
" Gus, Nerak. Terima kasih telah bekerja keras selama ini. " ucap Rola sembari memberikan sebuah bingkisan besar setelah pelanggan terakhir keluar dari bar.
Keduanya sempat terkejut dikala membuka bingkisan besar itu berisi beberapa koin putih yang nilai tukarnya 3x lebih tinggi dari koin emas di lingkup pemasaran nilai tukar dalam desa.
" Hehe, tidak. Aku tidak sedang bercanda. Seperti yang kalian tahu sendiri, toko ini sudah berdiri selama beberapa generasi hingga saat ini dan karena itu. Sebagai bentuk perayaan hari jadi, bingkisan itu adalah hadiah dari kami. " ucap wanita paruh baya yang memakai pakaian sederhana sembari menepuk bahu Rola.
Terdiam tanpa kata sebelum mengucapkan terima kasihnya, kedua sosok itu mulai berjalan meninggalkan bar sembari memikirkan rencana masa depan mereka.
" Na, Zel. Bisakah bibi memintamu menerima permintaan kecil dari bibi? " ucap Ibu Rola ketika suasana semakin dirasa cukup untuk mengucap permintaannya.
Mendengar dengan seksama sebelum memilih satu pilihan yang amat sulit dari opsi yang ada, Rose menundukkan kepalanya sesaat sebelum berkata bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk memberikan jawaban pastinya.
" Sera, memang sosok yang mempesona lagi baik hatinya. Namun tetap saja, perasaan tulus dari Sera tidak dapat aku terima ataupun tolak begitu saja. " gumamnya sembari menatap bintang dengan memikirkan perbandingan antara kehidupan Ezra yang telah lama tiada dengan kehidupan yang telah dilaluinya.
Menaruh seikat bunga di atas sebuah nisan sebelum memanjatkan satu ucapan layaknya doa, Rose, Vira, Rola dan Ibunya mulai berjalan meninggalkan area pemakaman kota untuk kembali ke rumah kediaman Rola.
" He, em. Benar bibi. Saya sudah yakin atas apa yang saya ucapkan itu dan saya pun berniat meninggalkan kota demi mengetahui informasi lebih mengenai kedua orang tua kami yang nampak diselimuti misteri. " ucap Rose yang menegaskan kembali ucapan yang diragukan sebelum menambahkan satu keinginan yang disertai dengan alasan.
Perasaan senang dalam raut wajah yang nampak begitu bahagia tiba-tiba terhapus begitu cepatnya setelah Rola mendengar pembicaraan serius dari Rose dengan ibunya.
" Vira, maukah kamu menemani bibi membeli beberapa kudapan manis di pasar bersama? " ucap Ibu Rola sembari mengajak Vira yang nampak bingung dengan keheningan yang ada dalam ruangan itu setelah satu ucapan sederhana keluar dari mulut kakaknya.
__ADS_1
Meninggalkan rumah demi membuat satu hubungan baik dari keduanya yang sempat beradu paham, sebuah senyuman nampak begitu jelas di wajah wanita paruh baya itu yang mengharapkan hal baik kepada putrinya.
" [Nh, ya. Jika Ezra masih hidup, aku yakin bahwa dia akan mengemis cinta kepada Sera. ] " ucapnya dalam diam setelah Rola memintanya memberikan satu alasan atas penolakannya.
" Baiklah, Sera. Meski aku tidak terlalu pandai mengatakannya, alasanku cukuplah sederhana. Aku hanya ingin membalas budi kepadamu sebagai timbal balik atas kebaikan yang kamu lakukan kepadaku. " balasnya setelah mengingat kejadian baik yang masih membekas pada Ezra.
Dengan tatapan kosong pada bola matanya dalam senyum yang nampak terpaksa, Rose sadar bahwa dirinya telah mengatakan satu hal buruk yang melukai hati Rola.
" Dan ya. Meski sebelumnya aku pun sempat merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasa, perasaan itu telah hilang semenjak aku mendengar ucap candamu ketika itu yang secara jelas mengatakan bahwa aku hanyalah sosok hina yang tidak lebih dari pesuruh ataupun pelayan biasa. " tambahnya setelah bangkit dari duduk sembari menatap mentari yang nampak bersembunyi.
