
" Hehehe. Kamu benar, Airi. Perubahan namamu yang semula sangat indah itu adalah kesalahanku dan karenanya aku sangat menyesali hal itu. " ucap Rose dengan tawa setelah mengingat kembali berbagi hal buruk yang dirinya buat semasa muda dan membekas dalam ingatan Airina.
" Anda memang benar tuanku. Meskipun saya tidak terlalu bisa melihat perubahan macam apa yang terjadi semenjak ke bersamaan kita di waktu itu, saya bisa melihat perbedaan besar dalam diri anda saat ini. " balas Airina sembari mengusap bagian dada Rose yang nampak retak.
Membahas berbagi hal terkait ke bersamaan mereka membuat Rose kembali menutupi wajahnya sebagai tanda malu atas hal bodoh yang selalu dirinya lakukan.
" Hehehe. Iya, tuan. Itu adalah masa yang indah dan menyenangkan. Terlebih lagi saat saya mengingat sikap anda yang kekanak - kanakkan itu~ hehe..." ucap Airin dengan senang sembari melihat ke arah Rose dengan gemas.
" Baiklah, Airi... Aku mengakui bahwa setiap hal yang aku lakukan saat itu adalah hal yang melakukan.... " balas Rose sembari meminta Airin untuk tidak menyinggung beberapa hal memalukan itu.
Tawa lepas dari keduanya mengakhiri pembahasan panjang yang membuat Rose mengalihkan topik pembicaraan.
" He, em.. ya, tuan. Saya tidak keberatan atas nama baru yang anda berikan dan lagi saya pun sangat senang atas ajakan anda untuk kembali berpetualang bersama~ " Ucap Airin sembari memegangi kedua tangan Rose dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Dengan balasan sederhana dan pelukan hangat yang diberikan setelahnya membuat Airi meneteskan air mata.
" Karena itulah, Vi~, Lili~ aku harap kalian mau menerima keberadaan Airi sebagai bagian baru dari keluarga kecil ini~ " ucap Rose sembari menepukkan kedua tangannya dengan wajah bahagia.
Kehabisan kata untuk menanggapi setiap hal mengejutkan yang selalu Rose bawa setiap harinya membuat Vi dan Lilis hanya bisa menganggukan kepalanya sebelum mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Airi.
__ADS_1
" Maaf mengganggu waktu istirahatmu, tuanku. Maukah anda meluangkan sedikit waktu untukku? " ucap Airina dengan bahasa tubuh yang menampakkan kehawatiran.
Melihat sesuatu yang tidak terduga dari Airin, Rose yang merasa bahwa Airin tidak berada dalam kondisi yang baik mulai bangkit dari tempat tidurnya dan memberikan waktu untuk Airin mengatakan apa kemauannya.
" Baiklah, Airi. Aku akan melakukan apa yang kamu minta itu. Namun berjanjilah untuk tidak mengatakan hal ini kepada Lili maupun Vi. Mengerti? " Balas Rose dengan mempersilahkan Airin untuk tidur disampingnya.
" [ 500 poin affaction yang melekat dalam diri Airi sudah menempatkannya pada tahap belahan jiwa dan dengan pengikatan janji suci dari opsi mirage, bisa dikatakan bahwa Airi adalah pendamping hidupku yang sah... ] " ucapnya dalam diam diantara keheningan ketika dirinya duduk di samping Airia yang nampak bahagia tengah terbalut oleh selimut penuh noda.
Memeriksa ulang sebuah opsi dalam setting karakternya dan melihat adanya perbedaan besar dalam statistik data dari karma poin yang ada membuatnya sangat bahagia.
" Setelah melakukan hal menyenangkan itu dan keluar didalamnya, karma buruk yang ada telah berkurang hampir separuhnya dan sebuah pasif khusus semacam ini pun bisa didapatkan dengan mudahnya... " gumamnya tidak percaya setelah melihat satu ikon berbentuk hati dengan sepasang sayap putih tengah berkedip di bawah profil tenaganya.
" Hehe... tidak apa tuan... anda tidak perlu menahan diri jikalau anda memang menginginkan hal semacam tadi... " ucap Airi dengan lirih sembari merangkak mendekati tuannya yang terus mengalihkan pandangannya ke arah lain dari kemolekan tubuhnya.
