Fantasyum

Fantasyum
Bab 11.3


__ADS_3

* Slisings * Suara melengking dari pedang tajam yang membelah sesuatu sempat terdengar dalam pandangan mata yang terpejam


" Apakah kamu yakin bahwa hal yang kita lakukan kalih ini tidak akan bersinggungan dengan kondisi masa depan nanti? " suara samar dari seorang laki-laki sebelum suara lain terdengar menanggapi.


Mendengarkan percakapan dari sosok yang tidak di ketahui membuatnya merasa penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi.


" Meski namanya sama, dia bukanlah bagian dari lima bersaudara yang menjadi kunci masa depan nanti. " balas dari seorang perempuan sebelum suara melengking seperti sebelumnya kembali terdengar.


Dalam keramaian yang terus terdengar sebelum keheningan kembali menyelimuti diri, sebuah cahaya menyilaukan mata nampak di hadapannya dan membuatnya enggan untuk membuka mata.


" Cepatlah cepat! Kita harus segera mengobati lukanya! " ucap seorang kesatria dengan zirah besinya pada para priest yang masih sibuk mengobati para penduduk desa yang hampir kehilangan nyawanya.


Sejauh mata memandang dalam desa yang nampak hancur akibat satu serangan, puluhan prajurit dari satu kerajaan nampak bersusah payah menggali beberapa liang lahan sebelum menimbun mereka yang tidak lagi mampu di selamatkan.


" Ini, benar-benar bencana " ucap seorang pemimpin para kesatria setelah memandang mereka yang terduduk lesu penuh luka.


Ketika sensasi asing mulai terasa dan meredakan rasa perih di sekujur tubuhnya, Rose kembali mencoba membuka kedua matanya.


* Grraaagssshss * Seekor naga yang menguap menghembuskan nafasnya di kala pasukan prajurit sebelumnya tengah sibuk membangun kamp sederhana sebelum kegelapan malam menyelimuti mereka


" Argh, kepalaku. " ucapnya sembari memegang kepalanya setelah bangkit dari pangkuan Rola yang nampak sehat tanpa luka bakar sebelum.


Mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru area dan melihat orang asing nampak sibuk memasang tenda, dengkuran manis dari Vira membuatnya sempat menahan tawa sebelum memindahkan posisinya ke pangkuan Rola.

__ADS_1


" Akh, Sebuah keajaiban ketika melihatmu sembuh tanpa luka setelah hal buruk menimpa. " ucap seorang kesatria setelah melihat Rose nampak berjalan keluar dari kereta naga.


Menyapa hangat sosok kesatria setelah duduk dekat perapian sederhana dengan panci kecil berisi ransum seadanya, Rose mulai meminta sosok kesatria itu untuk menceritakan apa yang membuatnya bisa berada dalam kereta kuda maupun kondisi desanya.


" Maaf, pemuda yang di sana *sbuks* Sebenarnya kami adalah pasukan yang ditugaskan untuk membantu pengamanan desa beberapa waktu sebelumnya. " balas seorang kesatria lain sebelum duduk dan melepaskan pelindung kepalanya.


Mengingat kembali ucapan Rola mengenai bantuan yang tidak kunjung datang setelah bencana penyerangan monster yang menghancurkan desa, raut wajah kesal nampak jelas dalam dirinya seakan menyalahkan mereka yang tidak berguna.


" Baiklah, baiklah. Kami sadar bahwa kami telah membuat kesalahan besar dan karena itulah kami berniat membawa kalian untuk memutuskan hukuman apa yang pantas di terima bagi kami semua. " balasnya sebelum menjelaskan maksud dari hukuman yang diartikan sebagai balasan atas kesalahan mereka yang gagal memenuhi harapan sang raja.


" [ Aku tidak terlalu mengerti apa yang terucap dari mulutnya. Namun mengenai hukuman yang menjadi penentu hidup mereka, setidaknya aku akan memikirkannya bersama Luna, Vira dan Rola. ] " ucapnya dalam diam sebelum memandang langit malam di saat para prajurit mulai berganti sesi penjagaan.


