
" Selamat atas kelahiranmu, Queenela. " ucapnya menyapa seorang wanita cantik yang keluar dari tabung inkubasi dengan empat tangan dan kaki serta sepasang sayap meruncing serupa lebah yang lengkap beserta garis lingkaran kuning keemasan yang nampak jelas mengikat diantara tubuhnya.
Mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menyambut hangat tawaran Rose yang menyandangkan tangan sebagai bantuan penyeimbangan dari tubuh yang belum mampu berdiri sempurna, usapan pelan yang begitu lembut terasa mulai menghangatkan tubuhnya yang semula gemetar kedinginan.
" [ Hm~ berbanding jauh dari ekspetasiku saat kelahiran dirinya dari tabung inkubasi ini.] " pikirnya sembari tetap mencoba menghangatkan tubuh dari Queenela yang masih menampakkan warna daging merah muda pada bagian tubuh lain dari lingkaran kuning yang ada.
Mengajarkan beberapa kosa kata sederhana sembari memperhatikan dengan seksama pola pertumbuhan dari Queenela, Queenela berhasil menirukan beberapa kata yang diajarkan sebelum tubuhnya semakin menunjukkan tubuh kedewasaan dengan berubahnya warna daging merah muda itu menjadi warna kulit hitam arang dan menyisakan bagian lain dari kulit putih kecoklatan di bagian wajah yang tembam dan membuatnya begitu menggemaskan.
Merasakan kembali perasaan pertama saat tinggal bersama Vira dalam gubuk sederhana, Rose segera mengajari Queenela mengenai beberapa pengetahuan dasar atas sihir maupun berbagai kehidupan lain serupa eksistensi para dewa, manusia, ras kasat mata dan ras lain dari demi human yang tinggal didaratan Sylfia.
" A-yah Ros-se ? " ucap Queenela dengan wajah polosnya begitu menahan Rose bangkit dari duduknya.
Tersenyum senang atas kecepatan Queenela dalam memahami apa yang dirinya ajarkan, usapan pelan di kepala kembali diberikan sebagai hadiah di sertai kalimat pujian yang membuat wajah Queenela tersenyum untuk pertama kalinya.
* zwazmpz zwazmpz zwazmpz * suara bising dari sayap milik Queenela yang terus dikapakkan dengan cepat terdengar menggema ke seluruh ruangan disaat Rose mencoba meminta Queenela yang sudah bisa di anggap remaja untuk berlatih menggunakan sayapnya.
__ADS_1
Memberikan dorongan semangat dengan sesekali menggendong tubuh Queenela untuk terbang bersama dirinya menggunakan sayap mecha yang masih satu set dengan busana perang terakhirnya, seru suara pujian terus diucap oleh Queenela yang mengagumi setiap hal yang ditunjukkan Rose meski masih dalam lingkup aula utama dari Liga Nebula.
" Queenela [ Seorang anak perempuan dari ras lebah elite yang dapat berevolusi sebagai ratu lebah quarz merah dari reruntuhan kuil astorial dalam versi game ke 9]. Selain dari kemampuan murni atas gen yang dimiliki, beberapa gen lain yang telah aku masukkan dalam tabung inkubasi mungkin akan segera menunjukkan diri begitu dia masuk dalam kondisi dewasa nanti [ atau aku harus memulai ulang proses kelahiran semacam ini untuk beberapa kali ]. " gumamnya memikirkan berbagai hal mengenai kemampuan tersembunyi dalam diri Queenela sembari mencubit gemas pipi tembamnya yang terbaring nyaman diatas pangkuannya.
Melatih kembali uji kompetensi atas standar kelulusan untuk satu sekolah dasar yang dijanjikan, beberapa pengetahuan umum yang belum pernah diajarkan mulai masuk dalam pemikiran dan memperkaya ilmu pengetahuan serta membuat dirinya sadar atas banyak hal yang dirinya lewatkan.
" Lambang runera ? " ucapnya penuh tanya ketika melihat sebuah gambar ilustrasi dari runera ke enam yang muncul dalam salah satu lembar kompetensi.
Menanyakan pemahaman lebih atas runera yang nampak memicu rasa keingintahuan dalam dirinya, rasa kecewa harus dirasakan olehnya begitu mendengar jawaban yang sama-sama berakhir dengan ketidak tahuan mereka atas pertanyaan yang diajukan.
