Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
67. Sate


__ADS_3

Hening yang di rasakan oleh sepasang pengantin baru. Belum segenap seminggu menjalani hidup mereka berdua di dalam rumah yang terpisah oleh orang-orang tercinta. Setelah lontaran pertanyaan yang Kahfi tujukan kepada Kia. Mereka berdua berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.


" Maafin mas ya, sayang!" kalau pertanyaan itu membuat de gak nyaman!" ucap Kahfi membuka keheningan.


Kia menyeka buliran bening dari kedua pipi dengan punggung tangannya. Menoleh ke arah Kahfi yang pandangannya tertuju pada jalan tol yang cukup lenggang.


" Deak belum siap untuk menceritakannya pada mas!" maafin de ya, mas." bukan maksud de menyembunyikan masalalu de denganya!"


" Gak apa-apa, sayang! Mas pernah bilang kan? Setiap orang mempunyai masalalu yang berbeda-beda jadi bila sayangnya mas belum siap untuk berbagi masa lalu de sama mas!" itu tidak jadi masalah"


" Terima kasih ya, mas! Mas selalu ngertiin de!"


" Gak usah berterima kasih sama suami sendiri!" yang penting ritual yang tertunda tadi pagi, mas tagih ya? Goda Kahfi sehingga membuat Kia yang tadinya sedikit sendu tersenyum malu dan langsung memerah wajahnya.


" Ihhh ... Mas genit!" ucap Kia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.


" Biarin genit, sama istri sendiri ini!" ucap Kahfi seraya sebelah tangan kirinya menyolek pinggang Kia.


Kia yang mendapat colekan dari jari Kahfi menoleh menatap wajah suaminya dengan senyum manis nya.


Tak terasa perjalanan yang mereka tempuh sudah melewati jalan tol. Kini masuklah mereka di tugu ucapan selamat datang di kota X!"


"Alhamdulillah kurang lebih 40 menitan kita akan sampai ke rumah ayah dan ibu!" ucap Kia senang.


" Alhamdulillah, mau beli apa untuk ibu dan ayah?" tanya Kahfi yang melihat kiri kanan pinggir jalan yang sudah banyak pedagang yang menjejerkan gerobak ciri khas mereka masing-masing.


" Ibu sangat suka martabak keju! Kalau ayah suka dengan sate kambing yang ada di persimpangan jalan sana, mas!" ucap Kia sambil menujuk jajanan kesukaan kedua orang tuanya.


" Terus kalau untuk Rahma mau dibelikan apa?"


" Rahma apa aja masuk! Pasti semua makanan yang untuk ayah dan ibu dia yang akan habiskan!" ucap Kia yang tau adiknya sangat suka mengemil.


" Ya sudah kita beli buah juga ya!"


🌸🌸🌸


Tepat di persimpangan jalan Kahfi memarkirkan mobilnya dan mencari jajanan yang Kia sebutkan. Tangan Kia dan Kahfi tak terlepas sama sekali ketika mereka berjalan menuju tempat penjual sate dan martabak yang jaraknya tak berjauhan.


" Martabaknya 2 ya, pak De!" ucap Kia yang sudah akrab dengan sang penjual Martabak.


" Siap neng! Tumben si neng baru keliatan? ini calon suaminya ya?"


" Ya pak De kebetulan saya beberapa bulan tinggal dengan kakek saya di daerah x. Dan kenalkan ini suami Kia, pak De!" ucapnya mengenalkan Kahfi yang ada di sebelahnya.


" Mas kumis Kia pesan sate ayam 30 tusuk dan sate kambingnya 30 tusuk, ya!" teriak Kia dari tenda penjual martabak.


" Siap, neng!" teriak pak Kumis yang masih sibuk melayani pelanggannya yang selalu ramai.


Kia dan Kahfi beranjak dari tempat tersebut karena ingin mencari sang penjual buah yang kebetulan buah yang Kia cari baru turun jadi Kia mendapatkan buah anggur, vir, dan buah melon yang masih segar dan bersih.


Setelah Kia dan Kahfi mendapatkan buah tersebut mereka kembali ke tempat dimana mereka memesan sate dan martabak. Ketika Kahfi hendak membayar seseorang sedang menyapa istrinya yang duduk menunggu sang suami.


" Kia!" teriaknya melihat Kia yang duduk sendiri di tenda penjual sate.


Kia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dengan kagetnya ia melihat pria tersebut. Kia langsung menghampiri Kahfi yang sedang mengeluarkan uang dalam dompetnya.


" Kenapa, sayang?" tanya Kahfi melihat ketakutan pada diri Kia.


" Ayo, kita cepat pulang, mas!" jawabnya sambil memegang tangan Kahfi dengan kuatnya.


" Ya sebentar dulu ya sayang. Mas bayar satenya dulu!" ucap Kahfi yang mempercepat pergerakannya karena Kia sudah menarik-narik tangan Kahfi seperti anak kecil yang menginginkan balon.


Setengah berlari Kia menjauh dari tempat tersebut berharap pria itu tidak melihat dirinya yang sudah ketakutan. Dengan cepat Kia meraih gagang pintu mobil dan masuk ke dalam.


