bunga di bagian sisi bawahnya senada dengan gamis yang akan ia kenakan.


" Abah, Kia mohon izin!" kak Kahfi nanti menjemput Kia untuk memlilih baju pengantin dan riasan make up yang akan Kia kenanakan!" ucap Kia sambil duduk di teras depan sambil menemani abah Dahlan yang sedang menyirami tanaman.


" Silahkan, sayang!" yang penting kalian tidak hanya berdua saja 'kan di dalam mobil? Ucap abah Dahlan yang meletakan selang air pada tempatnya semula.


" Tidak, bah!" nanti ada kak Adam dan Febby yang akan menemani kami karena, kan memang mereka yang pernah menggunakan jasa itu jadi mereka yang tau tempatnya.


" Syukur alhamdulillah kalau begitu. Ayah dan ibumu kapan datang kesini, sayang?"


"Insyaa Allah, bada magrib katanya sudah sampai sini, bah. Itupun kalau tidak macet di sananya.


" Oooh begitu, ya mudah-mudahan semuanya di permudah ya!" abah senang sekali melihat kamu akan menikah dengan nak Kahfi!"


" Alhamdulillah, bah. Allah memberikan jodohnya untuk Kia, walau Kia belum menjadi wanita yang baik." ucapnya lirih sambil melihat ke arah depan.


Mobil Khafipun sampai di halaman depan rumah abah Dahlan. Ia langsung turun dan menyalami abah Dahlan dan nek Rumi yang baru menyuguhkan rebusan singkong untuk abah Dahlan. Kahfipun meminta izin kepada abah Dahlan dan nek Rumi untuk membawa Kia ke tempat baju dan make up pengantin.


" Saya izin bawa Kia dulu ya, bah, nek!" ucap Kahfi sambil menundukan kepala dan mengucapkan salam.


" Hati-hati ya nak, Khafi!" ucap abah Dahlan.


" Jangan sore-sore pulangnya!" ucap nek Rumi yang khawatir karena cuaca minggu-minggu ini sore sering hujan.


***


Mereka berempat pun sampai ke tempat yang di tuju. Adam dan Febby yang masuk terlebih dahulu menemui ibu sang pemilik ruko yang sudah lama mereka kenal.


" Alhamdulillah, akhirnya nak Adam dan nak Febby sampai juga!" ucap sang ibu bernama Badriah seraya menyuruh mereka berempat duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


" Ini loh, bu!" teman yang saya bicarakan kemarin. Rencananya mereka bedua ini akan melihat-lihat koleksi baju pengantin yang ibu miliki, untuk masalah make up mereka cocok dengan make up seperti Febby pakai waktu itu." ucap Adam.


" Siapa namanya? Tanya bu Badriah sambil berdiri hendak menunjukan tempat koleksi-koleksi yang ia punya yang bisa ia sewakan ataupun dibeli.


" Saya Kahfi dan ini calon istri saya Aulia atau Nakia" ucap Kahfi mengenalkan.


Kahfi, Kia, Febby dan Adam pun mengikuti langkah kaki bu Badriah menunjukan satu persatu gaun pengantin muslimah. Mata Kia tertuju pada gaun pengantin berwarna putih gading yang menurutnya sederhana namun keliatan mewah dan elegan.


Kiapun mendekati gaun pengantin itu seraya mengusap lembut gaun. Kahfi yang menyadari tingkah laku Kia, ia berdehem.


"Ehemmm ... Kamu suka dengan gaun itu?" ucap Kahfi sambil melipat kedua tanganya.


" Emmm ... Suka, tapi ini terlalu kebesaran kelihatannya!"


" Kan bisa minta tolong ibunya agar di kecilkan atau mungkin beliau punya stock lagi!"

__ADS_1


Bu Badriah pun mendekati Kia dan Kahfi.


" Cocok dengan yang ini, ya? Kalau kebesaran nanti ibu bisa kecilkan kok. Ucap bu Badriah memberi saran.


" Hemmm ... Tapi saya minta bagian bunga-bunga yang ada di baguan awahnya jangan telalu besar boleh, bu?" pinta Kahfi yang tak suka dengan aksen bunga yang terlalu besar pada bagian bawahnya.


" Kalau begitu nanti ibu ambilkan model lain yang mungkin sesuai selera masnya!"


Bu Badriah masuk ke dalam salah satu ruangan yang dimana ia menyimpan gaun pengantin yang baru saja ia terima dari salah satu kelayennya.


