
" Hm, em. Pada akhirnya, aku tetaplah sosok sampah yang busuknya hingga ke dalam jiwa. " gumamnya dengan sisa tenaga sebelum menancapkan sebuah senjata mecha di atas tanah sebelum menutupkan kedua matanya dalam senyum bahagia.
* stucklss stumpsss * Gesekan batu yang saling berbenturan terdengar begitu jelas ketika Rose menapakkan kakinya di hadapan sebuah puncak bukit dengan sebuah patung besar dari satu dewi yang tidak dikenal
" Begini, Nesla. Ada satu tempat rahasia dimana kamu bisa membuka sebuah opsi pengaturan mengenai resources maupun fitur featured dunia. " ucap seorang wanita yang kembali menampakkan diri dalam bayangan ketika Rose melihat batuan besar yang condong ke arah birunya lautan
Tersenyum dalam diam sembari menertawakan kenangan masa lalu yang sempat hilang, Rose melangkahkan kaki ke ujung batuan itu sembari mengucap sesuatu.
* Bzingsss stratatatapsss * Sebuah hentakan energi menghentikan seluruh waktu yang ada kecuali waktu dari dirinya sebelum robekan dimensi menarik tubuhnya.
Dalam satu ruang hitam yang di penuhi barisan statistik data maupun code perintah, Rose terdiam tanpa kata karena tidak menduga bahwa satu ruang dari sistem dunia yang di penuhi dengan bugs benar-benar ada dihadapannya.
" [ Tidak ada hal lain selain mencoba membuktikan bahwa ini adalah tempat yang dia maksudkan sebelumnya. ] " gumamnya dalam keraguan ketika tubuhnya tidak dapat lagi digerakkan.
Mengucap sebuah kalimat panjang serupa puisi dengan nada yang lebih layak serupa lagu para penyair, kumpulan kode perintah maupun barisan data statistik mulai terpecah sesuai dengan apa yang dirinya ucapkan sebelum menyatu dalam satu bentuk wanita dengan suara seperti saat pertama dirinya di sambut oleh seorang gadis remaja.
" [ Apakah dia merupakan wujud lain dari system dunia? ataukah npc khusus dari GM? ] " ucapnya dalam diam sembari memperhatikan lebih seksama sosok yang ada dihadapannya.
Menggelengkan kepala sebagai cara untuk membuang jauh pemikiran bodohnya, Rose mengucap sebuah kalimat panjang bagai mantra pada sosok itu dan membuat sosok itu mengambil bentuk tubuh dari sosok yang ada dalam ingatannya.
" [ Berikan aku sumber energi mana agar aku dapar melihat isak tangis dari jiwa orang mati yang ada di sisi lain dimensi. ] " pikirnya kembali setelah memeriksa setiap ejaan kata yang tersusun dari kode perintah yang ada sebelum benar-benar mengatakannya.
__ADS_1
* Glichs * Sebuah decitan lirih sempat terdengar dan membuat senyum bahagia di wajah npc sebelum tubuhnya kembali ke bentuk barisan data seperti sebelumnya
* sratasapts * robekan dimensi kembali menutup dengan perlahan sebelum benar benar menghilang dan mengembalikan waktu yang sempat terhenti untuk berlanjut kembali.
" [ Mungkin dalam waktu dekat ataupun esok hari, aku akan kembali untuk melepas rindu sesaat pada dia yang serupa dengannya. ] " ucapnya dalam senyuman sembari melihat area hampa sebelumnya.
Menyambut tuannya yang kembali datang dengan senyum kebahagiaan, keduanya nampak begitu senang karena tuannya telah mencapai apa apa yang dirinya cari dan segera setelahnya mereka akan hidup dalam keabadian yang membahagiakan dalam satu rumah penuh kedamaian sembari melihat canda tawa anak anak yang berlalu lalang
* scrisingsssss * sebuah cahaya kuning ke emasan membumbung tinggi di hadapan keduannya sebelum sosok wanita bersayap menampakkan diri dengan sebuah harpa yang di bawanya
" Hormat kami, Dewi pemberi rizki pada seluruh mahluk diatas tanah ini. " ucap Airi dan Vi secara bersamaan setelah dewi itu memainkan harpanya sesaat sebagai tanda salam maupun pemberian berkat.