" Aku dengar kamu menanyakan pada beberpa orang dalam mansion ini mengenai apa itu runera, benar ? " sapa Altaira yang sengaja menyapa Vira di atap mansion begitu Vira datang dengan wajah masamnya.
" Hehe, maaf. Sungguh Vira. Aku sungguh minta maaf atas hal itu. Namun dari yang orang dulu katakan, Runera adalah lambang keberkahan yang di berikan oleh dewa dewi untuk satu kepentingan hidup kita bersama." ucapnya sebelum menyarankan Vira untuk bertanya hal mengenai runera secara lengkap pada Nirva yang secara jelas memiliki berkah dari runera.
Berteriak senang untuk pertama kalinya setelah mengunci diri dalam kesedihan cukup lama, perasaan bahagia perlahan muncul dalam hatinya dan mengobati sedikit luka atas kepergian dari Izera yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
" Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke kediaman kami, Nona Ifa." ucap Altaira dengan hormat setelah menyapa Nirvana selayaknya tamu terhormat atas statusnya sebagai pilar ke dua dari empat pilar yang ada.
Membalas sopan sapaan dari Altaira sebelum membuka topik sederhana dengan pengunduran diri dari Izeral sebagai pilar ke empat, cubitan keras sempat diberikan oleh Vira ketika Altaira masih belum menghentikan canda guraunya pada Nirva mengenai ketiadaan dari Izeral.
" Baiklah, Dik Vira. Secara sederhana dapat kakak katakan bahwa pengetahuan mengenai runera adalah pengetahuan rahasia yang hanya dapat di ketahui oleh bebarapa sosok tertentu dan karenanya kamu harus puas atas jawaban yang telah Ka Ira dan kakak menjelaskannya kepadamu." balasannya mengakhiri penjelasan panjang mengenai Runera.
Menganggukkan kepalanya dengan segera meski masih banyak pertanyaan yang tersisa dalam benaknya, kata motivasi dari Nirva mulai membangkitkan kembali rasa bersemangat dalam diri Vira dan membuatnya memegang satu keputusan akhir mengenai rencana belajarnya dalam sekolah dasar yang dijanjikan.
" Menarik, bukan ?Kemampuannya dalam belajar sihir tingkat dasar sampai tingkat tinggi memang cukup mengesankan. [ terlebih lagi beberapa mantra tingkat tinggi sekelas sihir penciptaan grimori maupun kompresi mana dalam diri pun dapat dipelajarinya dalam waktu sesingkat ini.] " ucapnya memuji Queenela disaat Airina mencoba bertanya kabar mengenai dirinya yang kini tinggal dalam reruntuhan Liga Nebula.
Mendengar canda tawa dari Airina yang juga memberikan informasi lain mengenai Vira ataupun mereka yang ada dalam mansion miliknya, ucapan rasa syukur atas semua hal baik yang sesuai harapannya mulai terdengar di telinga Airina dan membuatnya juga merasa bersyukur atas kebaikan hidupnya.
" Nh, iya. Sesekali bawalah Vi dan anak-anak manis ku kemari. Agar nantinya, Queenela dapat mengenali siapa saudara dan hubungan macam apa yang terikat diantara kita bersama. " ucapnya sebelum mengakhiri percakapan diantara mereka.
Merespon kembali ucapan itu dengan tawa bahagia, balasan kata mengenai satu waktu untuk berkumpul bersama menimbulkan kesan berharga dalam penantian atas waktu pertemuan mereka sebagai keluarga dalam wujud sejatinya saat ini.
__ADS_1
" Aya~h! Aya~h! " teriak Queenela yang kebingungan mulai terdengar diantara kesunyian dan membuat Rose segera mengucap salam perpisahan di sertai doa dan harapan baik di masa mendatang.
Tersenyum senang diatas singgasana megah dengan ukiran senjata mecha di setiap sisinya, ucap perintah untuk mengosongkan jadwal di hari yang ditentukan langsung dipatuhi oleh beberapa sosok humanoid dan human yang berpakaian layaknya bangsawan sebelum salah satu drone yang membawa beberapa dokumen membuatnya larut dalam tugasnya sebagai penjaga teritorial.