
* tok tok tok * suara ketukan dari pintu di tengah malam terdengar jelas melalui telinga yang membuat Vira bangkit dari tidurnya dalam ruang khusus tempat tubuh kakaknya berada.
" Maaf mengganggumu, Vira. Aku datang kemari hanya untuk mengingatkan kepadamu mengenai kesiapanmu mengenai esok hari. " ucap Rola dengan rasa cemas dalam dada yang tersembunyi dalam wajah senang yang dipaksakan.
Menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas pertanyaan Rola sebelum menunjukkan beberapa barang yang selesai di kemas rapi tanpa kecuali pada tubuh kakaknya yang terbelenggu dalam kristal sihir.
" Nmoh, Vira. Kamu tidak harus melakukan hal itu kepadanya. " ucap Rola sembari mengelus dada ketika melihat bungkusan kain menyelimuti kristal sihir yang telah dilengkapi gerobak kayu sederhana untuk ditarik olehnya.
Menahan langkah dari Rola untuk menghentikannya menjauh dari tubuh kakaknya, dentuman keras tiba-tiba terdengar diantara keheningan malam dan membuat mereka mengalihkan pandangan ke pusat kebisingan.
" Vira!! Oiya!!! Vira !!!" suara dari sosok yang dikenal mulai terdengar mendekat kearah mereka berada dan membuat Vira segera mendorong Rola untuk menjauh dari tempatnya berada sebelum mengunci rapat ruangan khusus itu dengan segera.
Melihat sosok demi human srigala yang terus melangkahkan kaki meski beberapa pelayan terkuat dalam mansion itu menahan tubuhnya dalam beberapa cara yang membuat Rola menahan gelak tawa dalam hati, sapaan dari Viro terhadap Rola di respon baik dengan senyuman sebelum menunjukkan tempat Vira sembari memberikan sebuah nasehat sederhana.
" A! Hahaha! maafkan aku, Ka Sera. Tolong, jangan katakan hal ini pada ibuku, ya. Tolong, aku mohon. Yah ?" balas Viro sembari menjanjikan sesuatu yang dapat dirinya lakukan agar Rola tidak mengatakan kelakuan buruknya pada ibunya.
__ADS_1
Melepas tawa sebelum mengusap kepala Viro dengan manja sembari mengatakan apa yang bisa membuatnya melupakan apa yang dilakukan Viro sebelumnya, dentuman keras kembali terjadi ketika Viro membuka paksa pintu kamar khusus tempat Vira berada dan di buat terkejut setelah melihat Vira tengah berusaha keras untuk kabur melalui sebuah jendela.
" Nmoh! Vira!! " Teriaknya kembali penuh semangat sembari menerjang tubuh Vira dengan cepat untuk mendekapnya dalam pelukan hangat penuh bahagia.
Mencoba melepaskan diri dari genggaman Viro yang dirasa terlalu kuat baginya menggunakan seluruh kekuatan yang ada dalam diri berkat pelatihan keras dari Alruene, Altaira dan Sasya, Vira berhasil melepaskan diri dari pelukan menyakitkan itu dengan wajah kesal sebelum memperlebar jarak diantara keduanya.
" Hey! Viro! Cepat hentikan keributan yang kamu sebabkan dan segera katakan apa yang membuatmu berbuat rusuh di tengah malam!! " Teriak Altaira dengan kesal setelah menembakkan partikel canon untuk memisahkan Vira dan Viro yang masih membuat keributan meski sudah berada di luar bangunan mansion.
Terkejut dengan kehadiran kakaknya yang berada dalam tubuh wanita membuat Viro melepas tawanya kembali sebelum mengejek keberadaan kakaknya yang amat menyedihkan baginya.
" Jadi, hanya itu batas kemampuanmu saat ini ?" ucap Altaira mengejek Viro yang terbaring lemah tanpa tenaga di atas tanah terbuka bekas area pelatihan setelah perkelahian kecil diantara mereka dimenangkan oleh dirinya.
" Nah, iya. Ini. Selamat ya, Vira. Kamu berhasil menjadi salah satu orang yang lolos dari ujian ketat sekolah sihir mawar putih dengan nilai rata-rata yang cukup memuaskan. " ucap Viro sembari memberikan kartu undangan dari sekolah yang dimaksud meski separuh undangan itu terbakar akibat serangan fatal Altaira yang merusak pakaiannya.