Satu penjelasan yang di ambil dari satu ingatan membuat Rola kembali terdiam setelah sebelumnya nampak garang menepis setiap kata atas apa yang Rose katakan.
" Selain dari itupun, aku juga berniat menjadi petualang demi sesuatu yang aku dambakan. " lanjutnya setelah Rola enggan mengakui apa yang Rose katakan.
" Hehe, kau salah mengenai satu hal, Sera. Ize yang kamu kenal sudah lama tiada dan Ize yang ada dihadapanmu adalah Ize yang berbeda. " ucapnya memperbaiki satu ejekan yang Rola ucapkan untuk mendoakan satu keburukan bagi dirinya.
Sebuah senyum lebar disertai pandangan mata yang teramat tajam lagi menakutkan membuat Rola kehilangan kesadaran atas semua ucapan yang Rose katakan.
" Hey, Dik Vira. Apakah ada masalah antara Nona Sera dengan kakakmu? " ucap seorang pelanggan di saat melihat suasana bar yang serasa berbeda dari sebelumnya.
Mengarahkan pandangannya ke arah Rola dan kakaknya sebelum menjawab pertanyaan itu dengan polosnya, beberapa pelanggan yang juga ikut mendengar ucapan itu sempat menahan tawanya ketika Vira berkata bahwa Rola telah di tolak secara mentah oleh kakaknya.
__ADS_1
" Tapi, tapi, yah. Aku sendiri merasa bingung dengan sikap kakakku itu. Beberapa waktu sebelumnya, dia sangat memuji kebaikan Ka Rola. Namun beberapa terakhir ini, kakak terus memanggil beberapa nama asing sebelum tersenyum dalam tidurnya. " Balas Vira sembari menerima sedikit kudapan manis pemberian para pelanggan.
Mengatakan kebiasaan baru dari kakaknya yang selalu pergi ke gerjea kudus di setiap paginya membuat beberapa pelanggan yang ada sempat mengatakan pendapatnya bahwa para biarawati merupakan sosok yang patut untuk di cintai.
" [ Aku tidak bermaksud iri dengan kebahagiaan yang ingin dirinya cari. Tapi mendengar hal semacam ini, sepertinya memang ada sosok lain yang membuatnya menjadi begini. ] " ucap Rola dalam hati setelah mendengar jelas ucapan Vira yang menyebutkan sebuah nama.
Menatap tajam sosok adiknya di saat para pelanggan mulai mengabaikan ucapan melanturnya, Rose duduk di belakang Vira sembari menunggu reaksi yang dinantikan.
" He, em. Jadi begitu ya, Vira? Kalau begitu, kamu tidak akan mendapat porsi tambahan untuk makan malam ini. Ya~." Balas Rose dengan nada yang ditinggikan ketika Vira selesai menjelaskan.
Menatap para pelanggan yang hanya menahan tawanya disaat dirinya di nasehati oleh kakaknya, wajah Vira yang nampak memerah dengan tangis air mata mulai terlihat sebelum Rola datang dan memberinya sedikit pelukan untuk menenangkan.
" Nhm! Semua salah mereka! *hups* Jika mereka tidak memberikan makanan manis ini, aku pasti mendapat porsi lebih dari roti berlapis buatan kaka! " ucap Vira sembari menenggelamkan kepalanya dalam dada Rola.
Mengucap beberapa kata sembari memancing Vira untuk mengatakan hal yang sama sebelumnya, Rola berhasil mendapatkan satu fakta mengenai rahasia yang di simpan Rose setelah Vira memakan umpan yang disamarkan dalam ucapan.
...----------------...
Bangun di pagi buta demi menangkap basah sosok Rose yang bermain api di belakanya, Rola sengaja meminjam baju serupa layaknya biarawati demi mencari rupa yang memikat hati juru masaknya.
Setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama, sosok yang dinanti pun tiba bersama Vira yang nampak begitu ceria.
__ADS_1
" Apakah mungkin, itu adalah sosoknya ? " ucap Rola tidak percaya mengenai seorang biarawati yang datang menyambut Rose dengan paras yang berbeda jauh darinya.