Membuka opsi dalam diri dan menemukan kartu identitas yang menjelaskan bahwa dirinya masih seorang petani membuatnya menyadari bahwa dirinya telah kembali ke tubuh Ezra seperti sebelumnya.


Bangun dalam area penuh kabut di pagi buta membuatnya kembali mengingat hal serupa disaat Vi masih berada di sampingnya.


" Bahkan di pagi buta seperti ini pun, mereka sudah melakukan sedikit olahraga. " gumamnya setelah melihat bayangan prajurit yang nampak merenggangkan tubuhnya.


Berjalan mendekati mereka sembari mengikuti beberapa gerakan sederhana, beberapa prajurit sempat memandang ke arahnya dengan tatapan tidak percaya setelah kapten prajurit yang begitu gagah perkasa bisa kalah dalam adu kekuatan dengannya.


* Sdrumshs * kabut putih yang semula menghalangi pandangan mata, ikut hilang bersama hembusan angin yang menerpa sesaat setelah batang pohon yang menjadi arena adu panco dari keduanya ikut hancur bersama kekalahan sang ketua.


" He, em. Tidak ada hal kukus yang aku lakukan setiap harinya. " balas Rose setelah ketua prajurit itu menanyakan asal kekuatan hebat yang ada dalam dirinya sembari memegangi pergelangan tangannya.

__ADS_1


* Sdraamssshss * Dengan tendangan keras yang menumbangkan sebuah pohon dalam sekali serangan maupun gerakan cepat dalam satu pertandingan, mereka kembali di buat heran atas kekuatan Rose yang tidak bisa di sepelekan.


" Nah, nah. Silahkan duduk dan nikmati pelayanan khusus dari ku! Hehehe " lanjutnya dengan penuh gembira ketika Vira dan Rola memintanya untuk menunjukkan kemampuannya sebagai koki terbaik di desa.


Wajah datar yang semula nampak garang di depan mata, berubah menjadi begitu bahagia setelah sesuap makanan buatannya di makan oleh mereka.


" Baiklah, baik. Masih ada sedikit sisa dari porsi sebelumnya. " ucapnya mencoba menenangkan mereka yang berebut porsi terakhir yang seharusnya adalah jatah miliknya.


Mentari pagi mulai menghangatkan diri dalam perjalanan mereka menuju kota terdekat setelah memakan beberapa hari dari waktu mereka tiba di desa.


" Maaf, Tear. Dengan kuasa yang ada padaku, ijinkanlah mereka membuat satu tanda identitas yang baru. " ucap ketua prajurit itu setelah penjaga gerbang kota meminta mereka untuk menunjukkan bukti identitas diri.


Meski sempat terlintas dalam diri untuk menunjukkan kartu id dalam ransel tersembunyi, perdebatan alot dari keduanya berhasil memudahkan dirinya untuk membuat satu kartu identitas diri dan membuang jauh niatanya untuk memperlihatkan apa yang dia punya.


* Gsriiiingsss * Cahaya biru menyala kembali muncul di atas batuan khusus dalam ruang penjaga sebelum kartu baru kembali di terima dengan statistik data terbarunya.


" Narulia Na Luna, Nun, Level 5. Rosela Antata, none job, Level 3. Elisata Vira, none job, level 2 dan Izeral Elista Ezra, part-time workers, [level 9325! ] " ucap Tear sebelum menunjukkan setiap kartu id mereka.


Sempat menahan kartu identitas miliknya dengan raut wajah tidak percaya membuatnya menduga bahwa ada yang tidak beres dengan id miliknya.


" Seperti yang kalian lihat dalam status job yang ada. Dengan adanya berbagai pekerjaan yang cukup menguras tenaga lagi mengancam nyawa, aku bisa mendapatkan level semacam itu dalam waktu yang tidak terlalu lama. " balas Rose setelah di masukkan dalam ruang introgasi sembari menyinggung keberadaan dari reruntuhan misterius yang terkadang dia masuki.


Membuka kembali peta dari ruang penyimpanan dan menunjukkan letak desa yang jauh dari peradaban luar membuat mereka kembali kehabisan kata setelah Rose menunjukkan satu letak reruntuhan misterius yang dia maksudkan.

__ADS_1


__ADS_2