Setelah mendapatkan gaun yang masih rapi di dalam kotak bu Badriah mendekat ke pada Kia dan Kahfi.


" Coba mas Kahfi bisa lihat gaun yang satu ini, gaunnya baru saja tadi pagi datang, jadi belum sempat ibu pajang."


Perlahan Kahfi membuka kotak besar yang masih terbungkus pelastik bening menandakan gaun tersebut belum ada yang menyentuhnya. Ia perhatikan model dan pernak pernik yang menempel pada gaun tersebut yang menurutnya tidak terlalu ramai seperti gaun yang pertama tadi.


" Saya suka dengan gaun ini dan seperti nya ukurannya pun tidak kebesaran di tubuh Alulia!" ucapnya antusia dan suka dengan gaun pengantin tersebut.


" Tapi, kak!" pasti ini lebih mahal dari gaun yang tadi, Kia tak apa kok bisa pilih gaun yang lain, yang harganya lebih terjangkau." ucap Kia tak enak hati ketika melihat label harga pada kotak gaun tersebut.


" Tak jadi masalah, ukh. Ketika kita berdua suka, ana pasti akan membelikannya untukmu. Apa lagi ini moment dimana takkan bisa terulang lagi untuk kita kelak. Inshaa Allah, Allah akan mencukup kan semua kebutuhan kita." ucap Kahfi yang di dengar oleh Adam dan juga Febby.


"Ehemmm ... kayanya udah ada yang pinter ngerayu nih!" ledeknya ketika mendekati Kia dan Kahfi yang masih berdebat.


Beberapa menit mereka berdua berdebat akhirnya hati Kia pun luluh oleh perkataan Kahfi, ia mengambil gaun yang baru untuk acara pernikahannya nanti. Sehingga mereka berempat memuntuskan untuk pulang. Sebelum pulang ke rumah Kahfi menepikan mobilnya ke mesjid untuk melaksanakan sholah dzuhur dan melanjutkan perjalanannya, namun ketika di tengah jalan perut Febby bersuara menandakan dirinya telah lapar. Dan mereka berempatpun menuju rumah makan lesehan yang sering Kahfi dan Adam kunjungi.


***


Ketika sampai di rumah makan tersebut Kia yang duduknya tidak jauh dengan Kahfi selalu mendapat godaan dari Adam. Apalagi ketika Kahfi memilihkan menu makanan untuk Kia Adam tak henti-hentinya menggoda Kahfi.


" Cie ... cie ... cie, yang bakalan jadi calon pengantin perhatianya sama calon istri. Kalah ni ane sama antum, kak!" goda Adam ketika Kahfi memberikan alas duduk untuk Kia.


dengan nada yang sangat pelan Kia berkata pada Febby.


" Suami kamu itu, dari tadi godain kak Kahfi terus!" aku juga kan jadi malu, Febb!" Kia berharap Febby akan menegur suaminya itu untuk tidak menggoda Kahfi.


Dengan alasan ingin ke tolilet Febby mengajak Adam seraya menyampaikan apa yang barusan Kia sampaikan. Ketika Febby dan Adam ke toilet suasana di meja serasa sepi Kia yang berpura-pura memainkan benda pipinya untuk menghindari kegugupan dalam dirinya ketika mata Kahfi curi-curi pandang pada Kia.


"Emmm ... " Aulia, bila setelah menikah ukhti tak mengapakan bila kita langsung pindah ke rumah ana?" ucap Kahfi memecah kegugupan Kia.


" Oooh, itu!" Tak jadi masalah, kak! Kia siap kok mengikuti kakak kemana saja!" ucap kia gugup sambil memainkan ujung jilbabnya yang ia lilitkan kepada jari telunjuknya.


" Yakin kamu akan ikut ana kemana saja, sekalipun itu ke lobang semut?" ucap Kahfi pertama kalinya menggoda Kia dengan candaan yang tak Kia duga.


" Aku pikir orang ini tak punya selera humor, tapi walau humornya sedikit garing aku hargailah!" Batin Kia.


" Gak mungkinlah, mana muat kita ikut ke lobang semut, yang ada semut yang ikut kelobang hidung kita!" ucap Kia menahan tawa. Dan Kahfi pun tersenyum lebar tanpa suara mendengar penuturan Kia.