" [ Tidak, tidak, tidak... jika aku melakukan hal itu kembali, kemungkinan terburuknya dia akan menjadi sosok ibu dari anak-anakku nanti... ] " pikirnya sesaat ketika Airi mulai mencoba memancing kembali hasrat tersembunyi dari dalam dirinya
" [ Tapi yah, dengan kemolekan tubuhnya yang melebihi sosok Vi maupun Lili, tidak bisa dipungkiri bahwa hasrat ini mulai di luar kendali... ] " lanjutnya mengingat kembali kemolekan tubuh dari Airi yang serupa sosok perempuan cantik yang telah menikah di usia muda.
Kehilangan kendali atas gejolak nafsu yang melebihi batasannya, Rose mulai memeluk erat tubuh Airi sebelum menjatuhkan diri di atas tempat tidur itu dan kembali melakukan hal intim seperti sebelumnya.
__ADS_1
" Ou~ yeah.... hehe... menanamkan benih cinta pada seorang wanita setelah ikatan suci dari janji sehidup semati adalah tahap awal dari dimulainya satu komunitas yang disebut keluarga... Namun dari sekian kalinya aku menggunakan opsi itu dalam game, aku tidak menduga bahwa hal senikmat ini bisa dirasakan setelah dunia menjadi kenyataan.. " gumamnya sembari membelai wajah Airi yang nampak kacau lagi terbaring lemas tanpa sehelai kain penutup tubuhnya.
" Dan, yahm~ semoga saja apa yang Vi katakan itu benar dan aku masih bisa melakukan hal intense ini tanpa perlu khawatir mengenai kelahiran darah dagingku sendiri... " Lanjutnya mengingat ucapan Vi terkait rendahnya angka kelahiran seorang anak dari ras yang berbeda
" Terlebih lagi, jika aku tidak salah mengingatnya. Airi Faith merupakan sosok machina yang hampir sama dengan Victoria, meskipun pada dasarnya dia adalah satu-satunya sosok yang aku menangkan dalam even gacha edisi terbatas dari kolaborasi game ini dengan game bergenre aksi dan Sci-fi. " tambahnya dengan mengaitkan kembali asalmula keberadaan Airi serta beberapa gen pembentuk tubuh dalam avatarnya saat ini.
Bermain nafsu di atas ranjang pada saat itu membuat malam panjang terasa begitu singkat setelah dirinya menyadari bahwa mentari telah menunjukkan diri sebelum dirinya memejamkan mata kembali.
* tok tok tok tok* " Tuan... Ini Lili.... " sapa Lilis dari balik pintu yang meminta ijin sebelum masuk kedalam kamaranya.
Membalas ucapan Lilis dengan mengatakan bahwa dirinya telah bangun dan hendak membersihkan diri membuat Lilis membatalkan niatanya untuk membangunkan Rose yang difikirnya masih tertidur seperti hari-hari sebelumnya.
" Baiklah jika begitu, tuan. Air hangat sudah saya siapkan seperti yang anda minta sebelumnya... " balas Lilis sebelum pergi meninggalkan pintu kamar Rose untuk menyiapkan sarapan pagi bersama Vi yang telah menanti.
Merasa bahwa pertemuan antara dirinya dengan Airi yang sampai kini tidak kunjung menampakkan diri membuatnya berfikir bahwa sosok Airi hanyalah ilusi.
" Hehe... jangan beranggapan seperti itu, Vi~. Keberadaan Airi bukanlah ilusi... " Ucap Rose dengan tawa setelah mendengar ucapan Vi sebelum memintanya pergi untuk memastikannya sendiri.
Bangkit dari duduknya dan mendekati Vi yang nampak menyalahkan diri kembali, wajah lesu dari Vi kembali berseri setelah Rose membisikan sesuatu.
__ADS_1
" [ Hm, hm, hm, hm~ entah esok ataukah nanti, mereka mungkin akan melakukan sesuatu yang intim disaat aku pergi.] " Ucap Lilis dalam hati setelah mengingat hal serupa pernah terjadi dan membuatnya merasa iri.