Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
102.


__ADS_3

Angin pagi ini begitu menyejukkan, embun embun pagi masih menyelimuti rerumputan yang hijau. Sepasang mata masih terpejam saat laju mobil melewati batas kota. Kahfi mengelus pucuk kepala Kia yang sedang menikmati mimpi di dalam perjalanan menuju kampus. Sesekali Kahfi tersenyum melihat sang istri yang tetap kelihatan cantik walau dalam ke adaan tertidur. Ia merasa bersalah karena tindakannya semalam membuat Kia menjadi kelelahan dan mengantuk akibat ulahnya.


Kahfi fokus kembali mengendarai mobilnya. Setelah melewati jalan tol dalam waktu hampir satu jam. Kahfi di suguhkan kemacetan yang cukup padat di kota B, sesekali ia memperbaiki kepala Kia yang sedikit merosot ke sebelah kiri hingga Kahfi mengatur posisi kursi mobil agar Kia merasa nyaman.


Namun dari luar seseorang yang memakai helem berwarna hijau mengetuk ngetuk jendela mobil sebelah kiri Kia dengan kerasa. Kahfi terbengong tubuhnya masih dalam posisi akan mendidih Kia yang tertidur. Kahfi berbicara dengan bahasa isyarat pada bapak paruh baya itu, yang kini sudah menaikan kaca pada helem nya. Bapak itu bicara sedikit keras hingga sedikit terdengar dari dalam mobil. Perlahan Kahfi menurunkan kaca pada mobilnya.


Tiba tiba bapak itu berbicara dengan keras kepada Kahfi dengan tangan hendak memukul Kahfi.


"JANGAN BERBUAT TIDAK SENONOH DI DALAM MOBIL, ANAK MUDA ZAMAN SEKARANG EMANG GAK TAU MALU. MENGAMBIL KESEMPATAN KETIKA MACET BEGINI!" Teriak bapak paruh baya tersebut dengan wajah sedikit gusar hingga membuat Kia terbangun dengan teriakannya.


"Maaf pak, mungkin bapak salah paham. Saya hanya sedang mengatur posisi kursi istri saya, agar dia tidur dengan nyaman." Jelas Kahfi dengan menangkupkan kedua tangannya ke dada. Kia yang baru setengah sadar dari tidurnya menatap wajah Kahfi dengan sedikit aneh tanpa menoleh ke jendela sebelah kirinya.


"Ada apa, mas?" tanya Kia sambil mengucek ngucek matanya. Kahfi memberikan isyarat agar Kia menoleh pada jendela yang ada sebelah kirinya. Seketika Kia mengikuti intruksi Kahfi dan melihat seorang bapak paruh baya yang hanya memperlihatkan bagian kepalanya saja. Kia sontak kaget hingga ia mengucapkan istighfar.


"Astagfirullah haldzim." Teriak Kia


"Beneran dia itu suami kamu? Tanya bapak itu yang masih tak percaya dengan ucapan Kahfi.


"I... i iya pak,l. Jawab Kia sedikit takut karena wajah bapak itu sedikit menyeramkan karena jenggot dan kumis ya yang lebat. Kia menunjukan cincin pernikahannya ke hadapan bapak itu. Bapak itu mengoh ria.


"Oohh, gitu!" Lain kali jangan tidur kalau sedang dalam perjalanan, dan posisi suami kamu juga tadi bikin orang yang liat kalian tadi pasti akan curiga dengan kalian." Ucap bapak paruh baya itu sambil pelan pelan mengendarai motornya karena perlahan lahan kendaraan di perjalanan itu sudah sedikit lancar walau masih agak lambat.


"Baik pak!" ucap Kahfi dan Kia bersamaan. Krena Meraka tidak mau memperpanjang masalah itu. Walau tadi Kahfi sempat malu karena hampir orang disekitar situ mendengar teriakan bapak tersebut dengan ucapannya yang membuat semua mata menoleh kepada mobil Kahfi.