" Kamu, bisa aja!" Ana pikir ukhti tidak mempunyai selera humor tapi ternyata dugaan ana salah!" hehehe


Tak lama kemudian pesanan merekapun datang bersamaan dengan Adam dan Febby yang baru kembali dari toilet.


" Pas banget kita tiba makanan datang ya, ayy!" Ucap Adam yang membuat Kia teringat dengan panggilan sayang Prama padanya.


" Alhamdulillah, hubby!" berarti kita tepat waktu jadi dek bisa langsung menyantapnya." jawab Febby seraya duduk di samping Adam.


Ketika Kia akan menyuapkan nasi dalam mulutnya. Kahfi dan Kia melihat pemandangan yang romantis yang di lakukan Adam dan Febby karena mereka main suap-suapan di depan Kia dan Kahfi. Sehingga membuat Kahfi buka suara.


" Ehemmm ... mesra-mesraanya kalau di rumah aja!" Kasian para zomlo kalau ngeliat antum berdua kaya gini!"


" Ishhh ... ternyata ada yang iri nih, tenang nanti seminggu lagi juga kalian berdua akan merasakannya jadi, jangan iri ya!" Nanti kalau sudah halal langsung praktekan saja, kakak bro." Ucap Adam yang matanya melirik kepada Kahfi dan Kia.

__ADS_1


"Terserah sampean sajalah!" Awas jangan salah suapin nanti sambel aja lagi yang anta suapin ke istri anta!"


" Sudah-sudah jangan rubut, makan aja jangan ada suara biar makin cepat kita pulang karena ingat pesan abah Dahlan tadi" ucap Febby melerai adu argumen Adam dan Kahfi.


Kia yang terdiam akan kelakuan dua laki-laki tersebut khusu menikmati makannya hingga tak terasa dirinya terkena tulang ikan gurame.


" Awww!" teriak Kia kesakitan.


Kahfi, Adam dan Febby mendengar teriakan Kia langsung menoleh pada Kia.


" Kenapa Kia? tanya Febby.


" Gak kenapa-kenapa, Febb!" jariku hanya kena tulang sepertinya.


" Coba sini aku lihat!"


Kia pun menunjukan jari telunjuknya yang terkena tulang hanya sedikit menguarkan darah tiba-tiba Kahfi dengan sigap mengambil tisu dan memberikannya kepada Adam agar Adam memberikan kepada Febby bermaksud agar Febby menghilangkan noda darah pada telunjuk Kia.


" Biarkan ana ambilkan daging-dagingnya biar ukhti bisa langsung memakanya tanpa harus tertusuk tulang kembali!" ucap Kahfi seraya meraih piring yang ada di hadapan Kia.


Adam yang melihat itu mulutnya seolah tak tahan ingin menggoda Kahfi namun hal itu di urungkannya karena mendapatkan tatapan tajam dari Febby.


" So sweet juga ternyata ustadz bro berkacamata ini kalau sama orang yang ia sayangi. Kia pasti akan diperlakukan sangat istimewa olehnya" Batin Adam.


" Tidak usah kak, Kia bisa kok melakukannya sendiri. Elaknya namun Kahfi sudah mensuir-suirkan daging ikan tersebut untuk Kia dan meletakannya kembali piring itu di hadapan Kia.


" Sekarang ukhti tidak akan terusuk tulang lagi!" makanlah yang banyak karena ana tak mau ukhti sakit pas hari H pernikahan kita."


Kia yang diperlakulan sepeti itu rasa dirinya mendapatka kembali kasih sayang yang pernah ia dapatkan dari Prama perhatian dan kasih sayang yang Kahfi tunjukan menjadikannya semakin percaya bahwa Kahfi adalah lelaki terbaik yang Allah berikan untuk mengarungi kehidupan ini bersamanya.


.


.


.


.


.


**Bersambung---


Mohon maaf kalau bebrapa hari ini author gak up dikarenakan author sedang sakit. pas liat notif dari pihak NT author paksakan untuk menulis agar gak ditendang dari NT.


tetap dukung author dengan cara;


klik


TIP


LiKe


Komen


Vote yang banyak


Reat bintang 5 untuk menghargai tulisan author walau masih banyak kekurangan.


Terimakasih untuk para pembaca setia " DIAKAH JODOH PILIHAN ALLAH? "


Berkah selalu untuk kalian sehat-sehat semuanya**

__ADS_1


__ADS_2