
🍃 2 Minggu Kemudian 🍃
Seorang gadis bergamis navy yang dipadukan dengan jilbab berwarna biru muda sedang berjalan bersama dengan teman barunya di tempat ta'lim yang biasanya diadakan kajian muslimah di masjid dekat Asrama Al Amiin.
Dua gadis itu sedang asyik membahas tentang kajian yang baru saja ia dengarkan dari salah satu ustadzah.
Saking asiknya salah satu di antara mereka sampai tak sadarkan diri bahwa kakinya sudah tersandung akar pohon. Mengakibatkanya jatuh bersama buku dan tas yang ia gunakan.
" Awww, Astagfirullahaladzim" Teriaknya ketika tubuhnya sudah terjatuh ke tanah dan tanganya terkena akar yang tajam.
"Kia, kamu gak apa-apa? Tanya temannya yang berusaha membantunya berdiri, namun Kia tetap duduk.
" Aku gak apa-apa kok, Fa!" Jawabnya yang tak sadar diri bahwa telapak tanganya banyak mengeluarkan darah.
" Yaa Allah, Kia" tanganmu berdarah!" Ucap Farah kaget dengan darah yang ada di telapak tangan Kia.
Seketika Kia melihat ke arah yang disentuh oleh Farah. Wajah Kia menjadi pucat dan tanganya terasa dingin. Ia mencoba untuk menghidari rasa yang sering kali menyerangnya ketika ia melihat darah. Pikirannya kembali kepada kejadian ketika ia melihat kecelakaan yang Prama alami.
" Kita coba ke klinik asrama saja ya? Tanya Farah yang panik melihat wajah Kia yang sudah pucat pasih.
" Gak, gak usah, Fa!" Biar nanti aku obati saja di rumah. Elak Kia.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di mana Farah sudah memapah Kia yang terlihat lemas sambil memegang tangan Kia agar tidak terjatuh.
" Ada apa ukhti?" Tanya pria berkacamata yang membuka kaca jendela mobil miliknya.
" Ini ustadz, ukhti Kia tadi terjatuh dan telapak tanganya terkena akar hingga banyak mengeluarkan darah. Jawab Farah panik.
Yang tangannya sambil menopang badan Kia yang sudah lemas karena rasa trauma yang ia alami ketika dirinya melihat darah.
" Ya sudah bawa dia ke mobil, di ujung jalan ini sepertinya masih ada klinik yang buka 24 jam!" Ucap Kahfi yang sudah membukakan pintu mobil di bagian penumpang.
Kia dan Farah pun duduk di belakang, sedang Kahfi berada di bangku pengemudi, lalu menjalankan mobilnya sedikit cepat. 10 menit kemudian mereka bertiga sampai di depan klinik yang masih ada berberapa pasien di luar sedang mengantri obat.
Farah langsung mengatar Kia masuk ke ruangan dokter. Lalu sang suster pun membersihkan darah yang masih ada di telapak tangan Kia, setelah dibersihakan oleh suster dokterpun langsung memberikan suntikan untuk menahan rasa sakit karena lukanya harus di jahit. Dan setelah dokter sudah selesai dengan ritual pengobatan Kia. Seseorang datang menanyakan kepada dokter.
" Bagaimana dengan keadaanya, dok? Tanya Kahfi yang melihat Kia masih terlihat pucat.
" Lukanya tidak terlalu serius kok jadi, hanya dapat beberapa jahitan saja." Jawab dokter yang usianya tidak jauh dari Kahfi.
" Alhamdulillah, syukurlah tapi kenapa dia masih terlihat lemas dan pucat ya, dok? Tanyanya lagi ....
" Ini dikarenakan si pasien mempunyai rasa trauma pada darah atau luka. Jadi mengakibatkan dia merasa ketakutan pada darah tersebut. Dan mungkin saja di dalam pikirannya masih ada bayang-bayang kejadian yang menimpa seseorang dan ketika itu ia melihat kejadian itu di hadapannya. Menjadikan dia trauma akan hal tersebut. Jelas dokter Danil yang sudah meletakan alat pendengar detak jantung pada meja kerjanya.
" Kalu begitu kami permisi dokter, dan terima kasih. Ucapnya seraya mengulurkan tangan kepada dokter yang sudah akrab dengannya.
****
__ADS_1
Mereka bertiga pun ke luar dari klinik tersebut. Farah yang masih memapah Kia karena keadaan Kia masih terlihat pucat dan lemas.
" Biar nanti saya sekalian antarkan kalian ke rumah ya, karena jalanan sudah gelap disini kurang penerangan cahaya, takut-takut nanti kalian malah jatuh ke sawah. Ucap Kahfi yang sudah berada dalam mobil.
" Baik ustadz." Jawab Farah yang sesekali merilirk pada pria tampan yang berkaca mata. Sudah lama ia tidak pernah melihat Kahfi berada dalam mesjid yang biasanya selalu mengisi materi kajian.
Farah termasuk wanita yang menaruh hati kepada Kahfi karena kebaikan dan sosial yang di miliki Kahfi terhadap orang-orang sekitar begitu baik. Walau Kahfi tak pernah menghiraukan wanita yang selalu mencari perhatian darinya.
" Mas Kahfi, tidak usah repot-repot mengatarkan saya karena abah pasti sudah menunggu saya di pertigaan jalan sana. Tunjuk Kia pada sebuah warung kopi yang berada di perbatasan petigaan jalan yang memisahkan antara panti asuhan, asrama dan rumah abah Dahlan.
