
* sdaptssss swungsss swungsss swungsss scriiiiptssss splumsss * " Crystal Void Reforgs " Ucap Nana sembari merapalkan sebuah mantra diatas sebuah kristal panjang menyerupai berlian sesaat sebelum rangakaian pentagon berwarna biru, ungu dan putih tercipta dan memunculkan apa yang ingin dirinya lihat.
" Counter!!! " Teriak seorang dalam layar sihir yang nampak buram sebelum suara gemuruh terdengar setelahnya.
" Sepertinya, Angela masih sibuk dalam reruntuhan itu. " gumamnya sembari memejamkan matanya kembali dan mengulang sebuah mantra yang sama namun dengan akhiran berbeda.
* Scraaaaasaah, sdumpssss, sdams, sdams, sdamsss, scraaaasssh, Meeeeaaaaawwwwwasssh!!* Sebuah kegaduhan lain nampam terdengar begitu jelas dengan akhiran suara seekor kucing yang nampak agresif dalam layar sihir yang hanya menampakkan kegelapan.
" Hehe, sepertinya aku akan menghubungi mereka lagi nanti. " lanjutnya sembari membatalkan setiap rangkaian sihir sebelumnya dan memutuskan untuk menanti panggilan balik dari mereka.
" Pedang Besar Kaisar Nethera. Bagaimana bisa aku melupakan wujudmu yang sempurna. " gumamnya dalam sebuah ruang sembari mengusap bagian punggung pedang besar itu yang kini menampakkan ukiran naga merah dengan mata pedang bergerigi serta gagang yang berselimut rantai besi.
" Pedang legenda pertama yang dirinya miliki setelah penjelajahan panjang menuju tanah kehancuran dalam gunung purba Vulcanora Arthera.... " Lanjutnya sembari memainkan pedang besar itu dalam genggamannya.
Dengan sebuah tarikan nafas panjang dan raut wajah kesedihan, Nana duduk dalam lamunan sembari memikirkan berbagai hal yang dirinya lewatkan.
" Tahun 149 masa 9 dewa agung dalam kerajaan Shiga, aku yang kabur dari rumah untuk menjadi seorang petualang wanita harus berakhir menjadi seorang glandangan kota sebelum mengais sedikit uang dan menjadi petualang pemula... " renungnya sembari mengingat masa lalunya.
" Datang sekelompok Void dengan berbondong-bondong dalam serikat petualang itu dan mencari rekan pembantu dan hanya menyisakan diriku yang bahkan sengaja kutunjukkan status terkuatku... " tambahnya dengan sebuah tawa sebelum melihat ke arah jendela yang terbuka.
" Menyerah atas semua yang ada, aku bertemu dengannya yang dengan senangnya mengakui kehebatanku sebagai pengguna kampak raksaksa dan menjelajah banyak tempat bersama sebelum akhirnya kami memiliki satu liga dengan banyak anggota... " akhirnya dengan memandang sebuah buku catatan yang terikat diantara sarung pedang besar itu dengan berbagai macam potret kenersamaan yang kini mulai memudar.
__ADS_1
" Ela pada Nana... Ela pada Nana.. Bella juga ikut menyapa... halo, halo... " beberapa suara berbeda mulai menyadarkan dirinya.
Sembari merapal ulang mantra sebelumnya dan melihat dua wajah dari Angela dan Bella, Nana mulai mengatakan apa yang ingin dirinya katakan setelah beberapa hal kecil di bahas sebelumnya.
" nya~ ternyata apa yang dikatakan Watson kala itu benar adanya, nya~. " ucap Bella sembari memainkan gulungan bola benang di dekat layar sihir yang menampakkan Nanan dan Angela.
Bersama dengan ucapan rasa syukur atas pertemuan itu, Nana sempat menunjukkan pergelangan tangannya yang kembali bersih tanpa luka dan membuat Bella menjatuhkan bola benangnya.
" Hehe... tenangkan dirimu, Bella. Aku tidak inggin kemampuan itu bangkit dan membuat beberapa saudara didekatmu kembali terluka... " Ucap Nana setelah melihat aura ungu kehitaman yang mulai muncul sebagai tanda kebencian.
" Dan ya, kamu benar, Ela. Mantra penyembuhan rangkaian ke 4 atau lebih dikenal dengan senyum sang Dewi Airin adalah sihir yang membebaskanku dari luka terkutuk itu. " lanjutnya membenarkan ucapan Angela sebelumnya.