Kahfi yang melihat ketakutan Kia membuatnya ingin bertanya.


" Apa yang barusan de lihat? hem!" sampai muka de pucat seperti itu! Kaya habis ngeliat hantu aja!" ucap Kahfi ketika sudah menjalankan mobilnya dan menjauh dari tempat tersebut.


" Ini lebih dari sekedar hantu, mas!" ujar Kia yang sudah meminum air mineral dalam kemasan botol.


" Sudah jangan ketakutan gitu, 'kan ada mas di sisi, sayangku!"

__ADS_1


" Ya, mas!" Kia cuma takut orang itu akan mengejar Kia bila Kia gak buru-buru pergi dari tempat itu!" ucap Kia lesu.


" Memang orang itu pernah jahatin dek, ya?"


" Dia laki-laki yang pernah membatalkan pernikahan secara sepihak dan menikah dengan wanita lain. Sampai suatu ketika de bertemu dengan nya ketika dia sudah menikah dengan wanita pilihanya sendiri. Namun ketika kami berdua bertemu di tempat yang tidak sengaja laki-laki itu mencoba untuk berbuat sesuatu di toliet umum. Setelah kejadian itu de selalu ketakutan bila bertemu lagi dengannya karena, ia selalu mencoba agar de mau lagi bersama dengannya." ucap Kia menjelaskan kejadian yang pernah ia alami bersama Rendy.


Kahfi hanya terdiam mendengarkan cerita Kia. Merasa ingin tau siapa laki-laki tersebut.


🌸🌸🌸


Tak terasa mobil Kahfi telah terparkir di depan rumah orang tua Kia. Rahma yang antusia menyambut kakak dan kakak iparnya dengan gembira memeluk Kia.


" Akhirnyaaa ... Kakak tikus dapurku pulang juga ke rumah ini!" teriaknya sambil cipika cipiki dengan Kia.


Kahfi yang melihat kejadian itu hanya tersenyum kecil seraya mencium tangan kedua mertuanya bergantian.


" Pasti nak Kahfi sangat kelelahan! Ayo segera masuk dikit lagi azan magrib!" ucap pak Hasbi memeluk menantunya.


" Ayah dan ibu sehat-sehat kan? Ini ada titipan dari abi untuk ayah dan ibu" ucap Kahfi seraya memberikan paper bag berwarna coklat kepada pak Hasbi.


" Alhamdulillah, nak ibu dan ayah sehat selalu!" terima kasih, sampai repot-repot bawain hadiah untuk ibu dan ayah!" ucap bu Aisyah yang sudah mencium putrinya yang selalu ia rindukan.


Mereka pun masuk sambil membawa bawaan yang Kahfi ke luarkan dari bagasi mobil. Kecuali makanan yang tadi Kia beli sudah di bawa masuk duluan oleh Rahma karena sudah tergoda dengan aroma wangi dari sate.


" Ehhh, beruang madu jangan main buka aja kakak belikan itu khusus buat ayah dan ibu. Kalau kamu yang ini nih biar langsing. Ucap Kia sambil meperlihatkan isi pelastik yang berisi buah-buahan.


" Ihhh, kakak! Rahma itu maunya yang ini gak mau makan yang itu nanti sakit perut!" ucapnya seraya hendak membuka kotak martabak keju.


Dengan cepatnya Kia memukul tangan Rahma. Hingga membuat Rahma mengkerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan nya di depan dadanya.


" Sholat magrib dulu baru kita makan semua ini sama-sama, biar ketauan siapa yang makanya paling banyak!"


" Kirain Rahma kakak akan berubah setelah menikah!" ternyata sama aja. Huh!"


Rahma pun bangkit dari meja makan dan masuk ke kamarnya untuk berwudhu. Kia hanya tersenyum-senyum melihat raut wajah dari adiknya tersebut dan melangkah ke arah kamarnya yang diikuti Kahfi di belakangnya sambil membawa tas yang berisi baju ganti untuk Kahfi dan Kia.


" Assalamu'alaikum, ucap Kia memasuki kamar yang sudah lama ia tinggalkan namun suasananya tetap sama seperti sebelum Kia pergi dari kamar terebut.


" Mas mandi dulu aja ya sayang! Rasanya badan lengket semua, nanti kita sholat berjama'ah di kamar aja ya, mas masih terasa cape karena perjalanan kita cukup jauh." ucapnya sambil menunggu Kia mengambilkan handuk untuknya.


" Ya sudah, ini handuknya, mas? Ucap Kia sambil memberikan handuk berwarna biru tua ketangan Kahfi.


Namun dengan sengaja Kahfi mengabil sambil menarik tangan Kia dengan cepat sehingga Kia menindih badan Kahfi.


Kia yang matanya langsung membulat sempurna karena kaget hingga membuat Kahfi meniup kedua mata Kia dengan lembut dan membuat Kia memejamkan matanya, Kahfi mengambil kesempatan itu untuk mencium bibir Kia sekilas sambil membisikan kata-kata untuk Kia


" Sayang, kita mandi bareng, yuk!" ucap Kahfi pelan ke telinga kiri Kia.