" Paragons " ucap dewi itu sembari menunjuk bagian dada Rose yang retak dan membuat waktu kembali terhenti untuk beberapa saat.
Mengulangi ucapan salamnya kembali dengan nada ramah penuh kelembutan, Vexsilis mengenalkan dirinya pada Rose sebelum menjelaskan apa yang menjadi dasar bagi dirinya untuk menunjukkan diri dihadapan Rose
* sbrsiiiiiingssss * sebuah celah dimensi kembali terbuka dengan tatapan mata besar yang langsung menatap keduanya.
" Eraaaaaaagh!! " Teriak Rose kesakitan ketika ruang waktu yang semula terhenti itu kembali berjalan dengan tiba-tiba hingga menimbulkan sensasi serupa pukulan keras yang menghantam sebuah wajah dari balik cermin didepan mata.
Terus berteriak sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat, sebuah bayangan mengenai satu peperangan hebat terus masuk dalam kepalanya dengan rasa yang begitu nyata hingga membuatnya merasa bahwa dirinya pernah ada dalam situasi serupa
__ADS_1
" [ Kenapa dengan dirinya?! ] " ucap Vexilis dalam kehawatiran ketika Rose berteriak kesakitan beberapa saat sebelum waktu kembali berjalan secara normal.
Melihat tuan yang begitu berharga bagi mereka terlihat begitu kesakitan, sebuah aura tiba-tiba muncul dari tubuh keduanya bersamaan dengan bangkitnya posisi mereka dari sembah sujudnya.
" [ Apa yang terjadi?! Sungguh!! Siapa saja! Tolong jelaskan apa yang terjadi kepada mereka!! ] " ucapnya tanpa suara sembari berjalan mundur dari keduanya bagai sesuatu yang amat menakutkan akan terjadi pada dirinya.
* Scriiiiimptssss * " Proses pemuatan data selesai. Selamat datang kembali Secilian Rose. " ucap sosok wanita yang sama seperti saat pertama kali dirinya memuat data game.
Bayangan serupa atas sosok Vexilis muncul di belakan Vexilis nyata di hadapan mata beserta gerakan bibir yang nampak jelas meminta dirinya untuk pergi menuju bangunan Liga.
" He, em. Airi~, Vi~. Sudah cukup dengan apa yang kalian lakukan kepadanya. Aku sudah tidak apa, dan dia bukanlah sosok yang pantas untuk diberikan luka. " ucap Rose sembari menepuk bahu kedua pelayannya untuk membatalkan niatan mereka yang hendak melakukan sesuatu yang buruk terhadap sang dewa.
Menawarkan bantuan pada dewa yang nampak begitu ketakutan untuk kembali berdiri walau harus memaksakan kaki yang masih gemetaran, Rose memberikan sedikit sihir pemulihan agar sang dewa bisa kembali mengatakan apa yang ingin dirinya sampaikan.
" Jauh di ujung bumi tenggara, satu pasukan besar monster tengah bergerak menuju tempat yang kamu sebut sebagai Liga. " ucap Vexilis sembari menyebut nama seorang dalang di balik bergeraknya puluhan ribu pasukan monster yang berasal dari enam reruntuhan abadi di atas tanah sylvi.
" [ Jadi apa yang aku rasakan sebelum nya adalah hal yang akan terjadi secara nyata. ] " ucapnya dalam diam sebelum melihat ke arah langit yang kembali menunjukkan waktu dimana badai terkutuk akan kembali menampakkan dirinya.
Dengan usapan pelan ke kepala sang dewa dengan satu ingatan mengenai hal serupa pada satu sosok yang hampir serupa, sebuah gerakan bibir sederhana tanpa suara kembali terucap olehnya dan membuat dewa itu terdiam tanpa kata.
" Membuka opsi pengaturan layar berganda atas profil diri, statistik data, kemampuan, map, sihir, dan perlengkapan. " ucapnya begitu jelas sembari menahan tubuh Vi dalam bentuk serigalanya ketika terbang tinggi dalam balutan mecha suits Airin yang melesat begitu cepat menembus gumpalan awan yang menghadang.
__ADS_1