" Hm~ nya~ baiklah Nana nya~ aku akan kembali merelaksasi diri kembali sebelum penaklukan reruntuhan selanjutnya dimulai. Jadi nya~ jangan kembali menunjukkan kebaikan dan kemesraan dari dirinya kepadaku nya~... " balas Bella sembari menutup layar sihirnya sebelum kembali memainkan gulungan bola benangnya dan mengalihkan pandangannya keluar dari jendela tenda yang di tempatinya.
" Hehe... mungkin aku akan berpura-pura tidak mendengar ucapan kebencian itu dari mereka yang selalu bermuka dua, hehehe... " gumamnya sembari menahan tawa ketika satu dari rangkaian sihir yang ads masih menyala diantara kristal panjang itu.
Kembali mengamati setiap detail dari pedang besar itu, Nana kembali mengucapkan rasa syukurnya setelah menyadari bahwa petir hitam yang selalu mengamuk diantara retakan punggung sang naga telah mereda dan tidak menyakiti tubuhnya.
" Hm~ Ya~ pada akhirnya kamu sendiripun nampak menikmatinya bukan? " ucap Vi sembari menyuci beberapa alat makan yang kotor disaat Lili sibuk membasuh tubuhnya sendiri.
" Hmno... Aku benci Vi! " balas Lilis dengan keras dan membuat Vi semakin tertawa karenanya.
__ADS_1
" Hehe... ayolah, kamu hanya malu mengakuinya bukan? Terlebih lagi disaat kamu tiba-tiba menjerit seperti " Kyaaa" dan.... " balas Vi kembali menggoda Lilia untuk mengakui kenikmatan yang diberikan oleh tuannya.
Belum selesai dirinya berucap, Rose datang dan menanyakan mengenai sesuatu yang nampak tidak asing baginya di sekitar kamar tidurnya.
" Apakah aku kembali melakukan hal menyimpang itu kepadamu, Vi~ ? " tambahnya dengan menepuk kedua bahu Vi untuk mendengar apa yang telah terjadi.
" He, em... tidak tuan... Tuan tidak melakukan hal semacam itu kepada saya... " balas Vi sembari berniat memberitahukan yang terjadi sebenarnya sebelum kedatangan lilis membatalkan niatannya.
Melihat kemolekan tubuh Lilis yang datang dengan sebuah gayung dan tubuh yang nampak terbuka membuat Rose langsung memeluknya.
" Vi~ cepat ambilkan baju untuk menutupi tubuhnya segera sebelum sesuatu yang buruk menimpanya... " ucapnya dengan segera sembari mencoba untuk tidak terpengaruh oleh gejolak nafsu yang ada.
Mendengar alasan Rose yang enggan memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang begitu menggoda membuatnya hampir melepas tawannya.
" Terserah padamu untuk berkata apa, Lili. Namun aku enggan melepaskanmu selama kamu masih menampakkan kemolekan tubuh semacam ini... " lanjutnya dengan menyinggung penilaian karma yang akan berpengaruh pada hal baik maupun buruk terhadap dirinya.
Meskipun pada mulanya Lilis sempat bingung atas apa yang Rose katakan, Lilis pun akhirnya sadar begitu Vi menyinggung kejadian buruk yang dirinya alami setelah membohongi Rose untuk menutupi kesalahannya sendiri.
" Dan lagi~ sama halnya dengan apa yang kamu ucapkan tadi. Akupun memintamu untuk menjaga rahasia ini agar nantinya tuan tidak menganggapku sebagian beban hidupnya.. " lanjut Vi sembari mengawasi situasi dimana Rose masih membasuh diri.
" [ A~a... m hubungan diantara mereka itu benar-benar membuatku bingung! Di satu sisi, Rose memang nampak seperti pria sejati namun dengan adanya kebiasaan buruk itu membuat dirinya patut untuk dijauhi... Disis lain, Vi yang nampak polos nan suci itu pun memiliki masalah yang serupa dengan penyimpangan itu... ] " pikirnya dalam diam dikala area guild nampak sepi dari para petualang.
__ADS_1
" [ Meskipun hanya ini yang aku punya, bukan berarti hanya ini yang bisa aku gunakan untuk menjadi berguna baginya...] " ucap Vi dalam diam sembari memegangi bagian vitalnya ketika Rose dengan begitu senangnya mengajak Vi kembali menikmati suasana di sekitar kota.