Kahfi dan Kia membuang nafas lega atas kesalahpahaman orang tersebut dan semua mata yang tadi menatap aneh ke mobil Kahfi perlahan mereka semua fokus mengendarai mobil masing-masing.


Perlahan jalan mulai lancar. Kia dan Kahfi masih membahas kejadian tadi. Hingga kedua ya mengulas senyum. Satu jam empat puluh lima menit Kahfi dan Kia akhirnya sampai. Seperti biasa Kia turun terlebih dahulu sebelum pintu gerbang kampus terlihat. Kia mencium tangan Kahfi sebelum ia turun dari mobil, hal demikian sudah menjadi kewajiban bagi Kia dan Kahfi sebelum keduanya berpisah.


Mobil Kahfi sudah memasuki pintu gerbang kampus. Sedangkan Kia masih berjalan bebrapa meter untuk sampai ke gerbang tersebut. Kia menikmati langkah demi langkah dan langkahnya terhenti ketika sebuah mobil berwarna merah berhenti di samping kanannya. Perlahan sang pemilik mobil menurunkan kaca pada jendela mobil. Terlihatlah wajah tampan Bima yang mengulas senyum kepada Kia.


"Assalamu'aikum, Nakia!" ucap Bima.


"Wa'aikum salam warohmatullahi wabarikatuh" jawab Kia sambil menundukkan kepalanya.


Satu tangan kiri Bima letakan di atas stir mobil dan satu tangan kanannya ia letakan di atas jendela mobilnya. Dengan gaya cool Bima mengajak Kia untuk naik mobilnya padahal tinggal beberapa meter lagi Kia akan sampai di pintu gerbang kampus. "Sekalian ikut yukk, biar gak cape!" ajak Bima. Namun dengan cepat Kia menggelengkan kepalanya. "Gak apa apa, gak ada yang liat kok!" paksa Bima.


"Gak usah, kak. Saya sudah biasa jalan, lagian pintu gerbang sudah dekat kok." Ucap Kia sambil berjalan perlahan dan menunjuk ke arah gerbang kampus. Bima mengikuti langkah kaki Kia dengan pelan mengendarai mobilnya dan tiba tiba suara kelokson mobil bersahutan dari belakang mobil Bima.


"Tid... tidddddd"


"Udah kakkak jalan aja, kasihan tuh udah banyak yang mau antri masuk ke dalam." Ucap Kia yang kini mempercepat jalannya.


"Aaahhh" kesal Bima dengan suara kelakson mobil. "Masih ada lain waktu biar kamu bisa ikut masuk bersamaku ya, Nakia!" Ucap Bima mempercepat laju kendaraanya.


Setelah mobil Bima melewati Kia. Seseorang yang membawa motor metik berwarna tosca berhenti tepat di dekat Kia. "Kia ayo naek bareng aku, ajak Anya." Yang kebetulan hari ini ia membawa motor ke kampus. Kia menoleh ke kiri dan Anya pun menaikan kaca helemnya agar wajahnya terlihat oleh Kia.


"Eh kamu, Nya, koran aku siapa?" Kia sedikit mendekat dan duduk di belakang Anya dengan posisi miring.


"Tadi siapa yang ngajakin kamu naik mobil?" tanya Anya yang sudah mengendarai motornya.


"Kak Bima!" Jawab Kia sambil memegang pinggang Anya.


"Wahh bakalan rame nih tar. Solnya tadi aku lihat ada mobil Tasya yang terjeda dua mobil dari belakang mobil Bima.

__ADS_1


"Biarin lah, toh aku juga gak ngapa-ngapain!" Jawab Kia dengan sedikit kesal bila Tasya benar benar mengganggunya nanti.


Sepuluh menit Anya dan Kia sudah tiba di parkiran motor. Anya menaruh helem di bawah motornya. Dan memperbaiki jilbabnya di spion motor. "Udah cantik!" ucap Kia yang menunggu Anya di belakangnya.


