
Memandang langit jingga berselimut aura luar biasa yang keluar dari tubuh ayahnya di atas menara Liga Nebula, Queenela yang semula merasa takut atas masa depan yang dilihatnya mulai merasakan hal berbeda disaat kembali melihat keindahan panorama dikala senja bersama Gaia dan Rose yang duduk mengapit dirinya sembari menceritakan sebuah kisah dari dunia yang berbeda.
" Di suatu negri yang jauh dari sini, hiduplah sebuah keluarga bahagia seperti kita. " ucap Rose sembari mengalihkan pandangannya ke arah mentari yang perlahan mulai menyembunyikan diri.
Memberikan sebuah gambaran mengenai sebuah keluarga yang terdiri dari sosok ayah serupa dirinya, Ibu serupa Gaia dan anak perempuan serupa Queenela serta seorang laki-laki yang serupa dirinya kembali dalam masa remaja, Queenela nampak antusias dengan awal kisah panjang yang dirasa mengagumkan baginya.
" Hehe, kamu benar Ela. Sama seperti ayahmu ini, dia sangat menyukai pemandangan alam semacam ini dan berkeinginan untuk menjaganya hingga anak cucunya nanti. " balasnya senang atas ucapan Queenela yang merasa bahwa kisah itu adalah bagian lain dari perjalanan hidup ayahnya semasa muda.
Melanjutkan kisah itu dengan ikut memperagakan apa yang diucap melalui beberapa golem tanah yang diciptakan menggunakan sihir miliknya, tawa senang kembali nampak di wajah Queenela sebelum bagian menegangkan membuatnya semakin penasaran atas apa yang terjadi setelahnya.
* Sdurmp Sdurmp * suara letupan dari sebuah pistol yang dilengkapi dengan peredam terdengar jelas tidak lama setelah dua orang yang begitu berharga bagi mereka tergeletak di lantai bersama noda darah yang semakin membesar.
Merasakan bahaya yang ada di depan mata, anak laki-laki yang lebih dewasa dari anak perempuan sebelumnya langsung mengambil keputusan untuk menabrakkan dirinya pada sosok misterius yang membunuh kedua orangtuanya itu sembari berteriak dan meminta anak perempuan itu lekas pergi menyelamatkan diri.
* Sdurmp Sdurmp Braks Braks kpratcts Sdurmp * Menutup telinga sembari memaksakan diri untuk menjauh dari tempat tinggalnya yang secara jelas menampakkan beberapa kedipan cahaya dan bercak noda yang perlahan memenuhi sisi jendela, teriak tangis disertai doa dan harapan terus terucap dalam hatinya agar kakaknya bisa selamat atas apapun yang terjadi dalam tempat tinggalnya itu.
" Lalu, lalu. Apa yang terjadi selanjutnya? " ucap Queenela setelah menelan ludah dalam rasa tegang atas kisah yang tiba-tiba terhenti akibat letupan batu panas yang ada diantara tumpukan bara panas bekas api unggun yang mencapai batas.
__ADS_1
Mengusap kelapa Queenela dengan lembut sebelum melanjutkan kisah itu kembali dengan menyebutkan bahwa sosok perempuan yang berlari meninggalkan kakaknya demi meminta bantuan hingga bertemu beberapa orang asing lain dengan lencana, anak perempuan itu harus rela melepas kepergian anggota keluarganya dengan isak tangis di area pemakaman yang hanya dihadiri dirinya dan dua orang asing dengan lencana.
" Aku, aku, aku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. " ucapnya menahan tangis dihadapan dua sosok asing itu sembari mengusap kepalanya dengan pelan disaat rasa sakit mulai terasa begitu menyiksa.
Menyinggung keberadaan dari orang asing lain yang datang pada anak laki-laki itu, Rose menjelaskan kepada Queenela bahwasanya di luar dari tempat mereka saat ini terdapat sekelompok orang yang membela keadilan dengan disisipi pendapat pribadi berisikan keraguan atas keadilan yang diperjuangkan itu.
" Setelah menarik nafas panjang untuk menguatkan pilihan, pria itu mengatakan bahwasanya dia sendiripun tidak peduli dengan anak perempuan itu dan lagi, dengan tatapan mengerikan dari pria yang ada dihadapannya. Perempuan kecil itu berakhir di sebuah tempat pembuangan sebelum di temukan oleh sosok baik yang menjaga nya sampai perempuan itu menjadi wanita hebat yang disegani banyak orang. " lanjutnya melompati bagian kisah yang tidak perlu diucap saat pria asing itu melakukan tindakan menyimpangnya.