Melepas tangis air mata sembari memeluk erat surat undangan itu dengan segera, pukulan keras kembali diberikan Viro pada kakaknya yang dirasa berlebihan atas serangan terakhirnya dan membuat undangan khusus itu hanya menampakkan nama lengkap dari Vira.
__ADS_1
" Oh, iya. Meski nilai teorinya cukup bagus, kamu masih harus melewati uji kemampuan dan sihir untuk membuktikan diri bahwa kamu memang layak menjadi teman kelasku. " lanjutnya tanpa melihat situasi dan membuat Altaira kembali memukul bahunya.
Mengabaikan perlakuan kakaknya yang masih kasar sepertisebelumnya, Viro mulai mengucap permintaan kecil dari ibunya untuk membuat Vira mampu mengenali jenis sihir dalam diri maupun membantunya untuk melatih diri agar nantinya Vira dapat menjadi sosok mandiri dan mampu membuat semua kakaknya merasa bangga kepadanya.
" Dan untuk itu. Kamu diminta datang menemui ibuku pukul empat pagi untuk membahas hal lebih mengenai maksud sebenarnya dari apa yang aku katakan tadi. " tambahnya setelah gemetar kedinginan akibat hembusan angin yang menerpa.
Mengajukan pertanyaan dari ucapan Viro yang membingungkan baginya, Viro hanya membalasnya dengan tawa sembari menyebutkan bahwa Vira mungkin tidak akan bisa masuk ke sekolah sihir itu tanpa adanya bantuan dari pihak keluarganya.
" [ Argh, benar. Dia memang bodoh seperti biasanya. ] " pikirnya dengan mengusap dahi yang menampakkan banyak kerutan setelah mengingat bahwa adiknya tidak bisa menyembunyikan satu kebohongan pada orang-orang disekitarnya.
Mendorong tubuh adiknya untuk segera pergi meninggalkan mansion itu sembari berkata bahwa dia menghargai kejujuran adiknya, Altaira menitipkan pesan untuk ibunya yang mana dalam pesan itu Altaira sendiri yang akan membantu perkembangan potensi dari Vira dalam waktu satu minggu dan setelahnya Viro bisa kembali untuk membawa Vira pergi.
" Untuk sekarang, kamu tidak perlu memikirkan ucapannya yang barusan itu dan akan lebih baik jika kamu melanjutkan tidurmu untuk kesiapan latihan bersama seperti biasanya. Mengerti? " ucap Altaira sembari menepuk bahu dari Vira sebelum memaksanya untuk pergi tidur dengan segera.
Meski sempat terlintas dalam hati mengenai apa yang terjadi sebelum Ezra terbelenggu dalam kristal sihir, Altaira kembali meyakinkan diri bahwa dia harus bisa membuat kekuatan Vira meningkat agar dalam lingkup sekolah sihir bergengsi itu tidak membuat Vira kehilangan nyawanya.
__ADS_1
" Yang aku ingat mengenai tempat itu adalah tempat terlengkap untuk memperoleh banyak informasi mengenai sejarah masa lampau maupun sihir kuno yang letaknya berada diantara perbatasan teritori yang dijaga Ibu Airina dan Bibi Angela dan termasuk dalam zona netral para bangsawan yang mana statusnya tidak terlalu dianggap penting bagi kebanyakan orang dan lebih mengarah pada kemampuan setiap individu sebagai penilaian utama dalam sistem penempatan kelas untuk satu bimbingan khusus demi pengembangan potensi dasar yang telah ada sebelumnya. " gumamnya sembari memandang sebuah foto kenangan yang selalu disimpan dalam ruang kosong diantara lengan kanannya sebagai mengingat satu masa yang berharga baginya.
Mengusap perlahan sebuah wajah perempuan yang terduduk senang di bagian depan barisan yang dibentuk oleh seluruh murid dari kelasnya berada, sebuah rasa kebencian tiba-tiba muncul dalam dada dan membuatnya hampir meremas foto lusuh itu jika kekesalan itu tidak hilang disaat Rola menghampiri dirinya.