"Hehe! Anya tertawa kecil mendengar ledekan dari Kia. "Aku cuma benerin jilbab aku yang sedikit miring Kia." Mereka berdua berjalan memasuki kampus. Dimana sudah banyak mahasiswa yang sudah datang bahkan ada yang sudah nongkrong di kantin. Ketika Kia dan Anya hendak menaiki tangga seseorang dari arah belakang memanggil Kia. Suara itu tak asing lagi bagi Kia. Wanita berpakaian kemeja putih dan celana jeans itu mendekat pada Anya dan Kia.


"Ehhh, Lo Kia jadi cewe jangan suka kegatelan ya! Gue udah bilang Lo jangan suka ngegodain kak Bima !" Ketua Tasya sambil menyenggol tubuh Kia sampai hendak jatuh dari tangga.


Anya yang melihat Kia langsung memegang tangan Kia agar tidak terjatuh sambil ia meneriaki Taya yang berlalu melangkah ke atas. "Lo tuh yang kegatelan sama cowok." Tidak Anya, Tasya dan dua temannya hanya memberi senyum getir kepada Anya.


"Tuhkan Kia, aku bilang apa. Pasti dah itu trio macan bikin ulah sama kamu!" Ucap Anya yang terus memegangi tangan Kia sampai ke atas.


"Gak apa, Nya. Yang penting kenyataanya aku gak pernah menggoda siap pun. Balas Kia yang kini merogoh ponsel yang ada di dalam tas. Dilihatnya chat dari Kahfi yang memberi tahu bahwa bekalnya terbawa oleh Kahfi.


"Sayang nanti pas jam istirahat ke ruangan mas ya. kita makan siang sama-sama." chat dari Kahfi yang diakhiri dengan kiriman icon hati. Kia tersenyum dan benar saja paper bag yang Kia hendak bawa tadi tidak ada di tangannya.


"Insyaa Allah, mas. Dek takut nanti ada teman dek yang lihat, gimana ?" balas Kia sambil berjalan mengikuti Anya.


"Hemm... ya udah nanti kita makan di luar aja. ketemuan di tempat biasa ya, sayang!" balas Kahfi


"Siap, suamiku yang ganteng!" jawab Kia lalu menaruh ponselnya kembali ke dalam tas


****


Kia dan Kahfi sudah ada di restoran yang jaraknya tak jauh dari kampus. Hanya memakan waktu sepuluh menit untuk sampai ke restoran yang biasa Kahfi kunjungi ketika ia belum menikah dengan Kia. Sang pelayan menyodorkan menu Kahfi memilih dua menu yang menjadi paforitnya sang pelayan langsung mencatat pesanan Kahfi. Kia ingin protes ketika Kahfi memesan steak karena pasti bekal yang ia bawa jadi mubajir karena Kia akan merasa kenyang.


Kia membuka suara setelah pelayan restoran itu pergi dari meja mereka. "Masss... bekal yang dek buat gak kemakan doang jadinya!" Ucap Kia sambil memajukan kedua bibirnya.


Kahfi meraih kedua tangan Kia yang ada di atas meja. "Gak akan mubajir sayang. Sore nanti mas makan kok masakan istri mas tercinta ini." Kahfi mengecup kedua tangan Kia. Kia menatap wajah Kahfi dan perlahan menarik kedua tanganya.


"Ya gak apa apalah, dek. Kita udah nikah ini. Kalau ada yang protes ya tinggal tunjukan buku nikah kita." Jawab Kahfi yang mulai risih dengan sikap Kia yang tak ingin teman temannya tahu bahwa mereka suami istri dengan alasan ia ingin menjadi mahasiswa tanpa bantuan nama sang suami di belakangnya.


"Ya tapi kan, mas tahu!" Baru saja Kia akan melanjutkan ucapannya Kahfi langsung memotongnya.


"Ya, takut teman teman dek menganggap bila kamu dibantu mas bisa masuk ke universitas ini dna bila nanti kamu berprestasi dek takut orang-orang beranggapan karena suaminya dosen jadi bisa membantu dari jalur belakang!" Kahfi menaikan kacamatanya. "Lama lama juga mereka akan tahu siapa dek!" Ucap Kahfi sambil melirik ke arah Kia yang kini menundukkan kepalanya.


