
Setelah Kia menerima paper bag dari bi Asih, Kahfi langsung memegangi bahu Kia dari belakang layaknya anak kecil yang sedang bermain kereta keretan. Dengan berpamitan kepada bi Asih dan pak Karim keduanya meninggalkan taman tersebut dengan baju yang sedikit basah.
Sepuluh menitan mereka tiba di pintu gerbang rumah dan dilihatnya Adam yang sudah duduk menunggu di depan teras rumah mereka. Dengan mata yang terus memandang sepasang suami istri yang terlihat basah bajunya padahal hari ini cuaca sedang cerah. Setelah mengucapkan salam kepada mereka, Adam menyodorkan berkas yang Kahfi minta waktu tadi siang. Sedikit penasaran dengan pemandangan di depan matanya Adam bertanya pada Kahfi
"Perasaan cuca cerah begini, kenapa baju mas Kahfi dan Kia pada basah?" Tanyanya penasaran sambil menunjuk ke arah atas langit.
Dengan tawa kecil Kahfi menjawab pertanyaan Adam seadanya.
"Ia tadi ada hujan buatan di taman. Makanya baju kita pada basah dech!"
"Oooh, gitu. Kirain ana abis kecebur di kali, ustadz!" Kalau gitu ana pamit pulang ya, sudah sore takut istri ana nyarin maklum tadi udah ngechat aja minta beliin bakso di pertigaan jalan." Ucap Adam yang tak mau bertanya lagi, walau sebenarnya ia penasaran.
"Ya sudah, syukron ya akhi sudah di bawakan berkas berkasnya!" Ucap Kahfi yang membuka pintu rumah dan menyuruh Kia untuk masuk terlebih dahulu. Setelah Adam berlalu Kahfi langsung menutup kembali pintu rumahnya.
"Tadi bi Asih kasih itu sama, dek. Itu dari siapa?" Tanya Kahfi penasaran dengan paper bag yang Kia bawa.
"Oooh ini! Dari Kania dan Fatur, mas. Kata bi Asih tiga hari lalu mereka datang kesini, kangen katanya ingin ketemu sama kita. Terus bi Asih bilang kalau kita sedang nginep di rumah ibu jadi Kania dan Fatur balik lagi dan hanya setengah jam main ke panti."
"Oooh Kania sama Fatur main ke sini? mereka diantar sama mbanya juga?"
"Ya kata bi Asih sama suaminya Kinanti juga. Mereka bagi bagi coklat buat anak anak panti di sini dan kasih ini buat, dek." Ucap Kia sambil menunjukan paper bag yang belum ia lihat apa isinya.
"Ya sudah sekarang kita mandi dulu, biar gak kelamaan pake baju basahnya."
Kiapun langsung menyimpan paper bag tersebut di atas meja dan langsung melakukan ritualnya di kamar mandi. Seperti biasa Kahfi menjaili sang istri dengan pura pura ingin masuk ke kamar mandi berdua.
__ADS_1
******
Malam hari pukul delapan malam, Kahfi masih sibuk dengan laptop di atas pahanya dengan beberapa berkas yang berseakan di atas kasur. Kia yang baru saja rapih mencuci piring, masuk ke kamar dengan mata yang sudah terlihat ngatuk.
"Mas, masih lama ya ngerjain tugasnya?" Kia yang sudah mendekatkan dirinya disebelah kanan Kahfi yang masih sibuk.
"Kenapa, sayang? dek mau jalan jalan malem? apa mau kemana?" Tanya Kahfi yang jari jemarinya masih menari nari di atas keyboart.
"Dek gak mau kemana mana, dek mau kepulau impian aja!" Jawabnya sambil naik ke atas tempat tidur dimana masih banyak berserakan kertas yang masih Kahfi gunakan.
"Pulau impian. Maksud dek tidur ?? Dek mau tidur? Tumben banget istri mas udah pengen bobo ham segini?" Kahfi yang seketika menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah sang istri.
"Ya, mas. Tapi gimana dek mau tidur kalau di atas kasur banyak kertas kertas gini? Kia yang satu persatu mengumpulkan kertas tersebut menjadi satu dan hendak memberikan kumpulan kertas itu kepada sang suami.
"Loh kok mas malah udahan? emang sudah benar benar udahan kerjaannya, sayang? Kia yang terbengong melihat sang suami sudah meletakkan alat tempurnya di atas meja dan memasukan kertas kertas tersebut ke dalam map.
"Mas mau nemenin dek bobo dulu, nanti mas bisa lanjutin lagi kalau bidadari mas sudah tidur pulas." Jawabnya yang kini sudah menarik tangan Kia untuk tidur di pelukannya.
Kia hanya menurut dan menatap wajah sang suami yang kelihatan lelah. Perlahan Kia menidurkan kepalanya di dada bidang Kahfi dengan satu tangan memeluk perut sang suami. Ia sedikit penasaran dengan postingan Mesi ketika itu. Sebuah tulisan Mesi "Mendapatkan hatimu kembali begitu sulit dari dulu sampai sekarang" di sertai foto ketika seminar dan pelatihan kala itu dimana ada Kahfi dan dua orang waita serta dua orang laki laki yang Kia punt tidak tahu.