Menjawab pertanyaan Queenela mengenai kebenaran kisah itu, bayangan dari perempuan yang dimaksud mulai menampakkan diri di sebelah Gaia dalam wujud Ai dari Vi.
" Nah, m~ yah. Benar atau tidaknya kisah itu. Aku sendiri pun tidak tahu. " balasnya mengalihkan topik pembicaraan.
Mencoba memahami maksud yang terucap itu, Queenela yang sedari awal melihat gambaran mengenai negri gemerlap yang berselimut kabut ungu dan sungai hitam yang dibuat oleh sihir ayahnya hanya bisa terdiam setelah bebarapa pesan tersembunyi dalam kisah itu di ungkapkan oleh ayahnya.
" Hehe, maaf, maaf, sungguh. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu terlalu memikirkan hal berat itu. Hehe, yah. Sungguh. " ucapnya sebelum menyinggung kesiapan dirinya yang berniat melangkah pergi ke dunia luar.
Memberikan pelukan terakhirnya pada Queenela dengan penuh kasih sayang sebelum membuka portal menuju dunia luar, Rose memberikan sedikit dorongan pada Queenela agar Queenela bisa membuatnya bangga atas prestasi yang dinanti.
__ADS_1
" Apakah kamu yakin bahwa hal tadi perlu dilakukan ? " ucap Gaia sembari menutup portal dari celah pepohonan yang menyinggung tindakannya yang tiba-tiba menendang punggung Queenela yang ragu atas kesiapan dirinya.
* Gbruuuuummmmssss!! * Ledakan besar tiba-tiba muncul dari sebuah hutan dan membuat kekosongan sejauh mata memandang.
" Nhmo!! Ayah!! Sungguh!!! Apakah ayah perlu melakukan hal semacam ini!!! Argh!!! Astagah!!! " Teriaknya kesal sebelum melepaskan diri dari bukit berbatu yang menjadi tempat dirinya mendarat.
Tersenyum senang ketika melihat kepulan asap nampak terbang tinggi menyelimuti suasana pagi, Victoria yang mendapatkan pesan dari Airina mulai mencoba mengetahui makhluk macam apa yang kembali tercipta bersama kenangan buruk dari Rose yang selalu melakukan hal di luar akal manusia untuk mencapai satu kepuasan pribadinya meski harus mengorbankan banyak hal tanpa terkecuali pada nyawa rekannya.
" Jika kamu mendengar deru angin yang membawa hembusan angin berbeda di sertai kedipan cahaya yang menuju tempatmu berada, jangan ragu untuk menyerangnya dengan sekuat tenaga." ucap Rose dalam bayangan Queenela yang sedari awal menginjakkan kaki ke tanah lapang diantara lautan hutan mulai merasakan apa yang telah dinasehatkan.
Dalam wujud sejatinya yang serupa lebah itu, Queenela mulai menempelkan ke dua telapak tangannya dari lengan bagian atas dalam posisi siap mencengkram mamgsa penuh marah sembari menempatkan dua telapak tangan bagian bawah dalam posisi berdoa sebelum satu hentakan keras dari ke empat kakinya menghancurkan tanah yang di pijak dan membuatnya melesat dengan cepat menuju sosok misterius yang mendekat.
* Swuuuuungsss * Besarnya daya hentak yang ditimbulkan bersama energi mana menakutkan yang menyelimuti area yang dilewati Queenela membawa ingatan lain dari Rose yang membekas dalam diri sebelum naluri pertahanan diri membuatnya mengambil sikap siaga dan memasang perisai besi berganda dengan ukiran batu permata yang timbul di bagian tengahnya.
* Gbraks!! * Di waktu yang hampir bersamaan dengan munculnya perisai itu, hantaman keras dari sesuatu membuat perisai itu hancur dan hampir mengoyak tubuhnya yang terbalut armor yang jauh lebih tipis dari Airina.
* Besisings!!! * Kilat cahaya mulai muncul bersama hembusan angin yang menghantam diri tidak lama setelah sosok yang dinanti itu terbang terlampau cepat melewati diri.
__ADS_1
" Tipe Air Force, ya? Ini menarik." gumamnya lirih sebelum mengganti mecha suit yang melekat dalam diri dan membuat armor yang rusak kembali ke bentuk awal disertai pembaruan empat tenaga dorong sebagai percobaan untuk penyetaraan kecepatan.