"Ya, maaf!" Kia membalas perkataan Kahfi dengan singkat.


lima belas menit kemudian makanan yang mereka pesan pun tiba. Pelayan meletakan dua porsi stek dan dua gelas lemon tea. "Selamat menikmati, mas, mba!" Ucap pelayan wanita yang memakai baju seragam putih navy.


"Terima kasih, mba?" ucap Kia dan Kahfi bersamaan.


Pelayan pun pergi meninggalkan meja. Kahfi memotong motong stek lalu menyodorkannya kepada Kia. "Dek cobain deh pasti akan ketagihan" ucap Kahfi yang kini memotong stek miliknya.


Kia memasukan satu potong stek yang sudah Kahfi potong potong ke dalam mulutnya, sambil menikmati rasa stek. "Ya mas steknya beneran enak!" ucap Kia sambil memasukan rebusan kacang polong ke dalam mulutnya bersamaan dengan potongan daging.


"Bener, kan!"


Mereka berdua menikmati makan siangnya di restoran tersebut. Dan tak lama dua orang yang mereka kenal menghampiri mereka. Kahfi yang tanganya sibuk mengambil tisu tak menyadari kedatangan Messi dan Kiki. Kahfi mengelap sisa saus di bibir Kia. Dan secara bersamaan Messi dan Kiki melihat pemandangan yang ada di depannya. Mata Kia membulat melihat ke arah ke datangan Messi. Sedangkan Kahfi masih melanjutkan pergerakannya di depan mereka.


"Masih belepotan gitu, sayang!" ucap Kahfi sambil menuntaskan sisa yang ada di bibir Kia.


Kia langsung menyapa Messi dan Kiki ketika tangan Kahfi sudah menyelesaikannya. "Gabung bareng sama kita mba." Ucap Kia yang sedikit malu karena perlakuan Kahfi tadi.

__ADS_1


Messi hanya diam sampai Kiki yang ada di sampingnya menyenggol tangan kiri Messi. Messi lalu tersadar dari lamunannya dan menarik satu kursi di samping Kia. "Ooh ia, kira kira ganggu gak nih?" Ucap Messi berbasa basi namun hatinya merasa cemburu dengan apa yang ia lihat barusan.


Kahfi memundurkan kursinya, lalu berdiri dengan alasan hendak ke toilet. Karena ia merasa tak nyaman dengan kedatangan Messi dan tamannya. "Mas ke toilet dulu ya, dek!"


"Ya, mas. Jangan lama lama ya, dek takut telat" jawab Kia yang menghentikan langkah Kahfi yang hendak berlalu darinya.


"Ia, sayang!" Kahfi sengaja ingin kelihatan mesra di depan Messi. Karena ia tahu Messi pasti akan selalu berusaha untuk bisa dekat dengannya.


"Ngapain takut telat sih, Kia. Suamimu kan dosen disini dan juga orang kepercayaan di universitas ini jadi gak perlu takut lah." Kiki berkata sambil mendudukkan bokongnya dan menatap wajah Kia sekilas.


"Walaupun suami saya dosen atau orang kepercayaan di sini bukan berarti saya memanfaatkan keadaan inilah, mba!" Jawab Kia lalu menyesap lemon tea yang ada di hadapannya.


"Baguslah kalau kamu sadar diri." jawab Kiki yang sepertinya tak suka kepada Kia.


Kia terdiam dan melirik ke arah Kiki yang seolah menunjukan ketidak sukaannya kepada Kia.


"Kamu sering makan siang ke sini, Kia?" Tanya Messi untuk mencairkan suasana.


"Gak mba, baru pertama kali mas Kahfi mengajak saya kesini. Kan saya juga baru seminggu jadi mahasiswi di kampus ini." Jawab Kia yang melihat kemuraman di wajah Messi


Messi memesan makanan begitu juga dengan Kiki. Tak lama kemudian Kahfi muncul dan langsung memegang tangan Kia yang masih duduk santai dengan Messi dan Kiki. "Maaf kita duluan!" ucap Kahfi sedikit angkuh.