" Baiklah, berarti ukhti Farah tidak berkeberatan 'kan bila turun bersama ukhti Kia. Tanya Kahfi yang tak ingin berdua-duaan dengan wanita yang bukan makhromnya.
" Baik ustadz!" Ucap Farah sedikit kecewa.
Akhirnya Kia dan Farah pun turun dari mobil Kahfi yang di ikuti Kahfi ketika dirinya melihat abah Dahlan yang setia menunggu cucu kesayangannya pulang.
"Assalamu'alaikum, abah!" Sapa Kahfi seraya mencium punggung tangan abah Dahlan.
" Waalaikumsalam, nak Kahfi?"
Kok cucu abah bisa bersama dengan nak Kahfi? Lalu kenapa tanganmu Nakia? Tanya abah Dahlan yang melihat tangan kiri Kia sudah di balut dengan kain kasa.
" Abah gak usah khawatir, Kia hanya luka sedikit, tadi pas waktu mau pulang Kia terjatuh di dekat masjid yang ada pohon beringinnya. Alhamdulillah, kita bertemu mas Kahfi jadi beliau langsung bawa Kia ke klinik ujung sana bersama dengan Farah. Jelas Kia yang tidak mau membuat abahnya khawatir.
" Terimakasih ya nak Farah dan nak Kahfi?" Kalu begitu abah pamit pulang dulu. Ucap abah Dahlan yang kini sudah memegang tangan Kia.
" Sama-sama, bah!" Jawab Kahfi dan Farah bersamaan.
Begitu juga dengan Farah dan Kahfi mereka menuju rumah mereka masing-masing. Rumah Farah memang sedikit jauh dari rumahnya abah Dahlan sehingga Kahfi meminta tolong kepada bapak penjaga warung untuk mengantarkan Farah sampai ke depan rumah orang tua Farah.
" Ustadz saya pamit pulang, terim kasih sudah mengkhawatirkan saya!" Ucap Farah sekilas matanya menuju pria yang akan membuka pintu mobilnya.
" Sama-sama ukhti!" Jawabnya langsung menutup pintu mobil dan berlalu dari hadapan Farah.
***
Sampailah Kia di rumah abah Dahlan.
" Besok-besok biarkanlah abah menunggu kamu di masjid saja ya, nak? Biar kita bisa pulang sama-sama. Lihat sekarang tanganmu luka begitu? Ucap abah Dahlan memberi saran.
" Kenapa tanganmu, Kia? Tanya nek Rumi yang baru ke keluar dari arah dapur, ketika melihat tangan Kia yang sudah di balut kain kasa.
" Gak apa-apa, nek!" tadi pas pulang kajian Kia kena musibah!" Jawab Kia yang hendak membuka pintu kamarnya.
" Yaa ampun, kamu ini ada-ada ja, Kia? Besok izinlah dulu untuk tidak mengajar, sayang!" Ucap nek Rumi yang sedikit khawatir.
" Kia gak kenapa-kenapa nenekku, sayang!" Kan Kia ngajar gak selalu pake tangan kiri jadi, Kia gak akan terganggu dengan luka yang ada di tangan kiri, Kia. Nenek." Ucap Kia sambil memeluk tangan nek rumi dengan tangan kanannya penuh kasih sayang.
__ADS_1
" Sudah, sudah, lebih baik kita istirahat sekarang!" Besokkan harus tetap bangun pagi untuk beraktifitas. Seru abah Dahlan memisahkan sedikit perdebatan antara nenek dan cucunya.
Kiapun masuk ke dalam kamar dan menganti gamisnya yang terkena darah dengan baju piama berwarna hijau muda. Lalu ia bergegas ke kamar mandi dekat dapur untuk membersihkan wajah dan berwudhu sebelum tidur agar tidurnya terjaga oleh malaikat dan dalam ke adaan suci.
Selesai ia dari kamar mandi di lihatnya satu pesan masuk pada benda pipih miliknya.
Ia buka dan ia baca, pesan itu dari Farah yang memberi tahu bahwa buku catatan kajiannya tertinggal di dalam mobil Kahfi yang tadi Farah bawa dan di letakan di tempat ia duduk namun ia lupa untuk mengambilnya ketika mereka turun dari mobil Kahfi.
" Yaa Allah, Farah cap lupa gitu dengan buku catatanku. Semoga saja buku itu tidak hilang. Ucapnya pada diri sendiri.
Kiapun membaringkan tubuhnya setelah ia selesai membalas chat dari Farah. Satu pesan belum ia baca karena terlupa ketika ia ingin membukanya. Karena matanya kini sudah mengatuk setelah ia selesai membaca do'a hendak tidur.
Biarlah pesan itu bisa ku lihat esok lagi. Gumamnya.
Dan seketika matanya sudah terpejam sempurna dengan selimut menempel pada kakinya yang menutupiny sampai ke dada. Karena udara di kampung x hari ini begitu dingin karena hendak masuk musim kemarau.
.
.
.
.
.
Jangan biasakan untuk
LIKE
KOMEN
VOTE
TIP
dan Bintang 5 nya, ya!
Siapakah yang mendukung Kia dengan Kahfi?
berikan alasanya ya
dan
Siapa yang mendukung Kia dengan Mas Huda?
Berikan juga alasanya
__ADS_1
DITUNGGU Komennya. Terimakasih
🍃🍃 🍃🍃