Mata Kia yang tadi terpejam seketika terbuka dengan cepat dan mencoba untuk bangkit dari tubuh Kahfi namun tangan Kahfi dengan cepat mengalungkan kedua tanganya ke pinggang ramping Kia sehingga Kia tetap pada posisinya semula.


" Masss ... Ini di rumah orang tua de!" malu tau! " ucapnya sambil memainkan hidung mancung walau sebenarnya jantung Kia berdegup tak karuan karena rasa gugup dan malunya.


" Berarti kalau nanti sudah pulang, de mau ya mandi bareng sama mas?" tanya Kahfi sambil melepaskan jilbab instan yang masih menempel di kepalanya.


" Kalau mas gini terus kapan mau mandi dan sholatnya?"


" Ya sudah kalau de gak mau tapi janji ya kalau sudah di rumah kita, de mau mandi bareng sama mas, ya? Kan itu juga sebagian dari sunnah rosul, sayang!" ucapnya sambil mencium kening Kia yang sudah tanpa jilbab.


" Inshaa Allah, sayang! " ucap Kia yang membuat Kahfi bahagia karena Kia memanggilnya dengan kata sayang.


" Sayang barusan panggil mas apa?"


" Gak, itu ada angin lewat!" jawab Kia mengelak.


" Ayoolah, sayang mas ingin denger panggilan de barusan sekaliii lagi?!"


" Udah ah. Mas kapan mandinya kalau masih godain de terus!" dorong Kia agar Kahfi cepat masuk ke dalam kamar mandi.


" Sayangnya mas curang!" awas ya tar mas buat perhitungan sama de!"


🌸🌸🌸

__ADS_1


Setelah Kahfi dan Kia melaksanakan sholat berjamaah di dalam kamar. Mereka pun ke luar kamar untuk makan malam bersama.


Rahma yang mengambil sate dengan porsi yang cukup banyak hingga mendapat protes dari bu Aisyah.


" Rahma, jangan banyak-banyak ambil satenya! Kasian mas Kahfinya gak kebagian!"


" Gak apa-apa, bu! Kahfi sengaja membelikan ini untuk ayah, ibu dan Rahma kok!" jadi Kahfi bisa makan masakan yang ibu masak untuk kita!" sekilas melirik pada Kia yang ada di sampingnya


" Rahma ini memang selalu seperti ini kalau ada makanan kesukaanya, gak ada malu-malunya! ucap pak Hasbi diselingi senyum mengoda untuk Rahma.


" Ihhh ayah! apa-apaan si buka-buka kartu Rahma ke kakak ipar, kan Rahma jadi malu! ucapnya sambik terkekeh kecil.


" Beruang madu emang masih punya malu juga ya?" ucap Kia menggoda Rahma.


" sudah ... sudah kalian ini kalau udah ketemu selalu aja saling menggoda satu sama lainnya!


" Kan Kia kangen bu buat godain adik Kia yang bulet ini karena, disana gak ada manusia langka kaya Rahma!" ucapnya terkekeh kecil.


" Ya sepuasnya aja godain aku, kak!" karena kalau disana kerjaan kakak cuma menggoda kakak ipar, ya gak mas Kahfi!" ujar Rahma sambil menaikan halisnya kepada Kahfi.


Kahfi hanya tersenyum kecil sambil menatap Kia yang mukanya memerah atas godaan adiknya tersebut.


" Tuh kan wajah kak Kia langsung merah!


" Rahmaaa ... gak baik ngegodain kakakmu terus!"


Kia hanya terdiam dengan godaan dari Rahma. Karena bila ia sahutipun Rahma takkan henti-hentinya menggoda Kia.


" Mas mau nambah lagi?"


tanya Kia untuk menghilangkan rasa malunya.


" Sudah cukup, de! mas sudah kenyang.


🌸🌸🌸


Kia dan Kahfi yang sudah menyudahi makan malamnya terlebih dulu akhirnya masuk ke dalam kamar sambil merapihkan baju yang belum sempat Kia masukan ke dalam lemarinya.


" Sayang!"


" Hemmm...!"


" Besok dari rumah paman Dito kita pergi ke pantai, yukkk!"


" Ke pantai?"


" Ya, kan kita belum pernah kemana-mana berdua selain ke rumah orang tua de sekarang. Selagi ada disini kita keliling-keliling wisata kota ini!"


" Hemmm, lihat besok ya mas!"


" Kok gitu jawabanya, kaya gak pasti! "


" Kia takut kita kecapean bila keliling-keling terus!" ucap Kia sambil memasukan baju-baju Kahfi ke dalam lemarinya. Ketika Kia hendak mengambil baju Kahfi yang terjatuh mata Kia tertuju pada kotak besar yang ada di bawah baju gantungnya.


" Bukanya kotak ini harusnya ada di kamar Rahma, tapi kenapa ada di sini? bagaiman kalau mas mas Kahfi melihat kotak berisi baju pengantin ini?" Batin Kia


.


.


.


.


.


.


Bersambung


jangan lupa tinggalkan jejaknya

__ADS_1


__ADS_2