"Mas, Dek penasaran dech sama mba Mesi. Waktu itu dia penah post foto waktu mas dan beberapa dosen lainnya tapi disertai kata kata kaya gini, mas. "Mendaaptkan hatimu kembali begitu sulit dari dulu sampai sekarang" Maksud mba Mesi bikin seperti itu apa ya, mas? padahal kan mba Mesi udah punya suami yaitu mas Arkom. Masa iya dia suka juga sama cowok lain?. Apa mas Kahfi tau. Bukanya mas Kahfi dulu kakak kelas mba Mesi kan? pasti tau ding Masa lalu mba Mesi sebelumnya? Tanya Kia penasaran
Kahfi hanya terdiam hatinya seperti menahan sesuatu yang selama ini belum perah ia ceritakan tentang masa lalunya kepada Kia. Namun hal tersebut tak ingin ia ceritakan kepada sang istri karena semua itu hanya cerita masa lalu yang cukup di lupakan saja. Toh kini ia telah menikah dengan Kia wanita yang telah mencuri hati di pertemua pertam yang tak disengaja.
Sambil mengelus pipi Kia Kahfi tak ingin sang istri sibuk memikirkan orang lain.
__ADS_1
"Kita gak perlu tau tentang masalalu orang lain sayang. Sibukan diri kita dengan apa yang kita lalui. Karena bila kita sibuk cari tau tentang orang lain itu akan menghambat kemajuan dari diri kita. Kita juga akan lelah cari tau sana sini tentang orang lain. Gak ada faedahnya, bukan?" Ucap Kahfi yang mencium tangan Kia.
"Bukan begitu, mas. Ya siapa tau kan, barang kali masa lalu itu ada hubungannya sama mas Kahfi. Kalu dek gak tau ceritanya nanti bisa salah faham lagi. Walau pun dek gak tau sih orang itu siapa. Mudah mudahan laki laki masa lalu mba Mesi itu bukan suami, dek. Ya kan sayang?" Selorohnya langsung mendongakkan wajahnya ke wajah Kahfi yang sedang memikirkan perkataan sang istri.
Kahfi terdiam dengan kata kata Kia barusan. Prinsifnya goyah ketika mendengar apa yang terlintar dari Kia.
"Bila suatu saat mereka bertemu dan Mesi bercerita tentang bukan yang sebenarnya, bagaimana? Wanita itu kadang berfikir bukan dengan logika namun lebih keperasaan. Mungkin suatu saat apa aku harus bercerira tentang Mesi. Tapi itu tidak ada gunanya juga toh kami pun sudah memiliki rumah tangga masing masing." Bathin Kahfi.
"Masss. Masss. Kok diam? Jangan jangan bener nih ada hubungannya sama mas Kahfi?" Goda Kia terus menatap wajah sang suami dari bawah.
Kahfi tersadar dari lamunannya ketika Kia menggoyang goyangkan tangannya. Seketika ia memencet hidung Kia hingga memerah dan Kia mengaduh kesakitan.
"Masss... Ihhh... jail banget dech pencet hidung, dek. Mentang mentang hidungnya mancung! Gerutunya sambil mengusap hidungnya
"Ia maaf. Maaf ya, sayang. Abis dek ngomongnya gitu bikin mas geregtan padahal dah mas bilang jangan suka ikut campur dengan urusan orang. Mendingan makan es campur lebih, enak." Ucap Kahfi yang mengalihkan pembicaraanya dengan candaannya.
"Garing banget dech, bercandanya." Ucap Kia yang mengkelitiki perut Kahfi hingga Kahfi kegelian.
"Dek, jangan gini ah, geli tau sayang!" Ucap Kahfi sambil mencehah tangan Kia yang ingin mengkelitikinya kembali. Namu seketika Kahfi malah menindih badan Kia hingga akhirnya posisi Kahfi ada di atas Kia.
Yang sekarang Kahfi yang malah mengkelitiki Kia hingga Kia tertawa kegelian sampai akhirnya Kia mohin ampun kepada Kahfi. Wajah keduanya memerah karena tertawa dengan lepasnya. Sampai akhirnya Kahfi menghempaskan wajahnya di atas dada Kia. Hingga membuat jantung Kia berdetak begitu cepat.
Kahfi dengan jelas mendengarkan suara detak jantung Kia. Dengan jailnya ia malah membuka satu kancing baju tidur Kia. Maka terlihatlah dua gundukan gunung di dada Kia. Kia menahan malu dan mencoba untuk menutupnya dengan kedua tangannya.
"Mass... Kalu gini terus kapan dek mau tidurnya? Mas Kahfi. Dek kebelet pengen pipis nih!" Elaknya ketika Kahfi mulai melakukan sesuatu.
__ADS_1