Kia meraih tasnya dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja dengan terburu buru karena Kahfi sedikit menarik tangan Kia. "Maaf ya mba Messi dan mba Kiki aku duluan" Kia memasukan ponselnya ke dalam tas. "Selamat menikmati makan siangnya" Ucap Kia yang mengikuti langkah Kahfi yang sedikit cepat.


***


"Masss. Dek boleh tanya sesuatu gak?" Kia yang kini sudah masuk ke dalam mobil. Kahfi yang menatap Kia sekilas sambil memakaikan sabuk pengaman pada Kia.


"Tanya apa?" Jawab Kahfi yang berlalu dan melangkah ke arah depan mobil untuk masuk ke bangku pengemudi. Mata Kia berkeliling mengikuti pergerakan Kahfi sampai Kahfi duduk di samping kanannya.


"Kenapa mas sepertinya tidak suka dengan mba Messi?" pertanyaan Kia membuat Kahfi yang hendak menyalakan mesin mobil terhenti dan menatap ke arah Kia


"Nanti kita bahas di rumah ya, sayang!" Kahfi melajukan mobilnya dan satu orang tukang parkir memandunya untuk bisa keluar dari parkiran tersebut. Kahfi mengeluarkan satu lembar uang sepuluh ribuan dan memberikannya kepada bapak tukang parkir. Peluit di mulut parkir itupun di tiup dan Kahfi menekan kelakson dan mobil pun ke luar dan menuju jalan raya.


Kia terdiam dengan jawaban Kahfi yang cukup membuat hatinya bertanya tanya sebenarnya ada apa dengan suaminya dan mba Messi ya g sudah lama ia kenal. Kia tidak mau melihat wajah Kahfi yang sedikit tak bersahabat ketika kehadiran Messi di meja mereka. Kia melihat ponselnya dan ada beberapa pesan yang masuk.


"Kia kamu kemana, kok tumben gak ke kantin pas jam istirahat!" Kia membaca pesan singkat dari Anya. Jari jarinya sibuk membalas chat dari Anya. Kahfi melirik sekilas ke arah Kia.


"Maaf, Anya. Aku makan di luar. Dan sekarang menuju kampus kok." balas Kia


"Oohh pikir aku kamu pulang karena dosen mata kuliah kita tidak datang karena ada perjalanan ke luar kota. Gimana pas kita mendapatkan tugas dari asisten dosen kita pergi nongkrong ke Mall nonton filem."


"Aku gak janji, Anya.! balas Kia


"Hemmm... gak seru ahhh." Balas Anya kembali dengan menambahkan stiker orang yang kecewa.


Kia hanya membalas dengan stiker ekspresi orang yang meminta maaf.


"Udah chatannya, seru bangat kayanya!" Kahfi yang sudah memasuki parkiran luas para dosen, ambil menaruh kedua tanganya di atas stir dan wajahnya ia tumpukan di atas ke dua tanganya tersebut sambil menatap wajah istrinya yang senyum senyum sendiri.


"Dek cuma bales chat dari Anya, mas!" Kia menatap wajah Kahfi dan sekilas ia baru tersadar bahwa ia sudah sampai di kampus. "Mas kok gak bilang kalau kita udah sampe kampus!" Gerutu Kia yang hendak keluar dari mobil namun tanganya di tahan oleh Kahfi. Kia langsung menatap ketangnnya dan melihat wajah Kahfi dengan penuh tanda tanya.


"Enak aja mau pergi gitu aja, belum Salim belum ini itu!" Ucpan Kahfi yang menunjukan menunjuk kedua pipinya.

__ADS_1


"Ya, maaf!" Jawab Kia yang mencium punggung tangan Kahfi dan dilanjutkan mencium kedua pipi kanan dan kiri Kahfi. Setelah selesai Kahfi malah meraih tengkuk Kia dan dengan cepat ia mencium bibir Kia. "Masa, ihhh!" Tangan Kia yang memukul mukul punggung Kahfi dan mencubit perut Kahfi


__ADS_2